Annyeong ^.^ For the first time nih nulis sesuatu selain review drama korea di blog ini. Nunu bawa cerpen yg baru semalam ditulis. Ntah dapat ilham dari mana tiba2 nulis cerpen. Terakhir kali nulis cerpen pas kelas 1 SMA karena ada tugas bahasa Indonesia. hehe. Well, i'm really an amateur short story writer. Terima kasih sudah berkunjung ^.^
When I’m Fated for You, Insya Allah.
Aini menatap pesan singkat
yang ada di ponselnya dengan sedikit senyuman. Yah, Aini baru saja menerima
pesan tentang acara reuni SMPnya yang akan digelar tidak lama lagi. Betapa
kangennya, sudah hampir 8 tahun mereka tidak saling bertemu.
“Aini mau ikut acara
reuni?” isi pesan singkat dari Tifa, sahabatnya.
“Tentu, Sejak lulus SMP
kan kita belum pernah ketemu dengan teman-teman yang lain” Aini sangat excited
dengan acara reuni tersebut. Ia menandai tanggal 23 di ponselnya untuk
memastikan ia tidak akan lupa.
***
Ada
banyak sekali yang menghadiri acara reuni hari ini, yah, banyak sekali termasuk
Rasha, cinta pertama Aini. Begitu melihat Rasya, Kenanganpun membawa Aini ke
masa-masa SMPnya. Anak laki-laki menyebalkan yang dulu sering mengganggunya,
anak laki-laki yang dulu paling sering membuatnya menangis. Bukan karena patah
hati, cemburu, atau hal-hal semacam itu, tapi menangis karena membuatnya
terjatuh dari tangga, menghilangkan tugas matematikanya, membuatnya dihukum
karena mengobrol di kelas, membuatnya merasakan nilai 0 untuk pertama kalinya
karena ketahuan memberi contekan, dan yang paling Aini ingat dengan jelas saat
Aini menangis karena Tifa memutuskan pertemanan mereka karena Tifa menyukai
Rasya sedangkan Tifa berpikir bahwa Rasya menyukai Aini pada saat itu.
“Aini?”
Rasya kini berdiri tepat di depan Aini membuatnya kaget dan tersadar dari
lamunanya.
“Rrasya?”
Walaupun Aini sudah melihat Rasya sedaritadi, namun raganya yang kini berada
sangat dekat dengannya membuat lidah Aini seperti kena stroke, hal yang Aini
sesalkan tentu saja, karena salah tingkah membuatnya terlihat konyol.
“Lama
banget yah nggak ketemu? Kamu kangen nggak sama aku?” Rasya tersenyum nakal,
tidak berubah sama sekali kebiasaannya menggoda Aini.
“Hah?”
Aini memperbaiki jilbabnya yang sebenarnya baik-baik saja untuk menyamarkan
kegugupannya.
“Udah
ngaku aja. Aku aja kangen sama kamu.” Tatapan Rasya sekejap berubah serius
membuat aini memejamkan mata sesaat untuk istighfar.
“Hah?
Nggak.” Aini tertawa kecil. “Oh ya, aku nggak pernah liat kamu lagi di lapangan
futsal dekat kompleks rumahku sejak lulus SMP.” Aini mengalihkan perhatian
berharap mampu mencairkan suasana beku oleh tatapan Rasya. Teman kuliah yang
sebagian besar laki-laki juga membuat Aini sedikit belajar bagaimana tidak
menanggapi serius sebuah gombalan.
“Oh,
itu, Aku pindah rumah waktu lulus SMP, maaf yah nggak kasih tau kamu waktu itu.
Keluargaku pindah mendadak.”
“Ah?
Emm, Kita nggak sedekat itu kok sampai kamu harus melapor untuk pindah rumah,”
Aini tersenyum setegah tertawa pertanda perkataannya barusan hanya bercanda.
“Emm,
Aku rasa kamu benar. Tapi aku harap kedepannya kita masih bias jadi temen kaya
dulu”
“Teman?
Musuh maksudmu?”
“Haha,
terserah deh mau sebut apa, yang pasti kamu cinta pertamaku.” Ucapan Rasya yang
baru saja Aini dengar sontak membuatnya kaget. Ucapan yang begitu mudah keluar
dari mulut Rasya itu terproses begitu rumit di telinga Aini. Bagaimana bisa
cinta pertama dari cinta pertamanya adalah dirinya sendiri. Untuk beberapa
detik ada rasa bahagia di hati Aini, setidaknya cinta pertamanya dulu tidak
bertepuk sebelah tangan.
“Hey!
Aini Kamu kenapa?” Rasya heran melihat Aini tiba-tiba diam.
“Ah?
Gapapa kok. Gabung sama anak-anak yang lain yuk.” Ainipun berlalu meninggalkan
Rasya menuju kerumunan teman kelasnya di kelas 3 SMP, Di sana ia melihat Tifa.
“Hei,
dari mana?”Tifa menyerahkan segelasjus jeruk, jus kesukaan Aini.
“Ngobrol
sama teman yang lama gak ketemu, hehe.” Aini mengingat lagi percakapannya
dengan Rasya barusan, meski sudah sangat lama, tapi Aini sudah berjanji kepada
Tifa untuk tidak akan pernah lagi membuat Tifa berpikir bahwa Aini menyukai
Rasya ataupun Rasya menyukai Aini.
Acara
Reuni yang berkesan itupun berlalu---
Rasya
sudah menunggu di sebuah kafe depan kantor Aini selama hampir 2 jam. Ia sudah
tidak sabar menunggu sosok Aini keluar.
“Huuuh.”
Rasya menghembuskan nafas yang panjang, dua gelas es kopi dan satu gelas jus
telah ia habiskan. Tiba-tiba sosok yang ditunggunya sedaritadi akhirnya keluar,
Rasyapun bergegasmeninggalkan kafe itu.
“Aaaini!
Aini!” Rasya memanggil dengan suara lantang, mengutuk kendaraan-kendaraan yang
tidak hentinya melintas menghalanginya untuk menyeberang.
“AINI!”
Mendengar namanya dipanggil, Ainipun menghentikan langkahnya berbalik menuju
suara tadi. Ia melihat Rasya yang berlari ke arahnya.
“Rasya?”
Gabungan antara rasa terkejut, tidak enak hati, dan sedikit rasa senang
bergelut didalam hati Aini saat melihat Rasya.
“A’ada
yang ingin aku bicarakan.” Rasya berusaha menggapai tangan Aini yang dengan
cepat juga Aini menarik tangannya menjauh.
“Apa?”
Jawab Aini tanpa ekspresi.
“Kita
ngomongnya di kafe sebelah aja yah.”
“Nggak
perlu, di sini aja Sya.” Jawaban Aini seketika membuat perasaan lelah Rasya
menunggu selama 2 jam bercampur dengan perasaan ragu dan khawatir.
“Ok,
baik. Aku akan bicara dan dengarkan baik-baik. Whatsapp, Line, BBM, facebook,
twitter, path, kamu yakin semua akunmu itu tidak ada yang aktif? Ah, tidak, aku
yakin semuanya aktif, tapi kenapa tidak ada satupun dari semua chat yang
kukirim kamu balas? Bahkan sms dan telponku, waktu kamu tau itu aku, kamu
langsung menutupnya. Kamu kenapa?” Rasya mengakhiri kalimatnya dengan tatapan
tajam ke arah Aini.
“Kamu
marah?”Aini menjawabnya dengan nada paling datar yang ia bisa.
“Aku
marah? Nggak. Aku tau aku nggak ada hak buat itu. Aku, aku hanya bingung kenapa
kamu menghindar dari aku. Justru aku yang mau Tanya, apa kamu marah sama aku?”
“Aku,
aku minta maaf, tapi aku hanya, aku hanya tidak mau memberi diriku sendiri
harapan. Aku tau cinta yang tidak berbalas itu pasti menyakitkan, mengunggu
seseorang yang sepertinya tidak memiliki komitmen dan suka bermain-main hanya
akan memberikan harapan palsu yang akan jauh lebih sakit dari sedekar cinta
yang tidak berbalas. Aku baru tau kalau aku itu cinta pertamamu, tapi hey, itu
udah 8 tahun, seseorang yang kamu harapkan pasti jauh lebih dibanding gadis
biasa sepertiku. Tetap berinteraski denganmu, aku tahu itu pada akhirnya hanya
akan menyakitiku.”
“Kkamu?”
“Yah
Rasya, kamu cinta pertamaku yang masih belum berubah sampai detik ini. Bodoh
kan? Aku pikir cinta monyet yang sangat kekanak-kanakan itu akan berakhir lebih
cepat dibanding tertidur. Aku pikir setelah tidak bertemu bertahun-tahun akan
merubah sesuatu tentang perasaanku ke kamu, aku pikir...” Air mata yang Telah
mati-matian Aini tahan akhirnya tidak terbendung lagi. Cairan bening itu
mengalir di pipinya, membuatnya memalingkan wajah dengan cepat.
“Aku
sudah berdoa Sya, berdoa kepada Allah di setiap sholatku, aku berdoa agar
dihindarkan dari sakit hati yang tidak ingin aku rasakan, aku berdoa jika aku
bukanlah seseorang yang ditakdirkan untukmu, aku harap Allah menghapus perasaan
yang salah ini. Tapi sepertinya Allah belum mengabulkannya” Aini menghapus air
matanya yang ia harap saat itu anti gravitasi. Rasya tersenyum melihat wajah
Aini yang imut sekarang sangat basah.
“Kau
tahu Aini, Tidak ada yang perlu Allah kabulkan dari doamu. Kau mengatakan jika
bukan? Tapi kondisinya mungkin tidak seperti itu, jadi Allah tidak perlu
mengabulkannya. Kau tahu, selama 8 tahun ini, tidak ada sedetikpun cintamu itu
tidak berbalas. Sama sepertimu, aku tidak pernah berhasil menyukai perempuan
lain. Aku pernah beberapa kali pacaran dengan perempuan lain, tapi itu bukan
karena aku mencintainya, tapi tapi karena aku cuma tidak ingin menjadi
satu-satunya yang tidak punya pacar diantara teman-temanku. Mengetahuimu juga tidak
pernah menyukai orang lain, sepertinya kita ini benar-benar ditakdirkan.
Beberapa detik yang lalu, saat tahu selama ini kamu juga menyukaiku, aku pikir
aku sudah menyia-nyiakan begitu banyak waktu.” Rasya tersenyum bahagia sekali,
seperti seorang anak kecil yang hilang di pasar yang akhirnya melihat ibunya. Mendengar
jawaban Rasya, Aini hanya tersenyum, lebih dari sekedar kupu-kupu yang
beterbangan di dalam perutnya, rasanya seperti ratusan bunga yang ada di sana
dan mengundang kupu-kupu dan kumbang untuk datang.
“Aini.”
Rasya menggapai tangan Aini yang seketika itu juga ditarik kembali oleh Aini.
“Iya?”
“Kau
tahu kan kita sudah menyia-nyiakan begitu banyak waktu selama ini. Aku harap
mulai hari ini tidak lagi. Kamu mau kan jadi pacarku?” Rasya tersenyum dan tentu
saja tanpa ragu ia mengharapkan kata ia atau sekedar anggukan dari Aini.
“Ma,
maaf Sya.” Kata maaf tentu kata yang paling tidak ingin didengar oleh Rasya
saat ini.
“Kenapa
Ai? Apa ini karena Tifa? Aku udah dengar semua. Waktu di acara reuni Tifa cerita
dia menyesal pernah memutuskan hubungan pertemanan kalian hanya karena aku.
Tifa juga bilang kalau sekarang dia udah nggak ada perasaan apa-apa lagi sama
aku.”
“Bukan
itu Sya. Maaf, biarpun aku bukan perempuan ahli surga, meskipun jilbabku
tidaklah seindah sahabat-sahabatku yang sudah sangat syar’I, tapi aku tetap
berusaha untuk melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya serta yang
dapat mengantarku menuju hal-hal yang dilarang oleh-Nya, dan itu termasuk
pacaran Sya. Aku tidak pacaran bukan hanya karena tidak bisa menemukan
penggantimu, tapi juga karena itu bukan sesuatu yang dianjurkan agama kita
meskipun yang meminta itu orang yang hampir setiap malam ada di mimpiku. Jika
kamu benar-benar mencintaiku, datanglah ke rumahku, lamar aku, Insya Allah,
jika kita memang berjodoh, aku tidak hanya akan jadi pacarmu yang memeberikan
kebahagiaan dunia, tapi Insya Allah, aku akan jadi istrimu yang bersama-sama
membina rumah tangga untuk mengharap Ridho-Nya.” Rasya tertekun melihat wanita
yang ada di depannya. Ia tahu Islam tidak membenarkan pacaran, tapi atas nama
cinta, ia baru saja meminta wanita yang ia cintai untuk melanggar larangan
Allah.
“Subhanallah,
Aku juga bukanlah laki-laki yang taat akan agama, bahkan Sholatku pun masih
bolong-bolong, tapi aku bersyukur kepada Allah, karena ia membiarkanku
mencintai dan dicintai oleh wanita sepertimu. Aku akan melamarmu, tapi 6 bulan
lagi, karena besok aku akan ke luar negeri untuk dinas selama 6 bulan. Kamu
bisa menungguku kan?” Selama beberapa milidetik Rasya merasakan keraguan pada
diri Aini.
“Kamu
serius?”
“Yah,
yah. Aku bahkan tidak pernah seserius ini dalam hidupku Ai.”
“6
bulan?”
“Yep.”
Keraguan yang tadi Rasya rasakan kini benar-benar hadir.
“Tentu,
6 bulan tidak begitu lama dibanding 8 tahun.” Aini tersenyum menghilangkan
keraguan yang tadi merayapi Rasya.
“Makasih.”
Rasya juga tersenyum sama bahagianya dengan Aini.
“Sama-sama.
Yaudah, aku pulang duluan yah, sudah jam 5. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam.
Hati-hati di jalan.” Ainipun berlalu meninggalkan Rasya yang masih berdiri
tegak di depan kantor Aini. Rasya seperti tidak ingin melepas Aini, benar-benar
ingin 6 bulan itu cepat berlalu.
6 bulan kemudian...
Rasya
berdiri tepat di depan rumah Aini bersama kedua orang tuanya dan beberapa
keluarganya yang lain, ini adalah hari yang paling ia tunggu selama 6 bulan
terakhir. Hari yang membuatnya merasakan 6 bulan paling lama dalam hidupnya.
“Kau
tahu Aini, kamu adalah wanita satu-satunya yang membuatku seyakin ini, begitu
berharganya kamu sampai aku tidak berpikir terlalu lama untuk mengatakan aku
akan melamarmu. Aku bersyukur tidak menyatakan cinta itu ke kamu 8 tahun lalu,
karna jika ia, dan kita benar-benar pacaran saat itu, aku tidak yakin kita akan
sampai ke tahap ini dan wanita berharga sepertimu mungkin hanya akan menjadi
sebuah nama yang oleh orang-orang disebut mantan.” Rasya memikirkan
kata-katanya itu di dalam hati.Semuanya masih terasa mimpi bagi Rasya :)