Sesuatu yang kubanggakan tapi
diremehkan orang lain?
Kampusku, tempatku menuntut ilmu
untuk tumbuh menjadi seorang professional, Politeknik Negeri Ujung Pandang.
Banyak yang
mengatakan kalau kampusku adalah PTN kelas dua. Mereka yang tidak diterima di
PTN kelas satu beberapa akan mendaftar dikampusku. Dan itu benar, Politeknik
memang sebuah PTN, tapi tidak sama posisinya dengan universitas atau beberapa
institut negeri yang menerima mahasiswa baru melalui SNMPTN, ia memiliki jalur
masuk sendiri yang disebut UMPN yang diadakan bersamaan dengan seluruh
politeknik negeri di Indonesia.

Tapi
siapa yang peduli tentang siapa yang masuk ke kampus ini, bukankah yang
terpenting adalah bagaimana yang keluar? Aku tidak mengatakan kalau kampus kami
memiliki sistem pendidikan atau materi perkuliahan terbaik, tidak kok, PNUP
rata-rata saja. Hanya saja, yang membuatnya beda adalah bahwa di sana kami
diajarkan lebih banyak praktek dibanding teori. Teori itu penting tentu saja,
karena itu adalah landasan dasar ilmu pengetahuan, tapi praktek juga tak kalah
pentingnya sebagai implikasi dari apa yang didapat di kelas teori. Dan
sejujurnya, kelas praktek seperti bengkel dan lab lebih menyenangkan dibanding
kelas teori di gedung sekolah. Rasanya seperti seorang engineer yang
benar-benar mengerjakan sebuah proyek.
Satu
hal yang membuatku bangga akan kampusku adalah pendidikan akhlahnya. Bukan
kelas khusus budi pekerti atau pelajaran akhlak maksudku, lebih ke pembelajaran
secara tidak langsung. Selain kelas pendidikan agama dan mentoring di semester
pertama, tidak ada kelas khusus tentang akhlak lainnya. Padahal kampus kami
bukanlah kampus berlandas agama, tapi entah mengapa, kau tidak akan menemukan
anak nakal di kampusku ini. Kalau kamu datang ke kampusku dan menemukan seseorang
dengan gaya yang aneh dan kesannya gimana gitu, bisa dipastikan itu bukan anak
PNUP. Kau bisa meninggalkan laptopmu di jurusan dan tak akan ada yang
mengambilnya. Lupa mengambil kunci motor atau bahkan handphone mu di jok, kau
akan menemukannya kembali di pos satpam. Atau kau melupakan dompet di ruang
kuliah, ia akan tetap aman di ruang OB. Aku tidak menjamin 100%, karena bisa
jadi kamu lagi sial atau kebetulan ketemu klepto, benda-bendamu itu bisa saja
melayang. Jadi tetap jaga barang-barang anda ya.
Di sana tidak pernah ada
tawuran besar, kecuali perselisihan kecil. Dan sejujurnya, mahasiswa di
kampusku bahkan tidak pernah berdemo. Ini serius, mungkin ada yang berpendapat
kami mahasiswa cupu, tapi ah, siapa yang peduli. Mungkin kami terlalu sibuk
dengan kuliah yang padat, tugas-tugas menumpuk, atau sekedar tidak ingin
menyusahkan pengguna jalan dan pak polisi. Hal yang diajarkan kepada kami untuk
selalu diingat saat pertama kali memasuki kampus hitam ini adalah, selalu
menjunjung tinggi tri dharma perguruan tinggi, yaitu pendidikan, penelitian,
dan pengabdian masyarakat. Saat kami diminta untuk mengabdi kepada masyarakat,
kenapa pula kami harus menyusahkan mereka? Ya, masyarakat tidak pernah ada yang
mendukung mahasiswa pendemo sekarang ini. Karena sebagian dari mereka bukan
lagi memiliki tujuan untuk membela masyarakat, tapi untuk gengsi mereka sendri.
Kebanggan lainku
tentang kampusku adalah semua penghuni kampus ini sangat baik dan ramah. Pernah
beberapa kali minta tukar uang kecil di pos satpam buat bayar angkot atau ojek,
dan kalau bapak-bapak satpam lagi tidak punya uang kecil yang cukup untuk
ditukar, biasanya mereka kasih uang buat bayar begitu aja. Pas mau dibayar
kembali, pak satpamnya cuma bilang, “Nda usahmi dibayar. Kau belajar saja yang
baik.” Atau kadang juga kalau ada pak satpam yang lagi dikunjungi istri dan
anaknya dari kampung dan dibawakan oleh-oleh, kadang pak satpam itu suka
bagi-bagi ke setiap mahasiswa yang keluar gerbang. Staf akademik yang ramah
banget, panggil kamu nak sambil menjelaskan apa yang kamu tanya dengan ramah.
Staf kebersihan yang selalu siap membantumu dan bahkan tidak pernah marah kalau
kamu ga sengaja injak lantai yang baru saja dia pel. Dosen-dosen yang tidak
pernah menyuruhmu membayar apapun. Semua dosen yang mengajar di kelasku membuat
buku sendiri. Setelah itu hanya menyuruhmu mengcopy bukunya. Selebihnya, kamu
bisa pakai buku apapun untuk jadi bahan referensi. Bahkan wali kelasku dulu
sering mentraktir kami, membayarkan tiket nonton, bahkan ngasih tambahan uang
buat liburan. Mahasiswanya juga, di setiap koridor, gazebo, atau kantin, kalian
akan menemukan lebih banyak obrolan tentang kuliah. Ya, mahasiswa PNUP itu rajin-rajin. Hihihi.
Aku tidak tahu
apa PNUP memang hanya menerima orang-orang berakhlak baik, atau PNUP yang mengubah
mereka. Tanteku pernah Tanya, “Kamu lanjut kuliah di mana nak?” trus aku
bilang, “Poltek tante.” Dan tanteku Cuma bilang, “Oh, PNUP? Bagus nak, di sana
akhlahnya bagus.” Awalnya aku nggak mengerti maksud tanteku itu, tapi setelah
menjadi bagian dari PNUP, aku jadi mengerti maksud beliau.
Meskipun
kesannya menyenangkan dan ramah-ramah, tapi kamu nggak bolehbertingkah
seenaknya. Surat DO di kampusku gampang sekali keluar loh, nilai rendah,
tindakan indisipliner, atau bahkan kelamaan lulus, kamu bisa mendapatkan surat
cinta dari direktur ini setelah sebelumnya mendapat 3 surat peringatan. Mungkin
ini salah satu alasan kenapa kamu jarang menemui anak nakal di PNUP, karena
anak-anak yang suka bertingkah itu akan gugur satu persatu dimulai dari
semester awal. Ibu kantin aja nggak bisa lolos dari skorsing. Pernah karena
bertengkar dengan lapak sebelah, ibu kantin langgananku harus libur selama
sebulan dari kantin Huhu L
Pernah beberapa
kali aku kenalan sama orang, pas ditanya kuliah dimana dan aku jawab PNUP,
dijawab, “Ah, aku pernah kuliah di situ. Tapi sekarang di *****”. Pas aku Tanya
kenapa pindah, dijawab “Ya, biasalah, DO”. Atau ada juga yang bilang, “Aku
pernah kuliah di kampusmu itu. Tapi pindah pas semester 2, aku ga kuat sama
tugasnya.” Hiks, itulah beberapa testimony kenalanku. Maafkan PNUP yaa.
Oh iya, satu
lagi yang selalu kubanggakan. Saat pertama kali mendaftar di kampus ini, belum
pakai sistem online, di setiap loket dan mading, ada tulisan besar berbunyi
“Tidak ada sistem jatah dosen.” Dan kupikir itu benar, anak dosenku dan bahkan
keluarga direktur sendiri pernah tidak lulus tes masuk di kampus PNUP ini. Dan
aku sangat bangga menjadi alumni kampus yang tidak begitu terkenal ini :3
Ini teman-teman
kelasku btw xD Foto kami waktu masih semester pertengahan, nggak lengkap sih. Jadi di Polteknik itu sistemnya
kayak SMA, kamu akan punya teman yang sekelas selama 3 tahun (D3) atau 4 tahun
(D4). Awalnya tiap kelas berisi 25 orang, tapi di kelasku yang bertahan sampai
selesai cuma 19 orang. Lumayanlah.
Yaa, Itu tadi
kebanggaanku yang masih banyak diremehkan orang :3 Jaya selalu PNUP ya, tetap
jadi kampus pencetak tenaga professional yang berakhlah ;) Wassalam.
Day 6 #10DaysKF
Makassar, 23 Jaunari 2017
-Nasibah