Jumat, 16 Februari 2024

Beberapa Nama Warna Selain Mejikuhibiniu

Pernah nggak kalian ditanya tentang warna dan kalian sendiri bingung menyebutnya apa? Atau ketika belanja online, ada puluhan avaible colour yang beberapa diantaranya asing di telinga kalian?Yup, jumlah warna yang ada di dunia sebenarnya tak terhingga jumlahnya, tapi dalam dunia digital, warna dapat didefinisikan menjadi 16 juta warna yang masing-masing memiliki kode tertentu dalam bilangan hexa dan beberapa diantaranya memiliki nama sendiri. Yuk, intip beberapa nama warna yang sering digunakan dalam dunia desain, web, hingga fashion.

Beige

Warna ini termasuk dalam kelompok warna putih atau banyak juga yang menyebutnya warna krem. Kalau dideskripsikan, warna ini adalah warna kuning yang sangat pucat dan keabu-abuan. Nama Beige sendiri diambil dari bahasa Perancis dimana warna ini banyak ditemukan pada batang-batang kayu muda. Kesan natural dari warna ini menjadikannya banyak digunakan untuk cat tembok rumah. Kamu yang ingin tampil natural boleh juga mencoba warna yang satu ini.

Plum

Ini ungu, ya! Warna ini memang termasuk dalam golongan warna ungu, namun dengan sekian banyak warna ungu yang kamu kenal, kamu bisa menyebut warna yang cukup cerah namun tetap lembut ini dengan sebutan Plum. Nama Plum sendiri berasal dari nama buah kecil berwarna ungu atau dalam Bahasa Indonesia disebut buah prem. Ungu nggak melulu harus warna janda kan? Nggak juga harus selalu terong, there’s Plum! Hehehe.

Khaki

Warna ini sangat identik dengan warna militer atau kalau di Indonesia biasa digunakan sebagai warna seragam dinas. Khaki termasuk dalam golongan warna coklat dan namanya diambil dari Bahasa Urdu yang berarti warna bumi. Warnanya memang sedikit seperti warna tanah ya?

Tan

Perpaduan warna coklat, krem, dan sedikit abu-abu, warna ini terlihat manis bukan? Pernah dengar istilah tanning? Atau warna kulit tan? Yah, Tan memang identik dengan warna kulit yang kecoklatan. Terlalu tua untuk disebut krem, dan terlalu muda untuk disebut coklat, itulah Tan.

Aqua

Aqua? Yeah, of course, this is water’s color. Warna hijau dengan sedikit kebiruan bisa mewakili warna yang terlihat segar dan ceria ini. Terkadang sedikit keliru dengan warna turkis yang memang terlihat mirip.

Turkis

Turkis atau Tourquish adalah perpaduan warna biru dan hijau serupa dengan Aqua, tapi dengan komposisi biru lebih banyak menghasilkan warna biru kehijauan. Beberapa ada yang menyebut Turkis dengan warna tosca karena tosca memang lebih populer di Indonesia. Sempat ngetrend banget waktu tahun 2014-2015. Sekarang juga warna cantik ini masih banyak diminati orang.

Magenta

Bukan ungu, tapi bukan pink juga, ini adalah magenta! Magenta memiliki komposisi seimbang antara biru dan merah, sedangkan tidak mengandung hijau/kuning sama sekali. Warna ini merupakan salah satu dari warna basic dari palet warna digital.

Fuscsia

Tepatnya warna ini merupakan warna French Fuchsia, karena sebenarnya original fuchsia itu sama dengan magenta, salah satu basic color dalam palet warna. Nama Fuchsia sendiri diambil dari nama sejenis bunga berwarna serupa dengan warna ini. Warna yang girly dan ceria banget ya? Cocok untuk kamu yang ceria dan penuh semangat.

Teal

Lagi-lagi warna biru kehijauan ini sering disebut tosca, nggak salah juga sih, soalnya warna yang cenderung gelap namun terkesan menenangkan ini emang perpaduan hujau dan biru (yang menjadi indikator orang menyebut tosca). Tapi yang pasti, Teal adalah warna gelap, karena memang tersusun dari warna biru gelap dan hijau dengan komposisi seimbang tanpa warna merah sama sekali. Nama Teal berasal dari nama sejenis burung yang warna kepalanya serupa dengan warna ini.

Crimson

Sejenis warna merah yang agak gelap dan pudar hasil dari penambahan sedikit pigmen biru dan lebih sedikit pigmen hijau. Jadi, sejarahnya cukup panjang nih, nama Crimson diambil dari nama genus serangga, yakni Kermes. Orang-orang zaman dulu menggunakan bagian tubuh serangga genus ini yang sudah dikeringkan untuk mewarnai kain mereka, dan warna yang dihasilkan dari proses pewarnaan ini adalah serupa dengan warna ini.

Nah, itu dia tadi beberapa nama warna yang umum digunakan namun belum banyak yang mengenalnya. Sebenarnya masih banyak lagi warna-warna di luar sana yang memiliki nama-namanya sendiri, tapi untuk membahas semuanya, akan memakan waktu 7 hari 7 malam. Hehehe.

Kamis, 15 Februari 2024

Dear Teman-Temanku yang Memilih 02

15 Februari 2024

Dear teman-temanku yang memilih 02 pada pilpres Pemilu 2024.

Aku bukan pendendam. Meskipun sekarang perasaan kecewa, bercampur sedih, dan sepercik greget, tapi aku yakin beberapa hari juga perasaan ini hilang. Itu kenapa aku menulis di sini. Sekadar untuk mengingatkan diriku sendiri bahwa aku pernah memiliki perasaan ini, pernah berada di titik ini, dan bahwa ini bisa jadi titik balik dari suatu hal di masa depan.

Bagaimana mengatakannya yaaa. Tapi aku sangat kecewa. Bukan sekadar kecewa karena apa yang aku pilih tidak menempati urutan pertama di putaran pertama (entah akan ada putaran ke-2 atau tidak), tapi lebih karena aku tidak menyangka ini pilihan sebagian besar masyarakat Indonesia. Dan lebih dari itu semua, karena kalian memilih 02.

Mungkin, kecewa ini bukan hanya aku yang merasakan. Kalianpun mungkin juga kecewa dengan pilihanku. Kalian orang-orang berpendidikan, pasti memilih karena punya alasan, kan? Tapi kali ini biar aku menjelaskan dari sudut pandangku dan mengungkapkan apa yang aku rasa di sini. Meskipun tidak perlu kalian tahu.

Aku kecewaaaaa banget sama kalian. Tapi aku tetap tidak bisa marah, karena kalian teman-teman terdekatku dan aku sayang banget sama kalian. Tapi kok bisa kalian sampai pada keputusan itu saat deretan fakta sudah tersaji begitu jelasnya? Ingin rasanya ngomel-ngomel ke kalian seperti saat kalian tidak menghabiskan makan, tidak pakai helm, begadang sampai tidak tidur, atau melewatkan waktu makan. Tapi tidak, semua tidak sesederhana itu. Bahkan sekadar untuk menanyakan pertanyaan yang sungguh ingin ku-tanyakan saja aku tidak berani.

"Mengapa kalian memilih 02?" Sebuah pertanyaan yang selalu tertahan untuk aku tanyakan. Aku takut pertanyaan sederhana ini menyinggung kalian, dan lebih dari itu aku takut jawaban kalian akan semakin membuatku kecewa.

Aku menghargai kalian telah memilih, itu kenapa aku tidak pernah mau membahasnya secara langsung dengan kalian.

Sungguh, hal ini berbeda dengan saudara-saudara se-tanah air kita di pelosok yang sulit mendapatkan akses informasi, sehingga iya-iya saja ketika mendapatkan bansos yang disebut dari presiden (padahal dari APBN Negara) dan kemudian nurut-nurut saja ketika diminta untuk memilih pilihan sang presiden.

Tapi kalian tidak begitu. Kalian punya semua hal untuk mengakses informasi sejelas-jelasnya. Bahkan bisa dibilang semua informasi itu yang datang menghampiri kalian. Tapi sekadar coba dibaca atau dilihat secara cermat dan objektif saja kalian ragu. Buru-buru mengatakan itu konten menjatuhkan dan fitnah. Padahal sangat jelas informasi, data, dan buktinya.

Kalian mengatakan bahwa mereka mencari-cari kesalahan? Seharusnya fokus saja kepada kandidiat yang dipilih? Teman, kita tidak sedang berada pada perhelatan penghargaan akhir tahun untuk aktor terbaik, atau ajang pencarian bakat penyanyi idol. Bukankah memang sejatinya harus mencari tahu mengenai semua kandidat untuk mencari tahu mana yang terbaik dan yang kesalahan/keburukannya paling sedikit diantara para kandidat? Kalau tidak dicari, yaa kesalahan-kesalahan itu hanya akan terkubur. Selama itu fakta, harusnya tetap fakta sepahit apapun.

Saat akan pemilihan presiden, bukankah sejatinya kita menempatkan diri sebagai pemilih? Melihat setiap fakta secara objektif lalu membandingkannya secara rasional? Alih-alih mengikuti kata hati yang mudah bersimpati, bukankah lebih logis jika kita membandingkan dengan data, fakta, dan rekam jejak? Kita sedang di pemilihan presiden, yang mana orang-orang itu akan bekerja untuk kita, bukan sedang memilih penyanyi idola favorit yang sekadar butuh suara yang kita senangi untuk menghibur kita.

Orang-orang sibuk melihat kesalahannya tapi lupa akan kebaikannya? Oke, sebutkan! Apakah kebaikannya sebanding dengan keburukannya? Sekali lagi, kita sedang membicarakan calon pemimpin negara, bukan seorang tetangga tua renta yang harusnya kita terima baik-buruknya, yang kita hindari bergibah mengenai aib-nya. Membicarakan kekurangannya bukanlah bentuk nyinyir, tapi usaha seleksi. Kita tentu tidak ingin negara ini dipegang oleh orang yang salah, kan?

Selain debat, coba tolong tonton dialog-dialog para capres dengan para profesional di berbagi bidang, misal Dialog Kadin.

Belum terpilih saja beliau sudah beberapa kali tertangkap kamera tidak menyukai dan mengancam media, bahkan tidak hadir pada deklarasi kemerdekaan pers. Bisa bayangkan bagaimana nasib sebuah bangsa di mana pers tidak diberi kebebasan? 0rb@ 2.0?

Kalian tersentuh karena dia seolah dijatuhkan dengan diberi nilai rendah, setuju dengan lawan debatnya, dan mau minta maaf saat debat? Seriously? Bukan isi debatnya yang dinilai? Kalian benci lawannya karena terkesan terlalu menyerang? Emm.. Kalian apa mengerti esensi debat yang sesungguhnya? Lagipula, jika melihat dengan objektif, kubu tersebutpun ada kok menyerangnya. Coba lihat lebih dalam deh ke personal semua kandidat lain. Biar kalian tidak menyimpulkan "sifat pribadi" hanya dari pemaparan di debat saja.

Kalian kasihan sama beliau? Sekadar informasi aja, hartanya triliunan. Dia kalo mau makan sesuatu, bisa saat itu juga. Kalau dia sakit, bisa berobat ke manapun. Kalau bosan bisa liburan ke manapun.

Yang hartanya berlimpah pasti sudah selesai dengan diri sendiri dan sisa mengabdi? Belum tentu. Ambisi itu bukan cuma tentang sebanyak apa uang yang ingin seseorang miliki. Ambisinya orang-orang kaya raya gak kayak orang-orang sepert kita yang ingin punya rumah, mobil mewah, atau keliling dunia. Mereka tuh udah sampai ada yang pengen jalan-jalan ke bulan, menyelam ke laut terdalam, dsb. Hal-hal yang bahkan tidak bisa dibeli hanya dengan uang.

Pejabat ditambah gajinya-pun (ini solusi dari beliau untuk menanggulangi korupsi loh) tidak menjamin mereka tidak korup. Yang namanya sifat serakah itu tidak ada ujungnya.

Kalian percaya sama beliau? BOLEH, tapi tidak boleh menutup mata juga pada rekam jejak, bandingkan visi-misinya dengan kandidat lain (dana makan siang 1 triliun lebih per hari, 450 triliun pertahun yang mana jumlahnya sama dengan biaya untuk membangun IKN), hingga proses persiapan dan pendaftaran mereka.

Kandidat lain nggak banget? Coba cari tahu dulu. Jangan-jangan selama ini kita hanya melihat hasil framing media pro pemerintah. Segala kecurigaan kalian, cari tahu dulu bukti dan akar masalahnya. Jangan-jangan selama ini hanya terlanjur benci aja karena 1 atau 2 hal yang ternyata juga hanya salah paham. Rugi loh.

Memilih karena akan melanjutkan program-program presiden saat ini? Coba cari tahu lebih dalam dampak negatif dari IKN, food estate, dan hilirisasi yang selalu mereka gaungkan, utamanya dampaknya pada alam dan bumi kita. Siapa yang paling diuntungkan dari itu semua? Siapa sih pemilik lahan yang dipakai? siapa pemilik perusahaan-perusahaan smelter yang menjamur 10 tahun terakhir ini. Aku harap banget kalian cari tahu tentang ini.

Apa saja yang dilakukan oleh pemerintah dan bandingkan dengan APBN kita serta pertumbuhan hutang negara kita. Siapapun bisa membangun rumah mewah jika ada yang memberi hutang. Masalah bayar hutangnya, yaa wariskan saja pada pemangku jabatan selanjutnya. Untuk bansos disebutnya bantuan presiden (padahal uangnya dari APBN), giliran utang semua yang harus menanggung. :(

IKN itu, siapa yang akan tinggal di situ? Yupp, orang-orang dari pemerintah pusat dan para kolega. Meninggalkan Jakarta yang penuh sesak dan polusi ke tempat yang lebih asri. Dengan santai dan damai menjalankan kebijakan-kebijakan yang mereka inginkan tanpa takut diinterupsi oleh suara-suara rakyat. Siapa yang mau demo ke tengah hutan kalimantan sana?

Mengenai pembangunan di kalimantan, bukan aku tidak setuju, hanya saja kenapa harus dari 0?

Oke lanjut..

Dan ini dia puncak dari segala hal yang kami hindari, yaitu sang wakil.

Dari awal, pencalonannya sudah diwarnai nepotisme. Konstitusi loh ini yang diubah, KONSTITUSI! Oke, ini pasti sudah berkali-kali kalian dengar. Tapi kenapa? Segitu mengakarnya kah nepotisme di negara ini hingga hal seperti ini bukan lagi masalah bagi kalian? Kalian lebih percaya perkataan influencer dan satu atau dua orang mahasiswa hukum dibanding ratusan guru besar di bidang hukum dan tata negara? Apa yang kalian cari? Pembenaran?

Kita semua sama-sama tahu bahwa "Beliau" tidaklah sebugar saat pencalonannya di 2014 dan 2019. Skenario terburuknya jika terjadi apa-apa pada beliau, sang wakil yang kemudian akan mengambil alih kepemimpinan. Sudah siapkah kalian? Orang yang hampir setiap ditanya sesuatu tidak memberikan jawaban, memberi jawabanpun tidak nyambung. Apa kalian pernah berpikir sampai di situ? Cari tahu sendiri wawancara-wawancaranya.

Sesungguhnya ada banyak banget hal lain yang kami temukan hingga mencapai pada keputusan "Asal jangan 02". Tapi sejujurnya aku masih ada rasa takut dan khawatir. jadi sampai sini saja.

Kenapa banyak dari pihak kalian yang mengatakan "tidak masalah siapapun presidennya", sedangkan yang lain begitu protesnya pada pilihan kalian? Kesannya kami jahat dan gak adil ya?

Ini karena di penglihatan kalian, kandidat lain tidak seburuk itu. Sedangkan di hasil olah pikir dan penelitian kami, kandidat yang kalian pilih memang seburuk itu.

Bukannya munafik, itu kenapa aku tidak pernah mengatakan siapapun presidennya itu yang terbaik, karena aku memang tidak berpikir demikian. Tentu aku akan menghargai siapapun yang nanti akan memimpin negeri ini, sebagai sesama manusia, sebagai presiden, dan sebagai representasi wajah negeri ini di mata dunia, sama seperti yang aku lakukan 10 tahun terakhir.

Jika kalian sungguh-sungguh menonton Dirty Vote dengan objektif, kalian tahu bahwa kini rasanya sulit memiliki kepala daerah yang tidak lepas dari pengaruh pemerintah pusat. Artinya apa? setiap kebijakan pempimpin daerah bukan lagi melihat pada apa yang terjadi pada masyarakatnya, apa yang dibutuhkan masyarakatnya, tapi apa yang diinginkan pemerintah pusat. Utamanya ini akan terjadi pada DKI Jakarta jika gubernurnya sungguh-sungguh dipilih oleh presiden.

Please note bahwa aku tidak pernah membenci mereka secara pribadi, tapi aku menilai secara kemampuan, rekam jejak, dan visi misi. Khusus untuk mereka yang telah menjabat, yang aku nilai tentu apa yang telah mereka perbuat dan dampaknya pada negeriku.

Berbagai pikiran tentang akan bagaimana nasib negeri ini kedepan, bagaimana dengan warga-warga kurang mampu, anak-anak di pelosok, para pekerja gaji pas-pasan yang dibilang miskin nggak tapi juga engap-engapan dengan barang2 yang semakin mahal, para petani yang lawannya kini industri pertanian, satwa-satwa liar dan habitatnya, hutan-hutan Indonesia sang paru-paru bumi, hingga semakin mudahnya para oligarki menguasai setiap jengkal negeri ini, sedang coba aku tepis sebisa mungkin sambil berdoa.

Ini adalah hal-hal yang tidak sanggup aku katakan langsung kepada kalian, karena aku menyayangi kalian segitu tulusnya dan tentu tidak ingin kehilangan kalian. Euforia kontestasi pilpres ini mungkin hanya beberapa bulan (meskipun dampaknya 5 tahun), tapi pertemanan kita akan jauh lebih lama dari itu.

Kalian adalah orang baik. Aku tidak membenci kalian, aku hanya tidak habis pikir dengan pilihan kalian. Cari tahu sendiri keberananya dan tanyakan lagi pada diri kalian. Benarkah ini?

Jika suatu hari nanti kalian membaca ini, tidak perlu dibahas denganku. Cukup pahami bahwa aku sangat menyayangi kalian dan aku menghargai kalian telah memilih, hingga aku mengubur dalam-dalam egoku untuk berdebat. Karena sudah barang tentu tak ada gunanya dan khawatirnya hanya akan mendatangkan perselisihan.

Sekian, semoga kalian sehat selalu. Love love.

Senin, 22 Juni 2020

Things You Should Do before 22 Years Old

Tulisan ini aku buat dari sudut pandang sebaliknya. Hal yang menyesal tidak aku lakukan di masa remaja dulu.

Ada yang pernah dengar puisi popular karya Ali Hasjmi berjudul Menyesal? Puisi ini popular sekali di masa aku sekolah dulu karena sering muncul di buku-buku pelajaran dari SD, SMP, sampai SMA. Meskipun mendengarnya begitu sering dan bahkan masih hafal sampai sekarang, tapi aku nggak menjadikannya pelajaran. Hanya sebatas materi pelajaran yang lewat begitu saja. Yah, aku menyesal.

Back to the topic, things you should do before 22 are..

1. Ikut lomba. Ayolah, jangan malas. Dengan ikut lomba itu selain dapat pengalaman seru, dapat teman baru dari sekolah lain, dapat ilmu baru, dan yang pasti kalau menang, bisa jadi bekal buat spesifikasi kamu saat dewasa. Saat melamar pekerjaan, kuliah, atau sekedar mau jadi volunteer, nggak jarang kamu bakal ditanya award apa yang pernah kamu dapatkan. Bahkan kalau kamu berencana untuk mendapatkan beasiswa kuliah keluar negeri, award itu meskipun tulisannya mungkin hanya opsional, tapi bisa jadi sangat penting loh. Kalau dari ribuan peserta yang daftar punya nilai-nilai yang bagus, otomatis yang punya nilai spesial seperti award-lah yang bakal lebih menonjol.

Aku bukannya nggak pernah ikut lomba. Pernah, lomba matematika nasional yang saat itu disiarkan di TV waktu SMP kelas 2(tapi gugur di babak paling pertama, penyisihan di tingkat daerah), sempat ikut OSN 2 kali, lomba matematika tingat kota & provinsi beberapa kali, sampai lomba bahasa inggris tingkat provinsi juga saat SMA mewakili sekolahku. Hal yang membuatku menyesal adalah bahwa aku tidak pernah mempersiapkan diri dalam menghadapi semua lomba itu, tidak pernah ada yang kuanggap serius, aku tidak pernah belajar sebelum mengikutiya, aku bahkan tidak pernah bangga karena bisa mewakili sekolah. Aku hanya ikut karena dapat surat dari sekolah dan menjawab setahuku saja. Alhasil, nggak pernah ada yang berhasil kumenangkan, sekedar juara harapanpun tidak pernah. Paling tinggi cuma masuk 10 besar lomba MIPA se-maminasata (Makassar dan beberapa kota di sekitarnya).

2. Belajar sungguh-sungguh. Yah, aku tidak pernah membuka buku selain sebelum ujian dan kalau ada PR waktu sekolah dulu. Sekarang saat sudah dewasa aku baru sadar, belajar itu menyenangkan. Bahwa ilmu pengetahuan itu luas banget, saat kita belajar satu hal, kita akan tertarik untuk mempelajari hal lain yang berkaitan. Dan hal yang paling kusesali dari malas belajar adalah, aku gagal mengejar cita-citaku menjadi dokter. Aku hanya belajar sesaat sebelum SNMPTN, and i must to say, itu telat banget! Tau gak belajar itu bukan hanya bikin otak kita makin berisi, tapi juga membuat kita jadi lebih percaya diri. Eits, tapi jangan sampai berlebihan yah percaya dirinya. Pokoknya jauh-jauh deh dari sifat sombong. Sifat yang nggak ada gunanya banget dan pastinya nggak ada yang suka. Malah, bisa jadi bumerang yang menghancurkan diri kita sendiri nantinya.

3. Berorganisasi. Aku adalah orang yang bisa dibilang males banget berorganisasi waktu kuliah dulu, atau bahasa populernya, KuPu-KuPu, alias Kuliah-Pulang-Kuliah-Pulang. Hanya karena masalah pribadi, aku jadi menggeneralkan keseluruhan organisasi itu. Bukan, aku bukan berantem kok. Jadi saat itu aku hanya merasa orang-orang dalam organisasi itu pilih kasih. Sama-sama junior, tapi karena aku jelek dan cewek lain cantik, jadiya aku ngerasa kami dapat perlakuan berbeda. Jangan baperan. Mereka sebenarnya orang-orang baik kok, kamu hanya perlu melihat dari sudut pandang yang lain. Mungkin ada satu atau dua yang kurang menyenangkan, tapi itu tidak seharusnya menjadi penghalangmu untuk ikut organisasi. Kalau memang suatu organisasi worst banget dan kamu ngerasa nggak mungkin lagi untuk berada di dalamnya, ya keluar. Tapi jangan lupa untuk mencari organisasi lain :)

Dengan berorganisasi, secara nggak langsung kamu akan mendaptakan banyak pelajaran soft skill yang sulit kamu dapatkan di dalam kelas. Contohnya seperti management waktu, kemampuan berbicara, kemampuan memimpin, membagi waktu, memanage sebuah event, dan pastinya menambah jaringan pertemanan kalian. Yang ssekarang mungkin belum begitu beguna bagi kalian, tapi bisa jadi sangat berguna saat udah dewasa dan memasuki dunia kerja nanti. Baik kamu akhirnya akan menjadi pekerja, CEO, atau freelance sekalipun, ada kalanya kamu akan membutuhkan jaringan sosial yang luas.

4. Volunteering. Jadi relawan itu banyak banget loh faedahnya (asal bukan relawan pemenangan partai aja. Hehe). Jadi relawan itu bukan cuma sekadar tentang berbuat baik untuk tabungan amal kita, tapi juga melatih diri kita sendiri. Sekilas mungkin menjadi relawan itu mirip-mirip dengan berorganisasi. Apalagi kalau kita udah jadi pengurus, otomatis artinya kita udah jadi bagian dari sebuah organisasi. Bedanya mungkin menjadi relawan itu lebih spesifik, bedanya di sini kamu dituntut untuk bekerja ikhlas, untuk tidak mengharapkan apa-apa yang menjadi keuntungan pribadimu, dan tidak boleh melihat orang lain atau lembaga lain sejenis sebagai saingan melainkan kawan. Karena di sini kalian, kita semua bekerja dengan tujuan yang sama. Semakin banyak lembaga sejenis artinya semakin bagus, semakin banyak tangan yang bisa saling menggandeng untuk mewujudkan visi kegiatan kerelawanan kita.

Karena tadi udah dibahas bahwa volunteering itu agak mirip dengan berorganisasi, itu berarti apa yang bisa kalian dapat dari berorganisasi sebagian bisa juga kalian dapat dari volunteering, seperti management waktu, menambah jaringan pertemanan, kemampuan berbicara, menghandle event. Bahkan dengan ikut volunteering kalian bisa bertemu orang-orang dengan latar belakang, skill, usia, dan pengetahuan yang lebih beragam. Dengan ikut volunteering kita jadi lebih bisa mengasah kepekaan sosial, menekan egoisme, ngerasain bahagianya menjadi bermanfaat bagi orang lain, hingga merasa sayang dan disayang oleh orang-orang yang nggak ada hubungan apapun dengan kalian, dengan orang-orang yang baru kalian temui saat itu. Intinya adalah merasakan menjadi bermanfaat bagi orang lain, kebahagiaan kecil yang nggak semua orang bisa merasakannya.

5. Mencoba membuat bisnis sendiri. Setidaknya kalian belajar bagaimana sulitnya mendapatkan uang, jadi kalian akan lebih menghargai setiap hal yang kalian dapatkan. Meskipun masih muda, jangan menganggap bisnis ini sebagai main-main, harus tetap serius dan berusaha untuk mengambil setiap tantangan (selama itu bukan hal buruk dan melanggar apapun). Siapa tau dari bisnis kecil kalian, habis lulus kuliah bukannya cari kerja, malah kalian yang memberi pekerjaan buat orang lain, kan? :) Jangan takut gagal, masa muda memang masa dimana kita mencoba banyak hal, masa dimana kegagalan masih sangat dimaklumi. Pun kalau semua tidak berjalan sesuai keinginan, setidaknya kalian pernah punya pengalaman itu, jadi nanti saat sudah dewasa dan ingin memulai bisnis lagi, kalian sudah punya sedikit pengalaman.

Owkay, itu tadi beberapa poin yang akan sangat bagus jika sudah kalian lakukan sebelum berusia 22 tahun.

Jumat, 09 Agustus 2019

The Moon that Embraces The Sun VS 100 Days My Prince

Haaaii..
Udah cukup lama nih nggak nulis, dikarenakan beberapa ketertarikan baruku akhir-akhir ini. Hehe.

Dari judulnya, sepertinya sudah bisa ditebak yah, aku akan bahas apa kali ini.
Beberapa hari yang lalu aku baru saja selesai menonton drama 100 Days My Prince. And, i love it. No wonder ratingnya bisa setinggi itu untuk ukuran drama yang tayang di TV kabel. Sejak episode-episode awal, aku udah suka banget sama drama ini dan berhasil menyelesaikannya dengan cepat.

Lee Yeol dan Yoon Yi Seo/ Hong Shim Dewasa

Tanpa maksud untuk menyama-nyamakan dan gak ada maksud sama sekali mengatakan drama yang satu meniru drama yang lain, karena memang kedua drama ini sangat berbeda dari banyak aspek dan secara alur ceritapun berbeda. Drama 100DMP punya lebih banyak komedi while di TMTETS bisa dibilang hampir gak punya unsur komedi di dalamnya. Hanya menonton kedua drama ini rasanya memberikan vibes yang sama dan beberapa hal iconic mengingatkan satu sama lain.

Lee Hwon dan Heo Yeonwoo/Wool Dewasa



Jadi, apa aja nih persamaan kedua drama ini?

- Diawali dengan perebutan kekuasaan dengan pertumpahan darah.

- Cinta pertama. Kedua main couplenya sama-sama bertemu pertama kali saat masih sangat muda dan jatuh cinta satu sama lain untuk pertama kalinya. Sebenarnya kebanyakan drama saeguk romantis memang menceritakan si putra mahkota bertemu dengan pemeran utama wanita saat masih anak-anak. si lead male-pun akhirnya jatuh cinta karena kecerdasan dan keberanian si lead female.

- Hilang ingatan. Keduanya kemudian bertemu lagi saat dewasa. Kalau di TMTETS yang hilang ingatan adalah si cewek, nah di 100DMP yang hilang ingatan justru si Cowok.

- Kelopak bunga berwarna pink. Di kedua drama tersebut, Saat kedua pemeran utama bertemu pertama kali saat masih sangat muda, kelopak bunga berwarna pink jatuh di atas mereka. Hal itu kemudian mengingatkan mereka dengan gadis yang mereka cintai setiap melihat kelopak bunga yang gugur tersebut. Bahkan di kedua drama tersebut, ada adegan di mana putra mahkota meminta pelayannya melempar kelopak bunga dari atas atap untuk membuat efek romantis.Kalau di 100DMP bunganya adalah sakura, kalau di TMTETS juga bunga pohon berwarna pink tapi aku lupa jenisnya.

Lee Yeol dan Yoon Yi Seo Kecil



Lee Hwon dan Heo Yeon woo Remaja


- Putra Mahkota dan raja yang sangat tampan, cute, dan berkharisma. Hahaha, ayolah jujur, DO dan Kim Soo Hyun sama-sama berhasil membawakan peran yang mulia yang sangat keren. Haha.

- Toko kertas. Adegan iconic di depan toko kertas.

- Si cewek yang aslinya adalah bangsawan namun kemudian difitnah dan akhirnya tumbuh sebagai gadis biasa dan nama yang berbeda. Heo Yoon woo menjadi Wool dan Yoon Yi Seo menjadi Hong Shim.

- Keluarga, karakter, dan kehidupan masa kecil kedua pemeran cewek yang agak mirip. Yah, lahir dari keluarga bangsawan, harmonis, dipenuhi kasih sayang, kakak laki-laki yang sangat menyayanginya, orang tua yang sangat baik hati dan bijak, tidak segan berteman dengan budak, lembut tapi tegas, intinya kehidupan sempurna gadis di jaman joseon lah.

- Bapaknya si cewek adalah menteri yang bijaksana dan baik hati namun akhirnya harus meninggal.

- Bapak putri mahkota terpilih yang jahatnya Naudzubillah. Bisa dibilang dalang dari semua kejahatan.

- Putri mahkota terpilih yang juga jahat tapi juga sangat malang. Sebenarnya hanya karena kurang kasih sayang oleh orang tuanya yang haus akan kekuasaan.

-Putra mahkota dan putri mahkota terpilih tidak pernah berhasil melakukan ritual penyempurnaan pernikahan (malam pertama) karena tiap kali akan melakukan ritual tersebut, somehow si putra mahkota/raja selalu saja jatuh sakit. Jadi, meskipun telah menikah bertahun-tahun, tapi putra mahkota/raja masih perjaka. Dan kalimat yang hampir mirip diucapkan oleh Lee Hwon & Lee Yeol, kurang lebih begini "Kau bisa mendapatkan posisi ini, tapi kau tidak akan pernah mendapatkan hatiku."
*Owhh, entah mengapa meskipun kalimat itu terdengar kejam, tapi aku suka banget. Yeyeye! Hahaha*

-Ceritanya banyak bergantung pada takdir. Takdir yang seolah menuntun sang matahari menemukan bulannya kembali.

- Si Pemeran utama cewek sama-sama punya eoraboni / kakak laki-laki yang tampan dan sangat ia sayangi. Kalau dibilang malah melebihi dirinya sendiri.

-Second lead bangsawan yang tampan dan baik hati, namun kesepian.

Nah, sekian analisisku. Hehe. Kalau kalian, ada yang berpikiran sama?

Blackout Jakarta 4 Agustus

Halo, Assalamualaikum.

Kali ini, aku datang dengan berita hot yang sedang diperbincangkan, kejadian luar biasa yang melumpuhkan ibu kota dan berbagai kota di bagian barat pulau Jawa.

Sebelum mulai membahas, saya mau disclaimer dulu nih, kalau ini bukan tulisan official dari PLN. Sampai hari inipun, PLN belum release pernyataan resmi terkait penyebab pasti Blackout yang terjadi tanggal 4 Agustus kemarin. Jadi, di sini saya bukan mau menjelaskan detail tentang apa yang sebenarnya terjadi, apalagi hingga aktual penyebab atau langkah perbaikan PLN. Karena saya sendiripun hanya rakyat sipil, bukan orang PLN.

Di sini cuma mau sharing aja, biar kita lebih mengenal sistem kelistrikan hingga kita bisa sama-sama mengerti, kenapa sih sampai blackout seluas dan selama ini.

Check it out!

Pertama, saya akan menjelaskan tentang sistem tenaga listrik, mulai dari listrik dibangkitkan hingga ke konsumen listrik akhir (rumah-rumah warga, industri, fasilitas publik, dan semua yang membeli listrik dari PLN.

Jadi, sistem tenaga listrik itu kurang lebih seperti ini:
image source: www.delmarva.com

- Pembangkit
Merupakan tempat di mana listrik diproduksi, mengubah berbagai macam energi menjadi energi listrik. Di mana yang paling umum di Indonesia adalah memproduksi listrik dengan mengubah energi kinetik berupa gerak turbin menjadi energi listrik. Sumber yang digunakan untuk menggerakkan baling-baling turbin inilah yang membedakan jenis pembangkitnya. Ada yang digerakkan oleh air, angin, gas, hingga uap. Umumnya listrik yang dihasilkan tegangannya tidaklah begitu besar. Jadi, untuk menyeratakan semua tegangan pembangkit yang berada dalam satu sistem sebelum dikirim melalui tower-tower transmisi, ada komponen yang disebut transformer atau trafo. Gunanya adalah mengubah tegangan. Khusus untuk trafo yang ada di pembangkit, merupakan tipe step-up yakni trafo yang berfungsi untuk menaikkan tegangan ke tegangan standar untuk transmisi.

- Transmisi (Tegangan tinggi / Tegangan ekstra tinggi)
Merupakan istilah untuk menyebut sistem penyaluran tegangan listrik dengan tegangan tinggi (SUTT 75 - 150 kilo Volt)  hingga ekstra tinggi (SUTET 500 kilo Volt). Merupakan tahap penyaluran listrik pertama dan berjarak sangat jauh. Berperan menyalurkan listrik dari titik-titik pembangkit listrik ke gardu-gardu induk serta dari gardu induk satu ke gardu induk yang lain. Mengapa tegangan di jaringan transmisi sangat tinggi? Karena perjalanan yang ditempuh sangatlah jauh. Bayangkan saja, listrik dari paling timur pulau jawa harus dikirim ke bagian paling barat pulau jawa, berapa kilometer jaraknya? Nah, untuk menghindari jatuh tegangan karena jarak yang sangat jauh, maka tegangannya harusnya dibuat tinggi. Penopang untuk saluran transmisi ini disebut menara transmisi. Tentu kalian tidak asing dengan benda mirip menara eiffel ini kan. Hehe.

Menara transmisi 150 kV (Sc: Koleksi pribadi)


- Gardu Induk.
Gardu ini adalah tempat dimana tegangan listrik yang diterima dari transmisi diturunkan. Terdapat beberapa macam jenis gardu induk. Dari tegangannya sendiri, dapat dibedakan menajdi gardu induk (GI) dan gardu induk tegangan ekstra tinggi (GITET)Teridiri dari trafo-trafo, pemisah, pemutus, dan berbagai komponen lainnya. Di sini, tegangan listrik diturunkan dari tegangan tinggi transmisi menjadi tegangan distribusi (20kV) untuk selanjutnya disalurkan ke trafo-trafo distribusi atau dari tegangan ekstra tinggi (500 kV) menjadi tegangan yang lebih rendah (150 kV / 75 kV) untuk disalurkan ke gardu induk lainnya.
Gardu Induk Panakkukang (sc: koleksi pribadi)



- Distribusi primer (tegangan menenagh 20kV)
Berperan untuk mengantarkan listrik dari gardu induk ke gardu distribusi (yang biasanya kalian temui di jalan-jalan). Kalau penyaluran transmisi hanya berupa kawat tanpa isolasi, nah, distribusi primer ini bentuknya sudah berupa kabel (kawat berisolasi). Tingginya tidak lagi setinggi transmisi dan distribusi primer ini ditopang oleh tiang listrik beton. Jika kalian melihat tiang listrik dengan 3 buah kabel melintang, itu berarti dia adalah distribusi primer.

- Gardu Distribusi
Umumnya berbentuk sepasang tiang beton dengan trafo di bagian atas dan sebuah box panel di bagian bawahnya. Komponen utama berupa trafo berfungsi untuk menurunkan tegangan dari tegangan 20 kV menjadi 220/380 V untuk selanjutnya dikirim ke rumah-rumah konsumen melalui jaringan distribusi sekunder. Khusus untuk konsumen-konsumen besar seperti pabrik, apartemen, rumah sakit, atau pusat perbelanjaan, satu buah gardu distribusi ini dibuat khusus untuk satu konsumen tersebut. Biasanya konsumen besar ini akan punya sebuah ruangan sendiri sebagai gardu distribusi mereka. Kalian pernah melihat sebuah banguna kecil seukuran satu kamar dengan lambang PLN besar di dinding bagian luarnya dan tulisan 'listrik pintar'? Nah, kemungkinan besar adalah trafo private milik konsumen besar PLN. Jadi untuk konsumen besar, sistem kelistrikan yang menjadi tanggung jawab PLN untuk mereka hanya sampai di sini saja.

Gardu Ditribusi (Sc: koleksi pribadi)


- Distribusi sekunder (tegangan rendah 220/380 V)
Nah, setelah sampai di gardu distribusi dan tegangan diturunkan dari tegangan menengah 20kV ke tegangan rendah 220/380 V, selanjutnya listrik didistribusikan lah ke konsumen akhir. Bentuk tiang penyokong untuk distribusi sekunder ini biasanya berupa tiang besi dengan 2 kabel (fasa dan netreal). Nah, dua line ini lah yang sampai ke rumah-rumah kalian, menghidupkan lampu, dan menjadi sumber ke stop kontak kalian.

- Konsumen
Konsumen akhir yang merupakan konsumen kecil. Bisa rumah tangga, industri kecil, atau kantor berskala kecil.

Nah, setelah mengenal sistem kelistrikan, selanjutnya kita akan membahas mengenai sistem interkoneksi. Jadi apa sih sistem interkoneksi itu? Singkatnya adalah sebuah sistem yang menghubungkan pembangkit-pembangkit dan gardu-gardu induk yang berada dalam satu wilayah guna peyetaraan suplai dan beban listrik dan agar dapat saling menyokong ketersediaan listrik antar daerah. Jadi, jika suatu pembangkit di suatu daerah mati, maka tidak perlu khawatir daerah di sekitarnya mati listrik dalam waktu yang lama, karena daerah di sekitarnya tetap akan mendapatkan listrik dari pembangkit-pembangkit lain yang berada dalam satu sistem interkoneksi. Selama cadangan putar (daya dari pembangkit cadangan cukup untuk mengcover semuanya).

Analoginya, misalnya ada 3 buah SD di sebuah desa. Di dekat masing-masing SD ini ada pabrik roti yang bagi-bagiin roti gratis. Nah, jumlah roti yang diproduksi beda-beda. Ada yang banyak, ada yang sedang, dan ada yang sedikit. Jumlah siswa di masing-masing sekolahpun beda-beda. Sayangnya, sekolah dengan siswa paling banyak, pabrik roti di dekat sekolahnya justru memproduksi roti paling sedikit sedangkan pabrik roti yang memproduksi roti paling banyak ada di dekat SD yang siswanya paling sedikit, sehingga rotinya mungkin berlebih. Nah, sebagai solusinya, ketiga pabrik roti ini mengumpulkan roti produksi mereka di balai desa untuk disantap bersama-sama seluruh siswa di ketiga SD. Dengan begitu, semua siswa akan mendapatkan roti.

Nah, seluruh pembangkit dan gardu yang berada dalam satu sistem ini terhubung dengan jaringan transmisi. Khusus untuk yang ke bali, menggunakan submarine tansmission (kabel bawah laut).

Contoh dari sistem transmisi ada sistem interkoneksi jawa bali dan sistem interkoneksi sulselrabar.
Dan karena judul utama pembahasan kita kali ini adalah Blackout di Jakarta dan sebagian daerah jawa, maka kita akan lebih membahas tentang sistem interkoneksi jawa bali.

This is!
Single Line Diagram Sistem Interkoneksi Jawa Bali (Image Source: imadudd1n.wordpress.com)
*gambar ini mungkin tidak update. Karena SLD ini saya dapatkan dari berkas tahun 2008*

Nah, buat sebagian dari kalian mungkin asing dengan gambar di atas. Single line diagram itu semacam bahasanya anak listrik. Jadi satu sistem yang gede, dibuat gamabrnya dengan satu garis untuk mewakili tiap jalur listriknya. Intinya ini adalah representasi dari sistem interkoneksi yang ada di jawa bali. Yang berwarna hijau itu adalah pembangkit, biru adalah gardu induk, merah adalah beban (konsumen), dan garis hitam itu adalah jalur transmisi. Bisa dilihat kan, meskipun tidak dalam garis lurus, tapi semuanya terhubung.

Sebelum membahas di bagian mana sih kerusakan yang kemarin terjadi, aku mau bahas dulu tentang relay proteksi.

Kalian tau kan betapa listrik itu sama halnya kayak api dan air, bisa sangat berguna tapi juga bisa sangat berbahaya. Jadi, untuk meminimalisir dampak negatif yang mungkin terjadi karena gangguan, maka dipasanglah relay proteksi untuk melindungi manusia maupun komponen-komponen listrik agar tidak terjadi kerusakan lebih jauh. Relay proteksi ini akan merasakan gangguan dan secara otomastis mentripkan/mengoff-kan jalur listrik.

Mungkin ada yang belum tahu, bahwa peralatan-peralatan listrik itu sangatlah mahal. Sebuah pabrik ukuran sedang aja, untuk keperluan komponen-komponen listrik membutuhkan biaya sekitar 10-20 miliar. Itu baru untuk komponen listrik, tentunya belum termasuk mesin-mesin listrik yang ada di dalamnya. Tahu panel listrik? Itu loh, yang bentuknya seperti lemari besi yang di pintunya ada lampu warna-warni. Harga satu panel listrik yang digunakan di pabrik itu bisa sampai 1 miliar loh.

Panel Listrik

Kalian tahu mcb di rumah kalian yang biasanya turun kalo terjadi trip? Selain sebagai pembatas daya kalo kalian udah pake daya terlalu banyak, itu juga termasuk berfungsi untuk proteksi. Misalnya kabel di plafon rumah digigit tikus sehingga isolasi kabelnya terbuka dan kedua kabel fasa-netral bersentuh, itu otomatis mcb di rumah kalian akan mentripkan jalur listrik ke rumah kalian. Bayangkan kalau tidak ada mcb, bertemunya fasa dan netral itu bisa bikin percikan api. Nah, MCB ini bisa kalian dapatkan dengan harga sekitar 100 ribuan. Tapi untuk yang ukuran besar yang misalnya dipake di mall, pabrik, dan gedung-gedung tinggi, meskipun masih sama-sama untuk tegangan rendah, tapi harganya perbuah bisa sekitar 40an juta.

Itu, baru untuk tegangan rendah, belum untuk yang tegangan tinggi. Bayangkan berapa kerugian yang bisa ditimbulkan dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengganti semua komponen yang rusak jika seandainya tidak ada relay proteksi atau seandainya terjadi 'gagal proteksi'. Belum lagi kemungkinan adanya ledakan, kebakaran karena percikan api, bisa membahayakan pekerja yang ada di site. Itu kenapa, relay proteksi pasti harus dipasang, bersamaan dengan berlapis-lapis sistem proteksi lain untuk selalu memastikan keamanan kita menggunakan listrik bermega-mega watt.

*trip = kondisi di mana pemutus (benda-benda seperti MCB, ACB, MCCB, dsb) memutuskan akses aliran listrik secara otomatis karena terjadinya gangguan atau kondisi tidak normal dalam jaringan listrik.

Nah, selanjutnya kita akan masuk ke "kenapa sih kemarin sampai terjadi blackout seluas dan selama itu?" *huft, akhirnya masuk ke pembahasan utama ya. Hehe. Maaf kalau pembahasan sebelumnya kepanjangan. Menyajikan materi yang dipelajari selama satu semester salam satu tulisan singkat, semoga tetap bisa ditangkap ya maksud dari pembahasan di atas :)

Single Line Diagram Sistem Interkoneksi Jawa Bali (Image Source: imadudd1n.wordpress.com)
*gambar ini mungkin tidak update. Karena SLD ini saya dapatkan dari berkas tahun 2008*

Okey, kembali ke single line diagram. Kalau diperhatikan, semua gardu induk dan pembangkit di atas terhubung kan? Kalau diperhatikan lagi, seperti sebuah circle. Kalau mengikuti garisnya, akan kembali lagi ke pembangkit yang sama.

Ini karena sistem jawa bali ini ada 2 jalur untuk menghubungkan sistem kelistrikan dari timur hingga ke barat. PLN menyebutnya jalur utara dan selatan. Masing-masingnya ada 2 sirkuit/line (bisa dilihat di gambar di atas, untuk menghubungkan satu GI dengan GI lain, ada 2 garis kan). Jadi total ada 4 sirkuit.

Jalur utara itu yang dari Grati - Surabaya Barat - Ungaran - Mandirancan - Bandung Selatan - Saguling - Cibinong - Depok. Nah untuk jalur selatan itu dari Grati - Paito - Kedir - Peda - Tasik - Depok.

Nah, di Hari Minggu, 4 Agustus itu, kata Ibu Sripeni selaku Plt Dirut PLN, sedang ada maintanace di jalur selatan di salah satu sirkuitnya. Karena memang di hari minggu itu beban (penggunaan listrik) lebih sedikit, jadi sengaja dilakukan maintanance di hari tersebut. Jadi dalam lah ini, masih aman, karena masih ada 1 sirkuit di jalur selatan dan 2 sirkuit di jalur utara. Jadi masih tersisa 3 sirkuit. Lalu kemudian, terjadilah gangguan di salah satu sirkuit di jaringan transmisi Ungaran (jalur utara) yang tidak berapa lama disusul oleh gangguan di sirkuit yang satunya lagi. Jadi 2 sirkuit di utara dua-duanya gangguan dan otomatis penyaluran penyaluran listrik dari timur ke barat terputus sama sekali di jalur utara. Ini berarti tinggal 1 sirkuit yang menghubungkan timur ke barat. Lalu karena ketidakeimbangan beban dan sebagainya (saya juga tidak tahu pasti) Karena sisa satu sirkuit yang menghubungkan jalur timur ke barat (karena terlalu berat dipikul oleh satu sirkuit sendiri di mana biasanya dipikul oleh 4 sirkuit), akhirnya satu-satunya sirkuit yang ada di jalur selatan tersebut, tepatnya di jalur transmisi Tasik - Depokpun mengalami gangguan.

Dengan kejadian tersebut, sistem kelistrikan dari timur ke barat terputus total. Seperti yang diketahui, bahwa pulau jawa bagian barat (jakarta-banten-jabar) memiliki beban yang lebih banyak dari pada jawa bagian tengah dan timur. Dengan terjadinya pemutusan tersebut, otomatis yang mensuplai beban-beban di jawa bagian barat hanya pembangkit-pembangkit yang ada di jawa bagian barat saja. Dan kondisi ini tidak ideal, beban lebih besar daripada daya listrik yang diproduksi. Hal ini menyebabkan frekuensi turun (frekuensi normal dan berlaku di Indonesia adalah 50 Hz dengan toleransi +/- 0.5 Hz). Semakin besar selisih antara daya yang diproduksi dengan konsumsi beban, maka akan semakin jauh frekuensi turun.

Kembali ke relay proteksi tadi. Jadi baik di gardu induk, pembangkit, maupun transmisi terdapat relay proteksi. Kerjanya macam-macam, parameternya macam-macam, tempat, dan waktu tripnya pun macam-macam. Beberapa relay proteksi, sensing-nya (ibaratnya kalau di manusia itu adalah saraf sensorik) di letakkan di saluran transmisi untuk men-trip memutuskan akses langsung dari gardu induk/pembangkit ke jaringan transmisi tersebut untuk menghindari gangguan yang terjadi pada transmisi juga merusak komponen-komponen di GI/pembangkit.

Nah, karena adanya gangguan di jalur transmisi Tasik - Depok tadi, selanjutnya juga karena frekuensi yang terus menurun, (ada yang namanya under frequency relay yang akan mentrip ketika frekuensi sangat rendah), kemudian beberapa pembangkit akhirnya trip. Salah satunya PLTU Suralaya yang memiliki 7 buah generator pembangkit listrik. Perlu diketahui, frekuensi yang tidak normal bisa merusak peralatan-peralatan listrik. Tidak hanya di sisi pembangkit, tapi juga di sisi konsumen.

Nah, jadilah suplai untuk seluruh daerah Jakarta serta Jabar dan Banten benar-benar lumpuh.

Berbicara mengenai listrik, ketika terdapat gangguan, hal pertama yang terjadi untuk memproteksi keseluruhan sistem adalah break the circuit. Mengisolasi bagian yang terjadi gangguan sehingga tidak membahayakan dan tidak menyebar ke sistem yang lainnya. Jadi jangan ditanya, "memangnya tidak ada pendeteksi untuk mencegah sebelum terjadi gangguan?" Kalo gangguan mau datang itu nggak permisi dulu emang sist/bro :') Lain lagi kalau pertanyaannya "Memang tidak ada pendeteksi utnuk mencegah kerusakan?" Jawabannya ada, dan itu adalah "break the circuit". Dampaknya? tentu saja listrik padam.

Lalu kenapa butuh waktu yang sangat lama untuk memperbaiki sistem yang mengalami gangguan tersebut? Pertama, mereka harus mencari penyebabnya. Yah kan kalau di rumah kita ada yang putus juga harus cari tau dulu kan sumbernya di mana. Memang ada berbagai macam alat canggih milik PLN yang bisa mendeteksi gangguan. Tapi tetap saja, ada beberapa hal yang harus dianalisis sebelum menentukan dengan pasti di mana dan mengapa terjadi trip/gangguan. Lalu karena terjadinya gangguan di jaringan transmisi, di mana letaknya biasa berada di pinggir jalan, atas gunung, tengah sawah, dsb. Tentu saja butuh waktu untuk mengakses tempat terjadinya gangguan. Lalu perbaikan dilakukan. Saya tidak tahu pasti bagaiamana cara mereka melakukan perbaikan, tapi yang pasti butuh waktu lah. Belum lagi persiapan untuk manjat tower dan jaringan transmisi.

Mungkin butuh beberapa jam untuk memperbaiki semuanya. Di saat yang sama, PLN berusaha untuk mensuplai dengan pembangkit cadangan. Menghidupkan pembangkit listrik itu tidak semudah menghidupkan lampu dengan sakelar. Ada banyak langkah-langkahnya. Dan itu tidak bisa dilakukan dalam beberapa menit saja. Lalu saat semua sudah beres, saatnya menghidupkan kembali seluruh pembangkit yang tadi trip. Termasuk PLTU Suralaya dengan 7 buah generator turbin uapnya.

Did you know? Salah satu kekurangan PLTU adalah waktu starting yang relatif lama. Paling lama diantara semua jenis pembangkit. Dalam keadaan sistem masih panas/stand by butuh waktu sekitar 2 jam untuk starting kembali. Sedangkan dalam keadaan dingin, waktu startingnya adalah 6-8 jam. Kenapa demikian? Salah satunya adalah karena mereka harus mendidihkan kembali air-air di boiler mereka yang sudah mendingin. Tambahan, ketika generator mati karena adanya trip (bukan off normal), maka mereka perlu untuk men-setting ulang banyak parameter, termasuk relay-relay proteksi yang mentripkan tadi. Jadi, menghidupkan kembali PLTU yang sudah trip dan sudah mendingin itu tidak semudah menghidupkan genset indomaret.

Nah, kalau dikalkukasi, make sense ya, pemadaman terjadi sampai selama itu. Semoga kedepan tidak terjadi lagi blackout seperti ini lagi.

Sekian pembahasan kita kali ini mengenai peristiwa luar biasa, padam listrik, Blackout Jakarta-Banten-Jabar 4 Agustus 2019. Semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari kejadian ini.

Thank you for reading. Dan kalau ada yang mau ditanyakan/dikoreksi, please feel free to write a comment.

Wassalamualaikum ^-^

Jumat, 12 April 2019

Bagaimana Aku (Terpaksa) Golput

Hai, Assalamualaikum.
Katanya Indonesia harus 100% memilih, tapi maafkan aku Indonesia karena nggak bisa memenuhi kewajibanku sebagai warganegara.

Tahun 2014 adalah pertama kalinya aku ikut Pilpres. Terbayang euforia saat itu sama meriahnya dengan saat ini. Meskipun harus diakui bahwa rasanya tahun ini suhunya lebih panas, sikut-sikutan antar timses lebih tajam. Mungkin seiring dengan semakin banyaknya pengguna dan penggunaan medsos yang bikin komentar kebencian, hoax, dan segalanya jadi lebih mudah menyebar. Karena di jaman sekarang orang yang otaknya kurang berespun sudah pada punya akun medsos. Coba bandingkan dengan tahun 2008. Mungkin yang pakai media sosial nggak begitu banyak, tapi setidaknya kita bisa tahu bahwa mereka yang berselancar di dunia maya saat itu setidaknya orang yang berpendidikan.

Mau curhat dikit, kemarin ada ibu-ibu yang mention aku di IG dengan kata-kata yang tidak sopan, aku shock dong. Nyoba berpikir jernih dan lihat lagi apa yang aku tulis, dan masih belum mengerti kenapa dia sampai mention aku seperti itu. Akhirya, setelah beberapa menit kemudian dia mention aku lagi, dan bilang sori karena salah mention. Hoaaa.. Itu nunjukin banget kalau jaman sekarang makin banyak pengguna medsos yang 'kurang sehat'. Their fingers run faster than their brain. Sedih banget.

Okay, back to the election.

Itu kalau kita lihat dari sisi negatif, rasanya pengen masa bodoh aja sama politik. Tapi kalau dilihat dari sisi lain, yah what ever they said, memilih adalah kewajiban sekaligus bentuk kepedulian kita terhadap negara ini. Membawa negara ini ke arah lebih baik atau mencegahnya menjadi lebih buruk, itu ada di tangan kita.

Lima tahun lalu, aku sebagai pemilih pemula benar-benar dibuat bingung. Bingung mau memilih siapa, bingung mau percaya yang mana. "Huaa, aku mau presiden yang cerdas kayak Pak Habibie dan tegas seperti pak Soekarno. Ada nggak? Atau pak SBY lagi aja nggak papa deh." Itu pikirku selama berbulan-bulan sejak pilpres pertama kali digaungkan di akhir  masa kepemimpinan pak SBY. Rasanya kedua capres yang baru banyak banget isu negatifnya.

Apa aku golput aja? Biar kalau ternyata yang terpilih adalah pilihan yang salah, aku tidak perlu bertanggung jawab untuk itu.

Beberapa bulan sebelum pemilu 2014, aku akhirnya jadi sadar. Bahwa ketika aku golput, justru aku lebih bersalah karena aku menyerah tanpa pernah berusaha.

Jadi aku mulai mencari tahu. Mulai dari latar belakang mereka, orang-orang di sekitar mereka, mencari tahu kebenaran dibalik isu di sekeliling mereka, hingga catatan sejarah. Lucunya, saat baru mulai mencari tahu, aku justru disuguhkan banyak hal negatf tentang mereka.

Ya, tidak ada yang sempurna diantara kedua capres. Bahkan tidak ada yang mendekati tipikal pimpinan idamanku. Tapi, setidaknya aku harus memilih yang mudhoratnya lebih sedikit. Aku harus memilih yang kurang buruk diantara yang terburu.

Lalu aku mulai mencari tahu lebih dalam dan di lebih banyak sumber. Tentu, aku tidak hanya membaca satu atau dua sumber. Terlebih aku tidak ingin banyak mempercayai yang disebar di internet. Aku harus mencari tahu sendiri.

Lalu aku sampai pada suatu kesimpulan. Yang menurutku mudhoratnya lebih sedikit. Akupun sangat yakin memilih beliau. "Mau beliau menang atau kalah, yang penting aku sudah menunjukkan satu usaha untuk satu Indonesia." Pikirku saat itu.

Empat tahun kemudian, tahun 2018, euforia pilpres kembali menggaung di seluruh negeri. Aku memutuskan untuk mencari tahu dari awal lagi. Khawatir bahwa pencarianku 4 tahun lalu ada kesalahan. Kali ini aku lebih banyak menyorot tokoh di sekitar para capres. Satu hal yang membuatku tidak memilih capres yang satunya, aku memulai mencari dari situ lagi. Khawatir pencarianku 4 tahun lalu sedikit didasari ketidaksukaan sejak awal (Karena aku tidak menyukai tokoh itu sejak TK dulu. Menurutku beliau seperti penyihir jahat), aku memulai menetralkan pikiran. Mulai bepikiran positif tentang beliau dan mencari tahu lagi, khawatir bahwa beliau tidak seburuk yang aku pikir.
Tapi hasil akhir dari pencarianku adalah, aku bangga terhadap pilihanku dulu dan tidak menyesalinya sama sekali. Dan tahun 2019pun, aku akan memilih orang yang sama.

Tidak banyak yang mengetahui pilihanku kecuali keluargaku. Karena menurutku hal teraman untuk melewati situasi yang tidak kondusive, adalah dengan tidak mengumbar pilihan. Bukannya aku takut dibully atau takut berdebat, tapi aku hanya khawatir perbedaan pendapat tidak bisa diterima oleh semua orang. Jadi aku hanya memberi tahu pilihanku jika ada orang yang mengajak diskusi sehat.

Ajaibnya, aku dan seluruh keluarga besarku dari pihak ayah memilih pilihan yang sama. Dari nenek, orang tuaku, kakak, adek, paman, tante, hingga para sepupuku. Padahal kami jarang berdiskusi atau membahas pilihan politik kami. Apalagi sampai ada hasutan atau doktrin. Nggak ada sama sekali. Tapi kami secara ajaib memilih yang sama. Kalau kau pikir kami ada keturunan apa gitu yang dekat dengan salah satu paslon, jawabannya tidak ada sama sekali. Kami orang Indonesia asli, orang bugis asli, dan tinggal jauh dari ibu kota. Mungkin kami hanya kebetulan memiliki pikiran yang sama tentang bagaimana akan bagaimana keadaan negeri ini ke depan.

Awalnya aku galau mau pulang kampung atau nggak. Karena harga tiket pesawat yang semakin mahal. Kemudian aku mendengar tentang pindah pilih. Wah, Alhamdulillah ada jalan yang lebih hemat dikantong untuk tetap melaksanakan kewajiban. Di awal Februari, masih lebih dari 2 bulan sebelum pemilu, aku berencana untuk mengurus form A5 untuk pindah pilih.

Setelah mencari tahu, aku melihat bahwa salah satu syarat untuk mendapatkan form A5 adalah nama kita sudah ada di DPT. Ah, aku tidak khawatir. Namaku pasti ada, toh tahun lalu juga ada, akupun nggak pernah ada masalah administrasi sipil apapun.

Tapi kagetnya aku, saat cek di website, namaku tidak muncul di DPT. "Duh, bagaimana bisa minta pindah pilih?" Pikirku. Pokoknya fokus pertamaku adalah agar namaku bisa masuk DPT Sebelum H-60. Karena kata beberapa website yang ku baca, urus nama buat pemilu gitu cuma bisa sampai H-60 atau H-30.

Akhirnya aku menelpon KPU Kota Makassar. Menanyakan solusi untuk aku yang namanya tidak ada di DPT. Akhirnya aku diminta untuk menelpon ke bagian yang mengurus tentang DPT. Setelah menelpon dan tanya-tanya, ibu tersebut mengatakan bahwa bisa diurus, aku cukup melapor ke kelurahan.

Jadi, aku meminta kakakku untuk mengurus semua yang diperlukan. Akhirnya kakakku ke kelurahan dan di sana dikatakan bahwa butuh beberapa hari bagi mereka untuk mengurus. Jadi kakakku pulang dan disuruh datang lagi sekitar sepekan kemudain. Saat datang lagi,  kakakku diberitahu bahwa namaku memang tidak ada di DPT jadi aku tidak bisa minta form pindah pilih. Tanpa diberitahu alasannya kenapa namaku tidak ada. Kakakku diminta ke KPU langsung kalau masih mau mengurus.

Beberapa hari kemudian kakakku ke KPU. Di sana kakakku diberitahu bahwa namaku tidak ada di DPT karena saat survey untuk pemilih itu, aku tidak ada di rumah. Aku dianggap sudah pindah. Namaku tidak dapat dimasukkan ke daftar pemiilh lagi. Bisanya 5 tahun kedepan. Aku diminta menunggu aja, siapa tahu nanti bisa memilih pakai e-KTP.

Lalu aku mengetahui bahwa kita bisa memilih menggunakan e-KTP dan masuk dalam DPK. Tapi harus di kelurahan sesuai KTP.

Untuk pulang rasanya mustahil. Tiket sekali perjalanan Jakarta-Makassar harganya mencapai 1.4 jutaan untuk penerbangan paling murah saat terakhir kali cek. Bayangkan, PP hampir 3 jt untuk memperjuangkan 1 suara. Bisa ludes tabungan anak rantau ini :(

Aku tidak menyerah, masih mencari tahu di internet apa ada jalan buatku bisa memilih di tempat domisili sekarang. Bisakah mengurus form A5 tanpa nama kita masuk DPT? Bisakah memilih pakai e-KTP meskipun bukan di daerah asal?

Sampai H-7, jawabannya adalah TIDAK. Karena menurut akun twitter resmi KPU, dasar dari form A5 adalah memindahkan nama kita dari DPT kota asal ke daftar pemilih kota domisili.

Semoga 5 tahun ke depan sistemnya bisa dibenahi. Sedangkan mereka yang bertahun-tahun di luar negeri masih dapat hak suara, tapi mengapa kita yang baru setahun/dua tahun tinggal di luar provinsi, masih di dalam Indonesia harus gugur hak suaranya secara administrasi? Masa karena sedang tidak tinggal di rumah hak suara kami ditiadakan, kami juga tidak dimasukkan ke daftar pemilih di kota domisili. Kami dianggap tiada? Padahal KTP masih jadi penduduk di kota itu. Apa kami tidak diakui sebagai warga negara?

Rasanya sedih banget. Ini seperti cinta yang bertepuk sebelah tangan. Aku mencintai negaraku, sedangkan negaraku tidak memberiku hak untuk menunjukkan kepedulianku.

Ya! Aku kehilangan hal pilihku tahun ini. Dan sedihnya, yang mengalami ini bukan cuma aku. Di twitter ada banyak yang mengalami hal yang sama. Itu yang melapor ke twitter KPU. Bayangkan berapa banyak orang yang terpaksa golput karena tuntutan hidup yang harus merantau? Jadi, bagaimana Indonesia mau 100% milih?

Senin, 11 Februari 2019

Tanur Pemanggang Kacang dengan PLC dan SCADA (Praktikum Automasi Industri)


Assalamualaikum.
Kembali lagi di rubrik 'berfaedah' kelistrikan.

Tanur, buat sebagian orang mungkin ini adalah hal yang asing. Jadi, apasih tanur itu? Simplenya, tanur adalah sebuah oven berukuran besar yang biasanya dipakai di indutri. Nah, bagaimana membuat suatu sistem tanur yang lebih modern dengan beberapa kontrol otomatis adalah satau satu materi di mata kuliah automasi industri-ku. Juga beberapa kali dijadikan jobsheet dalam mata kuliah bengkel.

Jadi, sebenarnya ini adalah tugas kuliahku dulu, salah satu yang paling susah, memakan waktu banyak, dan otomatis juga menjadi salah satu yang paling memorable buatku (Sebenarnya sebagian besar kuliahku itu memorable. Hahaha). Jadi, waktu itu disuruh buat tugas berupa video yang isinya menjelaskan keseluruhan mulai dari pemprograman, display SCADA, hingga implementasinya.

Tugas praktikum lab automasi dan akuisisi data oleh Bapak Hamdani, ST., MT. yang aku kerjakan bersama rekan setim dan juga seatmate adalanku, Suhartini. Salah satu cara cepat untuk menjelaskan ke orang yang ingin tahu, apasih SCADA dan PLC itu.

Langsung aja yuk, ini dia videonya.



Jadi, SCADA itu adalah tampilan komputer yang mewakili mesin-mesin dan komponen-komponen industri. Yang memiliki tampilan aktual tentang proses yang sedang terjadi dan juga tombol-tombol kontrol yang dapat dikendalikan langsung dari komputer. Seperti kepanjangan dari SCADA itu sendiri, yakni Supervisory Control and Data Aquisition.

Sedangkan PLC atau Programmable Logic Controller (tidak tampak hardwarenya di video) adalah sebuah alat yang menjadi otak dari semua proses. Yang membuat kita dapat mengendalikan proses dengan program komputer (Programmingnya yang muncul di awal video) dan juga sekaligus menjadi penghubung SCADA dengan alat yang ingin dikontrol.

Sekian.

Kalau ada yang ingin dikoreksi atau ditanyakan, boleh banget kok ninggalin di komentar. Insya Allah kita belajar bareng-bareng ^-^

Beberapa Nama Warna Selain Mejikuhibiniu

Pernah nggak kalian ditanya tentang warna dan kalian sendiri bingung menyebutnya apa? Atau ketika belanja online, ada puluhan avaible colour...