Rabu, 24 Januari 2018

Bagaimana Sebuah Film Mempengaruhi Hidupku

Sekitar Setahun lalu, aku menulis tentang film-film paling berkesan yang pernah ku tonton, Aku lupa ternyata ada banyak film lain yang juga tidak kalah berkesannya, hingga berhasil mempengaruhi hidupku. Mulai dari hal baik, sampai yang melelahkan. Hahaha.
[ps: ini tulisan yang sangat subyektif yah, namanya juga blog pribadi. Haha]

Pertama, Petualangan Sherina. Bukan film pertama yang ku tonton, tapi sepertinya film pertama yang kuingat. Film ini tayang tahun 2000, umurku waktu itu 7 tahun, kelas 2 SD. Aku saat itu tinggal di kabupaten yang belum ada bioskop (sampai saat ini juga belum ada sih). Waktu itu lagi hits banget, jadi tanteku yang tinggal di kota yang sangat sangat baik beliin VCD nya (jaman itu belum ada DVD kayaknya). Aku sukaaa banget sama film itu, bareng adek kami sering nyanyiin lagunya dan ngundang tetangga buat nonton bareng. Waktu itu ada 2 film yang hits banget dalam waktu yang berdekatan, Petualangan Sherina dan Joshua Oh Joshua. Dua-duanya menceritakan persahabatan 2 anak laki-laki dan perempuan, punya lagu-lagu hits, dan dua-duanya diperankan oleh artis cilik yang lagi tenar banget di masa itu.

Meskipun suka dua-duanya, tapi saat itu tetap lebih suka Petualangan Sherina sih, berhubung filmnya bang Joshua agak terlalu berat buat anak kecil dan ada unsur sinetronnya juga. Hehe, sedangkan Petualangan Sherina, semuanya tentang petualangan, persahabatan, dan bintang yang entah mengapa menurutku saat itu classy banget. Hahaha.



Okay, back to the topic, yang udah nonton film Petualangan Sherina pasti pada tau lagu Persahabatan dong? Liriknya kurang lebih:

Setiap manusia di dunia
Pasti punya kesalahan
Hanya yang pemberani
yang mau memaafkan
Setiap manusia di dunia
Pasti pernah sakit hati
Hanya yang berjiwa ksatria
Yang mau memaafkan

Nah, saking sukanya sama lagu itu, liriknya selalu tinggal di kepalaku. Aku selalu pengen jadi jagoan, jadi ksatria seperti power ranger pink, jadi aku selalu terbiasa untuk memaafkan orang lain. Bukan hanya memaafkan, tapi aku benar-benar melupakan perasaan sakit hati itu. Begitu aku tidur, aku bisa langsung lupa dengan perasaan marah/kecewaku (Thanks God, belum ada yang menyakitiku dan berbuat salah yang besar banget sampai sulit ku maafkan). Kadang dalam sejam juga udah lupa. Meskipun saat marah aku bisa marah banget dan bahkan merencanakan pembalasan dendam yang ciamik sekali, tapi tidak pernah berhasil tereksekusi. Perasaan marahku selalu berhasil menguap di udara bersama datangnya malam *alaahh xD

Tapi satu hal, seperti remaja kebanyakan saat itu, aku masih berat buat minta maaf, gengsi banget apalagi kalo ngerasa bukan aku yang salah. Yang aku ingat, sepertinya waktu SD pernah musuhan sama orang sekitar 3-4 kali (padahal aku udah nggak marah, cuma gengsi buat minta maaf. Haha), sekali waktu SMP, sekali waktu SMA, dan tidak pernah sekalipun waktu Kuliah sampai sekarang. Yang ku ingat pas SMP & SMA itu gara-gara temanku mau nyontek and that's time bukan lagi nggak pengen nyontekin, tapi lagi ribet dan jadi lah mereka ngambek. Sama-sama nggak mau minta maaf karena ngerasa nggak salah. Jadi deh nggak saling ngomong beberapa hari. That's it. Yah, sepertinya semua itu karena aku selalu pengen jadi ksatria xD

Kedua, Korean Korea. Drakor pertama yang ku tonton that's Endless Love, atau di luar lebih dikenal dengan Autumn in my heart, Umurku 9 tahun, kelas 4 SD. Selanjutnya ada Full House, Princess Hours, Sassy Girl Chunhyang, My Girl, dan banyak lagi. Masuk SMP, SMA, sampai kuliahpun nggak berhenti nonton Drakor. Baru setelah kenal Running Man (yang telat banget xD), aku sedikit kehilangan minat ke Drakor.

Dari semua itu, bagaimana drama Korea mempengaruhi hidupku? Yah, drama Korea emang nggak seharusnya ditonton sejak dini apalagi di masa-masa memasuki remaja. Karena kelamaan dan keseringan nonton drakor, merekalah yang memperkenalkan dan membangun definisi cinta, hubungan, dan pria dalam kepalaku xD Karena kelamaan dan keseringan nonton drakor, secara nggak sadar aku membangun sosok pria ideal di kepalaku haruslah sesempurna pria-pria dalam drama korea. Sampai setelah lulus kuliah, barulah aku berpikir itu hal bodoh, they're fiction, and forever will be. Aku baru saja menghabiskan masa remajaku dangan pikiran bodoh tentang pria ideal.

Ketiga, Crazy Little Thing Called Love. Romance movie paling hits dari negeri gajah putih. Apa yang paling mengena dari film ini? an ugly duckling become a swan? Cinta pertama? Dan bahwa sang pangeran tampan sudah suka dengan sang angsa sejak dia masihlah berwujud ugly duckling? Jadi bagaimana akhirnya film ini menyisahkan sesuatu dalam hidupku? Simpe aja sih, film ini berhasil membangun harapan dalam diriku that someday, my first love will be reciprocated. Yah, pikiran yang bodoh tentu saja, aku melewatkan masa remaja dan usia awal 20an ku dengan masih mengharapkan cinta pertamaku.



Sembilan Tahun ku habiskan hanya untuk membangun harapan-harapan yang akhirnya mau nggak mau harus aku robohkan dengan tanganku sendiri. Aku melewatkan banyak sekali kesempatan bertemu cinta baru di masa-masa itu karena sibuk membangun asa yang sebeneranya tidak pernah ada. Bodoh memang. Yah, saat aku sadar bahwa semua itu semakin sia-sia, akhirnya Agustus tahun lalu aku memutuskan untuk mengakhirinya. Dengan sebuah pemikiran bahwa "Bagaimana aku akan melupakannya kalau selalu saja ada tanda tanya dalam hatiku, kalau aku masih saja selalu penasaran tentangnya? Akhirnya aku memutuskan untuk memberitahunya tentang perasaanku, lewat Line. Yah itu aja aku menahan malu semalu-malunya. apalagi harus bertemu langsung, bisa mati berdiri aku. Apalagi ini pertama kalinya (dan berencana untuk terakhir kalinya). Lain kali aku berharap untuk dicintai, karena mencintai itu melelahkan. Hahaha.

 I told him about my feeling without any expectation. Karena aku tahu kalo selama ini dia nggak pernah bilang apa-apa, that's mean i'm nothing for him, right? Jadi, ini bukan nembak yah, ini cuma pernyataan perasaan xD Dan yah, i was rejected of course.

Sumpah aku lupa dia ngomong apa saat itu. Intinya i was rejected. Yang aku ingat aku maksa dia buat bilang "nggak suka aku" kalo perlu pake kata-kata yang bisa nyakitin hati harapannya biar bisa benci dia dan cepat move on, tapi dia nggak mau. Katanya dia nggak mau dibenci hanya karena masalah ini (Hanya?? Di sini aku kesel sih, itu emang "hanya" buat dia, tapi itu "big thing" buat aku). Katanya dia juga nggak mau rusak pertemanan kami. Aku mikir, padahal kami bahkan nggak pernah berteman dekat. Cuma kebetulan sekelas selama 3 tahun di SMA, sama2 pengurus kelas, dan sama2 pengurus inti OSIS. Nomornya aja baru ku punya pas mau lulus. Hahaha. Akhir kata, dia cuma bilang, "Pasti di luar sana ada cowok yang lebih baik dari saya." Yaaaah, jawaban klasik sebuah penolakan.

Keempat, Film Monster Laba-laba Raksasa. Duh, aku lupa judul filmnya apa. Tapi nonton film ini sekitar umur 7-8 tahun. Waktu itu nonton di rumah tetangga, dan impactnya, aku takut pake banget sama yang namanya laba-laba, even sama laba-laba sekecil kuku sekalipun. Ditambah nonton Lord of The Ring: Two Tower, di mana giant spidernya berhasil membungkus salah satu hobbit (Sam atau Frodo yah? aku lupa), itu makin takutlah setelah itu. Dan fobia ku itu masih bertahan sampai sekarang T.T


Buat sekarang itu dulu, someday kalo kepikiran something else, tulisannya bakal ditambah. Thank you for reading ;)

Beberapa Nama Warna Selain Mejikuhibiniu

Pernah nggak kalian ditanya tentang warna dan kalian sendiri bingung menyebutnya apa? Atau ketika belanja online, ada puluhan avaible colour...