Senin, 23 Januari 2017

Kampus Kebangganku


Sesuatu yang kubanggakan tapi diremehkan orang lain?

Kampusku, tempatku menuntut ilmu untuk tumbuh menjadi seorang professional, Politeknik Negeri Ujung Pandang.

Banyak yang mengatakan kalau kampusku adalah PTN kelas dua. Mereka yang tidak diterima di PTN kelas satu beberapa akan mendaftar dikampusku. Dan itu benar, Politeknik memang sebuah PTN, tapi tidak sama posisinya dengan universitas atau beberapa institut negeri yang menerima mahasiswa baru melalui SNMPTN, ia memiliki jalur masuk sendiri yang disebut UMPN yang diadakan bersamaan dengan seluruh politeknik negeri di Indonesia.

                Tapi siapa yang peduli tentang siapa yang masuk ke kampus ini, bukankah yang terpenting adalah bagaimana yang keluar? Aku tidak mengatakan kalau kampus kami memiliki sistem pendidikan atau materi perkuliahan terbaik, tidak kok, PNUP rata-rata saja. Hanya saja, yang membuatnya beda adalah bahwa di sana kami diajarkan lebih banyak praktek dibanding teori. Teori itu penting tentu saja, karena itu adalah landasan dasar ilmu pengetahuan, tapi praktek juga tak kalah pentingnya sebagai implikasi dari apa yang didapat di kelas teori. Dan sejujurnya, kelas praktek seperti bengkel dan lab lebih menyenangkan dibanding kelas teori di gedung sekolah. Rasanya seperti seorang engineer yang benar-benar mengerjakan sebuah proyek.

                Satu hal yang membuatku bangga akan kampusku adalah pendidikan akhlahnya. Bukan kelas khusus budi pekerti atau pelajaran akhlak maksudku, lebih ke pembelajaran secara tidak langsung. Selain kelas pendidikan agama dan mentoring di semester pertama, tidak ada kelas khusus tentang akhlak lainnya. Padahal kampus kami bukanlah kampus berlandas agama, tapi entah mengapa, kau tidak akan menemukan anak nakal di kampusku ini. Kalau kamu datang ke kampusku dan menemukan seseorang dengan gaya yang aneh dan kesannya gimana gitu, bisa dipastikan itu bukan anak PNUP. Kau bisa meninggalkan laptopmu di jurusan dan tak akan ada yang mengambilnya. Lupa mengambil kunci motor atau bahkan handphone mu di jok, kau akan menemukannya kembali di pos satpam. Atau kau melupakan dompet di ruang kuliah, ia akan tetap aman di ruang OB. Aku tidak menjamin 100%, karena bisa jadi kamu lagi sial atau kebetulan ketemu klepto, benda-bendamu itu bisa saja melayang. Jadi tetap jaga barang-barang anda ya.

Di sana tidak pernah ada tawuran besar, kecuali perselisihan kecil. Dan sejujurnya, mahasiswa di kampusku bahkan tidak pernah berdemo. Ini serius, mungkin ada yang berpendapat kami mahasiswa cupu, tapi ah, siapa yang peduli. Mungkin kami terlalu sibuk dengan kuliah yang padat, tugas-tugas menumpuk, atau sekedar tidak ingin menyusahkan pengguna jalan dan pak polisi. Hal yang diajarkan kepada kami untuk selalu diingat saat pertama kali memasuki kampus hitam ini adalah, selalu menjunjung tinggi tri dharma perguruan tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Saat kami diminta untuk mengabdi kepada masyarakat, kenapa pula kami harus menyusahkan mereka? Ya, masyarakat tidak pernah ada yang mendukung mahasiswa pendemo sekarang ini. Karena sebagian dari mereka bukan lagi memiliki tujuan untuk membela masyarakat, tapi untuk gengsi mereka sendri.

Kebanggan lainku tentang kampusku adalah semua penghuni kampus ini sangat baik dan ramah. Pernah beberapa kali minta tukar uang kecil di pos satpam buat bayar angkot atau ojek, dan kalau bapak-bapak satpam lagi tidak punya uang kecil yang cukup untuk ditukar, biasanya mereka kasih uang buat bayar begitu aja. Pas mau dibayar kembali, pak satpamnya cuma bilang, “Nda usahmi dibayar. Kau belajar saja yang baik.” Atau kadang juga kalau ada pak satpam yang lagi dikunjungi istri dan anaknya dari kampung dan dibawakan oleh-oleh, kadang pak satpam itu suka bagi-bagi ke setiap mahasiswa yang keluar gerbang. Staf akademik yang ramah banget, panggil kamu nak sambil menjelaskan apa yang kamu tanya dengan ramah. Staf kebersihan yang selalu siap membantumu dan bahkan tidak pernah marah kalau kamu ga sengaja injak lantai yang baru saja dia pel. Dosen-dosen yang tidak pernah menyuruhmu membayar apapun. Semua dosen yang mengajar di kelasku membuat buku sendiri. Setelah itu hanya menyuruhmu mengcopy bukunya. Selebihnya, kamu bisa pakai buku apapun untuk jadi bahan referensi. Bahkan wali kelasku dulu sering mentraktir kami, membayarkan tiket nonton, bahkan ngasih tambahan uang buat liburan. Mahasiswanya juga, di setiap koridor, gazebo, atau kantin, kalian akan menemukan lebih banyak obrolan tentang kuliah. Ya, mahasiswa PNUP itu rajin-rajin. Hihihi.

Aku tidak tahu apa PNUP memang hanya menerima orang-orang berakhlak baik, atau PNUP yang mengubah mereka. Tanteku pernah Tanya, “Kamu lanjut kuliah di mana nak?” trus aku bilang, “Poltek tante.” Dan tanteku Cuma bilang, “Oh, PNUP? Bagus nak, di sana akhlahnya bagus.” Awalnya aku nggak mengerti maksud tanteku itu, tapi setelah menjadi bagian dari PNUP, aku jadi mengerti maksud beliau.

Meskipun kesannya menyenangkan dan ramah-ramah, tapi kamu nggak bolehbertingkah seenaknya. Surat DO di kampusku gampang sekali keluar loh, nilai rendah, tindakan indisipliner, atau bahkan kelamaan lulus, kamu bisa mendapatkan surat cinta dari direktur ini setelah sebelumnya mendapat 3 surat peringatan. Mungkin ini salah satu alasan kenapa kamu jarang menemui anak nakal di PNUP, karena anak-anak yang suka bertingkah itu akan gugur satu persatu dimulai dari semester awal. Ibu kantin aja nggak bisa lolos dari skorsing. Pernah karena bertengkar dengan lapak sebelah, ibu kantin langgananku harus libur selama sebulan dari kantin Huhu L

Pernah beberapa kali aku kenalan sama orang, pas ditanya kuliah dimana dan aku jawab PNUP, dijawab, “Ah, aku pernah kuliah di situ. Tapi sekarang di *****”. Pas aku Tanya kenapa pindah, dijawab “Ya, biasalah, DO”. Atau ada juga yang bilang, “Aku pernah kuliah di kampusmu itu. Tapi pindah pas semester 2, aku ga kuat sama tugasnya.” Hiks, itulah beberapa testimony kenalanku. Maafkan PNUP yaa.

Oh iya, satu lagi yang selalu kubanggakan. Saat pertama kali mendaftar di kampus ini, belum pakai sistem online, di setiap loket dan mading, ada tulisan besar berbunyi “Tidak ada sistem jatah dosen.” Dan kupikir itu benar, anak dosenku dan bahkan keluarga direktur sendiri pernah tidak lulus tes masuk di kampus PNUP ini. Dan aku sangat bangga menjadi alumni kampus yang tidak begitu terkenal ini :3

Ini teman-teman kelasku btw xD Foto kami waktu masih semester pertengahan, nggak lengkap sih. Jadi di Polteknik itu sistemnya kayak SMA, kamu akan punya teman yang sekelas selama 3 tahun (D3) atau 4 tahun (D4). Awalnya tiap kelas berisi 25 orang, tapi di kelasku yang bertahan sampai selesai cuma 19 orang. Lumayanlah.

Yaa, Itu tadi kebanggaanku yang masih banyak diremehkan orang :3 Jaya selalu PNUP ya, tetap jadi kampus pencetak tenaga professional yang berakhlah ;) Wassalam.

Day 6 #10DaysKF

Makassar, 23 Jaunari 2017
-Nasibah



Beberapa Nama Warna Selain Mejikuhibiniu

Pernah nggak kalian ditanya tentang warna dan kalian sendiri bingung menyebutnya apa? Atau ketika belanja online, ada puluhan avaible colour...