Kamis, 26 Januari 2017

Dear Bapak

Dear Bapak,

Assalamualaikum pak, ini putri keduamu, anakmu yang sangat biasa dan belum pernah melakukan sesuatu hebat yang bisa membuatmu bangga. Ya, aku tahu bapak selalu bangga sama anak-anaknya, tapi tetap saja, aku selalu merasa belum pantas untuk dibanggakan.

                Saat aku baru berusia beberapa bulan, aku diadopsi sama tante, kakaknya mama yang belum mempunyai anak. Aku tidak masalah tentang itu, karena tante dan om sangat menyayangiku. Aku merasa sangat beruntung karena ada banyak orang yang menyayangiku. Aku juga tidak diadopsi sepenuhnya, mereka hanya tante dan om ku, orang tuaku tetaplah kalian. Saat keluarga tante mendapat musibah besar dan masalah bertubi-tubi, aku kembali tinggal dengan kalian. Meskipun hanya beberapa tahun, tapi aku bisa mengingat ada begitu banyak moment bahagia saat itu. Lalu saat umurku 9 tahun, aku kembali tinggal bersama tante yang saat itu benar-benar sendirian karena om sudah dipanggil oleh Yang Kuasa. Aku tahu mama menyayangiku, tapi beliau juga tidak tega membiarkan kakaknya tinggal sendiri.

                Kata orang, anak perempuan biasanya sangat dekat dengan ayahnya, bahkan ada yang mengatakan bahwa seorang ayah adalah cinta pertama anak perempuan. Tapi apa yang bisa kuceritakan? Kita hanya tinggal bersama selama 2 tahun, kadang aku merasa kita sangat jauh, hingga rasanya bapak hanya seperti seorang paman yang tinggal jauh di sana.

                Hari ini aku mendapat panggilan interview kerja dari salah satu anak perusahaan grup yang cukup besar, pada salah satu sesi, sang direktur bertanya padaku,
“Bapak kerja apa?”,
Aku menjawab “Petani pak.”
“Punya sendiri apa orang lain?”
“Punya sendiri pak.”
“Sawahnya di daerah mana ya di Pinrang?”
Aku bingung sejenak, aku tidak tahu tepatnya nama daerah itu, jadi aku menjawab bahwa aku tidak tahu.
“Loh, masa kamu tidak tahu sawah bapakmu sendiri?”
“Iya pak, maaf. Saya dari bayi tinggal sama tante. Dan cuma pulang ke bapak waktu lebaran.”
“Loh, Cuma lebaran? Dosa banget kamu. Kamukan bisa sekali-kelai mengunjungi bapakmu”

Ya, kurang lebih begitulah beberapa pertanyaan yang kudapat hari ini. Setelah wawancara selesai, aku terus berpikir. Ya, memang benar. Aku ini anak durhaka yang mengunjungi bapaknya cuma sekali setahun. Aku bisa apa? Selama aku tinggal sama tante aku bahkan tidak ingat apa bapak pernah mengunjungiku. Bukannya aku marah karena hal itu, tidak sama sekali, aku hanya merasa karena sebelumnya kita jarang sekali bertemu dan bicara, aku merasa kalau kita bertemu atau bahkan telponan kita sangat canggung. Maafkan aku karena tidak sering mengunjungimu pak. Tapi bapak tahukan, aku selalu mendoakanmu di setiap sholatku? Bapak tahu kan bahwa meskipun tidak pernah mengatakannya aku sangat menyayangimu?

Terima kasih karena engkau adalah bapakku, terima kasih karena memilih mama sebagai cinta terakhirmu dan melahirkanku sehingga aku memiliki kehidupanku saat ini. Kuharap bapak akan selalu sehat. Kedepannya, saat aku sudah menghasilkan uang sendiri, aku akan sering mengunjungi bapak dan melakukan sesuatu untuk bapak. Sehat terus pak, bahagia terus, aku mencintaimu.

Putrimu yang menyayangimu,
Nasibah

Makassar, 26 Januari 2017
Day 9 #10DaysKF



Beberapa Nama Warna Selain Mejikuhibiniu

Pernah nggak kalian ditanya tentang warna dan kalian sendiri bingung menyebutnya apa? Atau ketika belanja online, ada puluhan avaible colour...