Dear Bapak,
Assalamualaikum pak, ini putri
keduamu, anakmu yang sangat biasa dan belum pernah melakukan sesuatu hebat yang
bisa membuatmu bangga. Ya, aku tahu bapak selalu bangga sama anak-anaknya, tapi
tetap saja, aku selalu merasa belum pantas untuk dibanggakan.
Saat
aku baru berusia beberapa bulan, aku diadopsi sama tante, kakaknya mama yang
belum mempunyai anak. Aku tidak masalah tentang itu, karena tante dan om sangat
menyayangiku. Aku merasa sangat beruntung karena ada banyak orang yang
menyayangiku. Aku juga tidak diadopsi sepenuhnya, mereka hanya tante dan om ku,
orang tuaku tetaplah kalian. Saat keluarga tante mendapat musibah besar dan
masalah bertubi-tubi, aku kembali tinggal dengan kalian. Meskipun hanya beberapa
tahun, tapi aku bisa mengingat ada begitu banyak moment bahagia saat itu. Lalu
saat umurku 9 tahun, aku kembali tinggal bersama tante yang saat itu benar-benar
sendirian karena om sudah dipanggil oleh Yang Kuasa. Aku tahu mama
menyayangiku, tapi beliau juga tidak tega membiarkan kakaknya tinggal sendiri.
Kata
orang, anak perempuan biasanya sangat dekat dengan ayahnya, bahkan ada yang
mengatakan bahwa seorang ayah adalah cinta pertama anak perempuan. Tapi apa yang
bisa kuceritakan? Kita hanya tinggal bersama selama 2 tahun, kadang aku merasa
kita sangat jauh, hingga rasanya bapak hanya seperti seorang paman yang tinggal
jauh di sana.
Hari
ini aku mendapat panggilan interview kerja dari salah satu anak perusahaan grup
yang cukup besar, pada salah satu sesi, sang direktur bertanya padaku,
“Bapak kerja apa?”,
Aku menjawab “Petani pak.”
“Punya sendiri apa orang lain?”
“Punya sendiri pak.”
“Sawahnya di daerah mana ya di Pinrang?”
Aku bingung sejenak, aku tidak tahu tepatnya nama daerah
itu, jadi aku menjawab bahwa aku tidak tahu.
“Loh, masa kamu tidak tahu sawah bapakmu sendiri?”
“Iya pak, maaf. Saya dari bayi tinggal sama tante. Dan cuma pulang
ke bapak waktu lebaran.”
“Loh, Cuma lebaran? Dosa banget kamu. Kamukan bisa
sekali-kelai mengunjungi bapakmu”
Ya, kurang lebih begitulah beberapa
pertanyaan yang kudapat hari ini. Setelah wawancara selesai, aku terus
berpikir. Ya, memang benar. Aku ini anak durhaka yang mengunjungi bapaknya cuma
sekali setahun. Aku bisa apa? Selama aku tinggal sama tante aku bahkan tidak
ingat apa bapak pernah mengunjungiku. Bukannya aku marah karena hal itu, tidak
sama sekali, aku hanya merasa karena sebelumnya kita jarang sekali bertemu dan
bicara, aku merasa kalau kita bertemu atau bahkan telponan kita sangat
canggung. Maafkan aku karena tidak sering mengunjungimu pak. Tapi bapak
tahukan, aku selalu mendoakanmu di setiap sholatku? Bapak tahu kan bahwa meskipun
tidak pernah mengatakannya aku sangat menyayangimu?
Terima kasih karena engkau adalah
bapakku, terima kasih karena memilih mama sebagai cinta terakhirmu dan melahirkanku
sehingga aku memiliki kehidupanku saat ini. Kuharap bapak akan selalu sehat.
Kedepannya, saat aku sudah menghasilkan uang sendiri, aku akan sering
mengunjungi bapak dan melakukan sesuatu untuk bapak. Sehat terus pak, bahagia
terus, aku mencintaimu.
Putrimu yang menyayangimu,
Nasibah
Makassar, 26 Januari 2017
Day 9 #10DaysKF