Sabtu, 14 Februari 2015

When I’m Fated for You, Insya Allah [A romantic-religi short story]


Annyeong ^.^ For the first time nih nulis sesuatu selain review drama korea di blog ini. Nunu bawa cerpen yg baru semalam ditulis. Ntah dapat ilham dari mana tiba2 nulis cerpen. Terakhir kali nulis cerpen pas kelas 1 SMA karena ada tugas bahasa Indonesia. hehe. Well, i'm really an amateur short story writer. Terima kasih sudah berkunjung ^.^


When I’m Fated for You, Insya Allah.

Aini menatap pesan singkat yang ada di ponselnya dengan sedikit senyuman. Yah, Aini baru saja menerima pesan tentang acara reuni SMPnya yang akan digelar tidak lama lagi. Betapa kangennya, sudah hampir 8 tahun mereka tidak saling bertemu.
“Aini mau ikut acara reuni?” isi pesan singkat dari Tifa, sahabatnya.
“Tentu, Sejak lulus SMP kan kita belum pernah ketemu dengan teman-teman yang lain” Aini sangat excited dengan acara reuni tersebut. Ia menandai tanggal 23 di ponselnya untuk memastikan ia tidak akan lupa.
            ***
            Ada banyak sekali yang menghadiri acara reuni hari ini, yah, banyak sekali termasuk Rasha, cinta pertama Aini. Begitu melihat Rasya, Kenanganpun membawa Aini ke masa-masa SMPnya. Anak laki-laki menyebalkan yang dulu sering mengganggunya, anak laki-laki yang dulu paling sering membuatnya menangis. Bukan karena patah hati, cemburu, atau hal-hal semacam itu, tapi menangis karena membuatnya terjatuh dari tangga, menghilangkan tugas matematikanya, membuatnya dihukum karena mengobrol di kelas, membuatnya merasakan nilai 0 untuk pertama kalinya karena ketahuan memberi contekan, dan yang paling Aini ingat dengan jelas saat Aini menangis karena Tifa memutuskan pertemanan mereka karena Tifa menyukai Rasya sedangkan Tifa berpikir bahwa Rasya menyukai Aini pada saat itu.
            “Aini?” Rasya kini berdiri tepat di depan Aini membuatnya kaget dan tersadar dari lamunanya.
            “Rrasya?” Walaupun Aini sudah melihat Rasya sedaritadi, namun raganya yang kini berada sangat dekat dengannya membuat lidah Aini seperti kena stroke, hal yang Aini sesalkan tentu saja, karena salah tingkah membuatnya terlihat konyol.
            “Lama banget yah nggak ketemu? Kamu kangen nggak sama aku?” Rasya tersenyum nakal, tidak berubah sama sekali kebiasaannya menggoda Aini.
            “Hah?” Aini memperbaiki jilbabnya yang sebenarnya baik-baik saja untuk menyamarkan kegugupannya.
            “Udah ngaku aja. Aku aja kangen sama kamu.” Tatapan Rasya sekejap berubah serius membuat aini memejamkan mata sesaat untuk istighfar.
            “Hah? Nggak.” Aini tertawa kecil. “Oh ya, aku nggak pernah liat kamu lagi di lapangan futsal dekat kompleks rumahku sejak lulus SMP.” Aini mengalihkan perhatian berharap mampu mencairkan suasana beku oleh tatapan Rasya. Teman kuliah yang sebagian besar laki-laki juga membuat Aini sedikit belajar bagaimana tidak menanggapi serius sebuah gombalan.
            “Oh, itu, Aku pindah rumah waktu lulus SMP, maaf yah nggak kasih tau kamu waktu itu. Keluargaku pindah mendadak.”
            “Ah? Emm, Kita nggak sedekat itu kok sampai kamu harus melapor untuk pindah rumah,” Aini tersenyum setegah tertawa pertanda perkataannya barusan hanya bercanda.
            “Emm, Aku rasa kamu benar. Tapi aku harap kedepannya kita masih bias jadi temen kaya dulu”
            “Teman? Musuh maksudmu?”
            “Haha, terserah deh mau sebut apa, yang pasti kamu cinta pertamaku.” Ucapan Rasya yang baru saja Aini dengar sontak membuatnya kaget. Ucapan yang begitu mudah keluar dari mulut Rasya itu terproses begitu rumit di telinga Aini. Bagaimana bisa cinta pertama dari cinta pertamanya adalah dirinya sendiri. Untuk beberapa detik ada rasa bahagia di hati Aini, setidaknya cinta pertamanya dulu tidak bertepuk sebelah tangan.
            “Hey! Aini Kamu kenapa?” Rasya heran melihat Aini tiba-tiba diam.
            “Ah? Gapapa kok. Gabung sama anak-anak yang lain yuk.” Ainipun berlalu meninggalkan Rasya menuju kerumunan teman kelasnya di kelas 3 SMP, Di sana ia melihat Tifa.
            “Hei, dari mana?”Tifa menyerahkan segelasjus jeruk, jus kesukaan Aini.
            “Ngobrol sama teman yang lama gak ketemu, hehe.” Aini mengingat lagi percakapannya dengan Rasya barusan, meski sudah sangat lama, tapi Aini sudah berjanji kepada Tifa untuk tidak akan pernah lagi membuat Tifa berpikir bahwa Aini menyukai Rasya ataupun Rasya menyukai Aini.

            Acara Reuni yang berkesan itupun berlalu---

           
            Rasya sudah menunggu di sebuah kafe depan kantor Aini selama hampir 2 jam. Ia sudah tidak sabar menunggu sosok Aini keluar.
            “Huuuh.” Rasya menghembuskan nafas yang panjang, dua gelas es kopi dan satu gelas jus telah ia habiskan. Tiba-tiba sosok yang ditunggunya sedaritadi akhirnya keluar, Rasyapun bergegasmeninggalkan kafe itu.
            “Aaaini! Aini!” Rasya memanggil dengan suara lantang, mengutuk kendaraan-kendaraan yang tidak hentinya melintas menghalanginya untuk menyeberang.
            “AINI!” Mendengar namanya dipanggil, Ainipun menghentikan langkahnya berbalik menuju suara tadi. Ia melihat Rasya yang berlari ke arahnya.
            “Rasya?” Gabungan antara rasa terkejut, tidak enak hati, dan sedikit rasa senang bergelut didalam hati Aini saat melihat Rasya.
            “A’ada yang ingin aku bicarakan.” Rasya berusaha menggapai tangan Aini yang dengan cepat juga Aini menarik tangannya menjauh.
            “Apa?” Jawab Aini tanpa ekspresi.
            “Kita ngomongnya di kafe sebelah aja yah.”
            “Nggak perlu, di sini aja Sya.” Jawaban Aini seketika membuat perasaan lelah Rasya menunggu selama 2 jam bercampur dengan perasaan ragu dan khawatir.
            “Ok, baik. Aku akan bicara dan dengarkan baik-baik. Whatsapp, Line, BBM, facebook, twitter, path, kamu yakin semua akunmu itu tidak ada yang aktif? Ah, tidak, aku yakin semuanya aktif, tapi kenapa tidak ada satupun dari semua chat yang kukirim kamu balas? Bahkan sms dan telponku, waktu kamu tau itu aku, kamu langsung menutupnya. Kamu kenapa?” Rasya mengakhiri kalimatnya dengan tatapan tajam ke arah Aini.
            “Kamu marah?”Aini menjawabnya dengan nada paling datar yang ia bisa.
            “Aku marah? Nggak. Aku tau aku nggak ada hak buat itu. Aku, aku hanya bingung kenapa kamu menghindar dari aku. Justru aku yang mau Tanya, apa kamu marah sama aku?”
            “Aku, aku minta maaf, tapi aku hanya, aku hanya tidak mau memberi diriku sendiri harapan. Aku tau cinta yang tidak berbalas itu pasti menyakitkan, mengunggu seseorang yang sepertinya tidak memiliki komitmen dan suka bermain-main hanya akan memberikan harapan palsu yang akan jauh lebih sakit dari sedekar cinta yang tidak berbalas. Aku baru tau kalau aku itu cinta pertamamu, tapi hey, itu udah 8 tahun, seseorang yang kamu harapkan pasti jauh lebih dibanding gadis biasa sepertiku. Tetap berinteraski denganmu, aku tahu itu pada akhirnya hanya akan menyakitiku.”
            “Kkamu?”
            “Yah Rasya, kamu cinta pertamaku yang masih belum berubah sampai detik ini. Bodoh kan? Aku pikir cinta monyet yang sangat kekanak-kanakan itu akan berakhir lebih cepat dibanding tertidur. Aku pikir setelah tidak bertemu bertahun-tahun akan merubah sesuatu tentang perasaanku ke kamu, aku pikir...” Air mata yang Telah mati-matian Aini tahan akhirnya tidak terbendung lagi. Cairan bening itu mengalir di pipinya, membuatnya memalingkan wajah dengan cepat.
            “Aku sudah berdoa Sya, berdoa kepada Allah di setiap sholatku, aku berdoa agar dihindarkan dari sakit hati yang tidak ingin aku rasakan, aku berdoa jika aku bukanlah seseorang yang ditakdirkan untukmu, aku harap Allah menghapus perasaan yang salah ini. Tapi sepertinya Allah belum mengabulkannya” Aini menghapus air matanya yang ia harap saat itu anti gravitasi. Rasya tersenyum melihat wajah Aini yang imut sekarang sangat basah.
            “Kau tahu Aini, Tidak ada yang perlu Allah kabulkan dari doamu. Kau mengatakan jika bukan? Tapi kondisinya mungkin tidak seperti itu, jadi Allah tidak perlu mengabulkannya. Kau tahu, selama 8 tahun ini, tidak ada sedetikpun cintamu itu tidak berbalas. Sama sepertimu, aku tidak pernah berhasil menyukai perempuan lain. Aku pernah beberapa kali pacaran dengan perempuan lain, tapi itu bukan karena aku mencintainya, tapi tapi karena aku cuma tidak ingin menjadi satu-satunya yang tidak punya pacar diantara teman-temanku. Mengetahuimu juga tidak pernah menyukai orang lain, sepertinya kita ini benar-benar ditakdirkan. Beberapa detik yang lalu, saat tahu selama ini kamu juga menyukaiku, aku pikir aku sudah menyia-nyiakan begitu banyak waktu.” Rasya tersenyum bahagia sekali, seperti seorang anak kecil yang hilang di pasar yang akhirnya melihat ibunya. Mendengar jawaban Rasya, Aini hanya tersenyum, lebih dari sekedar kupu-kupu yang beterbangan di dalam perutnya, rasanya seperti ratusan bunga yang ada di sana dan mengundang kupu-kupu dan kumbang untuk datang.
            “Aini.” Rasya menggapai tangan Aini yang seketika itu juga ditarik kembali oleh Aini.
            “Iya?”
            “Kau tahu kan kita sudah menyia-nyiakan begitu banyak waktu selama ini. Aku harap mulai hari ini tidak lagi. Kamu mau kan jadi pacarku?” Rasya tersenyum dan tentu saja tanpa ragu ia mengharapkan kata ia atau sekedar anggukan dari Aini.
            “Ma, maaf Sya.” Kata maaf tentu kata yang paling tidak ingin didengar oleh Rasya saat ini.
            “Kenapa Ai? Apa ini karena Tifa? Aku udah dengar semua. Waktu di acara reuni Tifa cerita dia menyesal pernah memutuskan hubungan pertemanan kalian hanya karena aku. Tifa juga bilang kalau sekarang dia udah nggak ada perasaan apa-apa lagi sama aku.”
            “Bukan itu Sya. Maaf, biarpun aku bukan perempuan ahli surga, meskipun jilbabku tidaklah seindah sahabat-sahabatku yang sudah sangat syar’I, tapi aku tetap berusaha untuk melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya serta yang dapat mengantarku menuju hal-hal yang dilarang oleh-Nya, dan itu termasuk pacaran Sya. Aku tidak pacaran bukan hanya karena tidak bisa menemukan penggantimu, tapi juga karena itu bukan sesuatu yang dianjurkan agama kita meskipun yang meminta itu orang yang hampir setiap malam ada di mimpiku. Jika kamu benar-benar mencintaiku, datanglah ke rumahku, lamar aku, Insya Allah, jika kita memang berjodoh, aku tidak hanya akan jadi pacarmu yang memeberikan kebahagiaan dunia, tapi Insya Allah, aku akan jadi istrimu yang bersama-sama membina rumah tangga untuk mengharap Ridho-Nya.” Rasya tertekun melihat wanita yang ada di depannya. Ia tahu Islam tidak membenarkan pacaran, tapi atas nama cinta, ia baru saja meminta wanita yang ia cintai untuk melanggar larangan Allah.
            “Subhanallah, Aku juga bukanlah laki-laki yang taat akan agama, bahkan Sholatku pun masih bolong-bolong, tapi aku bersyukur kepada Allah, karena ia membiarkanku mencintai dan dicintai oleh wanita sepertimu. Aku akan melamarmu, tapi 6 bulan lagi, karena besok aku akan ke luar negeri untuk dinas selama 6 bulan. Kamu bisa menungguku kan?” Selama beberapa milidetik Rasya merasakan keraguan pada diri Aini.
            “Kamu serius?”
            “Yah, yah. Aku bahkan tidak pernah seserius ini dalam hidupku Ai.”
            “6 bulan?”
            “Yep.” Keraguan yang tadi Rasya rasakan kini benar-benar hadir.
            “Tentu, 6 bulan tidak begitu lama dibanding 8 tahun.” Aini tersenyum menghilangkan keraguan yang tadi merayapi Rasya.
            “Makasih.” Rasya juga tersenyum sama bahagianya dengan Aini.
            “Sama-sama. Yaudah, aku pulang duluan yah, sudah jam 5. Assalamualaikum”
            “Waalaikumsalam. Hati-hati di jalan.” Ainipun berlalu meninggalkan Rasya yang masih berdiri tegak di depan kantor Aini. Rasya seperti tidak ingin melepas Aini, benar-benar ingin 6 bulan itu cepat berlalu.

6 bulan kemudian...

            Rasya berdiri tepat di depan rumah Aini bersama kedua orang tuanya dan beberapa keluarganya yang lain, ini adalah hari yang paling ia tunggu selama 6 bulan terakhir. Hari yang membuatnya merasakan 6 bulan paling lama dalam hidupnya.
            “Kau tahu Aini, kamu adalah wanita satu-satunya yang membuatku seyakin ini, begitu berharganya kamu sampai aku tidak berpikir terlalu lama untuk mengatakan aku akan melamarmu. Aku bersyukur tidak menyatakan cinta itu ke kamu 8 tahun lalu, karna jika ia, dan kita benar-benar pacaran saat itu, aku tidak yakin kita akan sampai ke tahap ini dan wanita berharga sepertimu mungkin hanya akan menjadi sebuah nama yang oleh orang-orang disebut mantan.” Rasya memikirkan kata-katanya itu di dalam hati.Semuanya masih terasa mimpi bagi Rasya :)

Beberapa Nama Warna Selain Mejikuhibiniu

Pernah nggak kalian ditanya tentang warna dan kalian sendiri bingung menyebutnya apa? Atau ketika belanja online, ada puluhan avaible colour...