Hello, Happy new year 2018!!
It's 2018 already, that's mean,
i will turn 25 y.o this year. Oh mom, I’m not ready yet :’(
Kemarin habis nonton film petualangan Sherina and met my 1st
crush, Sadam. Hahaha, Kamu bo’ong kalo bilang Sadam itu gak ganteng, Aseli,
imut banget itu anak. Apalagi pas scene Sherina bilang, “Yayang yang mana yah?”
Trus Sadam muncul dengan tertunduk, ih, gemes banget. Imut sekali adek kecil (sebenarnya
lebih tua 3 tahun dariku) bernama Derby Romero itu. Pengen cubit pipinyaaaa. Haha.
Aku gak pernah dengar kabar tentang Derby Romero lagi setelah Kepompong selesai.
Dan baru tau, ternyata doi udah nikah, Waah, congrats Kak Derby.
Okey, stop ngomongin laki orang, back to the topic, Jadi gara-gara
nonton film ini aku jadi flashback bukan Cuma sama filmnya yang emang ciamik
sekali, tapi juga sama kisah-kisahku sendiri di era Sherina itu. Jaman yg jangankan smartphone, hp yang paling biasa aja
belum punya. Umurku 7 tahun waktu itu tinggal sama adek yang umurnya 5 tahun,
sama mama & bapak (I have one older sister, but she lived with grandma that
time). Jadi waktu itu keluargaku juga baru pindah dari kota ke kabupaten yang
jaraknya kurang lebih 4 jam perjalanan. Karena berdua sama adek, jadi rasanya
adaptasi sama lingkungan tetangga dan tempat ngaji nggak begitu sulit. Meskpun
kita harus terbiasa dengan aksen mereka yang entah mengapa saat itu aku pikir keren banget.
Butuh waktu sedikit lebih lama untuk adaptasi di sekolah, tapi
setelah beberapa waktu aku bisa bergaul dengan baik. Meskipun Cuma tinggal 2
tahun di sana, tapi asli memorable banget.Tiap hari sepulang sekolah rasanya
kita cuma main terus, habis main sama tetangga, main lagi berdua di rumah xD
Kata kakakku aku adek favoritnya, dan kata adekku aku kakak favoritnya krn main
sama aku katanya pasti asik, soalnya aku suka nyiptain permainan sendiri xD Salah
satu yang paling senang kita mainkan adalah drama dan pencarian harta karun xD
hahaha. Aah, I love you both. Kalian juga adik dan kakak favoritku :*
Satu hal yang paling dan sangat kurindukan dari masa kecilku
adalah tentu saja mamaku tersayang :’) I like to kiss my mom everyday when I was
kid, couse I love her so much. Aku bersykur masa kecilku kulalui di akhir tahun
90an sampai awal 2000an :’)
Karena nonton Petualangan Sherina, ingat Derby Romero, otomatis Ingat
Kepompong juga pasti, satu-satunya sinotron yang kuikuti sejak awal sampai
selesai (kayanya sinetron yang pernah kuikuti juga nggak sampai 10 judul itu
udah termasuk sinetron Anak Bawang di TVRI dan yang terakhir Para Pencari Tuhan
jilid 3 apa 4 gitu).
Yaah, karena flashback sama sinetron Kepompong, jadinya juga flashback
ke masa-masa remajaku Masa dimana kata persahabatan ada di mana-mana, masa aku
pertama kali tau cinta *Ciyeelah xD* yang walaupun nggak berbalas sih. Hahaha.
Jadilah semalaman tadi sibuk ngubek-ngubek youtube berharap bisa nonton lagi
barang beberapa episode. Tapi ternyata nggak ada satupun episode full LCuma klip-klip
1-3 menitan.Akhirnya mutusin buat tidur aja.
Saat udah berbaring dan mau tidur itu, aku jadi mikir aku
benar-benar merindukan masa kecil dan masa remajaku dan di saat yang sama juga
tersadar kalo masa-masa itu ternyata udah berlalu lama banget.Tahun ini aku
bakal berumur 25 tahun, udah kerja punya tanggung jawab setidaknya terhadap
hidupku sendiri, dan aku sekarang sepenuhnya orang dewasa.
Tapi, kurasa aku belum siap, sampai kemarin aku masih kesel ketika
ada yang nanya apa aku udah nikah, aku rasa itu pertanyaan yang nggak pantas
diajukan ke seorang gadis, aku lupa kalau aku sekarang di pertenngahan 20an dan
kalau di usiaku sekarang, memang sudah banyak orang yang menikah.
Saat pertama kali hidup sendiri setelah dapat kerjaan, aku pikir
nggak akan ada yang berubah, kupikir sendirian itu mudah, dan kupikir aku tidak
akan merindukan rumah sampai paling tidak untuk setahun. Toh sejak kecil aku
sudah terbiasa mandiri, di tinggal di rumah sendirian udah biasa, bahkan sejak
kuliah, aku lebih suka menghabiskan waktu di kamar sendirian dengan smartphone,
laptop, dan modem, aku juga merasa tidak terlalu membutuhkan orang lain, tapi
ternyata rasanya benar-benar berbeda, dulu saat kupikir aku sedang sendiri,
ternyata aku tidak pernah benar-benar sendiri. Setiap hari selalu saja ada yang
membuatku tertawa, kadang-kadang kesal, bete, dan tersenyum. Meskipun tidak
begitu suka bercerita masalah pribadi, tapi setidaknya selalu ada orang yang bisa
kudengar ceritanya, berbagi cerita-cerita receh yang kadangpun garing, selalu
ada orang yang membutuhkanku meskipun sekedar buat beli sabun di warung atau
sekedar buat nyalin PR.
Aku bekerja di bagian engineering di sebuah perusahaan electrical
yang laki banget, sendirian cewe di department ini, dan wanita 20an single sendiri
di perusahaan ini. Rekan kerjaku hanya ada 3 golongan, ibu-ibu, bapak-bapak,
dan abang-abang yang udah kayak bapak-bapak. Seumur hidup aku tidak pernah
punya teman yang usianya terpaut jauh dariku, paling tua hanya berjarak 1
tahun, I’m okay tohave a professional relationship, but to make a friends, it’s
still difficult. Dan detik ini aku sadar, rasanya sekarang aku benar-benar kesepian.
Aku tidak tahu pastinya usia dewasa itu dimulai sejak umur berapa, apa 17, 20, atau 25 tahun? Tapi setelah kupikir sepertinya saat acara wisuda sarjana, usia 22 tahun, hari itu juga gerbang dewasa seperti terbuka untukku. Hanya saja aku baru benar-benar merasakannya di usia 24 tahun jelang 25 tahun ini, saat aku benar-benar sendiri dan sadar bahwa aku hidup di dimensi yang berdampingan dan terus berjalan bersama waktu, sedangkan masa kecil dan masa remaja yang selama ini ku pikir selalu di sampingku ternyata tidak ikut bersama, mereka tetap tinggal di sana, jauh di belakangku dan akan semakin kujauhi setiap harinya.
Aku tidak tahu pastinya usia dewasa itu dimulai sejak umur berapa, apa 17, 20, atau 25 tahun? Tapi setelah kupikir sepertinya saat acara wisuda sarjana, usia 22 tahun, hari itu juga gerbang dewasa seperti terbuka untukku. Hanya saja aku baru benar-benar merasakannya di usia 24 tahun jelang 25 tahun ini, saat aku benar-benar sendiri dan sadar bahwa aku hidup di dimensi yang berdampingan dan terus berjalan bersama waktu, sedangkan masa kecil dan masa remaja yang selama ini ku pikir selalu di sampingku ternyata tidak ikut bersama, mereka tetap tinggal di sana, jauh di belakangku dan akan semakin kujauhi setiap harinya.
Hal
yang paling tidak kusukai tentang menjadi dewasa adalah bahwa teman-temanku
juga sekarang sudah dewasa. Susah sekali membuat teman baru, teman lamapun sibuk
dengan mengejar mimpi masing-masing. Nggak ada lagi ngobrol sampai pagi, nggak
ada lagi baring-baringan bikin video lucu-lucuan, mager berjam-jam, nongkrong
di kantin kampus bareng teman-teman kelas selama berjam-jam, liburan bareng teman
kelas apalagi, nggak bisa lagi lburan ke rumah nenek selama 2 minggu full, nggak
bisa ikut acara yang diadain di
weekdays, nggak bisa lagi lari-larian ngumpulin semua sweets yang bisa dicoba
bareng sepupu-sepupu seumuran di acara nikahan sodara, yang ada harus duduk
kalem pake kebaya dengan heels minimal 5 cm, makan pelan-pelan karena takut
lipstiknya meleber.
Aku
ingin tetap di masa-masa itu, tapi tetap bersama mereka semua, tapi jika tanpa mereka
kurasa lebih baik untuk belajar hidup di masa kini, masa yang akan terus
berjalan sampai saat terakhir nafasku berhembus. Yaah, kuharap aku akan segera
terbiasa. Remember, you’re a future great engineer nunu ;)