“Tanpa menyebut namanya, coba
ceritakan bagaimana pertemuan pertamamu dengan si dia!” <- That’s,
pertanyaan untuk hari ke 4.
Eh,
dia siapa nih maksudnya mon? Dianya Afgan apa Dianya Sammy Simorangkir? Sejujurnya
Mon, saya belum pernah menjalin hubungan romantic apapun dengan siapapun sejak
lahir, atau kalo kata populenya sih, Jomblo selama hampir 24 tahun, belum
menikah, dan saat ini sedang tidak menyukai siapa-siapa. Jadi, apa yang aku harus
tulis untuk tema ke 4 ini ya?
Aha!
How about my 1st love? Sound interest? Hei, just because I never
been in any romantic relationship before, doesn’t mean I never fall in love
right? Ok, this my first meet with my first love…
Dia adalah teman sekolahku saat SMA. Yah,
karena kami teman SMA, tentu saja pertemuan pertama kami adalah hari pertama
kami di sekolah, that’s Pra-MOS. Tau MOS kan? Ya, Masa Orientasi Siswa. Beberapa
hari atau biasanya satu minggu yang dihabiskan siswa baru untuk mengenal
sekolah, guru-guru, dan sistem yang ada di sekolah. Nah, pra MOS itu adalah
hari sebelum MOS. Dimana kami diberitahu apa saja yang dibutuhkan selama
sepekan MOS, aturan-aturan, dan pembagian kelompok. Sayang aku tak sekelompok
dengannya. Dia di kelompok A, dan aku di kelompok B. Kami dikumpulkan di satu
ruangan saat itu, dan percaya atau tidak, aku tertarik padanya di pandangan
pertama. Dia pendek, kurus, botak, sebagaimana semua siswa baru laki-laki,
sangat tidak menarik, tapi tetap saja, entah mengapa aku bisa tertarik
kepadanya. Saat mendengarnya memperkenalkan diri, aku tahu kalau dia ternyata
tinggal bersebelahan dengan teman baikku di SMP yang rumahnya sering sekali
kudatangi saat pulau sekolah di hari jumat. Aku berpikir, mungkin dulu kami
pernah berpapasan, tapi tidak saling mengenal. Pada akhirnya kami sekelas tapi
tidak pernah begitu dekat.
Aku
menyadari kalau aku semakin menyukainya saat suatu hari, di saat istirahat dan
berjalan ke kantin, aku melihatnya sedang membantu seorang teman penyandang
tunanetra dari kelas sebelah merapikan dasinya yang miring. Sejak tadi teman
kami itu berdiri sendiri di sana, dan tak ada yang memperhatikan dasinya, tapi
dia dengan cepat membantunya. Hal kecil sih, tapi entah mengapa berkesan
banget.
Ya, itulah
bagaimana pertemuan pertamaku dengan yang katanya “Si Dia”. Selanjutnya, yah
kalian bisa tebak: cak sarang, alias cinta satu sisi. Aku tak pernah memberitahunya
dan memang tak berniat memberitahunya karena cukup yakin kalau dia tidak
tertarik dengan gadis tidak menarik alias jelek sepertiku. Pada akhirnya cinta
satu sisiku itu hanya menjadi salah satu dari rahasiaku kecil saja.
Terima kasih
sudah sudi mampir xD Semoga kamu yang baca ini bisa langgeng dan berakhir bahagia
dengan si dia ya. Kalau si dianya belum ketemu, semoga lekas dipertemukan
^^Sekian
Day 4 #10DaysKF
Makassar, 21 Januari 2017
-Nasibah
