Tampilkan postingan dengan label electrical engineer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label electrical engineer. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Agustus 2019

Blackout Jakarta 4 Agustus

Halo, Assalamualaikum.

Kali ini, aku datang dengan berita hot yang sedang diperbincangkan, kejadian luar biasa yang melumpuhkan ibu kota dan berbagai kota di bagian barat pulau Jawa.

Sebelum mulai membahas, saya mau disclaimer dulu nih, kalau ini bukan tulisan official dari PLN. Sampai hari inipun, PLN belum release pernyataan resmi terkait penyebab pasti Blackout yang terjadi tanggal 4 Agustus kemarin. Jadi, di sini saya bukan mau menjelaskan detail tentang apa yang sebenarnya terjadi, apalagi hingga aktual penyebab atau langkah perbaikan PLN. Karena saya sendiripun hanya rakyat sipil, bukan orang PLN.

Di sini cuma mau sharing aja, biar kita lebih mengenal sistem kelistrikan hingga kita bisa sama-sama mengerti, kenapa sih sampai blackout seluas dan selama ini.

Check it out!

Pertama, saya akan menjelaskan tentang sistem tenaga listrik, mulai dari listrik dibangkitkan hingga ke konsumen listrik akhir (rumah-rumah warga, industri, fasilitas publik, dan semua yang membeli listrik dari PLN.

Jadi, sistem tenaga listrik itu kurang lebih seperti ini:
image source: www.delmarva.com

- Pembangkit
Merupakan tempat di mana listrik diproduksi, mengubah berbagai macam energi menjadi energi listrik. Di mana yang paling umum di Indonesia adalah memproduksi listrik dengan mengubah energi kinetik berupa gerak turbin menjadi energi listrik. Sumber yang digunakan untuk menggerakkan baling-baling turbin inilah yang membedakan jenis pembangkitnya. Ada yang digerakkan oleh air, angin, gas, hingga uap. Umumnya listrik yang dihasilkan tegangannya tidaklah begitu besar. Jadi, untuk menyeratakan semua tegangan pembangkit yang berada dalam satu sistem sebelum dikirim melalui tower-tower transmisi, ada komponen yang disebut transformer atau trafo. Gunanya adalah mengubah tegangan. Khusus untuk trafo yang ada di pembangkit, merupakan tipe step-up yakni trafo yang berfungsi untuk menaikkan tegangan ke tegangan standar untuk transmisi.

- Transmisi (Tegangan tinggi / Tegangan ekstra tinggi)
Merupakan istilah untuk menyebut sistem penyaluran tegangan listrik dengan tegangan tinggi (SUTT 75 - 150 kilo Volt)  hingga ekstra tinggi (SUTET 500 kilo Volt). Merupakan tahap penyaluran listrik pertama dan berjarak sangat jauh. Berperan menyalurkan listrik dari titik-titik pembangkit listrik ke gardu-gardu induk serta dari gardu induk satu ke gardu induk yang lain. Mengapa tegangan di jaringan transmisi sangat tinggi? Karena perjalanan yang ditempuh sangatlah jauh. Bayangkan saja, listrik dari paling timur pulau jawa harus dikirim ke bagian paling barat pulau jawa, berapa kilometer jaraknya? Nah, untuk menghindari jatuh tegangan karena jarak yang sangat jauh, maka tegangannya harusnya dibuat tinggi. Penopang untuk saluran transmisi ini disebut menara transmisi. Tentu kalian tidak asing dengan benda mirip menara eiffel ini kan. Hehe.

Menara transmisi 150 kV (Sc: Koleksi pribadi)


- Gardu Induk.
Gardu ini adalah tempat dimana tegangan listrik yang diterima dari transmisi diturunkan. Terdapat beberapa macam jenis gardu induk. Dari tegangannya sendiri, dapat dibedakan menajdi gardu induk (GI) dan gardu induk tegangan ekstra tinggi (GITET)Teridiri dari trafo-trafo, pemisah, pemutus, dan berbagai komponen lainnya. Di sini, tegangan listrik diturunkan dari tegangan tinggi transmisi menjadi tegangan distribusi (20kV) untuk selanjutnya disalurkan ke trafo-trafo distribusi atau dari tegangan ekstra tinggi (500 kV) menjadi tegangan yang lebih rendah (150 kV / 75 kV) untuk disalurkan ke gardu induk lainnya.
Gardu Induk Panakkukang (sc: koleksi pribadi)



- Distribusi primer (tegangan menenagh 20kV)
Berperan untuk mengantarkan listrik dari gardu induk ke gardu distribusi (yang biasanya kalian temui di jalan-jalan). Kalau penyaluran transmisi hanya berupa kawat tanpa isolasi, nah, distribusi primer ini bentuknya sudah berupa kabel (kawat berisolasi). Tingginya tidak lagi setinggi transmisi dan distribusi primer ini ditopang oleh tiang listrik beton. Jika kalian melihat tiang listrik dengan 3 buah kabel melintang, itu berarti dia adalah distribusi primer.

- Gardu Distribusi
Umumnya berbentuk sepasang tiang beton dengan trafo di bagian atas dan sebuah box panel di bagian bawahnya. Komponen utama berupa trafo berfungsi untuk menurunkan tegangan dari tegangan 20 kV menjadi 220/380 V untuk selanjutnya dikirim ke rumah-rumah konsumen melalui jaringan distribusi sekunder. Khusus untuk konsumen-konsumen besar seperti pabrik, apartemen, rumah sakit, atau pusat perbelanjaan, satu buah gardu distribusi ini dibuat khusus untuk satu konsumen tersebut. Biasanya konsumen besar ini akan punya sebuah ruangan sendiri sebagai gardu distribusi mereka. Kalian pernah melihat sebuah banguna kecil seukuran satu kamar dengan lambang PLN besar di dinding bagian luarnya dan tulisan 'listrik pintar'? Nah, kemungkinan besar adalah trafo private milik konsumen besar PLN. Jadi untuk konsumen besar, sistem kelistrikan yang menjadi tanggung jawab PLN untuk mereka hanya sampai di sini saja.

Gardu Ditribusi (Sc: koleksi pribadi)


- Distribusi sekunder (tegangan rendah 220/380 V)
Nah, setelah sampai di gardu distribusi dan tegangan diturunkan dari tegangan menengah 20kV ke tegangan rendah 220/380 V, selanjutnya listrik didistribusikan lah ke konsumen akhir. Bentuk tiang penyokong untuk distribusi sekunder ini biasanya berupa tiang besi dengan 2 kabel (fasa dan netreal). Nah, dua line ini lah yang sampai ke rumah-rumah kalian, menghidupkan lampu, dan menjadi sumber ke stop kontak kalian.

- Konsumen
Konsumen akhir yang merupakan konsumen kecil. Bisa rumah tangga, industri kecil, atau kantor berskala kecil.

Nah, setelah mengenal sistem kelistrikan, selanjutnya kita akan membahas mengenai sistem interkoneksi. Jadi apa sih sistem interkoneksi itu? Singkatnya adalah sebuah sistem yang menghubungkan pembangkit-pembangkit dan gardu-gardu induk yang berada dalam satu wilayah guna peyetaraan suplai dan beban listrik dan agar dapat saling menyokong ketersediaan listrik antar daerah. Jadi, jika suatu pembangkit di suatu daerah mati, maka tidak perlu khawatir daerah di sekitarnya mati listrik dalam waktu yang lama, karena daerah di sekitarnya tetap akan mendapatkan listrik dari pembangkit-pembangkit lain yang berada dalam satu sistem interkoneksi. Selama cadangan putar (daya dari pembangkit cadangan cukup untuk mengcover semuanya).

Analoginya, misalnya ada 3 buah SD di sebuah desa. Di dekat masing-masing SD ini ada pabrik roti yang bagi-bagiin roti gratis. Nah, jumlah roti yang diproduksi beda-beda. Ada yang banyak, ada yang sedang, dan ada yang sedikit. Jumlah siswa di masing-masing sekolahpun beda-beda. Sayangnya, sekolah dengan siswa paling banyak, pabrik roti di dekat sekolahnya justru memproduksi roti paling sedikit sedangkan pabrik roti yang memproduksi roti paling banyak ada di dekat SD yang siswanya paling sedikit, sehingga rotinya mungkin berlebih. Nah, sebagai solusinya, ketiga pabrik roti ini mengumpulkan roti produksi mereka di balai desa untuk disantap bersama-sama seluruh siswa di ketiga SD. Dengan begitu, semua siswa akan mendapatkan roti.

Nah, seluruh pembangkit dan gardu yang berada dalam satu sistem ini terhubung dengan jaringan transmisi. Khusus untuk yang ke bali, menggunakan submarine tansmission (kabel bawah laut).

Contoh dari sistem transmisi ada sistem interkoneksi jawa bali dan sistem interkoneksi sulselrabar.
Dan karena judul utama pembahasan kita kali ini adalah Blackout di Jakarta dan sebagian daerah jawa, maka kita akan lebih membahas tentang sistem interkoneksi jawa bali.

This is!
Single Line Diagram Sistem Interkoneksi Jawa Bali (Image Source: imadudd1n.wordpress.com)
*gambar ini mungkin tidak update. Karena SLD ini saya dapatkan dari berkas tahun 2008*

Nah, buat sebagian dari kalian mungkin asing dengan gambar di atas. Single line diagram itu semacam bahasanya anak listrik. Jadi satu sistem yang gede, dibuat gamabrnya dengan satu garis untuk mewakili tiap jalur listriknya. Intinya ini adalah representasi dari sistem interkoneksi yang ada di jawa bali. Yang berwarna hijau itu adalah pembangkit, biru adalah gardu induk, merah adalah beban (konsumen), dan garis hitam itu adalah jalur transmisi. Bisa dilihat kan, meskipun tidak dalam garis lurus, tapi semuanya terhubung.

Sebelum membahas di bagian mana sih kerusakan yang kemarin terjadi, aku mau bahas dulu tentang relay proteksi.

Kalian tau kan betapa listrik itu sama halnya kayak api dan air, bisa sangat berguna tapi juga bisa sangat berbahaya. Jadi, untuk meminimalisir dampak negatif yang mungkin terjadi karena gangguan, maka dipasanglah relay proteksi untuk melindungi manusia maupun komponen-komponen listrik agar tidak terjadi kerusakan lebih jauh. Relay proteksi ini akan merasakan gangguan dan secara otomastis mentripkan/mengoff-kan jalur listrik.

Mungkin ada yang belum tahu, bahwa peralatan-peralatan listrik itu sangatlah mahal. Sebuah pabrik ukuran sedang aja, untuk keperluan komponen-komponen listrik membutuhkan biaya sekitar 10-20 miliar. Itu baru untuk komponen listrik, tentunya belum termasuk mesin-mesin listrik yang ada di dalamnya. Tahu panel listrik? Itu loh, yang bentuknya seperti lemari besi yang di pintunya ada lampu warna-warni. Harga satu panel listrik yang digunakan di pabrik itu bisa sampai 1 miliar loh.

Panel Listrik

Kalian tahu mcb di rumah kalian yang biasanya turun kalo terjadi trip? Selain sebagai pembatas daya kalo kalian udah pake daya terlalu banyak, itu juga termasuk berfungsi untuk proteksi. Misalnya kabel di plafon rumah digigit tikus sehingga isolasi kabelnya terbuka dan kedua kabel fasa-netral bersentuh, itu otomatis mcb di rumah kalian akan mentripkan jalur listrik ke rumah kalian. Bayangkan kalau tidak ada mcb, bertemunya fasa dan netral itu bisa bikin percikan api. Nah, MCB ini bisa kalian dapatkan dengan harga sekitar 100 ribuan. Tapi untuk yang ukuran besar yang misalnya dipake di mall, pabrik, dan gedung-gedung tinggi, meskipun masih sama-sama untuk tegangan rendah, tapi harganya perbuah bisa sekitar 40an juta.

Itu, baru untuk tegangan rendah, belum untuk yang tegangan tinggi. Bayangkan berapa kerugian yang bisa ditimbulkan dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengganti semua komponen yang rusak jika seandainya tidak ada relay proteksi atau seandainya terjadi 'gagal proteksi'. Belum lagi kemungkinan adanya ledakan, kebakaran karena percikan api, bisa membahayakan pekerja yang ada di site. Itu kenapa, relay proteksi pasti harus dipasang, bersamaan dengan berlapis-lapis sistem proteksi lain untuk selalu memastikan keamanan kita menggunakan listrik bermega-mega watt.

*trip = kondisi di mana pemutus (benda-benda seperti MCB, ACB, MCCB, dsb) memutuskan akses aliran listrik secara otomatis karena terjadinya gangguan atau kondisi tidak normal dalam jaringan listrik.

Nah, selanjutnya kita akan masuk ke "kenapa sih kemarin sampai terjadi blackout seluas dan selama itu?" *huft, akhirnya masuk ke pembahasan utama ya. Hehe. Maaf kalau pembahasan sebelumnya kepanjangan. Menyajikan materi yang dipelajari selama satu semester salam satu tulisan singkat, semoga tetap bisa ditangkap ya maksud dari pembahasan di atas :)

Single Line Diagram Sistem Interkoneksi Jawa Bali (Image Source: imadudd1n.wordpress.com)
*gambar ini mungkin tidak update. Karena SLD ini saya dapatkan dari berkas tahun 2008*

Okey, kembali ke single line diagram. Kalau diperhatikan, semua gardu induk dan pembangkit di atas terhubung kan? Kalau diperhatikan lagi, seperti sebuah circle. Kalau mengikuti garisnya, akan kembali lagi ke pembangkit yang sama.

Ini karena sistem jawa bali ini ada 2 jalur untuk menghubungkan sistem kelistrikan dari timur hingga ke barat. PLN menyebutnya jalur utara dan selatan. Masing-masingnya ada 2 sirkuit/line (bisa dilihat di gambar di atas, untuk menghubungkan satu GI dengan GI lain, ada 2 garis kan). Jadi total ada 4 sirkuit.

Jalur utara itu yang dari Grati - Surabaya Barat - Ungaran - Mandirancan - Bandung Selatan - Saguling - Cibinong - Depok. Nah untuk jalur selatan itu dari Grati - Paito - Kedir - Peda - Tasik - Depok.

Nah, di Hari Minggu, 4 Agustus itu, kata Ibu Sripeni selaku Plt Dirut PLN, sedang ada maintanace di jalur selatan di salah satu sirkuitnya. Karena memang di hari minggu itu beban (penggunaan listrik) lebih sedikit, jadi sengaja dilakukan maintanance di hari tersebut. Jadi dalam lah ini, masih aman, karena masih ada 1 sirkuit di jalur selatan dan 2 sirkuit di jalur utara. Jadi masih tersisa 3 sirkuit. Lalu kemudian, terjadilah gangguan di salah satu sirkuit di jaringan transmisi Ungaran (jalur utara) yang tidak berapa lama disusul oleh gangguan di sirkuit yang satunya lagi. Jadi 2 sirkuit di utara dua-duanya gangguan dan otomatis penyaluran penyaluran listrik dari timur ke barat terputus sama sekali di jalur utara. Ini berarti tinggal 1 sirkuit yang menghubungkan timur ke barat. Lalu karena ketidakeimbangan beban dan sebagainya (saya juga tidak tahu pasti) Karena sisa satu sirkuit yang menghubungkan jalur timur ke barat (karena terlalu berat dipikul oleh satu sirkuit sendiri di mana biasanya dipikul oleh 4 sirkuit), akhirnya satu-satunya sirkuit yang ada di jalur selatan tersebut, tepatnya di jalur transmisi Tasik - Depokpun mengalami gangguan.

Dengan kejadian tersebut, sistem kelistrikan dari timur ke barat terputus total. Seperti yang diketahui, bahwa pulau jawa bagian barat (jakarta-banten-jabar) memiliki beban yang lebih banyak dari pada jawa bagian tengah dan timur. Dengan terjadinya pemutusan tersebut, otomatis yang mensuplai beban-beban di jawa bagian barat hanya pembangkit-pembangkit yang ada di jawa bagian barat saja. Dan kondisi ini tidak ideal, beban lebih besar daripada daya listrik yang diproduksi. Hal ini menyebabkan frekuensi turun (frekuensi normal dan berlaku di Indonesia adalah 50 Hz dengan toleransi +/- 0.5 Hz). Semakin besar selisih antara daya yang diproduksi dengan konsumsi beban, maka akan semakin jauh frekuensi turun.

Kembali ke relay proteksi tadi. Jadi baik di gardu induk, pembangkit, maupun transmisi terdapat relay proteksi. Kerjanya macam-macam, parameternya macam-macam, tempat, dan waktu tripnya pun macam-macam. Beberapa relay proteksi, sensing-nya (ibaratnya kalau di manusia itu adalah saraf sensorik) di letakkan di saluran transmisi untuk men-trip memutuskan akses langsung dari gardu induk/pembangkit ke jaringan transmisi tersebut untuk menghindari gangguan yang terjadi pada transmisi juga merusak komponen-komponen di GI/pembangkit.

Nah, karena adanya gangguan di jalur transmisi Tasik - Depok tadi, selanjutnya juga karena frekuensi yang terus menurun, (ada yang namanya under frequency relay yang akan mentrip ketika frekuensi sangat rendah), kemudian beberapa pembangkit akhirnya trip. Salah satunya PLTU Suralaya yang memiliki 7 buah generator pembangkit listrik. Perlu diketahui, frekuensi yang tidak normal bisa merusak peralatan-peralatan listrik. Tidak hanya di sisi pembangkit, tapi juga di sisi konsumen.

Nah, jadilah suplai untuk seluruh daerah Jakarta serta Jabar dan Banten benar-benar lumpuh.

Berbicara mengenai listrik, ketika terdapat gangguan, hal pertama yang terjadi untuk memproteksi keseluruhan sistem adalah break the circuit. Mengisolasi bagian yang terjadi gangguan sehingga tidak membahayakan dan tidak menyebar ke sistem yang lainnya. Jadi jangan ditanya, "memangnya tidak ada pendeteksi untuk mencegah sebelum terjadi gangguan?" Kalo gangguan mau datang itu nggak permisi dulu emang sist/bro :') Lain lagi kalau pertanyaannya "Memang tidak ada pendeteksi utnuk mencegah kerusakan?" Jawabannya ada, dan itu adalah "break the circuit". Dampaknya? tentu saja listrik padam.

Lalu kenapa butuh waktu yang sangat lama untuk memperbaiki sistem yang mengalami gangguan tersebut? Pertama, mereka harus mencari penyebabnya. Yah kan kalau di rumah kita ada yang putus juga harus cari tau dulu kan sumbernya di mana. Memang ada berbagai macam alat canggih milik PLN yang bisa mendeteksi gangguan. Tapi tetap saja, ada beberapa hal yang harus dianalisis sebelum menentukan dengan pasti di mana dan mengapa terjadi trip/gangguan. Lalu karena terjadinya gangguan di jaringan transmisi, di mana letaknya biasa berada di pinggir jalan, atas gunung, tengah sawah, dsb. Tentu saja butuh waktu untuk mengakses tempat terjadinya gangguan. Lalu perbaikan dilakukan. Saya tidak tahu pasti bagaiamana cara mereka melakukan perbaikan, tapi yang pasti butuh waktu lah. Belum lagi persiapan untuk manjat tower dan jaringan transmisi.

Mungkin butuh beberapa jam untuk memperbaiki semuanya. Di saat yang sama, PLN berusaha untuk mensuplai dengan pembangkit cadangan. Menghidupkan pembangkit listrik itu tidak semudah menghidupkan lampu dengan sakelar. Ada banyak langkah-langkahnya. Dan itu tidak bisa dilakukan dalam beberapa menit saja. Lalu saat semua sudah beres, saatnya menghidupkan kembali seluruh pembangkit yang tadi trip. Termasuk PLTU Suralaya dengan 7 buah generator turbin uapnya.

Did you know? Salah satu kekurangan PLTU adalah waktu starting yang relatif lama. Paling lama diantara semua jenis pembangkit. Dalam keadaan sistem masih panas/stand by butuh waktu sekitar 2 jam untuk starting kembali. Sedangkan dalam keadaan dingin, waktu startingnya adalah 6-8 jam. Kenapa demikian? Salah satunya adalah karena mereka harus mendidihkan kembali air-air di boiler mereka yang sudah mendingin. Tambahan, ketika generator mati karena adanya trip (bukan off normal), maka mereka perlu untuk men-setting ulang banyak parameter, termasuk relay-relay proteksi yang mentripkan tadi. Jadi, menghidupkan kembali PLTU yang sudah trip dan sudah mendingin itu tidak semudah menghidupkan genset indomaret.

Nah, kalau dikalkukasi, make sense ya, pemadaman terjadi sampai selama itu. Semoga kedepan tidak terjadi lagi blackout seperti ini lagi.

Sekian pembahasan kita kali ini mengenai peristiwa luar biasa, padam listrik, Blackout Jakarta-Banten-Jabar 4 Agustus 2019. Semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari kejadian ini.

Thank you for reading. Dan kalau ada yang mau ditanyakan/dikoreksi, please feel free to write a comment.

Wassalamualaikum ^-^

Rabu, 06 Februari 2019

D4 Teknik Listrik Politeknik Negeri Ujung Pandang


Halo adik-adik, perkenalkan, Saya Sitti Nasibah, tapi lebih akrab dipanggil Nunu. Alumni program studi D4 Teknik Listrik angkatan 2011, Politeknik Negeri Ujung Pandang.

Kalau kalian senang robotika, ingin mempelajari revolusi industry mulai dari 2.0 hingga 4.0, tapi juga ingin mengambil peran dalam pengembangan renewable energy (energi baru terbarukan), prodi ini sangat tepat sebagai pintu masuk pertama kalian.


Teknik Listrik, bedanya apa sih dengan Teknik Elektro? Jadi, Teknik Listrik itu bagian dari Teknik Elektro. Di PNUP, Teknik Elektro itu adalah nama jurusan yang dibawahnya terbagi lagi jadi beberapa program studi: D3 Teknik Listrik, D4 Teknik Listrik, Teknik Elektronika, TKJ, Multimedia, dan Telekomunikasi.

Prodi ini mempelajari segala hal tentang listrik, mulai dari bagaiamana listrik dibangkitkan, penyalurannya, hingga pemanfaatannya dalam industri maupun rumah tangga. Mulai dari yang konvensional hingga system otomatis dan komputasi. Selain listrik itu sendiri, di prodi ini kita juga mempelajari ilmu yang berkaitan, seperti bahasa pemprograman software, mesin-mesin, hingga gambar denah.

Trus D4 itu apa sih? Bedanya dengan D3 dan S1 apa? Jadi D4 itu jenjang pendidikan di jalur vokasi  yang setara S1 (Kalau di tingkat sekolah menengah ada SMA dan SMK. Nah, SMK itu jalur vokasi). Nama lain untuk D4 adalah S1 Terapan dengan gelar S.ST (Sarjana Sains Terapan). Kalau di luar negeri namanya Bachelor of Applied Science. Kalau di D3 lebih banyak praktek dan di S1 lebih banyak teori, nah, di D4 itu kita berada di antaranya.

Masuk ke materi kuliah. Secara umum, di program studi Teknik Listrik PNUP, kategori kuliah ada 4. yakni:  Mata kuliah umum (yang mana semua jurusan di PNUP belajar materi ini, contohnya Pendidikan Agama dan Kewarganegaraan), ada mata kuliah jurusan, praktikum lab, dan praktikum bengkel/workshop.

Di Praktikum Lab, kita banyak mempelajari:
·         Elektronika. Ituloh, komponen-komponen kecil yang biasanya ada dalam barang-barang elektronik. Di sini kita hanya belajar dasar-dasarnya saja, karena Teknik Elektronika ada program studinya sendiri.
·         Mikrokontroler dan mikroprosesor. Di sini kita akan belajar dasar  membuat robot.
·         Sistem Kontrol dan Automasi Industri. Kalian pernah nonton laptop si unyil? Atau video pembuatan suatu produk dengan mesin-mesin canggih di internet? Nah, semua mesin-mesin canggih itu dikendalikan oleh sebuah program, dan di sini kalian akan belajar bagaimana membuat program tersebut.
·         Praktikum sistem tenaga listrik mulai dari pembangkitan, transmisi (Mungkin kalian familiar dengan istilah SUTET?), gardu induk, hingga distribusi menggunakan modul praktek. Di PNUP menggunakan alat praktikum dari Lucas Nulle. Jadi ada miniatur pembangkit, transmisi, dan distribusi yang terhubung dengan komputer.
·         Proteksi. Yep, bekerja dengan listrik pasti tidak lepas dari yang namanya bahaya, itu kenapa proteksi selalu dibutuhkan.

Selain mata kuliah teori yang terkait dengan praktikum, ada juga mata kuliah pendukung profesi seperti etika profesi, Kesehatan dan Keselamatan Kerja, hukum perburuhan, Bahasa inggris, kewirausahaan, hingga ekonomi teknik.

Lalu ada mata kuliah yang judulnya bukan praktikum tapi jatuhnya tetap praktek. Seperti mata kuliah Algoritma dan Pemprograman serta Interfacing yang mana di sini kalian akan belajar cara membuat beberapa program desktop sederhana.

Sebenarnya ada banyak banget mata kuliah yang berkesan buatku, hampir semua malah. Salah satunya ada mata kuliah ‘Pembangkit dan Gardu Induk’. Meskipun judulnya mata kuliah teori, tapi dosen kami waktu itu ngasih kami tugas untuk mencari sendiri tempat tinggal yang masyarakatnya belum mendapatkan listrik dari PLN dan membuat semacam proposal pembuatan pembangkit listrik renewable energy yang efisien di sana.Jadi bolang beberapa hari xD

Selain praktikum di lab, ada juga praktikum bengkel. Bedanya? Kalau di Lab kalian masuknya di lab bersih dan ber-AC serta tidak perlu menggunakan sepatu safety karena lebih banyak praktikum dengan tegangan ekstra rendah dan modul praktek yang memang dirancang untuk latihan sehingga lebih aman, nah di Bengkel ini bisa dibilang real arenanya. Semua komponen yang digunakan adalah sungguhan.

Ada apa aja di bengkel listrik?
1.       Bengkel kerja bangku. Mata kuliah yang tujuan utamanya membentuk kesabaran, ketelitian, serta melatih fisik dan mental kita. Ini penting untuk membentuk engineer yang tahan banting setelah memasuki dunia kerja yang lebih keras nantinya. Kerjanya ngapain aja? Ngikir, ngebor, gergaji, memalu, ngukur, dsb.

2.       Instalasi rumah, Jadi akan ada sebuah papan denah rumah yang besar, dan tugas kalian adalah memasang instalasi listrik di denah rumah tersebut. (Kayak main bongkarpasang xD)
3.       Instalasi penerangan dan daya (instalasi motor-motor). Kalau yang sebelumnya hanya denah di papan, nah di sini kalian benar-benar akan memasang instalasi di dinding.

4.       Bengkel industri konvensional. Setelah mengerti cara memasang instalasi untuk motor-motor listrik, di semester ini sudah lebih kompleks karena diminta untuk merancang dan memasang instalasi dan kontrol motor yang biasa digunakan di industri.

5.      Bengkel industri lanjutan. Persis seperti semester sebelumnya, namun di sini, pengontrolannya lebih modern karena menggunakan alat kontrol (PLC) yang diprogram  di computer. Dan kalian juga akan diminta membuat tampilan dan kontrol mesin-mesin tersebut di computer, nama untuk program ini adalah SCADA. Jadi belajar PLC (automasi industri) itu ada di bengkel dan ada di lab. Bedanya? Kalau di lab kalian lebih focus ke pemprogramannya. Sedangkan kalau di bengkel harus focus di semuanya termasuk hardwarenya. Mulai dari pemprograman, pengkabelan, merangkai pengontrolan motor-motor, proteksi, sampai seluruh system bekerja dengan benar seperti yang ada di pabrik-pabrik.

6.       Bengkel Interkoneksi. Masih menggunakan PLC, kalian akan membuat program untuk mengontrol beberapa sumber listrik. Misalnya, bagaimana mengontrol energy listrik dari PLN dan genset agar dapat bekerja gentian secara otomatis.

7.       Bengkel distribusi. Intinya di bengkel ini adalah tiang listrik dan gardu PLN. Manjat tiang listrik pastinya.

Enaknya kuliah di Politeknik itu, kita berasa benar-benar jadi seorang engineer; merancang, memprogram, dan mengerjakan proyek yang seperti sungguhan. Berasa benar-benar masuk ke dunia kerja  karena praktikumnya yang banyak. Jadi saat nanti benar-benar sudah bekerja, kita sudah tidak asing lagi. Saat ini saya bekerja di salah satu perusahaan swasta yang bergerak di bidang konstruksi elektrikal, dan orang-orang di tempat saya selalu bilang kalau saya cepat sekali belajarnya. Sebenarnya, itu karena apa yang saya hadapi di lapangan rata-rata sudah pernah saya temui saat kuliah dulu.

Oh ya, di semester 5 atau 6 kalian diminta untuk KP (Kerja Praktek)/ magang di perusahaan. Waktu itu saya berkesempatan untuk KP di PT. PLN Area Pengaturan dan Penyaluran Beban. Tempat seluruh pembangkit listrik dan penyalurannya diatur. Salah klik dikit, satu kota bisa mati lampu. Hehe. Di semester akhir juga ada PKL Profesi. PKLP ini agak mirip KKN (ps: di Politeknik nggak ada KKN ya), karena kita akan tinggal sebulan lebih di sebuah desa. Kami diberi program kerja yang berkaitan dengan profesi kami, yakni memberikan pelayanan dan edukasi tentang kelistrikan untuk masyarakat. PKLP ini salah satu bagian favoritku selama kuliah dulu nih.

Kalian jangan takut atau ragu masuk teknik utamanya teknik listrik ya. Mungkin kalian dengar kuliahnya berat, lulusnya susah, tapi dijamin deh karena beratnya itu kalian justru akan menemukan teman-teman sependeritaan yang asik banget. Sampai waktu 4 tahun itu nggak akan terasa.
Oh ya, jangan takut kalian lulusnya lama di sini. Karena di PNUP Cuma ada wisuda setahun sekali, maka mau nggak mau kalian pasti maksain diri sendiri biar bisa lulus tepat waktu, 4 tahun. Belum lagi sistem kuliah paket dan dosen-dosen yang sangat proaktif mendorong kalian segera menyelesaikan tugas akhir.

Untuk prospek kerjanya:

·        - Bidang konstruksi, hampir setiap perusahaan konstruksi pasti memiliki bidang electrical yang pastinya membutuhkan seorang engineer, estimator, drafter, dan berbagai posisi lain.

·        - PLN. Yup, sebagai satu-satunya perusahaan di Indonesia yang berwenang sebagai penyalur energy listrik, lulusan teknik listrik ini dicari banget nih guys di PLN. Sekedar informasi, sekitar 25% lulusan D4 teknik listrik PNUP angkatanku masuk PLN. Itu untuk kelas regular (belum termasuk kelas kerja sama).

·       -  Pembangkit listrik. Selain PLN banyak juga pembangkit listrik yang dimiliki dan dikelola oleh perusahaan swasta yang pastinya membutuhkan seorang ahli elektrikal.

·       -  Oil and Gas, tambang, pabrik,mill, smelter, dan semua industri besar yang menggunakan banyak mesin-mesin listrik pasti membutuhkan electrical engineer.

·       -  Akademisi (setelah kuliah pasca sarjana). Siapa bilang lulusan politeknik nggak bisa jadi dosen? Bisa kok, dengan ijazah D4 kalian bisa langsung kuliah pasca sarjana untuk selanjutnya melamar menjadi dosen.

·        - Instalatir (kontraktor listrik). Setelah mengambil ujian kompetensi instalatir dan mendapatkan sertfikat, kalian bisa menjadi seorang instalatir dan mendirikan CV/PT sendiri.

·        - Konsultan elektrikal. Seperti halnya konstruksi sipil, instalasi listrik juga ada konsultannya. Kalian bisa mendirikan CV/PT sendiri yang mengkhususkan diri sebagai konsultan elektrikal.

·        - Auditor. Nggak Cuma keuangan yang ada auditornya, energi listrikpun ada auditornya. Tugasnya membantu klien menggunakan energy listrik seefisien mungkin.

Oke, itu tadi pembahasan tentang Program Studi D4 Teknik Listrik Politeknik Negeri Ujung Pandang. Sesungguhnya, apapun jurusannya jika kita sudah bertekad dan nggak pantang menyerah, Insya Allah kita akan sukses J

Jumat, 01 Februari 2019

Informasi Umum Tentang Kelistrikan untuk Menambah Pengetahuanmu :)

Hai hai, Di tulisan aku kali ini aku mau berbagi sedikit hal tentang kelistrikan secara umum. Langsung aja yuk!

1. Listrik itu ada 2 jenis yaitu AC (Arus bolak-balik) dan DC (Arus searah). Contoh listrik AC itu adalah yang kalian beli dari PLN. Sedangkan contoh listrik DC itu adalah yang berasal dari baterai.

2. Kabel listrik yang umum kalian gunakan di rumah itu selalu ada sepasang. Kalau untuk AC ada yang namanya fasa dan netral sedangkan untuk listrik DC itu istilahnya positif dan negatif.

3.Meskipun begitu, di Industri (untuk listrik AC), ada yang 1 fasa dan ada yang 3 fasa. Listrik 1 fasa terdiri dari fasa dan netral. Sedangkan 3 fasa terdiri dari Fasa R, fasa S, fasa T tanpa netral.

4. Kalian tidak bisa menghidupkan produk yang membutuhkan sumber listrik DC dengan sumber listrik AC, begitupun sebaliknya. Untuk itu ada yang namanya adaptor, yang bisa mengubah listrik AC ke DC.

3. Lisrik AC boleh dipasang terbalik sedangkan DC tidak boleh. Selain tidak akan menyala, memasang sumber listrik DC secara terbalik juga bisa mengakibatkan kerusakan pada barang tersebut.

5. Tegangan listrik yang kalian terima dari PLN adalah 220 Volt AC. Tegangan segitu cukup untuk membuat kematian jika tersetrum. Jadi selalu hati-hati ya.

6. Tapi kalian tidak akan tersetrum kalau yang kalian pegang hanya salah satu dari dua kabel/titik listrik dan sedang tidak menginjak tanah loh. Makanya untuk mengurangi resiko, para engineer, teknisi, dan semua yang bekerja dengan listrik harus menggunakan sepatu safety dengan sol karet untuk mencegah kontak langsung dengan tanah. Tapi ini khusus tegangan rendah yah, tegangan menengah ke atas tetap berbahaya meski menggunakan sepatu safety sekalipun.

7. Klasifikasi tegangan sebagai berikut:
- Tegangan rendah (LV) : Dibawah 1000 Volt
- Tegangan Menengan (MV) : 1000V - 35kV
- Tegangan Tinggi (HV) : di atas 35kV - 245kV
- Tegangan Ekstra Tinggi (EHV) : Di atas 245kV

8. Saluran listrik (oleh PLN) itu ada 2 jenis, Transmisi dan Distribusi. Transmisi berupa menara listrik yang menyalurkan listrik dari pembangkit listrik ke gardu induk (Itu loh, bangunan PLN yang ada lahan terbukanya yang banyak kotak-kotak, tabung-tabung dengan banyak kabel). Sedangkan distribusi berupa tiang listrik yang mengantar listrik dari gardu induk hingga ke pelanggan.

9. Distribusi dari gardu induk ke gardu distribusi (tiang listrik yang terdiri dari 2 tiang beton berdampingan yang di bagian atas dan/atau bawahnya ada kotak besar) disebut distribusi primer, sedangkan dari gardu distribusi ke pelanggan disebut distribusi sekunder.

10. Tegangan saluran transmisi bermacam-macam. Yang umum di Indonesia ada 75kV, 150kV, dan 500kV. Tegangan distribusi primer adalah 20kV. Dan tegangan distribusi sekunder adalah 220/380Volt.


11. SUTET adalah singkatan dari Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (biasanya merujuk ke saluran 500kV. Sedangkan tidak semua wilayah di Indonesia ada saluran 500kV-nya. Jadi tidak semua menara transmisi namanya SUTET yah.

13. Port USB komputer juga mengeluarkan tegangan listrik loh, sebesar 5 Volt DC.

14. Memberikan suplai listrik dengan tegangan melebihi kebutuhan barang, bisa merusak barang tersebut. Misalnya sebuah lampu akan bekerja dengan tegangan 3 volt, lalu kalian beri tegangan 12 volt, maka itu akan merusak lampu tersebut. Sedangkan jika kurang, tidak akan bekerja atau kalaupun bekerja, bekerjanya tidak akan maksimal atau redup.

15. Saat baru saja menyala setelah terjadi pemadaman kondisi tegangan sedang tidak stabil. Hal tersebut dapat merusak barang-barang elektronik anda jika terlalu sering terjadi. Maka tunggulah sekitar 3-5 menit sebelum menyalakan barang elektronik kamu.

16. Beban (barang yang membutuhkan listrik) akan mengonsumsi listrik beberapa kali lebih banyak saat tarikan pertama/pertama kali disambungkan listrik. Jadi terlalu sering menghidup/matikan barang elektronik sebenarnya mengakibatkan konsumsi listrik lebih banyak. Terlebih untuk produk dengan motor listrik seperti AC, kulkas, mesin cuci, dll. Jadi jika kamu hanya akan meninggalkannya sebentar dan kembali lagi, lebih baik tidak perlu mematikan peralatan listrik kamu.

17. Dalam memilih charger handphone, semakin tinggi ampere-nya, semakin cepat charger tersebut mengisi daya.

18. Jenis-jenis pembangkit listrik:
- Pembangkit listrik tenaga air,
- Pembangkit listrik tenaga surya
- Pembangkit listrik tenaga diesel (bbm)
- Pembangkit listrik tenaga bayu (angin)
- Pembangkit listrik tenaga nuklir
- Pembangkit listrik tenaga uap
- Pembangkit listrik tenaga gas
- Pembangkit listrik tenaga panas bumi

19. Pada pembangkit listrik tenaga surya, yang diubah menjadi energi listrik bukanlah panas matahari, tapi cahayanya (meskipun cahaya dan panas matahari sering kali berbanding lurus.) Jadi semakin terang matahari, maka energi listrik yang dihasilkan akan semakin banyak.

20. Pernah lihat turbin angin? (kincir angin raksasa yang terbuat dari besi dan biasanya terletak di bukit-bukit berangin). Itu adalah bagian dari pembangkit listrik tenaga bayu (angin). Nah, di Indonesia saat ini PLTB baru ada 2 buah dan keduanya ada di Sulawsi Selatan.

21. Pembangkit listrik tenaga air, angin, dan surya adalah pembangkit listrk yang dinilai eco-friendly karena tidak menghasilkan gas buang dan tidak mencemari lingkungan. Namun untuk PLTB, mendapat beberapa kontra dari para aktivis hewan karena dinilai berbahaya bagi burung-burung (Dapat membunuh burung yang terbang melintasi turbin anginnya).

22. Mati lampu itu bukan salah PLN ^^( Meskipun aku bukan pegawai PLN, tapi aku kasihan sama PLN yang dimaki-maki tiap kali lagi mati lampu. Hehe). Karena ketika ada pemadaman, itu berarti ada masalah. Dan usaha serta biaya yang dibutuhkan untuk perbaikan masalah itu tidak sedikit.

23. Kentang, apel, jeruk, dan buah-buahan lain yang memiliki zat elektrolit bisa menghasilkan listrik loh. Meskipun dengan besar tegangan yang sangat kecil.

24. Air itu dapat menghantarkan listrik. Jadi sebisa mungkin jangan memegang komponen listrik dengan tangan basah ya.

25. Sama seperti bidang keilmuan lain, Listrik juga punya buku pedoman atau aturan. Kalau di Indonesia, ada namanya PUIL (Peraturan Umum Instalasi Listrik) dan SPLN (Standar PLN). Di setiap negara biasanya juga punya standard pedoman sendiri. Sedangkan secara internasional yang paling banyak digunakan adalah  IEC (International Electrotechnical Commisions) yang bermarkas di Swiss dan NEMA (National Electrical Manufacturers Assosiation) dari Amerika Serikat.

Okay, segitu dulu yah info umum tentang kelistrikan. Kapan-kapan kita lanjut lagi. Terima kasih sudah membaca. Kalau misalnya ada yang salah dari tulisan saya diatas, mohon bantu koreksi dan kalau ada yang ingin ditanyaka, please feel free to comment. Thank you :)

Wassalamualaikum.


Selasa, 03 April 2018

PLTB Pertama di Indonesia

Tulisan saya ini bermula dari curhatan salah satu kakak sepupuku yang katanya lelah musti bolak-balik Makassar-Sidrap buat antar pejabat-pejabat yang pengen liat PLTB Sidrap pake helikopter which is biaya itu heli sehari ratusan juta (nb: kakakku ini karyawan PLN, bukan pilot helikopter ya. hehe).

Karena dulu pas kuliah sempat magang di pusat kendali milik PLN dan nyari data buat tugas akhir juga di PLN, jadi lumayan hafal sama pembangkit-pembangkit yang ada di sulselrabar (Sulawesi Selatan, Tenggara, Barat).

Jadi aku nanya, "Wah, PLTB pertama di Sulawesi yah kak?"

Trus dijawab, "Yang pertama di Indonesia dek!"

Wah, amazing, dari dulu pengen banget ke bukit-bukit angin di luar negeri yang ada turbin anginnya. Dan ternyata PLTB pertama di Indonesia ada di provinsiku.

Jadi ingat pas awal-awal semester sempat baca buku (lupa judulnya dan terbitan tahun berapa) kalau menurut penelitian, kecepatan angin di Indonesia itu nggak cukup kuat dan stabil buat dimanfaatkan sebagai pemutar turbin angin. Tapi aku nggak tau kalau sampai sekarang ternyata memang belum ada PLTB sama sekali di Indonesia, dan yang di Sidrap, Sulsel ini bakal jadi yang pertama.

Buat yang belum tau, PLTB adalah singkatan dari Pembangkit Listrik Tenaga Bayu atau Pusat Listrik Tenaga Bayu. Bayu sendiri berarti angin dari bahasa Sanskerta.

Dulu pas semester 3 atau 4, di mata kuliah Pembangkit dan Gardu Induk, salah satu tugas dari dosen adalah  nyari tempat yang belum terjamah listrik trus dibuatin semacam rancangan pembangkit yang efisien di sana. Jadi, kita disuruh membolang nyari tempat yang gak ada listriknya trus merencanakan pembangkit sendiri. Mana sekelompok cuma 3 orang lagi.

Teman-teman kelasku yang lain banyak yang ke daerah pegunungan, dan kebetulan pada dapat air terjun dekat lokasi, jadi mereka akhirnya memilih pembangkit mikro-hidro. While kelompokku akhirnya dapat di daerah pesisir atau lebih tepatnya daerah muara, dibantu sama penyuluh di kabupaten tersebut. Warga setempat menyebutnya pulau, tapi yang aku lihat lebih seperti pematang-pematang yang sedikit lebih besar. Di belakangnya ada tambak, di depannya ada danau, dan gak jauh dari situ ada laut. Terdapat puluhan rumah berjejer di sepanjang pematang itu.

Sebenarnya bukan gak ada listrik sama sekali, mereka hanya belum terjamah PLN aja, di malam hari mereka pakai genset buat penerangan, tapi gak bisa lama-lama karena harga bbm mahal. Awalnya mau buat mIkrohidro juga, tapi salah satu unsur yang harus ada dalam PLTMH yakni arus dan ketinggian nggak ada. Jadi akhirnya, kami memilih turbin angin. Rencananya turbin angin ini akan kami pasang dekat laut. Anginnya lumayan kencang menurut hasil pengukuran kami dan ada lahan kosong yang lumayan luas di dekat laut tersebut.

Ada satu hal yang bikin terharu, jadi saat kami ke sana, para warga menyambut kami dengan sangat baik, kami dikasih hidangan laut yang baru saja ditangkap sengaja buat kami. Rasanya enak banget, padahal cuma berbumbu garam, tapi rasanya lebih enak dari yang biasa kami makan di kota. Sebelum pulang, mereka mengucapkan banyak sekali terima kasih kepada kami dan mengatakan nggak sabar listrik bisa masuk ke desa mereka. Saat itu aku tersadar, mungkin mereka sudah salah paham, mungkin mereka berpikir kalau kami benar-benar akan membangun pembangkit itu. Kamipun akhirnya pulang dengan sedikit rasa bersalah, berharap listrik benar akan masuk ke desa mereka suatu hari nanti.

Sekitar 2 tahun kemudian, salah satu teman kelompokku dikasih kabar sama penyuluh yang udah bantuin kami dulu kalau sekarang desa yang dulu kami datangi sudah mendapat suplai listrik dari PLN. Alhamdulillah, what a good news for us.

Ok, back to the 1st PLTB in Indonesia. Jadi, PLTB ini tengah dibangun di dua lokasi, di kabupaten Sidrap dan kabupaten Jeneponto. Keduanya berada di propinsi Sulawesi Selatan. Sidrap terletak sekitar 130 km di utara kota Makassar dan Jeneponto berjarak sekitar 90 km dari kota Makassar.

Kedua pembangkit ini merupakan pembangkit IPP (Independent Power Producer) atau milik swasta. PLTB Sidrap digarap oleh grup pengembang yang mengkhususkan diri di bidang energi terbarukan, UPC Renewables dengan daya sebesar 75 MW yang dibangkitkan dari 30 buah Turbin angin, sedangkan PLTB Jeneponto sendiri dimiliki oleh perusahaan asal Denmark, Equis Energy dengan target daya 72 MW dari 20 turbin.

Menurut sepupuku, PLTB Sidrap ini ditargetkan untuk bisa beroperasi di bulan April ini. Sedangkan untuk PLTB Jeneponto kabarnya ditarget untuk selesai tahun 2019 mendatang.

Menurut Bapak Dirut PLN, Pak Sofyan Basyir, yang pernyataannya ku-kutip dari liputan6, Saat ini, kondisi kelistrikan sistem Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel) mengalami surplus, dengan daya mampu 1.257,3 MW dan beban puncak mencapai 1.050 MW. Dengan demikian, PLN masih memiliki cadangan daya 207,3 MW yang dapat memasok ke pelanggan. Seiring dengan telah masuknya sistem beberapa pembangkit baru, pada 2018 PLN Wilayah Sulselrabar akan memiliki cadangan daya 500 MW.

Jadi sebenarnya, saat ini Sulselrabar (Sulawesi-Selatan-Tenggara-Barat saat ini berada dalam satu sistem interkoneksi) nggak butuh-butuh amat tambahan pembangkit, tapi untuk perhitungan laju ekonomi masa depan, dapat dikatakan cadangan daya di sulsel cukup melimpah. Saat inipun, in case salah satu dari ketiga pembangkit besar di Jeneponto (100 MW), di Poso (120 MW), dan PLTA Bakaru (80 MW) terjadi trouble dan trip, cadangan putar mereka masih cukup untuk menghindari terjadinya black out.

Oh ya, kabarnya saat ini para investor luar juga tengah melakukan penelitian di beberapa daerah potensial di Indonesia untuk turut dibangun PLTB loh. Wah, apa kabar rencana submarine transmission yah? Mana yang kira-kira terealisasi lebih dulu? Semoga yang lebih efisien dan pastinya lebih hemat dikantong negara yah. Hehehe.

Okay, sekian obrolan kita tentang PLTB kali ini yah. Semoga ada manfaatnya. Hihi.
ini gambar dari PLTB Sidrap yang aku ambil dari site resmi UPC Renewables.


Wassalam.

Bukit angin PLTB Sidrap (Source: upcrenewables)

Keren yaaa... Semoga pulang ke Makassar nanti bisa jalan-jalan ke tempat ini ^-^

Jumat, 09 Maret 2018

Perbedaan PLC dan DCS

Selama kuliah saya cukup lama berteman dengan PLC (Programmable Logic Controller) dan SCADA (Supervisory Control and Data Acquisition)  dari semester 4-8. coursework, bengkel, lab. Dengan beberapa brand seperti Omron, LS, dan Stardom. Sedangkan DCS (Distributed Control System), meskipun namanya sering dimention oleh dosen saat mengajar PLC, namun bertemu dengan DCS pertama kali dan satu-satunya pas semester 8 di Lab Automasi. Saat itu pakai Yokogawa Centum VP.

Kata-kata dosen saya yang selalu saya ingat adalah "PLC dan DCS itu berbeda. Jaman dulu, perbedaannya sangat mudah disebutkan, tapi sekarang perbedaannya sudah kabur. Karena PLC berkembang dengan tambahan kemampuan yang ada pada DCS, dan DCS juga berkembang dengan tambahan kemampuan PLC."

Jadi, kalau diurut sejarahnya, controller/minikomputer dengan input/output signal mulai ditemukan sekitar awal tahun 1960an. Pada tahun 1959, perusahaan Ramo-Wooldridge memperkenalkan sistem komputer kontrol industri pertamanya, RW-300.

Sejarah PLC
Pada tahun 1969, GM Company menawarkan sebuah tender proyek untuk membuat alat pengganti relay (yang wiringnya ribet serta banyak memakan tempat dan energi). Dan akhirnya, yang proposalnya memenangkan penawaran tersebut adalah sebuah tim engineer/peneliti 'Bedford Associates' dari Bedfort, Massachussets (Entah kenapa tiap dengar kata Massachusets, pasti ingat MIT. Hahaha). Nah, PLC pertama itu bernama 084. Karena PLC ini merupakan proyek ke 84 dari tim ini. Salah seorang yang bekerja dalam tim ini adalah Dick Morley, yang akhirnya dikenal sebagai bapak PLC. Setelah proyek ini, Bedford Associates memutuskan untuk membuat perusahaan dan memproduksi massal dan menjual secara komersial PLC buatan mereka bernama Modicon (Modular Digital Controller). Pada tahun 1977, Modicon akhirnya dijual ke Gould Electronic, yang selanjutnya diakuisisi oleh perusahaan asal German, AEG dan akhirnya dibeli lagi oleh Schneider dan diproduksi sampai sekarang.


Sejarah DCS
DCS ini katanya diciptakan sebagai pengganti control PID konvensional. Jadi dulu, untuk mengontrol sebuah plant/pabrik itu, butuh sebuah ruangan yang sangat besar dengan banyak alat pengatur, seperti gambar dibawah ini:
Control Room Konvensional (Sumber: Wikipedia)
Hal ini dianggap merepotkan buat pekerjanya, karena harus bolak-balok dari satu meja ke meja lain, bahkan sampai pindah-pindah ruangan buat mengontrol keseluruhan plant, jadi susah fokusnya. Belum lagi kalau sebuah plant itu punya banyak sistem yang saling berkaitan, makin luaslah ruang kontrol itu.

Dengan semakin berkembangnya ilmu komputer saat itu, direncanakanlah untuk mengganti controller konvensional saat itu menjadi algoritma berbasis komputer.

Pada tahun 1975, sebuah [perusahaan engineering asal New Jersey, USA, Honeywell dan sebuah firma elektrikal asal jepang, Yokogawa sama-sama memperkenalkan DCS pertama mereka. Honeywell dengan TDC 2000 dan Yokogawa dengan Centum nya. Selanjutnya di tahun yang sama, diperkenalkan juga UCS 3000 yang berasal dari Bristol, Inggris. Tahun 1978, Valmet Corp. juga memperkenalkan DCS nya bernama Damatic, lalu di 1980, Bailey (sekarang bagian dari perusahaan ABB) juga tak ingin ketinggalan dengan memperkenalkan DCS buatan mereka, Network 90.

Perbedaan PLC dan DCS
Nah, masuk ke pertanyaan di awal, jika sama-sama merupakan pengontrol berbasis komputer, lalu apa perbedaan keduanya?

> Pertama, latar belakang dibuatnya. Kalo PLC diciptakan dengan tujuan menggantikan relay, DCS dibuat dengan tujuan menggantikan control PID.

> Karena tujuan awalnya hanya untuk menggantikan relay konvensional, maka bentuk awal PLC hanya berupa modul digital sedangkan DCS adalah analog. Namun seiring perkembangannya, PLC kini memiliki modul analog (dimana biasanya terpisah dari modul utamanya) dan DCS pun kini dapat digunakan untuk pengontrolan digital.

> Meskipun sama-sama memiliki beberapa cara pemprograman, tapi bahasa program yang umum digunakan untuk PLC adalah ladder diagram, sedangkan DCS lebih familiar diprogram dengan Function Block Diagram. Meskipun PLC juga sering menggunakan FBD sih.
Contoh pemprograman DCS (Centum VP) menggunakan FBD (Sumber: koleksi pribadi)

Contoh pemprograman PLC (Siemens S7) dengan ladder diagram (Sumber: koleksi pribadi)



> Tadinya, terkait jumlah I/O, PLC digunakan untuk mengontrol sebuah sistem saja, sedangkan DCS digunakan untuk mengontrol keseluruhan plant. Contohnya, dalam sebuah pabrik mie instan. Untuk memproses bahan baku mentah sampai menjadi mie instan yang siap dipasarkan, terdapat beberapa tahapan, mulai dari pengayakan, pembuatan adonan, penggorengan, pengemasan, sampai distribusi. Nah, biasanya PLC digunakan untuk mengontrol proses pengadukan saja, atau proses pengemasan saja. Jadi di tiap proses bisa memiliki panel kontrol masing-masing. Sedangkan DCS kita ambil controh sebuah PLTU, DCS biasanya akan mengontrol keseluruhan prosesnya mulai dari distribusi air, perebusan, kontrol panas, sampai proses pembuangan.

>Biasanya produk DCS dilengkapi dengan fitur interface, sedangkan PLC umumnya membutuhkan SCADA atau HMI untuk display-nya. 

>Untuk respon, PLC lebih cepat daripada DCS.

Nah, itu tadi perbedaan PLC dan DCS yang bisa saya paparkan. Terima kasih sudah mampir.
Jika ada pertanyaan atau kekeliruan dari tulisan saya, please feel free to comment. Biar kita sama-sama belajar. Thank you ;)

Kamis, 01 Februari 2018

Listrik 2 Fasa

Normalnya, peralatan listrik itu pakainya 1 fasa (+netral) atau 3 fasa.

"Loh, ini wiringnya nggak pake netral yah?"
"Kok dua-duanya fasa?"

Yah, waktu itu saya buat gambar schematic dengan salah satu komponennya menggunakn suplai 2 fasa.
Loh, bisa gitu yah? Jawabannya, Bisa!

Taukan kalo beban 3 fasa itu nggak butuh netral? Nah, andai kata kita cuma punya suplai tarikan 3 fasa tanpa netral sedangkan kita punya komponen yang butuhnya suplai 1 fasa aja, kita tetap bisa mensupai komponen tersebut dengan menggunakan 2 dari 3 fasa yang ada (meskipun bagusnya tetap pakai 1 fasa + netral).

Loh, nggak bakal tabrakan tuh? Jawabannya, Insya Allah enggak.
Kenapa? Karena fasa R,S, dan T itu punya pergerakan yang nggak sama. Jadi saat salah satunya naik, yang lainnya turun. Lihat gambar di bawah ini!
Gelombang sinusoidal 3 fasa
Ingat konsep arus bolak-balik (AC) kan? Saat berada di puncak gelombang, berarti ada di tegangan max, saat berada di titik lembah gelombang, berarti juga ada di tegangan max namun dengan arah sebaliknya. Nah, dalam hal melaksanakan tugasnya itu, fasa membutuhkan netral. Di mana saat fasa berada dipuncak, netral berada dilembah, dan begitu pula sebaliknya. Begitulah listrik AC bekerja.

Jadi, karena setiap fasa R,S, dan T memiliki pergerakan yang berbeda, maka kita dapat menggunakan 2 dari 3 fasa sebagai suplai 1 fasa. Misalnya, kita menggunakan fasa R dan S. Jadi, saat R bertindak sebagai fasa, maka S akan bertindak sebagai netral. Dan sebaliknya, saat S bertindak sebagai fasa, R yang bertindak sebagai netral.

Tapi bukannya masing-masing fasa nggak boleh sampai ketemu yah? Bukannya kalo sampai ketemu bisa terjadi short circuit? Yah, itu salam keadaan no-load. Fasa dan neutral juga nggak boleh ketemu tanpa beban kan? Nah, itu juga bukti kalau 2 fasa dapat bertindak sebagai sepasang suplai 1 fasa.

Jangan lupa kalau yang boleh digunakan sebagai suplai satu fasa itu harus fasa yang berbeda yah. Jangan sampai menggunakan dua-duanya fasa R ;)

Sekian. And see you in my next posts.

Senin, 29 Januari 2018

Mengapa Tegangan 3ɸ = 1ɸ √3

Mengapa tegangan 3 phase = 1 phase dikali √3 Pertanyaan ini pertama kali datang di pikiranku saat kuliah dulu. Jadi kita tahu kalau untuk mendapatkan tegangan 3 fasa itu, tegangan 1 fasa cukup dikalikan √3. Begitupun sebaliknya, untuk mendapatkan tegangan 1 fasa, tegangan 3 fasa dibagi √3. Nah, pertanyaannya, kenapa √3? Kenapa bukan dikali 3 yang mana sekilas itu lebih masuk akal?

Ok, back to the topic. Jadi tegangan 3 fasa itu biasa juga disebut tegangan phase to phase karena tegangannya diukur dari beda potensial antara kawat fasa, R-S, S-T, atau T-R. Sedangkan tegangan 1 fasa biasa juga disebut tegangan phase to neutral(N) karena mengukur tegangan dari beda potensial antara salah satu kawat fasa dengan netral. R-N, S-N, atau T-N.

Jadi, seperti yang diketahui, bahwa listrik AC (alernating current) umumnya membentuk gelombang sinusoidal yang mana 1 puncak + 1 lembah disebut 1 periode. 1 periode ini bernilai 360˚
gelombang sinusoidal AC (1 puncak + 1 lembah)
Pada kondisi normal, Tegangan AC 3 fasa terdiri dari 3 buah fasa dengan frekuensi dan tegangan yang sama namun berbeda sudut masing-masing 120˚


gelombang sinusoidal 3 fasa

Untuk mudahnya, perhatikan masing-masing puncak dari setiap fasa, R di 90, S di 210, dan T di 330, yang berarti bahwa jarak antar fasa adalah 120˚. Kalau dibuat dalam diagram fasor, akan seperti berikut:
Diagram fasor tegangan 3 fasa


Pada gambar di atas, besar dari tegangan 1 fasa R-N diwakili oleh garis merah, S-N diwakili oleh garis kuning, dan T-N diwakili oleh garis hitam. Normalnya, masing-masing memiliki tegangan yang sama. Sebagai contoh, kita akan menghitung besar tegangan phase to phase R-S yang diwakili oleh garis berwarna jingga dibawah.
diagram fasor R-N-S

Karena diagram fasor di atas menghasilkan segitiga sama kaki, dengan mengingat hukum segitiga dimana jumlah sudut segitiga haruslah selalu = 180˚ dan sudut N sebelumnya telah diketahui, maka diketahui R = 30˚ dan S = 30˚

Selanjutnya, untuk mengetahui besar tegangan R-S, maka digunakan hukum sinus atau Law of sines segitiga.


asin A = bsin B = csin C
It works for any triangle:
triangleab and c are sides.
AB and C are angles.
(Side a faces angle A,
side b faces angle B and
side c faces angle C).
And it says that:
When we divide side a by the sine of angle A
it is equal to side b divided by the sine of angle B,
and also equal to side c divided by the sine of angle C
[Source: www.mathsisfun.com/]


Nah, jika kita mengaplikasikan hukum sinus di atas dengan diagram fasor yang kita miliki tadi, kita akan mendapat:

A = S = 30
B = R = 30
C = N = 120
a = R-N
b = S-N
c = R-S

 bsin B   = csin C
 SNsin 30 = RSsin 120
 SN1/2     = RS1/2√3

SN. 1/2√31/2 RS   

SN √3   RS
RS  √3 SN 


Oke begitulah penjelasan mengapa tegangan 3 phase = tegangan 1 phase x √3. Jika ada kekeliruan dari tulisan saya di atas, atau ada yang ingin ditanyakan, silakan tinggalkan komentar. Insya Allah kita akan belajar sama-sama. Salam Elektro! :D

Selasa, 14 November 2017

I am a Drafter

Assalamualaikum.
Very long time not write here.

Akhirnyaaa.. setelah hampir 2 tahun menjomblo menganggur, akhrirnya 2 bulan lalu, tepatny tanggal 17 Juli kemarin akikah keterima kerja. Hahaha.. Not a very big company, but i think this is one way for me to gain my dream as an engineer. Ada yang pernah nanya ke saya (di ask.fm :v), lebih pilih jadi ikan kecil di kolam besar, atau ikan besar di kolam kecil?, well, aku milih jadi ikan kecil dalam kolam yang airnya sesuai. Kalo aku ikan air asin, nggak mungkin hidup di kolam air tawar kan?
Jadi di sinilah saya, karena saya seorang lulusan engineering, jadi saya memutuskan untuk mencari pekerjaan yang sesuai bakat, minat, dan latar belakang pendidikanku.Klasik sih, dan kata orang terlalu pemilih. Tapi whatever, masa depan kita adalah tanggung jawb kita sendrikan? Dan menrutku, pilihan jurusan yang kupilih daat UMPN dulu juga salah satu hal yang harus kupertnggung-jawabkan.

(lanjut yaa.. setelah kira-kira 2 bulan tersimpan dalam entry. Hehe)
I forget to continued this one. Kayaknya saat itu lagi ada kerjaan.
Jadi, judul dari posisi/ pekerjaan ku sekarang adalah "Electrical and instrument drafter" Mungjkin terdengar agak keren bagi orang non-teknik, tapi buat orang teknik, ini adalah jabatan atau posisi paling rendah dalam dunia engineering :') Tak apa, toh dengan almamater yang biasa, non-experienced, dan jenis kelamin perempuan, sudah lumayan lah seenggaknya bisa mendapatkan posisi ini. 

Jadi, secara umum drafter itu tugasnya cuma 1; Menggambar.Mungkin bagi kebanyakan orang non-teknik akan menyamakan dengan arsitek yah (profesi yang udah terkenal) Tapi they're totally different. Seorang arsitek menggambar sesuatu yang ada dipikirannya sendiri setelah melalui banyak proses pemikiran dan penelitian. Tapi drafter nggak, apa yang kami gambar adalah apa yang dikatakan dan hasil pemikiran orang lain. Dimana orang lain itulah yang disebut engineer. Jadi kami cuma perpanjangan tangan engineer di depan laptop dan software gambar. 

Karena mereka masih punya banyak hal untuk dipikirkan, maka sepertinya akan buang-buang waktu buat mereka untuk menggambar sendiri. Tanpa kuliah di bidang engineeringpun, seorang lulusan SMK bisa menjadi drafter, as long as dia bisa menggunakan software gambar dan mengerti simbol-simbol di bidang mana dia menjadi drafter, serta bisa membaca gambar. Drafter ada di tingkat yang sama dengan teknisi. (Tapi ada juga yang drafter yang sedikit lebih tinggi atau teknisi yang sedikit lebih tinggi, tergantung perusahaan). Sebenarnya tiap tim engineering di tiap organisasi/ perusahaan punya sistem yang beda-beda sih. Di perusahaan tempatku bekerja kebetulan nggak ada electrical engineer. Jadi di bawah manager electrical langsung ada kami, electrical drafter. Sang manager kamilah yang bertindak sebagai electrical engineernya. Dia yang menghitung dan menganalisis semua sistem dan komponen yang diperlukan, bekerja sama dengan engineer bagian proyek, sales engineer, dan tentu saja customer. Nggak 100% kerjaan kami itu ngegambar aja sih, ada hal-hal yang tetap butuh pemikiran dan perhitungan. Tapi something simple aja, kayak rating instrumen dan metode wiring. Sekali lagi, saya tetap bersyukur dengan apa yang kudapat sekarang, (mengingat nganggurnya juga lamaaa banget) meskipun masih jauh dari target yang benar-benar ingin kucapai, tapi aku yakin ini adalah salah satu batu loncatanku yang berharga^^

Untuk sekarang, saya akan menikmati pekerjaanku ini. Karena kerjaan seorang electrical drafter itu nggak banyak, bahkan boleh kubilang sedikit, (pernah sekali disuruh lembur karena ada proyek yang harus cepat dibuat approvalnya untuk rapat padahal baru 2 hari lalu dimasukinnya dan ada 38 panel. aaand i feel so amazed. Hahahaha. Selebihnya, saya bahkan pernah nggak melakukan apapun selama 3 hari bahkan seminggu. Ambil sisi positifnya aja, di saat-saat senggang itu, bisa kupakai untuk belajar teori2 electrical (di mana aing males banget sama yg namanya teori pas kuliah xD Anak bengel dan lab saya mah xD), TOEFL, bahasa Korea, menulis, atau bahkan belajar bidang yang kuimpikan, Automation (Ssstt, jangan bilang2 ya, aku lagi ngelirik posisi Automation Engineer nih. Hehe).
Belajar Sejarah dunia dan matematika juga nggak ketinggalan. Pokoknya aing jadi haus ilmu banget di tengan ketidak-adaan kerjaan. Hahaha.

Okay, have a nice day who ever you are that read this post. Thank you for reading.

Senin, 23 Januari 2017

Kampus Kebangganku


Sesuatu yang kubanggakan tapi diremehkan orang lain?

Kampusku, tempatku menuntut ilmu untuk tumbuh menjadi seorang professional, Politeknik Negeri Ujung Pandang.

Banyak yang mengatakan kalau kampusku adalah PTN kelas dua. Mereka yang tidak diterima di PTN kelas satu beberapa akan mendaftar dikampusku. Dan itu benar, Politeknik memang sebuah PTN, tapi tidak sama posisinya dengan universitas atau beberapa institut negeri yang menerima mahasiswa baru melalui SNMPTN, ia memiliki jalur masuk sendiri yang disebut UMPN yang diadakan bersamaan dengan seluruh politeknik negeri di Indonesia.

                Tapi siapa yang peduli tentang siapa yang masuk ke kampus ini, bukankah yang terpenting adalah bagaimana yang keluar? Aku tidak mengatakan kalau kampus kami memiliki sistem pendidikan atau materi perkuliahan terbaik, tidak kok, PNUP rata-rata saja. Hanya saja, yang membuatnya beda adalah bahwa di sana kami diajarkan lebih banyak praktek dibanding teori. Teori itu penting tentu saja, karena itu adalah landasan dasar ilmu pengetahuan, tapi praktek juga tak kalah pentingnya sebagai implikasi dari apa yang didapat di kelas teori. Dan sejujurnya, kelas praktek seperti bengkel dan lab lebih menyenangkan dibanding kelas teori di gedung sekolah. Rasanya seperti seorang engineer yang benar-benar mengerjakan sebuah proyek.

                Satu hal yang membuatku bangga akan kampusku adalah pendidikan akhlahnya. Bukan kelas khusus budi pekerti atau pelajaran akhlak maksudku, lebih ke pembelajaran secara tidak langsung. Selain kelas pendidikan agama dan mentoring di semester pertama, tidak ada kelas khusus tentang akhlak lainnya. Padahal kampus kami bukanlah kampus berlandas agama, tapi entah mengapa, kau tidak akan menemukan anak nakal di kampusku ini. Kalau kamu datang ke kampusku dan menemukan seseorang dengan gaya yang aneh dan kesannya gimana gitu, bisa dipastikan itu bukan anak PNUP. Kau bisa meninggalkan laptopmu di jurusan dan tak akan ada yang mengambilnya. Lupa mengambil kunci motor atau bahkan handphone mu di jok, kau akan menemukannya kembali di pos satpam. Atau kau melupakan dompet di ruang kuliah, ia akan tetap aman di ruang OB. Aku tidak menjamin 100%, karena bisa jadi kamu lagi sial atau kebetulan ketemu klepto, benda-bendamu itu bisa saja melayang. Jadi tetap jaga barang-barang anda ya.

Di sana tidak pernah ada tawuran besar, kecuali perselisihan kecil. Dan sejujurnya, mahasiswa di kampusku bahkan tidak pernah berdemo. Ini serius, mungkin ada yang berpendapat kami mahasiswa cupu, tapi ah, siapa yang peduli. Mungkin kami terlalu sibuk dengan kuliah yang padat, tugas-tugas menumpuk, atau sekedar tidak ingin menyusahkan pengguna jalan dan pak polisi. Hal yang diajarkan kepada kami untuk selalu diingat saat pertama kali memasuki kampus hitam ini adalah, selalu menjunjung tinggi tri dharma perguruan tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Saat kami diminta untuk mengabdi kepada masyarakat, kenapa pula kami harus menyusahkan mereka? Ya, masyarakat tidak pernah ada yang mendukung mahasiswa pendemo sekarang ini. Karena sebagian dari mereka bukan lagi memiliki tujuan untuk membela masyarakat, tapi untuk gengsi mereka sendri.

Kebanggan lainku tentang kampusku adalah semua penghuni kampus ini sangat baik dan ramah. Pernah beberapa kali minta tukar uang kecil di pos satpam buat bayar angkot atau ojek, dan kalau bapak-bapak satpam lagi tidak punya uang kecil yang cukup untuk ditukar, biasanya mereka kasih uang buat bayar begitu aja. Pas mau dibayar kembali, pak satpamnya cuma bilang, “Nda usahmi dibayar. Kau belajar saja yang baik.” Atau kadang juga kalau ada pak satpam yang lagi dikunjungi istri dan anaknya dari kampung dan dibawakan oleh-oleh, kadang pak satpam itu suka bagi-bagi ke setiap mahasiswa yang keluar gerbang. Staf akademik yang ramah banget, panggil kamu nak sambil menjelaskan apa yang kamu tanya dengan ramah. Staf kebersihan yang selalu siap membantumu dan bahkan tidak pernah marah kalau kamu ga sengaja injak lantai yang baru saja dia pel. Dosen-dosen yang tidak pernah menyuruhmu membayar apapun. Semua dosen yang mengajar di kelasku membuat buku sendiri. Setelah itu hanya menyuruhmu mengcopy bukunya. Selebihnya, kamu bisa pakai buku apapun untuk jadi bahan referensi. Bahkan wali kelasku dulu sering mentraktir kami, membayarkan tiket nonton, bahkan ngasih tambahan uang buat liburan. Mahasiswanya juga, di setiap koridor, gazebo, atau kantin, kalian akan menemukan lebih banyak obrolan tentang kuliah. Ya, mahasiswa PNUP itu rajin-rajin. Hihihi.

Aku tidak tahu apa PNUP memang hanya menerima orang-orang berakhlak baik, atau PNUP yang mengubah mereka. Tanteku pernah Tanya, “Kamu lanjut kuliah di mana nak?” trus aku bilang, “Poltek tante.” Dan tanteku Cuma bilang, “Oh, PNUP? Bagus nak, di sana akhlahnya bagus.” Awalnya aku nggak mengerti maksud tanteku itu, tapi setelah menjadi bagian dari PNUP, aku jadi mengerti maksud beliau.

Meskipun kesannya menyenangkan dan ramah-ramah, tapi kamu nggak bolehbertingkah seenaknya. Surat DO di kampusku gampang sekali keluar loh, nilai rendah, tindakan indisipliner, atau bahkan kelamaan lulus, kamu bisa mendapatkan surat cinta dari direktur ini setelah sebelumnya mendapat 3 surat peringatan. Mungkin ini salah satu alasan kenapa kamu jarang menemui anak nakal di PNUP, karena anak-anak yang suka bertingkah itu akan gugur satu persatu dimulai dari semester awal. Ibu kantin aja nggak bisa lolos dari skorsing. Pernah karena bertengkar dengan lapak sebelah, ibu kantin langgananku harus libur selama sebulan dari kantin Huhu L

Pernah beberapa kali aku kenalan sama orang, pas ditanya kuliah dimana dan aku jawab PNUP, dijawab, “Ah, aku pernah kuliah di situ. Tapi sekarang di *****”. Pas aku Tanya kenapa pindah, dijawab “Ya, biasalah, DO”. Atau ada juga yang bilang, “Aku pernah kuliah di kampusmu itu. Tapi pindah pas semester 2, aku ga kuat sama tugasnya.” Hiks, itulah beberapa testimony kenalanku. Maafkan PNUP yaa.

Oh iya, satu lagi yang selalu kubanggakan. Saat pertama kali mendaftar di kampus ini, belum pakai sistem online, di setiap loket dan mading, ada tulisan besar berbunyi “Tidak ada sistem jatah dosen.” Dan kupikir itu benar, anak dosenku dan bahkan keluarga direktur sendiri pernah tidak lulus tes masuk di kampus PNUP ini. Dan aku sangat bangga menjadi alumni kampus yang tidak begitu terkenal ini :3

Ini teman-teman kelasku btw xD Foto kami waktu masih semester pertengahan, nggak lengkap sih. Jadi di Polteknik itu sistemnya kayak SMA, kamu akan punya teman yang sekelas selama 3 tahun (D3) atau 4 tahun (D4). Awalnya tiap kelas berisi 25 orang, tapi di kelasku yang bertahan sampai selesai cuma 19 orang. Lumayanlah.

Yaa, Itu tadi kebanggaanku yang masih banyak diremehkan orang :3 Jaya selalu PNUP ya, tetap jadi kampus pencetak tenaga professional yang berakhlah ;) Wassalam.

Day 6 #10DaysKF

Makassar, 23 Jaunari 2017
-Nasibah



Beberapa Nama Warna Selain Mejikuhibiniu

Pernah nggak kalian ditanya tentang warna dan kalian sendiri bingung menyebutnya apa? Atau ketika belanja online, ada puluhan avaible colour...