Pernah nggak kalian ditanya tentang warna dan kalian sendiri bingung menyebutnya apa? Atau ketika belanja online, ada puluhan avaible colour yang beberapa diantaranya asing di telinga kalian?Yup, jumlah warna yang ada di dunia sebenarnya tak terhingga jumlahnya, tapi dalam dunia digital, warna dapat didefinisikan menjadi 16 juta warna yang masing-masing memiliki kode tertentu dalam bilangan hexa dan beberapa diantaranya memiliki nama sendiri. Yuk, intip beberapa nama warna yang sering digunakan dalam dunia desain, web, hingga fashion.
Beige
Warna ini termasuk dalam kelompok warna putih atau banyak juga yang menyebutnya warna krem. Kalau dideskripsikan, warna ini adalah warna kuning yang sangat pucat dan keabu-abuan. Nama Beige sendiri diambil dari bahasa Perancis dimana warna ini banyak ditemukan pada batang-batang kayu muda. Kesan natural dari warna ini menjadikannya banyak digunakan untuk cat tembok rumah. Kamu yang ingin tampil natural boleh juga mencoba warna yang satu ini.
Plum
Ini ungu, ya! Warna ini memang termasuk dalam golongan warna ungu, namun dengan sekian banyak warna ungu yang kamu kenal, kamu bisa menyebut warna yang cukup cerah namun tetap lembut ini dengan sebutan Plum. Nama Plum sendiri berasal dari nama buah kecil berwarna ungu atau dalam Bahasa Indonesia disebut buah prem. Ungu nggak melulu harus warna janda kan? Nggak juga harus selalu terong, there’s Plum! Hehehe.
Khaki
Warna ini sangat identik dengan warna militer atau kalau di Indonesia biasa digunakan sebagai warna seragam dinas. Khaki termasuk dalam golongan warna coklat dan namanya diambil dari Bahasa Urdu yang berarti warna bumi. Warnanya memang sedikit seperti warna tanah ya?
Tan
Perpaduan warna coklat, krem, dan sedikit abu-abu, warna ini terlihat manis bukan? Pernah dengar istilah tanning? Atau warna kulit tan? Yah, Tan memang identik dengan warna kulit yang kecoklatan. Terlalu tua untuk disebut krem, dan terlalu muda untuk disebut coklat, itulah Tan.
Aqua
Aqua? Yeah, of course, this is water’s color. Warna hijau dengan sedikit kebiruan bisa mewakili warna yang terlihat segar dan ceria ini. Terkadang sedikit keliru dengan warna turkis yang memang terlihat mirip.
Turkis
Turkis atau Tourquish adalah perpaduan warna biru dan hijau serupa dengan Aqua, tapi dengan komposisi biru lebih banyak menghasilkan warna biru kehijauan. Beberapa ada yang menyebut Turkis dengan warna tosca karena tosca memang lebih populer di Indonesia. Sempat ngetrend banget waktu tahun 2014-2015. Sekarang juga warna cantik ini masih banyak diminati orang.
Magenta
Bukan ungu, tapi bukan pink juga, ini adalah magenta! Magenta memiliki komposisi seimbang antara biru dan merah, sedangkan tidak mengandung hijau/kuning sama sekali. Warna ini merupakan salah satu dari warna basic dari palet warna digital.
Fuscsia
Tepatnya warna ini merupakan warna French Fuchsia, karena sebenarnya original fuchsia itu sama dengan magenta, salah satu basic color dalam palet warna. Nama Fuchsia sendiri diambil dari nama sejenis bunga berwarna serupa dengan warna ini. Warna yang girly dan ceria banget ya? Cocok untuk kamu yang ceria dan penuh semangat.
Teal
Lagi-lagi warna biru kehijauan ini sering disebut tosca, nggak salah juga sih, soalnya warna yang cenderung gelap namun terkesan menenangkan ini emang perpaduan hujau dan biru (yang menjadi indikator orang menyebut tosca). Tapi yang pasti, Teal adalah warna gelap, karena memang tersusun dari warna biru gelap dan hijau dengan komposisi seimbang tanpa warna merah sama sekali. Nama Teal berasal dari nama sejenis burung yang warna kepalanya serupa dengan warna ini.
Crimson
Sejenis warna merah yang agak gelap dan pudar hasil dari penambahan sedikit pigmen biru dan lebih sedikit pigmen hijau. Jadi, sejarahnya cukup panjang nih, nama Crimson diambil dari nama genus serangga, yakni Kermes. Orang-orang zaman dulu menggunakan bagian tubuh serangga genus ini yang sudah dikeringkan untuk mewarnai kain mereka, dan warna yang dihasilkan dari proses pewarnaan ini adalah serupa dengan warna ini.
Nah, itu dia tadi beberapa nama warna yang umum digunakan namun belum banyak yang mengenalnya. Sebenarnya masih banyak lagi warna-warna di luar sana yang memiliki nama-namanya sendiri, tapi untuk membahas semuanya, akan memakan waktu 7 hari 7 malam. Hehehe.
Jumat, 16 Februari 2024
Kamis, 15 Februari 2024
Dear Teman-Temanku yang Memilih 02
15 Februari 2024
Dear teman-temanku yang memilih 02 pada pilpres Pemilu 2024.
Aku bukan pendendam. Meskipun sekarang perasaan kecewa, bercampur sedih, dan sepercik greget, tapi aku yakin beberapa hari juga perasaan ini hilang. Itu kenapa aku menulis di sini. Sekadar untuk mengingatkan diriku sendiri bahwa aku pernah memiliki perasaan ini, pernah berada di titik ini, dan bahwa ini bisa jadi titik balik dari suatu hal di masa depan.
Bagaimana mengatakannya yaaa. Tapi aku sangat kecewa. Bukan sekadar kecewa karena apa yang aku pilih tidak menempati urutan pertama di putaran pertama (entah akan ada putaran ke-2 atau tidak), tapi lebih karena aku tidak menyangka ini pilihan sebagian besar masyarakat Indonesia. Dan lebih dari itu semua, karena kalian memilih 02.
Mungkin, kecewa ini bukan hanya aku yang merasakan. Kalianpun mungkin juga kecewa dengan pilihanku. Kalian orang-orang berpendidikan, pasti memilih karena punya alasan, kan? Tapi kali ini biar aku menjelaskan dari sudut pandangku dan mengungkapkan apa yang aku rasa di sini. Meskipun tidak perlu kalian tahu.
Aku kecewaaaaa banget sama kalian. Tapi aku tetap tidak bisa marah, karena kalian teman-teman terdekatku dan aku sayang banget sama kalian. Tapi kok bisa kalian sampai pada keputusan itu saat deretan fakta sudah tersaji begitu jelasnya? Ingin rasanya ngomel-ngomel ke kalian seperti saat kalian tidak menghabiskan makan, tidak pakai helm, begadang sampai tidak tidur, atau melewatkan waktu makan. Tapi tidak, semua tidak sesederhana itu. Bahkan sekadar untuk menanyakan pertanyaan yang sungguh ingin ku-tanyakan saja aku tidak berani.
"Mengapa kalian memilih 02?" Sebuah pertanyaan yang selalu tertahan untuk aku tanyakan. Aku takut pertanyaan sederhana ini menyinggung kalian, dan lebih dari itu aku takut jawaban kalian akan semakin membuatku kecewa.
Aku menghargai kalian telah memilih, itu kenapa aku tidak pernah mau membahasnya secara langsung dengan kalian.
Sungguh, hal ini berbeda dengan saudara-saudara se-tanah air kita di pelosok yang sulit mendapatkan akses informasi, sehingga iya-iya saja ketika mendapatkan bansos yang disebut dari presiden (padahal dari APBN Negara) dan kemudian nurut-nurut saja ketika diminta untuk memilih pilihan sang presiden.
Tapi kalian tidak begitu. Kalian punya semua hal untuk mengakses informasi sejelas-jelasnya. Bahkan bisa dibilang semua informasi itu yang datang menghampiri kalian. Tapi sekadar coba dibaca atau dilihat secara cermat dan objektif saja kalian ragu. Buru-buru mengatakan itu konten menjatuhkan dan fitnah. Padahal sangat jelas informasi, data, dan buktinya.
Kalian mengatakan bahwa mereka mencari-cari kesalahan? Seharusnya fokus saja kepada kandidiat yang dipilih? Teman, kita tidak sedang berada pada perhelatan penghargaan akhir tahun untuk aktor terbaik, atau ajang pencarian bakat penyanyi idol. Bukankah memang sejatinya harus mencari tahu mengenai semua kandidat untuk mencari tahu mana yang terbaik dan yang kesalahan/keburukannya paling sedikit diantara para kandidat? Kalau tidak dicari, yaa kesalahan-kesalahan itu hanya akan terkubur. Selama itu fakta, harusnya tetap fakta sepahit apapun.
Saat akan pemilihan presiden, bukankah sejatinya kita menempatkan diri sebagai pemilih? Melihat setiap fakta secara objektif lalu membandingkannya secara rasional? Alih-alih mengikuti kata hati yang mudah bersimpati, bukankah lebih logis jika kita membandingkan dengan data, fakta, dan rekam jejak? Kita sedang di pemilihan presiden, yang mana orang-orang itu akan bekerja untuk kita, bukan sedang memilih penyanyi idola favorit yang sekadar butuh suara yang kita senangi untuk menghibur kita.
Orang-orang sibuk melihat kesalahannya tapi lupa akan kebaikannya? Oke, sebutkan! Apakah kebaikannya sebanding dengan keburukannya? Sekali lagi, kita sedang membicarakan calon pemimpin negara, bukan seorang tetangga tua renta yang harusnya kita terima baik-buruknya, yang kita hindari bergibah mengenai aib-nya. Membicarakan kekurangannya bukanlah bentuk nyinyir, tapi usaha seleksi. Kita tentu tidak ingin negara ini dipegang oleh orang yang salah, kan?
Selain debat, coba tolong tonton dialog-dialog para capres dengan para profesional di berbagi bidang, misal Dialog Kadin.
Belum terpilih saja beliau sudah beberapa kali tertangkap kamera tidak menyukai dan mengancam media, bahkan tidak hadir pada deklarasi kemerdekaan pers. Bisa bayangkan bagaimana nasib sebuah bangsa di mana pers tidak diberi kebebasan? 0rb@ 2.0?
Kalian tersentuh karena dia seolah dijatuhkan dengan diberi nilai rendah, setuju dengan lawan debatnya, dan mau minta maaf saat debat? Seriously? Bukan isi debatnya yang dinilai? Kalian benci lawannya karena terkesan terlalu menyerang? Emm.. Kalian apa mengerti esensi debat yang sesungguhnya? Lagipula, jika melihat dengan objektif, kubu tersebutpun ada kok menyerangnya. Coba lihat lebih dalam deh ke personal semua kandidat lain. Biar kalian tidak menyimpulkan "sifat pribadi" hanya dari pemaparan di debat saja.
Kalian kasihan sama beliau? Sekadar informasi aja, hartanya triliunan. Dia kalo mau makan sesuatu, bisa saat itu juga. Kalau dia sakit, bisa berobat ke manapun. Kalau bosan bisa liburan ke manapun.
Yang hartanya berlimpah pasti sudah selesai dengan diri sendiri dan sisa mengabdi? Belum tentu. Ambisi itu bukan cuma tentang sebanyak apa uang yang ingin seseorang miliki. Ambisinya orang-orang kaya raya gak kayak orang-orang sepert kita yang ingin punya rumah, mobil mewah, atau keliling dunia. Mereka tuh udah sampai ada yang pengen jalan-jalan ke bulan, menyelam ke laut terdalam, dsb. Hal-hal yang bahkan tidak bisa dibeli hanya dengan uang.
Pejabat ditambah gajinya-pun (ini solusi dari beliau untuk menanggulangi korupsi loh) tidak menjamin mereka tidak korup. Yang namanya sifat serakah itu tidak ada ujungnya.
Kalian percaya sama beliau? BOLEH, tapi tidak boleh menutup mata juga pada rekam jejak, bandingkan visi-misinya dengan kandidat lain (dana makan siang 1 triliun lebih per hari, 450 triliun pertahun yang mana jumlahnya sama dengan biaya untuk membangun IKN), hingga proses persiapan dan pendaftaran mereka.
Kandidat lain nggak banget? Coba cari tahu dulu. Jangan-jangan selama ini kita hanya melihat hasil framing media pro pemerintah. Segala kecurigaan kalian, cari tahu dulu bukti dan akar masalahnya. Jangan-jangan selama ini hanya terlanjur benci aja karena 1 atau 2 hal yang ternyata juga hanya salah paham. Rugi loh.
Memilih karena akan melanjutkan program-program presiden saat ini? Coba cari tahu lebih dalam dampak negatif dari IKN, food estate, dan hilirisasi yang selalu mereka gaungkan, utamanya dampaknya pada alam dan bumi kita. Siapa yang paling diuntungkan dari itu semua? Siapa sih pemilik lahan yang dipakai? siapa pemilik perusahaan-perusahaan smelter yang menjamur 10 tahun terakhir ini. Aku harap banget kalian cari tahu tentang ini.
Apa saja yang dilakukan oleh pemerintah dan bandingkan dengan APBN kita serta pertumbuhan hutang negara kita. Siapapun bisa membangun rumah mewah jika ada yang memberi hutang. Masalah bayar hutangnya, yaa wariskan saja pada pemangku jabatan selanjutnya. Untuk bansos disebutnya bantuan presiden (padahal uangnya dari APBN), giliran utang semua yang harus menanggung. :(
IKN itu, siapa yang akan tinggal di situ? Yupp, orang-orang dari pemerintah pusat dan para kolega. Meninggalkan Jakarta yang penuh sesak dan polusi ke tempat yang lebih asri. Dengan santai dan damai menjalankan kebijakan-kebijakan yang mereka inginkan tanpa takut diinterupsi oleh suara-suara rakyat. Siapa yang mau demo ke tengah hutan kalimantan sana?
Mengenai pembangunan di kalimantan, bukan aku tidak setuju, hanya saja kenapa harus dari 0?
Oke lanjut..
Dan ini dia puncak dari segala hal yang kami hindari, yaitu sang wakil.
Dari awal, pencalonannya sudah diwarnai nepotisme. Konstitusi loh ini yang diubah, KONSTITUSI! Oke, ini pasti sudah berkali-kali kalian dengar. Tapi kenapa? Segitu mengakarnya kah nepotisme di negara ini hingga hal seperti ini bukan lagi masalah bagi kalian? Kalian lebih percaya perkataan influencer dan satu atau dua orang mahasiswa hukum dibanding ratusan guru besar di bidang hukum dan tata negara? Apa yang kalian cari? Pembenaran?
Kita semua sama-sama tahu bahwa "Beliau" tidaklah sebugar saat pencalonannya di 2014 dan 2019. Skenario terburuknya jika terjadi apa-apa pada beliau, sang wakil yang kemudian akan mengambil alih kepemimpinan. Sudah siapkah kalian? Orang yang hampir setiap ditanya sesuatu tidak memberikan jawaban, memberi jawabanpun tidak nyambung. Apa kalian pernah berpikir sampai di situ? Cari tahu sendiri wawancara-wawancaranya.
Sesungguhnya ada banyak banget hal lain yang kami temukan hingga mencapai pada keputusan "Asal jangan 02". Tapi sejujurnya aku masih ada rasa takut dan khawatir. jadi sampai sini saja.
Kenapa banyak dari pihak kalian yang mengatakan "tidak masalah siapapun presidennya", sedangkan yang lain begitu protesnya pada pilihan kalian? Kesannya kami jahat dan gak adil ya?
Ini karena di penglihatan kalian, kandidat lain tidak seburuk itu. Sedangkan di hasil olah pikir dan penelitian kami, kandidat yang kalian pilih memang seburuk itu.
Bukannya munafik, itu kenapa aku tidak pernah mengatakan siapapun presidennya itu yang terbaik, karena aku memang tidak berpikir demikian. Tentu aku akan menghargai siapapun yang nanti akan memimpin negeri ini, sebagai sesama manusia, sebagai presiden, dan sebagai representasi wajah negeri ini di mata dunia, sama seperti yang aku lakukan 10 tahun terakhir.
Jika kalian sungguh-sungguh menonton Dirty Vote dengan objektif, kalian tahu bahwa kini rasanya sulit memiliki kepala daerah yang tidak lepas dari pengaruh pemerintah pusat. Artinya apa? setiap kebijakan pempimpin daerah bukan lagi melihat pada apa yang terjadi pada masyarakatnya, apa yang dibutuhkan masyarakatnya, tapi apa yang diinginkan pemerintah pusat. Utamanya ini akan terjadi pada DKI Jakarta jika gubernurnya sungguh-sungguh dipilih oleh presiden.
Please note bahwa aku tidak pernah membenci mereka secara pribadi, tapi aku menilai secara kemampuan, rekam jejak, dan visi misi. Khusus untuk mereka yang telah menjabat, yang aku nilai tentu apa yang telah mereka perbuat dan dampaknya pada negeriku.
Berbagai pikiran tentang akan bagaimana nasib negeri ini kedepan, bagaimana dengan warga-warga kurang mampu, anak-anak di pelosok, para pekerja gaji pas-pasan yang dibilang miskin nggak tapi juga engap-engapan dengan barang2 yang semakin mahal, para petani yang lawannya kini industri pertanian, satwa-satwa liar dan habitatnya, hutan-hutan Indonesia sang paru-paru bumi, hingga semakin mudahnya para oligarki menguasai setiap jengkal negeri ini, sedang coba aku tepis sebisa mungkin sambil berdoa.
Ini adalah hal-hal yang tidak sanggup aku katakan langsung kepada kalian, karena aku menyayangi kalian segitu tulusnya dan tentu tidak ingin kehilangan kalian. Euforia kontestasi pilpres ini mungkin hanya beberapa bulan (meskipun dampaknya 5 tahun), tapi pertemanan kita akan jauh lebih lama dari itu.
Kalian adalah orang baik. Aku tidak membenci kalian, aku hanya tidak habis pikir dengan pilihan kalian. Cari tahu sendiri keberananya dan tanyakan lagi pada diri kalian. Benarkah ini?
Jika suatu hari nanti kalian membaca ini, tidak perlu dibahas denganku. Cukup pahami bahwa aku sangat menyayangi kalian dan aku menghargai kalian telah memilih, hingga aku mengubur dalam-dalam egoku untuk berdebat. Karena sudah barang tentu tak ada gunanya dan khawatirnya hanya akan mendatangkan perselisihan.
Sekian, semoga kalian sehat selalu. Love love.
Dear teman-temanku yang memilih 02 pada pilpres Pemilu 2024.
Aku bukan pendendam. Meskipun sekarang perasaan kecewa, bercampur sedih, dan sepercik greget, tapi aku yakin beberapa hari juga perasaan ini hilang. Itu kenapa aku menulis di sini. Sekadar untuk mengingatkan diriku sendiri bahwa aku pernah memiliki perasaan ini, pernah berada di titik ini, dan bahwa ini bisa jadi titik balik dari suatu hal di masa depan.
Bagaimana mengatakannya yaaa. Tapi aku sangat kecewa. Bukan sekadar kecewa karena apa yang aku pilih tidak menempati urutan pertama di putaran pertama (entah akan ada putaran ke-2 atau tidak), tapi lebih karena aku tidak menyangka ini pilihan sebagian besar masyarakat Indonesia. Dan lebih dari itu semua, karena kalian memilih 02.
Mungkin, kecewa ini bukan hanya aku yang merasakan. Kalianpun mungkin juga kecewa dengan pilihanku. Kalian orang-orang berpendidikan, pasti memilih karena punya alasan, kan? Tapi kali ini biar aku menjelaskan dari sudut pandangku dan mengungkapkan apa yang aku rasa di sini. Meskipun tidak perlu kalian tahu.
Aku kecewaaaaa banget sama kalian. Tapi aku tetap tidak bisa marah, karena kalian teman-teman terdekatku dan aku sayang banget sama kalian. Tapi kok bisa kalian sampai pada keputusan itu saat deretan fakta sudah tersaji begitu jelasnya? Ingin rasanya ngomel-ngomel ke kalian seperti saat kalian tidak menghabiskan makan, tidak pakai helm, begadang sampai tidak tidur, atau melewatkan waktu makan. Tapi tidak, semua tidak sesederhana itu. Bahkan sekadar untuk menanyakan pertanyaan yang sungguh ingin ku-tanyakan saja aku tidak berani.
"Mengapa kalian memilih 02?" Sebuah pertanyaan yang selalu tertahan untuk aku tanyakan. Aku takut pertanyaan sederhana ini menyinggung kalian, dan lebih dari itu aku takut jawaban kalian akan semakin membuatku kecewa.
Aku menghargai kalian telah memilih, itu kenapa aku tidak pernah mau membahasnya secara langsung dengan kalian.
Sungguh, hal ini berbeda dengan saudara-saudara se-tanah air kita di pelosok yang sulit mendapatkan akses informasi, sehingga iya-iya saja ketika mendapatkan bansos yang disebut dari presiden (padahal dari APBN Negara) dan kemudian nurut-nurut saja ketika diminta untuk memilih pilihan sang presiden.
Tapi kalian tidak begitu. Kalian punya semua hal untuk mengakses informasi sejelas-jelasnya. Bahkan bisa dibilang semua informasi itu yang datang menghampiri kalian. Tapi sekadar coba dibaca atau dilihat secara cermat dan objektif saja kalian ragu. Buru-buru mengatakan itu konten menjatuhkan dan fitnah. Padahal sangat jelas informasi, data, dan buktinya.
Kalian mengatakan bahwa mereka mencari-cari kesalahan? Seharusnya fokus saja kepada kandidiat yang dipilih? Teman, kita tidak sedang berada pada perhelatan penghargaan akhir tahun untuk aktor terbaik, atau ajang pencarian bakat penyanyi idol. Bukankah memang sejatinya harus mencari tahu mengenai semua kandidat untuk mencari tahu mana yang terbaik dan yang kesalahan/keburukannya paling sedikit diantara para kandidat? Kalau tidak dicari, yaa kesalahan-kesalahan itu hanya akan terkubur. Selama itu fakta, harusnya tetap fakta sepahit apapun.
Saat akan pemilihan presiden, bukankah sejatinya kita menempatkan diri sebagai pemilih? Melihat setiap fakta secara objektif lalu membandingkannya secara rasional? Alih-alih mengikuti kata hati yang mudah bersimpati, bukankah lebih logis jika kita membandingkan dengan data, fakta, dan rekam jejak? Kita sedang di pemilihan presiden, yang mana orang-orang itu akan bekerja untuk kita, bukan sedang memilih penyanyi idola favorit yang sekadar butuh suara yang kita senangi untuk menghibur kita.
Orang-orang sibuk melihat kesalahannya tapi lupa akan kebaikannya? Oke, sebutkan! Apakah kebaikannya sebanding dengan keburukannya? Sekali lagi, kita sedang membicarakan calon pemimpin negara, bukan seorang tetangga tua renta yang harusnya kita terima baik-buruknya, yang kita hindari bergibah mengenai aib-nya. Membicarakan kekurangannya bukanlah bentuk nyinyir, tapi usaha seleksi. Kita tentu tidak ingin negara ini dipegang oleh orang yang salah, kan?
Selain debat, coba tolong tonton dialog-dialog para capres dengan para profesional di berbagi bidang, misal Dialog Kadin.
Belum terpilih saja beliau sudah beberapa kali tertangkap kamera tidak menyukai dan mengancam media, bahkan tidak hadir pada deklarasi kemerdekaan pers. Bisa bayangkan bagaimana nasib sebuah bangsa di mana pers tidak diberi kebebasan? 0rb@ 2.0?
Kalian tersentuh karena dia seolah dijatuhkan dengan diberi nilai rendah, setuju dengan lawan debatnya, dan mau minta maaf saat debat? Seriously? Bukan isi debatnya yang dinilai? Kalian benci lawannya karena terkesan terlalu menyerang? Emm.. Kalian apa mengerti esensi debat yang sesungguhnya? Lagipula, jika melihat dengan objektif, kubu tersebutpun ada kok menyerangnya. Coba lihat lebih dalam deh ke personal semua kandidat lain. Biar kalian tidak menyimpulkan "sifat pribadi" hanya dari pemaparan di debat saja.
Kalian kasihan sama beliau? Sekadar informasi aja, hartanya triliunan. Dia kalo mau makan sesuatu, bisa saat itu juga. Kalau dia sakit, bisa berobat ke manapun. Kalau bosan bisa liburan ke manapun.
Yang hartanya berlimpah pasti sudah selesai dengan diri sendiri dan sisa mengabdi? Belum tentu. Ambisi itu bukan cuma tentang sebanyak apa uang yang ingin seseorang miliki. Ambisinya orang-orang kaya raya gak kayak orang-orang sepert kita yang ingin punya rumah, mobil mewah, atau keliling dunia. Mereka tuh udah sampai ada yang pengen jalan-jalan ke bulan, menyelam ke laut terdalam, dsb. Hal-hal yang bahkan tidak bisa dibeli hanya dengan uang.
Pejabat ditambah gajinya-pun (ini solusi dari beliau untuk menanggulangi korupsi loh) tidak menjamin mereka tidak korup. Yang namanya sifat serakah itu tidak ada ujungnya.
Kalian percaya sama beliau? BOLEH, tapi tidak boleh menutup mata juga pada rekam jejak, bandingkan visi-misinya dengan kandidat lain (dana makan siang 1 triliun lebih per hari, 450 triliun pertahun yang mana jumlahnya sama dengan biaya untuk membangun IKN), hingga proses persiapan dan pendaftaran mereka.
Kandidat lain nggak banget? Coba cari tahu dulu. Jangan-jangan selama ini kita hanya melihat hasil framing media pro pemerintah. Segala kecurigaan kalian, cari tahu dulu bukti dan akar masalahnya. Jangan-jangan selama ini hanya terlanjur benci aja karena 1 atau 2 hal yang ternyata juga hanya salah paham. Rugi loh.
Memilih karena akan melanjutkan program-program presiden saat ini? Coba cari tahu lebih dalam dampak negatif dari IKN, food estate, dan hilirisasi yang selalu mereka gaungkan, utamanya dampaknya pada alam dan bumi kita. Siapa yang paling diuntungkan dari itu semua? Siapa sih pemilik lahan yang dipakai? siapa pemilik perusahaan-perusahaan smelter yang menjamur 10 tahun terakhir ini. Aku harap banget kalian cari tahu tentang ini.
Apa saja yang dilakukan oleh pemerintah dan bandingkan dengan APBN kita serta pertumbuhan hutang negara kita. Siapapun bisa membangun rumah mewah jika ada yang memberi hutang. Masalah bayar hutangnya, yaa wariskan saja pada pemangku jabatan selanjutnya. Untuk bansos disebutnya bantuan presiden (padahal uangnya dari APBN), giliran utang semua yang harus menanggung. :(
IKN itu, siapa yang akan tinggal di situ? Yupp, orang-orang dari pemerintah pusat dan para kolega. Meninggalkan Jakarta yang penuh sesak dan polusi ke tempat yang lebih asri. Dengan santai dan damai menjalankan kebijakan-kebijakan yang mereka inginkan tanpa takut diinterupsi oleh suara-suara rakyat. Siapa yang mau demo ke tengah hutan kalimantan sana?
Mengenai pembangunan di kalimantan, bukan aku tidak setuju, hanya saja kenapa harus dari 0?
Oke lanjut..
Dan ini dia puncak dari segala hal yang kami hindari, yaitu sang wakil.
Dari awal, pencalonannya sudah diwarnai nepotisme. Konstitusi loh ini yang diubah, KONSTITUSI! Oke, ini pasti sudah berkali-kali kalian dengar. Tapi kenapa? Segitu mengakarnya kah nepotisme di negara ini hingga hal seperti ini bukan lagi masalah bagi kalian? Kalian lebih percaya perkataan influencer dan satu atau dua orang mahasiswa hukum dibanding ratusan guru besar di bidang hukum dan tata negara? Apa yang kalian cari? Pembenaran?
Kita semua sama-sama tahu bahwa "Beliau" tidaklah sebugar saat pencalonannya di 2014 dan 2019. Skenario terburuknya jika terjadi apa-apa pada beliau, sang wakil yang kemudian akan mengambil alih kepemimpinan. Sudah siapkah kalian? Orang yang hampir setiap ditanya sesuatu tidak memberikan jawaban, memberi jawabanpun tidak nyambung. Apa kalian pernah berpikir sampai di situ? Cari tahu sendiri wawancara-wawancaranya.
Sesungguhnya ada banyak banget hal lain yang kami temukan hingga mencapai pada keputusan "Asal jangan 02". Tapi sejujurnya aku masih ada rasa takut dan khawatir. jadi sampai sini saja.
Kenapa banyak dari pihak kalian yang mengatakan "tidak masalah siapapun presidennya", sedangkan yang lain begitu protesnya pada pilihan kalian? Kesannya kami jahat dan gak adil ya?
Ini karena di penglihatan kalian, kandidat lain tidak seburuk itu. Sedangkan di hasil olah pikir dan penelitian kami, kandidat yang kalian pilih memang seburuk itu.
Bukannya munafik, itu kenapa aku tidak pernah mengatakan siapapun presidennya itu yang terbaik, karena aku memang tidak berpikir demikian. Tentu aku akan menghargai siapapun yang nanti akan memimpin negeri ini, sebagai sesama manusia, sebagai presiden, dan sebagai representasi wajah negeri ini di mata dunia, sama seperti yang aku lakukan 10 tahun terakhir.
Jika kalian sungguh-sungguh menonton Dirty Vote dengan objektif, kalian tahu bahwa kini rasanya sulit memiliki kepala daerah yang tidak lepas dari pengaruh pemerintah pusat. Artinya apa? setiap kebijakan pempimpin daerah bukan lagi melihat pada apa yang terjadi pada masyarakatnya, apa yang dibutuhkan masyarakatnya, tapi apa yang diinginkan pemerintah pusat. Utamanya ini akan terjadi pada DKI Jakarta jika gubernurnya sungguh-sungguh dipilih oleh presiden.
Please note bahwa aku tidak pernah membenci mereka secara pribadi, tapi aku menilai secara kemampuan, rekam jejak, dan visi misi. Khusus untuk mereka yang telah menjabat, yang aku nilai tentu apa yang telah mereka perbuat dan dampaknya pada negeriku.
Berbagai pikiran tentang akan bagaimana nasib negeri ini kedepan, bagaimana dengan warga-warga kurang mampu, anak-anak di pelosok, para pekerja gaji pas-pasan yang dibilang miskin nggak tapi juga engap-engapan dengan barang2 yang semakin mahal, para petani yang lawannya kini industri pertanian, satwa-satwa liar dan habitatnya, hutan-hutan Indonesia sang paru-paru bumi, hingga semakin mudahnya para oligarki menguasai setiap jengkal negeri ini, sedang coba aku tepis sebisa mungkin sambil berdoa.
Ini adalah hal-hal yang tidak sanggup aku katakan langsung kepada kalian, karena aku menyayangi kalian segitu tulusnya dan tentu tidak ingin kehilangan kalian. Euforia kontestasi pilpres ini mungkin hanya beberapa bulan (meskipun dampaknya 5 tahun), tapi pertemanan kita akan jauh lebih lama dari itu.
Kalian adalah orang baik. Aku tidak membenci kalian, aku hanya tidak habis pikir dengan pilihan kalian. Cari tahu sendiri keberananya dan tanyakan lagi pada diri kalian. Benarkah ini?
Jika suatu hari nanti kalian membaca ini, tidak perlu dibahas denganku. Cukup pahami bahwa aku sangat menyayangi kalian dan aku menghargai kalian telah memilih, hingga aku mengubur dalam-dalam egoku untuk berdebat. Karena sudah barang tentu tak ada gunanya dan khawatirnya hanya akan mendatangkan perselisihan.
Sekian, semoga kalian sehat selalu. Love love.
Langganan:
Postingan (Atom)
Beberapa Nama Warna Selain Mejikuhibiniu
Pernah nggak kalian ditanya tentang warna dan kalian sendiri bingung menyebutnya apa? Atau ketika belanja online, ada puluhan avaible colour...
-
Hello ganks! Jadi kemarin itu ada yang nanya-nanya, gimana sih caranya dan pengalaman apa aja yang kamu dapat selama ikut BLK Makassar? Nah...
-
Tulisan ini aku buat dari sudut pandang sebaliknya. Hal yang menyesal tidak aku lakukan di masa remaja dulu. Ada yang pernah dengar puisi ...
-
Pernah nggak kalian ditanya tentang warna dan kalian sendiri bingung menyebutnya apa? Atau ketika belanja online, ada puluhan avaible colour...








