Selasa, 27 Februari 2018

KGSP (Part 1: KAIST or SeoulTech?)

27 Februari 2018
10:21 WIB

Saat ini saya sedang menyusun berkas untuk apply beasiswa master KGSP-Graduate.
Sejak beberapa bulan yang lalu saya sudah membaca tentang adanya beasiswa ini secara kebetulan. Saat itu langsung pengen iseng daftar tapi deadlinenya baru aja lewat beberapa hari lalu dan lumayan kecewa. 

Entah apa yang mengilhami saya pengen kuliah lagi, padahal di hari saya yudisium udah meyakinkan diri kalo saya udah pasti gak mau kuliah lagi, enggak akan! Terutama jika harus ambil electrical engineering lagi. Kuliahnya emang menyenangkan menurutku, tapi tugas akhirnya itulooooh, udah hampir stress dibuatnya. Udah, cukup! TA untuk S1 aja udah setengah hidup ngerjainnya, gimana dengan thesis? Nggak kebayang susahnya. Belum lagi bayangan tentang lab untuk graduate students itu pasti nggak kayak pas S1 yang petunjuknya udah disediain, alat-alatnya memudahkan, dan bahkan kalo udah mentok yah datanya diprediksi aja. Yang ada dibayanganku lab S2 itu udah kayak lab professor2 yang nyiptain power puff girls atau astroboy. Nggak bakal ada modul otomatis kayak lab module Lucas Nulle (Yang kata temanku harganya 2 milyar xD) yang memudahkan, nggak! pasti lab buat master itu bakalan jauh lebih sulit.

Tapi entah kenapa pas liat blog tentang beasiswa-beasiswa itu kok, jadi kepengen yah. Kepengen ngerasain kuliah lagi. Ternyata dibanding sulitnya ngerjain tugas kuliah dan stresnya ngerjain TA, kebosanan di meja kerja itu lebih berat. Hahaha. Yaah, saat itu lagi bosan-bosannya karena kerjaan dikit banget, iseng-iseng browsing apa aja, eh nyasar di blog beasiswa.

Oke, balik lagi ke beberapa bulan yang lalu. Jadi, pas liat deadline untuk apply beasiswa KGSP udah lewat, aku lumayan kecewa tapi nggak pake banget sih, soalnya emang baru liat, ibaratnya niatnya emang belom kekumpul penuh. Trus eh, pas baca-baca ulang, ternyata itu untuk undergraduate, dan untuk graduate (master/doktor) baru akan dibuka beberapa bulan kedepan. 

Jadi semangat dong, mulai lah mempersiapkan diri. Aku yang emang awalnya senang baca artikel keelektroan (karena nggak ada kerjaan di kantor) jadi makin rajin. Biasanya sih, mampir-mampir di situs-situs gak penting sesekali, tapi kali ini enggak, pokoknya aku baca semua tulisan-tulisan orang tentang KGSP, Mulai dari pengalaman gagal sampai yang berhasil. Baca-baca juga pengalaman orang di beasiswa lain, seperti LPDP, Fullbright, Erasmus, dll. Dari situ pandanganku tentang kuliah S2 jadi berubah. Tidak se-membuat-stres bayanganku sebelumnya.

Aku jadi ingat, gara-gara setelah kerja ini keranjingan baca-baca tentang kelistrikan dan keelektroan, jadi makin banyak hal yang kupertanyakan juga, namun tidak ada yang bisa memberi jawaban memuaskan. Tidak rekan-rekan kantorku, tidak juga internet sekalipun. Aku jadi mikir, kalau aku kuliah lagi, pasti ketemu banyak professor dong, nah, kalau para professor itu tidak bisa memberi jawaban juga, berarti emang ada yang salah dengan pertanyaanku, jadi sepertinya akan bagus kalau aku bisa kuliah lagi, jadi bakal punya kesempatan buat mempertanyakan semua pertanyaanku selama ini. Jadilah, tekatku bulat buat daftar beasiswa S2.

Kenapa harus beasiswa? Yah, karena aku pengen lanjut S2 dengan niatan emang pengen nambah ilmu dan pengen habisis waktu semaksimal mungkin buat belajar, jadi aku nggak kepikiran buat ambil ekstensi. Karena selain ilmu aku juga menyadari hal yang juga penting adalah prestasi dan koneksi, jadi kali ini aku ingin mendaftar di kampus berprestasi. Kuliah full time di kampus berprestasi, biayanya pasti nggak sedikit, belum lagi harus berhenti kerja. Yah, biaya dari mana kalau bukan beasiswa? :)

Kenapa luar negeri? Tawarannya lebih banyak dan syaratnya lebih mudah. Serius loh ini, kalo kuliah dalam negeri kan ada test tertulis akademik, wawancara langsung, dsb, tapi kalau ke luar negeri itu testnya hanya interview dan itupun kalo nggak via telpon, via skype. Jadi bisa dilakukan biarpun kita tinggal jauh dari kampus tersebut dan nggak perlu ijin kantor.
Selain alasan di atas, aku juga sebenarnya pengen banget tinggal di luar negeri beberapa saat. Bukannya aku nggak cinta Indonesia, tapi pengen aja liat dunia yang luar, sisi lain bumi, merasakan atmosfer yang berbeda, dan menambah sudut pandang tentang banyak hal.

Kenapa KGSP? Well, aku emang suka nonton drama Korea, tapi aku bukan K-poper kok. Sebenarnya aku juga nggak masalah kuliah di negara mana aja, selama itu di negara yang teknologinya maju dan gratis. Hahaha. Tapi berhubung KGSP ini kalo aku bilang syaratnya sedikit lebih mudah, nggak perlu dapat Letter of Acceptance dari universitas lebih dulu dan juga menerima TOEIC! Yes, negara-negara di Eropa dan Amerika, bahkan Australia dan NZ semuanya hanya menerima IELTS atau TOEFL yang mana itu emang dikhususkan untuk keperluan akademik sedangkan TOEIC lebih untuk keperluan bekerja. Dan, sepertinya emang cuma negara-negara Asia yang menerima TOEIC untuk calon mahasiswanya, seperti Korea Selatan dan Jepang.

Kenapa TOEIC? Well, saat memutuskan untuk mendaftar beasiswa S2 keluar negeri, fokusku tertuju pada 1 hal, yang mana emang jadi kekuranganku. English Profiency! Yah, terakhir kali ikut TOEFL preparation cuma dapat nilai 430, sedangkan yang dibutuhkan minimal 600. Duh, jauh banget. Gimana caranya buat ningkatin itu dalam beberapa bulan yah? Kepikiran buat ikut les TOEFL, tapi biayanya lebih tinggi dari gajiku sebulan. Haha. Nggak mungkin minta sama ortu, karena sejak saat aku lulus kuliah udah janji sama diri sendiri buat nggak nyusahin orang tua lagi. 
Jadilah, akhirnya mutusin buat beli buku ampuh belajar toefl yang lengkap dengan video, latihan, dan softwere. Bukunya bagus, tapi pas tiba saatnya buat nonton video e-learning, aku kecewa. Nggak ada yang salah sih, hanya saja kupingku yang nggak terbiasa dengan bahasa inggris logat jawa. Iya, logat mentornya kental banget, jadi agak sulit nyernanya. Maafkan saya yah pak/buk. Dan terima kasih untuk ilmu dalam bukunya :)
Jadi, sayapun memutuskan buat nggak lanjut nonton videonya tapi tetap baca bukunya dan ngerjain latihan2nya. Karena merasa masih kurang banget, jadi saya juga rajin nyari-nyari materi sendiri di internet. Pokoknya saat nggak ada kerjaan dikantor aku gunakan buat belajar. Aku juga mulai rajin nonton film western dengan subtitle inggris buat melatih listeningku yang agak payah kalo kataku.

Singkat cerita, waktu tinggal 2 bulan sebelum KGSP-Graduate dibuka, yang biasanya selalu konsisten dibuka di awal bulan Februari setiap tahunnya. Aku mulai nyari di mana kira-kira bisa test TOEFL IBT (KGSP nggak menerima ITP), Dan akhirnya, ketemulah situs ITC, di situ aku liat biaya untuk test TOEFL sekitar 2.8 jt, dan di bawahnya ada test TOEIC, harganya beda jauh, hanya 600ribuan. Aku jadi ingat kalau KGSP juga nerima TOEIC. Karena curiga kenapa murah, jadi aku nanya, apa ini test TOEIC yang resmi seperti TOEFL nya? Dan dijawab Ya! Wah, jadi semangat buat nyari tau lebih banyak tentang TOEIC ini, ternyata testnya lebih mudah dari TOEFL karena menggunakan bahasa inggris yang lebih umum dan nggak ada speaking dan writingnya. Jadi TOEIC itu ada 2 jenis, Listening and Reading dan Speaking and Writing yang mana bisa diambil salah satunya atau dua2nya. Dan yang diperlukan buat KGSP hanya TOEIC Listening and Reading. 

Habis itu cus, putar haluan, aku jadi fokus ke TOEIC. Pokoknya, selain waktu ada kerjaan, aku selalu latihan soal dan materi grammar. Jadilah, kemarin Alhamdulillah tanggal 11 Februari kemarin aku ikut Test TOEIC di ITC Mangga Dua. Naik KRL dari stasiun Serpong+GrabBike. Jadwalnya jam 11 siang, tapi aku udah nangkring di sana jam 9 pagi saking takutnya telat. Hahaha. Score Report TOEIC sudah bisa diambil 2 hari setelahnya, tapi karena saya memilih hasilnya dikirim via JNE aja, jadi deh nyampe rumah 1 minggu lebih. Dan hasil saya adalah 745 (range 10 - 990). Lumayan kecewa, karena biarpun KGSP nggak netapin batas minimum untuk skor English Profiency-nya, tapi salah satu universitas yang kutuju menetapkan minimum skor untuk TOEIC adalah 750.

Jadi, untuk KGSP ini, kita bisa apply melalui 2 jalur.
1. Via embassy, dimana kita disuruh pilih 3 universitas yang berbeda.
2. Via university, dimana kita hanya boleh mengirim ke 1 universitas saja, dan kalau ketahuan mengirim ke lebih dari 1 jalur/universitas, maka akan langsung didiskualifikasi.

Karena malas berurusan dengan pengiriman luar negeri, dan pernah dengar kalo biayanya bisa sampai sejuta lebih buat kirim dokumen, akhirnya saya memutuskan buat apply via embassy aja.
Awalnya incaran saya sejak awal, bahkan udah saya tau sebelum punya niatan kuliah S2 adalah KAIST (Korea Advanced Institute of Science and Technology). Universitas terbaik ke 43 di dunia, terbaik kedua di Korea (Jangan tanya yang pertama yah, sudah pasti Seoul National University, yang aku nggak ada niatan apply ke sana karena sadar bakal serame apa persaingannya), dan salah satu universitas teknologi terbaik di Asia. Kemudian untuk pilihan ke dua dan ketiga, saya memutuskan untuk mendaftar di perguruan tinggi khusus sains dan teknologi, dengan pertimbangan bahwa kampusnya pasti lebih fokus ke engineering dan saingan (mungkin) lebih sedikit mengingat jurusannya juga sedikit. Akhirnya aku menjatuhkan pilihan ke POSTECH (Pohang University of Science and Technology) dan SeoulTech (Seoul National University of Science and Technology). 

Setelah mempelajari kurikulum-kurikulum di ketiga universitas, urutan pilihanku berubah, POSTECH menjadi yang pertama. Karena electrical engineeringnya ada major Control and Power, which is itu kesukaanku waktu kuliah dulu (dan POSTECH juga urutan 70an terbaik di dunia), sedangkan di KAIST lebih banyak ke arus lemah, nano device, semiconductor, dan telekomunikasi. aing nggak begitu baik dan nggak begitu suka bidang itu. Secara kurikulum sebenarnya KAIST urutan terakhir buatku, SeoulTech di electrical engineering ada electrical energy yang aku suka juga, tapi bagaimana yah, KAIST itu udah impian dari awal, ibarat kata dia cinta pertamaku, jadi ku simpan di pilihan ke 2. Hahaha. 

Tapi apa mau di kata, saya harus menyerah untuk POSTECH, karena yang tadi ku bilang, minimal score untuk TOEIC nya 750 T.T Syukurlah masih bisa masuk standar KAIST yang minimal skornya 720, dan SeoulTech nggak mematok standar. Huff, harus mencari universitas lain lagi. Kampus teknologi lain, GIST sama standarnya 750, UNIST bahkan 800 T.T Sedangkan KNIT nggak ada electrical engineering, adanya electronic engineering. Terdengar sama, tapi aslinya beda banget bro. Dan bingunglah selama beberapa hari untuk nyari 1 universitas lagi.

Karena kemarin terlalu sibuk buat belajar english, terlalu menggampangkan kepengurusan dokumen, dan lupa kalo saya itu jenis orang yang mempunyai kemampuan khusus, kemampuan yang mana nggak pernah sekalipun rencana A nya berhasil. akhirnya saya kewalahan juga di belakang T.T 

Dokumennya Apa Aja? Proof of applicant citizenship aku pakai KTP, sedangkan proof of parents' citizenship aku pakai akta kelahiran, KTP bapak, sama surat kematian mama. Akta kelahiran, KTPku, KTP bapak aku translate di sworn translator. Surat kematian mama baru diurus di bulan february minta tolong ke tante buat urusin di Catatan Sipil Makassar,. Tadinya janjinya selesai seminggu tapi KACapil nya lagi keluar kota, jadilah molor beberapa hari lagi. Tapi syukur, hasil akhirnya ada bahasa inggrisnya, jadi nggak perlu di translate lagi. Ijazah dan transkript aku minta adekku buat minta copy tanslate dari kampus, karena adekku lagi sibuk ujian proposal (+ bantuin temannya juga) dan ibu yang ngurus itu juga lagi ke luar kota, jadi molor lagi deh dari waktu estimasi. (Sampai hari ini, tanggal 27 Februari, belum jadi juga T.T), kalo untuk score report, itu yang dikumpul aslinya, jadi buat jaga-jaga, aku scan dulu untuk berkas pribadi.

Karena satu dan lain hal, Recomendation Letter-nya harus tertunda lagi. Baru bisa bertemu 2 dosenku besok Insha Allah. Aku baru minta tadi, dan Alhamdulillah, mereka berdua bersedia untuk bertemu besok.

Untuk tahun ini, deadline KGSP via embassy di Indonesia adalah tanggal 2 Maret
deadline via university untuk KAIST 7 Maret dan untuk SeoulTech 16 Maret. Nah, di sinilah kegalauanku muncul..
Aku berencana untuk apply via university langsung, karena masalah deadline embassy yang udah mepet banget dan pertimbangan bahwa kalo via embassy berarti akan ada interview langsung di embassy dan berarti aku harus cuti, plus masih ada interview dari universitas tetap, sedangkan kalo via universitas, interview nya kan lewat telpon/skype, dan fakta kalau aku belum nemu kampus pengganti Postech tadi. Aku galau apa milih antara KAIST atau SeoulTech.

KAIST
(+) Top 43 dunia
(+) Kampus impianku
(-) Nggak yakin EMS POS bisa deliver sebelum tanggal 7
(-) Karena kampus top, pasti peminatnya lebih banyak

SeoulTech
(+) Insha Allah bakal sampai tepat waktu (Kecuali emang EMS nya rese)
(+) Peminatnya lebih sedikit dari KAIST, kemungkinan lolosnya lebih besar
(-) rangkinya jauh di bawah KAIST (urutan 800-1000 dunia)
(-) biaya asramanya lebih mahal dai KAIST

Bismillah, semoga apapun yang akhirnya ku pilih, itu adalah yang terbaik, dan semoga diberi kesempatan sama Allah buat berangkat ke Negeri Gingseng:)


27 February 2018 14:36
Tangerang Selatan, Indonesia.

Beberapa Nama Warna Selain Mejikuhibiniu

Pernah nggak kalian ditanya tentang warna dan kalian sendiri bingung menyebutnya apa? Atau ketika belanja online, ada puluhan avaible colour...