Jumat, 09 Maret 2018

Perbedaan PLC dan DCS

Selama kuliah saya cukup lama berteman dengan PLC (Programmable Logic Controller) dan SCADA (Supervisory Control and Data Acquisition)  dari semester 4-8. coursework, bengkel, lab. Dengan beberapa brand seperti Omron, LS, dan Stardom. Sedangkan DCS (Distributed Control System), meskipun namanya sering dimention oleh dosen saat mengajar PLC, namun bertemu dengan DCS pertama kali dan satu-satunya pas semester 8 di Lab Automasi. Saat itu pakai Yokogawa Centum VP.

Kata-kata dosen saya yang selalu saya ingat adalah "PLC dan DCS itu berbeda. Jaman dulu, perbedaannya sangat mudah disebutkan, tapi sekarang perbedaannya sudah kabur. Karena PLC berkembang dengan tambahan kemampuan yang ada pada DCS, dan DCS juga berkembang dengan tambahan kemampuan PLC."

Jadi, kalau diurut sejarahnya, controller/minikomputer dengan input/output signal mulai ditemukan sekitar awal tahun 1960an. Pada tahun 1959, perusahaan Ramo-Wooldridge memperkenalkan sistem komputer kontrol industri pertamanya, RW-300.

Sejarah PLC
Pada tahun 1969, GM Company menawarkan sebuah tender proyek untuk membuat alat pengganti relay (yang wiringnya ribet serta banyak memakan tempat dan energi). Dan akhirnya, yang proposalnya memenangkan penawaran tersebut adalah sebuah tim engineer/peneliti 'Bedford Associates' dari Bedfort, Massachussets (Entah kenapa tiap dengar kata Massachusets, pasti ingat MIT. Hahaha). Nah, PLC pertama itu bernama 084. Karena PLC ini merupakan proyek ke 84 dari tim ini. Salah seorang yang bekerja dalam tim ini adalah Dick Morley, yang akhirnya dikenal sebagai bapak PLC. Setelah proyek ini, Bedford Associates memutuskan untuk membuat perusahaan dan memproduksi massal dan menjual secara komersial PLC buatan mereka bernama Modicon (Modular Digital Controller). Pada tahun 1977, Modicon akhirnya dijual ke Gould Electronic, yang selanjutnya diakuisisi oleh perusahaan asal German, AEG dan akhirnya dibeli lagi oleh Schneider dan diproduksi sampai sekarang.


Sejarah DCS
DCS ini katanya diciptakan sebagai pengganti control PID konvensional. Jadi dulu, untuk mengontrol sebuah plant/pabrik itu, butuh sebuah ruangan yang sangat besar dengan banyak alat pengatur, seperti gambar dibawah ini:
Control Room Konvensional (Sumber: Wikipedia)
Hal ini dianggap merepotkan buat pekerjanya, karena harus bolak-balok dari satu meja ke meja lain, bahkan sampai pindah-pindah ruangan buat mengontrol keseluruhan plant, jadi susah fokusnya. Belum lagi kalau sebuah plant itu punya banyak sistem yang saling berkaitan, makin luaslah ruang kontrol itu.

Dengan semakin berkembangnya ilmu komputer saat itu, direncanakanlah untuk mengganti controller konvensional saat itu menjadi algoritma berbasis komputer.

Pada tahun 1975, sebuah [perusahaan engineering asal New Jersey, USA, Honeywell dan sebuah firma elektrikal asal jepang, Yokogawa sama-sama memperkenalkan DCS pertama mereka. Honeywell dengan TDC 2000 dan Yokogawa dengan Centum nya. Selanjutnya di tahun yang sama, diperkenalkan juga UCS 3000 yang berasal dari Bristol, Inggris. Tahun 1978, Valmet Corp. juga memperkenalkan DCS nya bernama Damatic, lalu di 1980, Bailey (sekarang bagian dari perusahaan ABB) juga tak ingin ketinggalan dengan memperkenalkan DCS buatan mereka, Network 90.

Perbedaan PLC dan DCS
Nah, masuk ke pertanyaan di awal, jika sama-sama merupakan pengontrol berbasis komputer, lalu apa perbedaan keduanya?

> Pertama, latar belakang dibuatnya. Kalo PLC diciptakan dengan tujuan menggantikan relay, DCS dibuat dengan tujuan menggantikan control PID.

> Karena tujuan awalnya hanya untuk menggantikan relay konvensional, maka bentuk awal PLC hanya berupa modul digital sedangkan DCS adalah analog. Namun seiring perkembangannya, PLC kini memiliki modul analog (dimana biasanya terpisah dari modul utamanya) dan DCS pun kini dapat digunakan untuk pengontrolan digital.

> Meskipun sama-sama memiliki beberapa cara pemprograman, tapi bahasa program yang umum digunakan untuk PLC adalah ladder diagram, sedangkan DCS lebih familiar diprogram dengan Function Block Diagram. Meskipun PLC juga sering menggunakan FBD sih.
Contoh pemprograman DCS (Centum VP) menggunakan FBD (Sumber: koleksi pribadi)

Contoh pemprograman PLC (Siemens S7) dengan ladder diagram (Sumber: koleksi pribadi)



> Tadinya, terkait jumlah I/O, PLC digunakan untuk mengontrol sebuah sistem saja, sedangkan DCS digunakan untuk mengontrol keseluruhan plant. Contohnya, dalam sebuah pabrik mie instan. Untuk memproses bahan baku mentah sampai menjadi mie instan yang siap dipasarkan, terdapat beberapa tahapan, mulai dari pengayakan, pembuatan adonan, penggorengan, pengemasan, sampai distribusi. Nah, biasanya PLC digunakan untuk mengontrol proses pengadukan saja, atau proses pengemasan saja. Jadi di tiap proses bisa memiliki panel kontrol masing-masing. Sedangkan DCS kita ambil controh sebuah PLTU, DCS biasanya akan mengontrol keseluruhan prosesnya mulai dari distribusi air, perebusan, kontrol panas, sampai proses pembuangan.

>Biasanya produk DCS dilengkapi dengan fitur interface, sedangkan PLC umumnya membutuhkan SCADA atau HMI untuk display-nya. 

>Untuk respon, PLC lebih cepat daripada DCS.

Nah, itu tadi perbedaan PLC dan DCS yang bisa saya paparkan. Terima kasih sudah mampir.
Jika ada pertanyaan atau kekeliruan dari tulisan saya, please feel free to comment. Biar kita sama-sama belajar. Thank you ;)

Kamis, 08 Maret 2018

KGSP (Part 2: KAIST aja)

Ada yang bilang, kalo kita punya goal of something, better nggak ngasih tau siapa2 dulu. Dan aku rasa itu ada benarnya. Aku tidak ingin membuat orang yang sudah mendukungku menjadi kecewa kalau seandainya aku gagal meraih goal itu. Selain itu, aku tipe orang yang sangat suka ngasih surprise, hahaha. Jadi lebih senang ngasih tau orang saat semuanya sudah tercapai dan akhirnya menjadi surprise. Rasa senangnya pasti berkali-kali lipat. Tapi tak apa, toh karena ditanyain mulu dan entah harus gimana lagi ngelesnya, ditambah karena ke-ember-an adek dan tanteku, sekarang jadi banyak yang tau rencanaku apply KGSP. Tak apalah, syukur-syukur dibantu doa.

Nah, tentang KAIST, adalah sebuah perguruan tinggi berbasis penelitian di negeri gingseng sana. Singkatan dari Korea Advanced Institute of Science and Technology ini merupakan Universitas terbaik kedua di Korea dan peringkat ke-43 di dunia.Terdengar keren kan? rasanya nggak ada pantes-pantesnya aku bermimpi buat masuk sana, orang masuk UNHAS aja aku gagal, Eh no, mari kita ubah kata gagal dengan 'gak jodoh'. Hehe.

KAIST seperti cinta pada pandangan (atau mungkin perndengaran) pertama. Aku jadi sering baca-baca tulisan orang Indonesia yang berkuliah di KAIST. Ada yang kuliah di sana dengan biaya sendiri, beasiswa pemerintah, dan ada juga yang dapat tunjangan dari penelitian dosen. Ada yang pas di sana ketemu jodoh, dan ada yang paling sweet, dilamar sama pria yang kebetulan juga sama-sama keterima di KAIST beberapa minggu sebelum berangkat. Oh, it's much sweeter than Dilan-Milea (yang lagi digandrungi gadis-gadis jaman now) Story for me :')

Tau nggak, Mahasiswa/alumni pascasarjana KAIST dari Indonesia yang blognya kubaca semuanya adalah alumni ITB. Iya, semuanya! termasuk cewek yang dilamar itu, dia juga alumni ITB. Ngomong-ngomong, bukan cuma alumni kampus teknik terbaik di negeri ini, mereka yang melanjutkan masternya di KAIST juga semuanya punya segudang prestasi dan spesifikasi yang sepertinya nggak muat satu halaman CV. Aku langsung ciut, merasa kecil banget. Aku yang hanya seorang lulusan politeknik negeri di sebuah kota yang berjarak ribuan mil jauhnya dari ibu kota. Bukan hanya itu, aku juga tidak punya prestasi apa-apa. Seketika menyesal kenapa pas kuliah dulu cuma jadi mahasiswa KuPu-KuPu (Kuliah-Pulang-Kuliah-Pulang). Harusnya dulu ikut tim robot jurusan aja, at least tim robot kampus kami terkenal di provinsi dan pernah bawa pulang piala nasional bidang robotika juga. Biarpun nggak bisa langsung jadi tim inti, tapi aku bisa belajar banyak dan menambah pengalaman. Yaah, penyesalan selalu datang terlambatkan? T.T.

Karena kebanyakan dosenku gelar S2nya adalah M.Eng, jadi pas dapat ilham (entah dari mana) buat S2 di luar, jadi kepikiran gelar itu juga. Setelah baca-baca tulisan luar negeri, jadi S2 untuk Engineering itu ada 2, gelar master teknik M.Eng (Atau ada juga yang menulis M.E)dan gelar master yang lebih umum, yakni M.Sc (Eropa) / M.S(Amerika). Ada kampus yang hanya menyediakan master salah satunya, dan ada yang menyediakan keduanya. Hal mengenai gelar ini sebenarnya tergantung kebijakan regulasi pendidikan tinggi di tiap negara dan tergantung kampus masing-masing. Tapi dari apa yang kutangkap setelah membaca beberapa tulisan, M.Eng itu coursework oriented sedangkan M.Sc/M.S itu research oriented.

Sebagai seorang anak poltek yang lebih banyak kerja ketimbang teori apalagi research, aku langsung mengeliminasi M.Sc dari pilihanku. Aku juga sadar nggak begitu suka dan kayaknya nggak bakat penelitian di Lab, lebih senang pas workshop. Lebih suka kerja & memprogram hal yang udah jelas ketimbang membuat 1 hal yang baru. Aku ingat ketika di lab harus mencatat perubahan suhu/tegangan tiap detik, memperhatikan pergerakan suatu hal yang saking kecilnya musti dilihat dari jarak yang sangat dekat, memotret gambar osiloskop tiap perubahan arus sekian yang kalo diliat-liat nggak ada bedanya. Nyari sesuatu yang nggak pasti itu benar-benar bikin pusing, melakukan hal2 atau mengamati perubahan kecil itu sangat membosankan. Lebih senang pas dikasih kasus atau proyek, trus disuruh buat alat/programnya. Gagal berkali-kalipun nggak masalah, nggak pernah bosan karena kendali atas apa yang ku kerjakan ada di tanganku sendiri.

Aku sempat nanya-nanya dengan mba Vina yang berkuliah S2 da S3 di KAIST (dapat kontaknya di blog) via email. Mba Vina ramah banget dan mau jawab pertanyaan-pertanyaanku. Aku tanya, di KAIST itu electrical engineeringnya bergelar M.Eng atau M.Sc, dan akhirnya dijawab kalo KAIST itu kiblat pendidikan tingginya ke Amerika, dan seluruh gelar masternya adalah M.S. Baru tau juga kalo KAIST itu yah emang universitas yang berbasis penelitian. Oh, aku jadi galau. KAIST impianku, tapi aku nggak percaya diri bisa menghabiskan waktu puluhan jam seminggu di dalam lab selama dua tahun. Pada tingkat ini aku galau memilih antara kampus atau major yang lebih utama :( Dan akhirnya setelah galau berhari-hari sambil nyusun-nyusun berkas, aku merasa harus tetap daftar KAIST apapun resikonya. Toh belum tentu lulus juga. Setelah berusaha keras semampuku sampai harus menghabiskan gaji selama sebulan buat kepengurusan beasiswa ini (termasuk tiket pesawat, ongkos ngegrab, becak, TOEIC, bayar ini itu, de el el) serta menghabiskan cuti 2 hari untuk mengurus segala kelengkapan dokumen, pada akhirnya cuma bisa menyerahkan semuanya kepada Sang Pencipta. Setidaknya aku harus tetap berusaha hingga sesuatu bernama penyesalan karena tidak pernah mencoba (yang aku pikir rasanya akan lebih abadi dibanding sakitnya kegagalan) tidak akan menghampiriku.

Oh ya, aku mendaftar KAIST via besiswa pemerintah Korea bernama KGSP, division: Engineering, department: Electrical Engineering, major: Signal and System. Jika, dan hanya jika seumpamanya aku berhasil masuk KAIST via KGSP tahun ini, maka sepertinya itu karena personal statement dan statement of purpose yang kubuat sedemikian rupa melalui susunan kata yang kubuat seemosional mungkin namun tetap jujur dan tentu saja do'a dari orang tuaku :) Mengingat tidak ada award atau paper yang bisa kutunjukkan.

Fighting everyone! Bismillah :)

South Tangerang, March 8th 2018

Beberapa Nama Warna Selain Mejikuhibiniu

Pernah nggak kalian ditanya tentang warna dan kalian sendiri bingung menyebutnya apa? Atau ketika belanja online, ada puluhan avaible colour...