Kamis, 18 Januari 2018

Punya Teman-Teman Menyenangkan Tidak selamanya Bagus

Heiloo, Happy Thursday \^^/

Judulnya aneh yah? Itu judul yang kurasa paling cocok untuk segumpal persoalan yang lagi bergelut dalam otakku yang saat ini akan ku bagi.

Aku selalu bilang, aku mencintai bidang kerjaanku saat ini, Electrical Engineering adalah bidang yang sangat menyenangkan, aku bisa menghabiskan seluruh hidupku untuk itu. Menjadi engineer wanita hebat yang bisa memberi inspirasi bagi banyak orang di luar sana adalah impianku. Yaah, itu yang selalu ada di pikiranku. Tapi tahu tidak? Kurasa aku sudah membohongi diriku sendiri. Atau mungkin, aku sendiri tidak sadar sudah menciptakan pemikiran palsu itu dalam otakku.

Faktanya sekarang, aku BOSAN! I don't find this interesting anymore. Setiap hari aku ingin cepat-cepat jam 5, setiap hari aku ingin cepat-cepat weekend. Aku tidak punya getaran itu lagi. Padahal, saat kuliah dulu, aku bisa menghabiskan waktu dari pagi-pagi sekali sampai maghrib di bengkel dan merasa waktu berlalu cepat sekali. Setiap libur semester aku ingin cepat-cepat masuk, setiap awal semester pasti langsung cek papan pengumuman di jurusan buat liat jadwal bengkel. Waktu itu aku berpikir akan sangat menyenangkan kalau nanti kerja di perusahaan yang bergerak di bidang yang kerjaannya seperti di bengkel ini. And i got it! This is a panel builder company, kerjaannya sama persis dengan bengkelku di semester 4-6, hanya dengan arus dan tegangan yang lebih besar. Jaman kuliah cuma pakai MCB, kontaktor kecil, PLC cuma omron cpm1a dan LS k200, tapi di tempat kerja sekarang ketemu MCCB, MPCB, ACB, LBS, dan macam-macam komponen lain. Seharusnya semakin banyak hal baru semakin menyenangkan dong, tapi kenapa aku tidak merasa begitu?

Setelah cerita dan curhat dengan salah satu teman Sadis (Our gank/class name. Sadis stand for Satu A D4 Listrik, kelas kami waktu kelas 1). Dia bilang, "Itu karena waktu kuliah dulu ada teman-teman kita." Yah, saat itu aku jadi sadar, yang kucintai, yang membuatku sangat nyaman, dan yang ingin kulakukan tiap hari bahkan di masa depan bukanlah electrical engineering, tapi Sadis. Aku tidak tahu hal ini juga di rasakan oleh mahasiswa lain, tapi buatku masa kuliah adalah salah satu masa paling menyenangkan dalam hidupku. Yang membuatku begitu betah menjalani perkuliahan di prodi teknik listrik bukan karena materi kuliahnya, tapi karena teman-teman kelasku. For your information, aku kuliah di Politeknik Negeri, di mana sistemnya lebih mirip dengan sekolah. Kita memiliki teman kelas yang sama-sama terus dari pertama kali masuk sampai 4 tahun ke depan, ada roster dan juga wali kelas untuk setiap kelas. Awalnya tiap kelas berisi 25 orang, tapi karena ada yang pindah dan di DO, jadi yang bersama sampai akhir hanya 19 orang. Merekalah "Sadis" ku. Mungkin karena jumlah kami sekelas tidak begitu banyak, usia yang sebaya, dan kami sering ada waktu kosong antara jam pelajaran kuliah, obrolan-obrolan kecil itu yang membuat kami menjadi dekat. 

Sejak hari pertama mereka sudah membuatku tertawa. Teman-teman cowok di kelasku sangat berbakat menjadi pelawak kurasa. Dan sadis' girls ku yang eh, entahlah, terdiri dari gadis-gadis basic, nggak ada yang tomboy, nggak ada yang alim banget, centil, manja, nakal, nggak ada yang pinter banget, atau bego banget, nggak ada yang pemalu banget, narsis banget, atau malu-maluin nggak ada. Kami berenam cewek biasa, semuanya berjilbab biasa, yang kalo udah waktu sholat dhuhur selalu bareng ke masjid tapi sebelumnya mampir dulu beli somay. Biarpun ada yang lagi halangan juga tetap ikut ke masjid (lumayan, buat titip tas). Saking seringnya sama-sama, kami sampai dikenal senior dan teman angkatan KAMUPI (remas kampus kami) meskipun bukan anak KAMUPI. Tapi meskipun begitu, kami tidak pernah bergantung satu sama lain, kami berenam adalah cewek-cwek mandiri yang selalu bisa sendiri namun selalu berikir, bersama lebih baik.

Kami berenam juga sering memiliki pikiran-pikiran yang berbeda bahkan bertentangan. Kami juga kadang-kadang berdebat (tapi tidak pernah dengan nada suara tinggi), dan selalu berhasil diselesaikan dengan baik. Andalan kami dalam mengambil keputusan atau membagi kelompok adalah lot, yah, dilot seperti arisan. Meskipun ada beberapa yang satu sekolah bahkan satu kelas waktu SMA, tapi mereka selalu berusaha untuk tidak mengelompok-kelompokkan diri. Hampir tidak pernah ada pembagian kelompok yang dilakukan dengan memilih sendiri di kelasku. Semuanya selalu kami undi atau diserahkan ke dosen untuk membagi kelompok. Dengan begitu tidak akan ada yang merasa tidak dipilih. Setiap memiliki kelompok baru, pasti selalu saja ada cerita lucu yang terjadi. Aku pernah harus menyelesaikan satu proyek (waktu itu buat display sensor suhu) sendirian, karena 2 teman kelompokku kebetulan anak UKM Taekwondo yang harus berangkat latihan. And i'm okay with that, karena meskiipun tidak membantu, mereka tetap care dengan proyek kami. Dan lagi, selalu ada teman-teman kelas lain bersamaku. Biarpun mereka juga punya proyek masing-masing buat dikerjakan, at least keberdaan mereka saja bikin aku nggak merasa sendirian di lab.

Di kampus (selain anak-anak yang harus latihan atau lagi ada urusan di UKM/himpunan), kami selalu ngumpul kayak ikan teri xD seringnya di gazebo atau kantin. Padahal yang sering ngumpul gitu biasanya cuma MaBa. Tapi kami selalu bareng sampai wisuda, bahkan setelah luluspun, saat ada tes kerja yang kebetulan diadakan di kampus, setelah selesai tes kami secara nggak sadar saling nunggu dan berakhir nongkrong lagi di gazebo. 

Setiap tahun kami selalu menjadwalkan liburan kelas. Meskipun setiap liburan itu kami tidak pernah lengkap, selalu saja ada yang berhalangan hadir (bahkan foto toga terakhir kami, kurang 2 orang). Kelas 1 dan 2 kami menginap di Malino, tempat liburan dataran tinggi dekat perkebunan teh dan hutan pinus (kalau diibaratkan, Buat warga Jakarta ada Puncak, nah buat warga Makassar ada Malino. Jaraknya juga tidak begitu jauh dari Makassar, kelas 3 kami ke pantai yang juga tempat konservasi mangrove, dan tahun ke empat yang paling menyenangkan, kami ada PKL Profesi (tapi kami sekelas sering nyebutnya KKN, sebelumnya kami sudah melakukan PKL di industri, kalo di kampusku disebut KP). Selama 1 bulan kami tinggal di rumah yang sama. Bayangkan, dengan temanmu yang sudah sekelas selama 4 tahun tinggal bersama selama sebulan (jangan samakan dengan boarding, KKN kami tidak ada aturan, jadi lebih mirip liburan panjaaaaang), belum lagi program kerja kami yang tidak begitu sulit, hanya membantu perbaikan instalasi listrik, sosialisasi dan seminar kelistrikan ke warga desa, pelatihan instalasi, dan pelatihan komputer. Di weekend kami pergi ke pantai pasir putih, pantai pasir hitam, sampai ke pantai yang lebih mirip jurang tapi punya pemandangan yang asli indah. Kami ke kolam permandian mata air gunung, ke taman bunga yang cantik banget, dan ke perkebunan stroberi yang sayangnya waktu lagi nggak musim panen. 

Meskipun selama sebulan itu banyak masalah dan perselisihan juga, sampai ada dua temanku adu jotos, yang memaksa kami semua buat rapat dan saling mengeluarkan unek-unek yang Alhamdulillah setiap masalah saat itupun diselesaikan dengan baik. Mungkin karena kami juga sudah agak dewasa saat itu, jadi tidak ada yang membawa masalah sampai berlarut-larut. Tapi semua hal itu tidak mengurangi keseruan KKN kami. 

Karena aku bukan orang yang terlalu terbuka, dan teman kelasku kebanyakan cowok sedangkan aku seumur hidup tidak pernah akrab dengan teman cowok, eh kecuali teman non-famili pertamaku, Aan (Oh, i don't know where he's now. Dia teman pertamaku dan satu-satunya teman yang kupunya saat itu. kami berteman waktu kami jadi tetangga sekitar umurku 3-5 tahun. Kalau naik sepeda aku yang sering memboncengnya, meskipun dia itu laki-laki dan lebih tua 1 tahun dariku. Hahaha). Selain Aan, aku tidak pernah lagi punya teman cowok. Mungkin itu kenapa butuh waktu yang agak lama buatku untuk akrab dengan teman-teman kelasku. Butuh waktu sekitar 1.5 tahun lah buat akrab dengan mereka. Aku tidak sadar bahwa sebanyak itu juga waktu yang kubutuhkan untuk akhirnya menyatakan kalau aku menyukai program studiku, teknik listrik, bahwa aku bercita-cita menjadi engineer.

Aku tidak tahu dengan mereka, tapi aku sangat menikmati 4 tahun bersama mereka, aku sayang dengan mereka, dan aku sangat bangga akan mereka.

Keberadaan mereka membuatku mencintai apapun yang kulakukan saat itu. Mereka seperti anggota keluarga dan teknik listrik adalah rumah. Kupikir aku sangat mencintai rumahku, tapi sebenarnya yang kucintai adalah penghuninya. Jadi saat para penghuninya pergi ke rumah lain, rumahku ini bukan lagi rumah yang sama.

Dan aku baru sadar itu setelah aku benar-benar bekerja di bidang ini, dan kali ini tanpa mereka. Aku baru sadar kalau sepertinya aku satu dari lsekitar 80% mahasiswa Indonesia yang salah mengambil jurusan. Dan aku baru menyadari itu, setelah 2 tahun ini. Yaah, teman-teman yang menyenangkan itu yang membuatku tidak menyadarinya selama ini. Kenangan membahagiakan bersama mereka yang menutup mataku tentang apa sebenarnya yang ingin kulakukan untuk masa depanku.

And now, final question, what's next? 
Entahlah, aku memang sekarang mengakui kalau aku telah salah jurusan, tapi aku sendiri belum menemukan apa sebenarnya passionku, Oh God, seorang anak orang dewasa berumur hampir 25 tahun masih bingung tentang passionnya? Aaahhh, entahlah. Kau tahu kan aku suka menulis? Yah, mungkin aku akan mengambil kelas menulis nantinya (tidak sekarang, karena kelas menulis itu mahal. Hahaha). Tapi bukankah banyak diluar sana penulis yang berprofesi tidak hanya sebagai penulis kan? Ada penyanyi, politisi, dokter, ekonom, dan bahkn juga mantan presiden kebanggangan Indonesia yang juga salah satu teknokrat paling hebat di dunia, Bapak B.J Habibie juga menulis buku yang akhirnya dibuat film yang sangat romantis kan? Jadi apa salahnya menjadi engineer dan juga penulis sekaligus? Sounds great, isn't it? Aku toh sudah ada di sini, rasanya terlalu jauh untuk kembali, lagipula aku termasuk pintar kok di kampus dulu, dan bahkan dikantor juga. Hahahaha. Aku juga sekarang punya tanggung jawab untuk hidupku sendiri. Mau keluar, mau makan apa? Belum bisa membanggakan orang tua juga. Jadi buat sekarang, jalani saja dulu. Sambil mikirin passion yang lain ;)

Thank you for reading, Caww ;)

Beberapa Nama Warna Selain Mejikuhibiniu

Pernah nggak kalian ditanya tentang warna dan kalian sendiri bingung menyebutnya apa? Atau ketika belanja online, ada puluhan avaible colour...