Tampilkan postingan dengan label aku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Januari 2019

Peripera Airy Ink Velvet

Hai gurls!
Please give me an aplouse, this is my first blog that talk about girls' thing. yeay! *prokprok* Hahaha

Tadinya nggak ada kepikiran buat bikin review alat make-up, tapi berhubung aku lagi iseng dan kepikiran mau bagi pengalaman tentang lip product pertama yang aku beli sendiri sekaligus liptint terbaik versiku ini, jadi terbitlah postingan ini. Haha.

Jadi, aku baru mulai pakai lip product (selain buat kondangan) itu di awal umur 20 tahun. Waktu SMP-SMA dibilang cupu sih nggak, dibilang tomboy juga nggak, aku hanya too childish dan terlambat puber. Hahaha, so i don't give any attention about my appearance. Bedak baby aja cukup buat sekolah. Jaman kuliah? Ah elah, aku kuliahnya di teknik listrik, boro-boro mikirin dandan, nggak mandi ke kampus aja mungkin  nggak akan ada yang sadar. Hahaha (etapi aku nggak pernah nggak mandi dong ke kampus).

Jadi lip product pertamaku waktu itu adalah sariayu berwarna nude yang dibeliin sama kakakku yang kala itu masih bekerja sebagai bankir yang otomatis juga menjadi make up collector. Aku nggak inget seri yang mana, tapi kemasannya cantik, agak etnik gitu. Lumayanlah, aku pake sesekali buat jalan. Teutep ke kampus nggak pake, takut dikatain seharian sama makhluk2 cowok tak berperasaan di kelasku T.T Selain itu, aku juga sebenarnya nggak begitu nyaman kalau ada sesuatu yang melapisi bibirku, rasanya pengen dijlat mulu. Haha. Eh, tapi serius, aku pernah sekali ke kampus pake jilbab pashmina (biasanya cuma pake jilbab segiempat dijepit di depan doang) itu aku dicencengin seharian sama mereka :'))

Setahun berlalu, aku nggak bisa pake lipstick sariayu berwarna nude itu lagi, entah karena hilang atau kadaluarsa, aku lupa xD (padahal masih banyak) Hahaha. Suatu ketika, aku lagi pengen pake lipstick dan yang ada cuma lipstik elizabeth (lipstik yang tempatnya berwarna hijau yang umumnya didapat sebagai oleh-oleh dari mekkah.) Akhirnya aku pake lipstik itu. Dan, OMG, warnanya terang benderang :') Akhirnya aku hapus pake tisu, eh taunya lipstik yang ku pakai tadi masih ninggalin stain yang justru terlihat natural. Dari situ, akhirnya aku minta satu lipstik elizabeth warna merah terang milik tanteku dan dipakai dengan cara dilapisi lalu dihapus pake tisu seperti sebelumnya :')


Aku terus pakai lipstik brand yang sama dengan teknik yang sama, dan metode mendapatkan (minta sama tante) yang sama selama beberapa tahun, bahkan sampai aku kerja xD

Ini contoh aku pakai lipstick elizabeth dengan metode dihapus setelah dipakai xD (Mungkin foto ini terlihat lebih kinclong dari yang lain, karena di sini kayaknya mode 'softskin' kameraku lagi aktif xD)


Sampai suatu ketika, aku ngerasa inilah saatnya aku beli lip product sendiri. Lip product pertama yang terlintas di pikiranku adalah liptint. Dan seperti biasa, sebelum memutuskan untuk membeli sesuatu aku mencari tahu sebanyak-banyaknya untuk menemukan produk yang paling pas dengan kebutuhanku.

Setelah mengubek-ubek internet selama seminggu lebih, akhirnya aku mendapatkan produk yang aku rasa paling pas dengan yang aku cari, yakni yang aman, paling tahan lama, dan teksturnya paling pas untuk bibirku, yakni Peripera Airy Ink Velvet.

Brand check, color check. Selanjutnya nyari tempat beli karena Peripera nggak punya counter resmi di Indonesia. Nggak seperti sepatu atau baju, masalahnya ini adalah sesuatu yang akan digunakan di bagian tubuh yang sensitif (bibir) dan meskipun dengan kapasitas yang kecil, tapi mungkin banget buat tertelan kan? Jadi bisa bahaya kalau sampai dapat barang palsu. Akhirnya, setelah ngubek-ngubek internet lagi dan membaca banyak referensi, aku memutuskan buat beli secara online di kinimal. Online shop ini mengkhususkan diri di penjualan alat-alat make up asal Korea. Yang sebagian besar dikirim langsung dari korea. Mereka punya website sendiri dan juga ada aplikasinya di play store android. Jadi makin yakin kan ini bukan toko abal-abal.

Nah, karena warna yang aku mau nggak ready Indonesia, jadi katanya aku harus menunggu 2 minggu sebelum barang sampai. Eh, nggak taunya liptint yang aku nantikan datang dalam seminggu. Di sini aku agak curiga nih, katanya dari Korea langsung, kok cepet? (Ya Allah, maafkan Nunu karena sering banget curigaan.) Setelah chat-chat sama customer servicenya, aku akhirnya memutuskan buat percaya. Hehe.

Oke, itu tadi perjalanan panjangku buat akhirnya mendapatkan Peripera Airy Ink Velvet ini. Yeay!


Jadi, dari tekstur, Peripera Airy Ink Velvet ini agak beda nih dari liptint kebanyakan yang biasanya cair atau seperti gel. Aku pernah nyoba Tony Molly & Etude House Dear Darling masing-masing yang model cair keduanya agak susah diaplikasikan karena cair banget, jadi meleber ke mana-mana :') Pernah juga nyoba yang bentuknya peel-off gitu, dan menurutku agak kurang efisien kalo kita buru-buru atau buat touch up.

Ini aku pakai Liptint cair. Tidak mengcover sempurna menurutku. Bibirku masih terlihat gelap.


Peripera Airy Ink Velvet ini teksturnya agak mirip lip cream, tapi bukan lip cream, sekali lagi dia masih masuk keluarga liptint. Nah, karena teksturnya ini, jadi menurut aku liptint ini lebih mudah diaplikasikan.


Dari namanya 'Airy', jelas dong kalo liptint ini memang didesain ringan seperti udara. Ya, ringan banget di bibir! Meskipun teksturnya seperti lip cream, tapi pake ini kayak nggak pake apa-apa. Kalau pake lip cream kan setelah dihapus hilang tuh, nah kalo Airy Ink Velvet ini karena termasuk keluarga liptint, maka warnanya pastinya awet banget dan terlihat natural seperti tidak memakai apapun.Mau pake metode gradasi, cocok banget pake liptint ini.

Di antara semua brand liptint, Peripera memang terkenal akan durability-nya. Tanpa makan berat, liptint ini bisa bertahan selama 7 jam. Dan setelah itupun masih tetap meninggalkan stain (tergantung seberapa banyak kamu mengaplikasikannya). Kalau lagi puasa, liptint ini bahkan bisa tahan seharian tanpa perlu touch up lagi. Kalau habis makan berat biasanya warnanya akan memudar sekitar 50%

Keunggulan lain dari liptint ini adalah, tidak bikin bibir kering! Hasilnya mungkin berbeda yah tiap orang, tapi setidaknya itu yang aku rasain. So far dibanding liptint jenis cair & gel yang kering banget di bibirku, liptint ini bisa dibilang yang paling bersahabat. Pokoknya, rasanya bener-bener kayak nggak pakai apa-apa.

Ini aku pakai Peripera Airy Ink Velvet

Oh ya, setiap produk biasaya ada +/- nya kan, nah kekurangan dari liptint Peripera Airy Ink Velvet ini adalah aromanya. Nggak seperti liptint lain yang biasanya beraroma buah, bunga, atau permen, liptint ini aromanya nggak begitu enak. Sebenarnya buat aku nggak begitu mengganggu sih, karena aromanya juga lama-lama hilang. Lagipula aromanya lebih mirip aroma dedaunan gitu. Aku malah seneng, terkesan lebih alami. Hehe. Mungkin salah satu penyebab kenapa liptint ini nggak kering di bibir juga adalah karena tidak mengandung fragrance atau zat pewangi.

Untuk shade-nya sendiri, aku pilih yang nomor 3. Jadi bibir aku itu gelap banget. Pernah aku dikira pake ganja coba sama bapak-bapak P*N tempatku ambil data tugas akhir. Padahal merokokpun aku nggak pernah sama sekali T.T (pengen nangis rasanya ditanyain gitu. Tapi kudu tegar demi selesainya tugas akhir kita :') Eh, ini juga sih salah satu alasan kenapa aku akhirnya mencoba lipstik elizabeth itu.

My 100% bared face \^^/ 


Btw, foto-foto di atas juga nggak ada yang pakai bedak atau make up lain selain pewarna bibir sih, jadi bisa membandingkan dengan jelas perbedaan aku pakai pewarna bibir dan nggak.

Nah, karena warna bibir yang gelap, ditambah aku nggak suka pake produk bibir apapun itu tebal-tebal, akhirnya aku pilih warna merah gonjreng alias Sold Out Red. Jadi, caraku pakai liptint ini, dioles seperlunya di bibir bagian dalam, lalu diusap pakai jari ke arah luar. Itupun kadang masih ditepuk-tepuk pakai tissue kalau terlihat terlalu terang. Nah, kebayang dong kalau aku pake liptint warna kalem dengan cara seperti itu, sudah pasti nggak keliatan. Hahaha.

Okay, itu tadi pembahasan (agak) singkat saya tentang Peripera Airy Ink Velvet.
Thanks for reading and have a nice day, fella! ;)

[bonus xD] Aku pakai lip cream dan make up full buat kondangan. Hahaha



Kamis, 08 Maret 2018

KGSP (Part 2: KAIST aja)

Ada yang bilang, kalo kita punya goal of something, better nggak ngasih tau siapa2 dulu. Dan aku rasa itu ada benarnya. Aku tidak ingin membuat orang yang sudah mendukungku menjadi kecewa kalau seandainya aku gagal meraih goal itu. Selain itu, aku tipe orang yang sangat suka ngasih surprise, hahaha. Jadi lebih senang ngasih tau orang saat semuanya sudah tercapai dan akhirnya menjadi surprise. Rasa senangnya pasti berkali-kali lipat. Tapi tak apa, toh karena ditanyain mulu dan entah harus gimana lagi ngelesnya, ditambah karena ke-ember-an adek dan tanteku, sekarang jadi banyak yang tau rencanaku apply KGSP. Tak apalah, syukur-syukur dibantu doa.

Nah, tentang KAIST, adalah sebuah perguruan tinggi berbasis penelitian di negeri gingseng sana. Singkatan dari Korea Advanced Institute of Science and Technology ini merupakan Universitas terbaik kedua di Korea dan peringkat ke-43 di dunia.Terdengar keren kan? rasanya nggak ada pantes-pantesnya aku bermimpi buat masuk sana, orang masuk UNHAS aja aku gagal, Eh no, mari kita ubah kata gagal dengan 'gak jodoh'. Hehe.

KAIST seperti cinta pada pandangan (atau mungkin perndengaran) pertama. Aku jadi sering baca-baca tulisan orang Indonesia yang berkuliah di KAIST. Ada yang kuliah di sana dengan biaya sendiri, beasiswa pemerintah, dan ada juga yang dapat tunjangan dari penelitian dosen. Ada yang pas di sana ketemu jodoh, dan ada yang paling sweet, dilamar sama pria yang kebetulan juga sama-sama keterima di KAIST beberapa minggu sebelum berangkat. Oh, it's much sweeter than Dilan-Milea (yang lagi digandrungi gadis-gadis jaman now) Story for me :')

Tau nggak, Mahasiswa/alumni pascasarjana KAIST dari Indonesia yang blognya kubaca semuanya adalah alumni ITB. Iya, semuanya! termasuk cewek yang dilamar itu, dia juga alumni ITB. Ngomong-ngomong, bukan cuma alumni kampus teknik terbaik di negeri ini, mereka yang melanjutkan masternya di KAIST juga semuanya punya segudang prestasi dan spesifikasi yang sepertinya nggak muat satu halaman CV. Aku langsung ciut, merasa kecil banget. Aku yang hanya seorang lulusan politeknik negeri di sebuah kota yang berjarak ribuan mil jauhnya dari ibu kota. Bukan hanya itu, aku juga tidak punya prestasi apa-apa. Seketika menyesal kenapa pas kuliah dulu cuma jadi mahasiswa KuPu-KuPu (Kuliah-Pulang-Kuliah-Pulang). Harusnya dulu ikut tim robot jurusan aja, at least tim robot kampus kami terkenal di provinsi dan pernah bawa pulang piala nasional bidang robotika juga. Biarpun nggak bisa langsung jadi tim inti, tapi aku bisa belajar banyak dan menambah pengalaman. Yaah, penyesalan selalu datang terlambatkan? T.T.

Karena kebanyakan dosenku gelar S2nya adalah M.Eng, jadi pas dapat ilham (entah dari mana) buat S2 di luar, jadi kepikiran gelar itu juga. Setelah baca-baca tulisan luar negeri, jadi S2 untuk Engineering itu ada 2, gelar master teknik M.Eng (Atau ada juga yang menulis M.E)dan gelar master yang lebih umum, yakni M.Sc (Eropa) / M.S(Amerika). Ada kampus yang hanya menyediakan master salah satunya, dan ada yang menyediakan keduanya. Hal mengenai gelar ini sebenarnya tergantung kebijakan regulasi pendidikan tinggi di tiap negara dan tergantung kampus masing-masing. Tapi dari apa yang kutangkap setelah membaca beberapa tulisan, M.Eng itu coursework oriented sedangkan M.Sc/M.S itu research oriented.

Sebagai seorang anak poltek yang lebih banyak kerja ketimbang teori apalagi research, aku langsung mengeliminasi M.Sc dari pilihanku. Aku juga sadar nggak begitu suka dan kayaknya nggak bakat penelitian di Lab, lebih senang pas workshop. Lebih suka kerja & memprogram hal yang udah jelas ketimbang membuat 1 hal yang baru. Aku ingat ketika di lab harus mencatat perubahan suhu/tegangan tiap detik, memperhatikan pergerakan suatu hal yang saking kecilnya musti dilihat dari jarak yang sangat dekat, memotret gambar osiloskop tiap perubahan arus sekian yang kalo diliat-liat nggak ada bedanya. Nyari sesuatu yang nggak pasti itu benar-benar bikin pusing, melakukan hal2 atau mengamati perubahan kecil itu sangat membosankan. Lebih senang pas dikasih kasus atau proyek, trus disuruh buat alat/programnya. Gagal berkali-kalipun nggak masalah, nggak pernah bosan karena kendali atas apa yang ku kerjakan ada di tanganku sendiri.

Aku sempat nanya-nanya dengan mba Vina yang berkuliah S2 da S3 di KAIST (dapat kontaknya di blog) via email. Mba Vina ramah banget dan mau jawab pertanyaan-pertanyaanku. Aku tanya, di KAIST itu electrical engineeringnya bergelar M.Eng atau M.Sc, dan akhirnya dijawab kalo KAIST itu kiblat pendidikan tingginya ke Amerika, dan seluruh gelar masternya adalah M.S. Baru tau juga kalo KAIST itu yah emang universitas yang berbasis penelitian. Oh, aku jadi galau. KAIST impianku, tapi aku nggak percaya diri bisa menghabiskan waktu puluhan jam seminggu di dalam lab selama dua tahun. Pada tingkat ini aku galau memilih antara kampus atau major yang lebih utama :( Dan akhirnya setelah galau berhari-hari sambil nyusun-nyusun berkas, aku merasa harus tetap daftar KAIST apapun resikonya. Toh belum tentu lulus juga. Setelah berusaha keras semampuku sampai harus menghabiskan gaji selama sebulan buat kepengurusan beasiswa ini (termasuk tiket pesawat, ongkos ngegrab, becak, TOEIC, bayar ini itu, de el el) serta menghabiskan cuti 2 hari untuk mengurus segala kelengkapan dokumen, pada akhirnya cuma bisa menyerahkan semuanya kepada Sang Pencipta. Setidaknya aku harus tetap berusaha hingga sesuatu bernama penyesalan karena tidak pernah mencoba (yang aku pikir rasanya akan lebih abadi dibanding sakitnya kegagalan) tidak akan menghampiriku.

Oh ya, aku mendaftar KAIST via besiswa pemerintah Korea bernama KGSP, division: Engineering, department: Electrical Engineering, major: Signal and System. Jika, dan hanya jika seumpamanya aku berhasil masuk KAIST via KGSP tahun ini, maka sepertinya itu karena personal statement dan statement of purpose yang kubuat sedemikian rupa melalui susunan kata yang kubuat seemosional mungkin namun tetap jujur dan tentu saja do'a dari orang tuaku :) Mengingat tidak ada award atau paper yang bisa kutunjukkan.

Fighting everyone! Bismillah :)

South Tangerang, March 8th 2018

Selasa, 27 Februari 2018

KGSP (Part 1: KAIST or SeoulTech?)

27 Februari 2018
10:21 WIB

Saat ini saya sedang menyusun berkas untuk apply beasiswa master KGSP-Graduate.
Sejak beberapa bulan yang lalu saya sudah membaca tentang adanya beasiswa ini secara kebetulan. Saat itu langsung pengen iseng daftar tapi deadlinenya baru aja lewat beberapa hari lalu dan lumayan kecewa. 

Entah apa yang mengilhami saya pengen kuliah lagi, padahal di hari saya yudisium udah meyakinkan diri kalo saya udah pasti gak mau kuliah lagi, enggak akan! Terutama jika harus ambil electrical engineering lagi. Kuliahnya emang menyenangkan menurutku, tapi tugas akhirnya itulooooh, udah hampir stress dibuatnya. Udah, cukup! TA untuk S1 aja udah setengah hidup ngerjainnya, gimana dengan thesis? Nggak kebayang susahnya. Belum lagi bayangan tentang lab untuk graduate students itu pasti nggak kayak pas S1 yang petunjuknya udah disediain, alat-alatnya memudahkan, dan bahkan kalo udah mentok yah datanya diprediksi aja. Yang ada dibayanganku lab S2 itu udah kayak lab professor2 yang nyiptain power puff girls atau astroboy. Nggak bakal ada modul otomatis kayak lab module Lucas Nulle (Yang kata temanku harganya 2 milyar xD) yang memudahkan, nggak! pasti lab buat master itu bakalan jauh lebih sulit.

Tapi entah kenapa pas liat blog tentang beasiswa-beasiswa itu kok, jadi kepengen yah. Kepengen ngerasain kuliah lagi. Ternyata dibanding sulitnya ngerjain tugas kuliah dan stresnya ngerjain TA, kebosanan di meja kerja itu lebih berat. Hahaha. Yaah, saat itu lagi bosan-bosannya karena kerjaan dikit banget, iseng-iseng browsing apa aja, eh nyasar di blog beasiswa.

Oke, balik lagi ke beberapa bulan yang lalu. Jadi, pas liat deadline untuk apply beasiswa KGSP udah lewat, aku lumayan kecewa tapi nggak pake banget sih, soalnya emang baru liat, ibaratnya niatnya emang belom kekumpul penuh. Trus eh, pas baca-baca ulang, ternyata itu untuk undergraduate, dan untuk graduate (master/doktor) baru akan dibuka beberapa bulan kedepan. 

Jadi semangat dong, mulai lah mempersiapkan diri. Aku yang emang awalnya senang baca artikel keelektroan (karena nggak ada kerjaan di kantor) jadi makin rajin. Biasanya sih, mampir-mampir di situs-situs gak penting sesekali, tapi kali ini enggak, pokoknya aku baca semua tulisan-tulisan orang tentang KGSP, Mulai dari pengalaman gagal sampai yang berhasil. Baca-baca juga pengalaman orang di beasiswa lain, seperti LPDP, Fullbright, Erasmus, dll. Dari situ pandanganku tentang kuliah S2 jadi berubah. Tidak se-membuat-stres bayanganku sebelumnya.

Aku jadi ingat, gara-gara setelah kerja ini keranjingan baca-baca tentang kelistrikan dan keelektroan, jadi makin banyak hal yang kupertanyakan juga, namun tidak ada yang bisa memberi jawaban memuaskan. Tidak rekan-rekan kantorku, tidak juga internet sekalipun. Aku jadi mikir, kalau aku kuliah lagi, pasti ketemu banyak professor dong, nah, kalau para professor itu tidak bisa memberi jawaban juga, berarti emang ada yang salah dengan pertanyaanku, jadi sepertinya akan bagus kalau aku bisa kuliah lagi, jadi bakal punya kesempatan buat mempertanyakan semua pertanyaanku selama ini. Jadilah, tekatku bulat buat daftar beasiswa S2.

Kenapa harus beasiswa? Yah, karena aku pengen lanjut S2 dengan niatan emang pengen nambah ilmu dan pengen habisis waktu semaksimal mungkin buat belajar, jadi aku nggak kepikiran buat ambil ekstensi. Karena selain ilmu aku juga menyadari hal yang juga penting adalah prestasi dan koneksi, jadi kali ini aku ingin mendaftar di kampus berprestasi. Kuliah full time di kampus berprestasi, biayanya pasti nggak sedikit, belum lagi harus berhenti kerja. Yah, biaya dari mana kalau bukan beasiswa? :)

Kenapa luar negeri? Tawarannya lebih banyak dan syaratnya lebih mudah. Serius loh ini, kalo kuliah dalam negeri kan ada test tertulis akademik, wawancara langsung, dsb, tapi kalau ke luar negeri itu testnya hanya interview dan itupun kalo nggak via telpon, via skype. Jadi bisa dilakukan biarpun kita tinggal jauh dari kampus tersebut dan nggak perlu ijin kantor.
Selain alasan di atas, aku juga sebenarnya pengen banget tinggal di luar negeri beberapa saat. Bukannya aku nggak cinta Indonesia, tapi pengen aja liat dunia yang luar, sisi lain bumi, merasakan atmosfer yang berbeda, dan menambah sudut pandang tentang banyak hal.

Kenapa KGSP? Well, aku emang suka nonton drama Korea, tapi aku bukan K-poper kok. Sebenarnya aku juga nggak masalah kuliah di negara mana aja, selama itu di negara yang teknologinya maju dan gratis. Hahaha. Tapi berhubung KGSP ini kalo aku bilang syaratnya sedikit lebih mudah, nggak perlu dapat Letter of Acceptance dari universitas lebih dulu dan juga menerima TOEIC! Yes, negara-negara di Eropa dan Amerika, bahkan Australia dan NZ semuanya hanya menerima IELTS atau TOEFL yang mana itu emang dikhususkan untuk keperluan akademik sedangkan TOEIC lebih untuk keperluan bekerja. Dan, sepertinya emang cuma negara-negara Asia yang menerima TOEIC untuk calon mahasiswanya, seperti Korea Selatan dan Jepang.

Kenapa TOEIC? Well, saat memutuskan untuk mendaftar beasiswa S2 keluar negeri, fokusku tertuju pada 1 hal, yang mana emang jadi kekuranganku. English Profiency! Yah, terakhir kali ikut TOEFL preparation cuma dapat nilai 430, sedangkan yang dibutuhkan minimal 600. Duh, jauh banget. Gimana caranya buat ningkatin itu dalam beberapa bulan yah? Kepikiran buat ikut les TOEFL, tapi biayanya lebih tinggi dari gajiku sebulan. Haha. Nggak mungkin minta sama ortu, karena sejak saat aku lulus kuliah udah janji sama diri sendiri buat nggak nyusahin orang tua lagi. 
Jadilah, akhirnya mutusin buat beli buku ampuh belajar toefl yang lengkap dengan video, latihan, dan softwere. Bukunya bagus, tapi pas tiba saatnya buat nonton video e-learning, aku kecewa. Nggak ada yang salah sih, hanya saja kupingku yang nggak terbiasa dengan bahasa inggris logat jawa. Iya, logat mentornya kental banget, jadi agak sulit nyernanya. Maafkan saya yah pak/buk. Dan terima kasih untuk ilmu dalam bukunya :)
Jadi, sayapun memutuskan buat nggak lanjut nonton videonya tapi tetap baca bukunya dan ngerjain latihan2nya. Karena merasa masih kurang banget, jadi saya juga rajin nyari-nyari materi sendiri di internet. Pokoknya saat nggak ada kerjaan dikantor aku gunakan buat belajar. Aku juga mulai rajin nonton film western dengan subtitle inggris buat melatih listeningku yang agak payah kalo kataku.

Singkat cerita, waktu tinggal 2 bulan sebelum KGSP-Graduate dibuka, yang biasanya selalu konsisten dibuka di awal bulan Februari setiap tahunnya. Aku mulai nyari di mana kira-kira bisa test TOEFL IBT (KGSP nggak menerima ITP), Dan akhirnya, ketemulah situs ITC, di situ aku liat biaya untuk test TOEFL sekitar 2.8 jt, dan di bawahnya ada test TOEIC, harganya beda jauh, hanya 600ribuan. Aku jadi ingat kalau KGSP juga nerima TOEIC. Karena curiga kenapa murah, jadi aku nanya, apa ini test TOEIC yang resmi seperti TOEFL nya? Dan dijawab Ya! Wah, jadi semangat buat nyari tau lebih banyak tentang TOEIC ini, ternyata testnya lebih mudah dari TOEFL karena menggunakan bahasa inggris yang lebih umum dan nggak ada speaking dan writingnya. Jadi TOEIC itu ada 2 jenis, Listening and Reading dan Speaking and Writing yang mana bisa diambil salah satunya atau dua2nya. Dan yang diperlukan buat KGSP hanya TOEIC Listening and Reading. 

Habis itu cus, putar haluan, aku jadi fokus ke TOEIC. Pokoknya, selain waktu ada kerjaan, aku selalu latihan soal dan materi grammar. Jadilah, kemarin Alhamdulillah tanggal 11 Februari kemarin aku ikut Test TOEIC di ITC Mangga Dua. Naik KRL dari stasiun Serpong+GrabBike. Jadwalnya jam 11 siang, tapi aku udah nangkring di sana jam 9 pagi saking takutnya telat. Hahaha. Score Report TOEIC sudah bisa diambil 2 hari setelahnya, tapi karena saya memilih hasilnya dikirim via JNE aja, jadi deh nyampe rumah 1 minggu lebih. Dan hasil saya adalah 745 (range 10 - 990). Lumayan kecewa, karena biarpun KGSP nggak netapin batas minimum untuk skor English Profiency-nya, tapi salah satu universitas yang kutuju menetapkan minimum skor untuk TOEIC adalah 750.

Jadi, untuk KGSP ini, kita bisa apply melalui 2 jalur.
1. Via embassy, dimana kita disuruh pilih 3 universitas yang berbeda.
2. Via university, dimana kita hanya boleh mengirim ke 1 universitas saja, dan kalau ketahuan mengirim ke lebih dari 1 jalur/universitas, maka akan langsung didiskualifikasi.

Karena malas berurusan dengan pengiriman luar negeri, dan pernah dengar kalo biayanya bisa sampai sejuta lebih buat kirim dokumen, akhirnya saya memutuskan buat apply via embassy aja.
Awalnya incaran saya sejak awal, bahkan udah saya tau sebelum punya niatan kuliah S2 adalah KAIST (Korea Advanced Institute of Science and Technology). Universitas terbaik ke 43 di dunia, terbaik kedua di Korea (Jangan tanya yang pertama yah, sudah pasti Seoul National University, yang aku nggak ada niatan apply ke sana karena sadar bakal serame apa persaingannya), dan salah satu universitas teknologi terbaik di Asia. Kemudian untuk pilihan ke dua dan ketiga, saya memutuskan untuk mendaftar di perguruan tinggi khusus sains dan teknologi, dengan pertimbangan bahwa kampusnya pasti lebih fokus ke engineering dan saingan (mungkin) lebih sedikit mengingat jurusannya juga sedikit. Akhirnya aku menjatuhkan pilihan ke POSTECH (Pohang University of Science and Technology) dan SeoulTech (Seoul National University of Science and Technology). 

Setelah mempelajari kurikulum-kurikulum di ketiga universitas, urutan pilihanku berubah, POSTECH menjadi yang pertama. Karena electrical engineeringnya ada major Control and Power, which is itu kesukaanku waktu kuliah dulu (dan POSTECH juga urutan 70an terbaik di dunia), sedangkan di KAIST lebih banyak ke arus lemah, nano device, semiconductor, dan telekomunikasi. aing nggak begitu baik dan nggak begitu suka bidang itu. Secara kurikulum sebenarnya KAIST urutan terakhir buatku, SeoulTech di electrical engineering ada electrical energy yang aku suka juga, tapi bagaimana yah, KAIST itu udah impian dari awal, ibarat kata dia cinta pertamaku, jadi ku simpan di pilihan ke 2. Hahaha. 

Tapi apa mau di kata, saya harus menyerah untuk POSTECH, karena yang tadi ku bilang, minimal score untuk TOEIC nya 750 T.T Syukurlah masih bisa masuk standar KAIST yang minimal skornya 720, dan SeoulTech nggak mematok standar. Huff, harus mencari universitas lain lagi. Kampus teknologi lain, GIST sama standarnya 750, UNIST bahkan 800 T.T Sedangkan KNIT nggak ada electrical engineering, adanya electronic engineering. Terdengar sama, tapi aslinya beda banget bro. Dan bingunglah selama beberapa hari untuk nyari 1 universitas lagi.

Karena kemarin terlalu sibuk buat belajar english, terlalu menggampangkan kepengurusan dokumen, dan lupa kalo saya itu jenis orang yang mempunyai kemampuan khusus, kemampuan yang mana nggak pernah sekalipun rencana A nya berhasil. akhirnya saya kewalahan juga di belakang T.T 

Dokumennya Apa Aja? Proof of applicant citizenship aku pakai KTP, sedangkan proof of parents' citizenship aku pakai akta kelahiran, KTP bapak, sama surat kematian mama. Akta kelahiran, KTPku, KTP bapak aku translate di sworn translator. Surat kematian mama baru diurus di bulan february minta tolong ke tante buat urusin di Catatan Sipil Makassar,. Tadinya janjinya selesai seminggu tapi KACapil nya lagi keluar kota, jadilah molor beberapa hari lagi. Tapi syukur, hasil akhirnya ada bahasa inggrisnya, jadi nggak perlu di translate lagi. Ijazah dan transkript aku minta adekku buat minta copy tanslate dari kampus, karena adekku lagi sibuk ujian proposal (+ bantuin temannya juga) dan ibu yang ngurus itu juga lagi ke luar kota, jadi molor lagi deh dari waktu estimasi. (Sampai hari ini, tanggal 27 Februari, belum jadi juga T.T), kalo untuk score report, itu yang dikumpul aslinya, jadi buat jaga-jaga, aku scan dulu untuk berkas pribadi.

Karena satu dan lain hal, Recomendation Letter-nya harus tertunda lagi. Baru bisa bertemu 2 dosenku besok Insha Allah. Aku baru minta tadi, dan Alhamdulillah, mereka berdua bersedia untuk bertemu besok.

Untuk tahun ini, deadline KGSP via embassy di Indonesia adalah tanggal 2 Maret
deadline via university untuk KAIST 7 Maret dan untuk SeoulTech 16 Maret. Nah, di sinilah kegalauanku muncul..
Aku berencana untuk apply via university langsung, karena masalah deadline embassy yang udah mepet banget dan pertimbangan bahwa kalo via embassy berarti akan ada interview langsung di embassy dan berarti aku harus cuti, plus masih ada interview dari universitas tetap, sedangkan kalo via universitas, interview nya kan lewat telpon/skype, dan fakta kalau aku belum nemu kampus pengganti Postech tadi. Aku galau apa milih antara KAIST atau SeoulTech.

KAIST
(+) Top 43 dunia
(+) Kampus impianku
(-) Nggak yakin EMS POS bisa deliver sebelum tanggal 7
(-) Karena kampus top, pasti peminatnya lebih banyak

SeoulTech
(+) Insha Allah bakal sampai tepat waktu (Kecuali emang EMS nya rese)
(+) Peminatnya lebih sedikit dari KAIST, kemungkinan lolosnya lebih besar
(-) rangkinya jauh di bawah KAIST (urutan 800-1000 dunia)
(-) biaya asramanya lebih mahal dai KAIST

Bismillah, semoga apapun yang akhirnya ku pilih, itu adalah yang terbaik, dan semoga diberi kesempatan sama Allah buat berangkat ke Negeri Gingseng:)


27 February 2018 14:36
Tangerang Selatan, Indonesia.

Rabu, 24 Januari 2018

Bagaimana Sebuah Film Mempengaruhi Hidupku

Sekitar Setahun lalu, aku menulis tentang film-film paling berkesan yang pernah ku tonton, Aku lupa ternyata ada banyak film lain yang juga tidak kalah berkesannya, hingga berhasil mempengaruhi hidupku. Mulai dari hal baik, sampai yang melelahkan. Hahaha.
[ps: ini tulisan yang sangat subyektif yah, namanya juga blog pribadi. Haha]

Pertama, Petualangan Sherina. Bukan film pertama yang ku tonton, tapi sepertinya film pertama yang kuingat. Film ini tayang tahun 2000, umurku waktu itu 7 tahun, kelas 2 SD. Aku saat itu tinggal di kabupaten yang belum ada bioskop (sampai saat ini juga belum ada sih). Waktu itu lagi hits banget, jadi tanteku yang tinggal di kota yang sangat sangat baik beliin VCD nya (jaman itu belum ada DVD kayaknya). Aku sukaaa banget sama film itu, bareng adek kami sering nyanyiin lagunya dan ngundang tetangga buat nonton bareng. Waktu itu ada 2 film yang hits banget dalam waktu yang berdekatan, Petualangan Sherina dan Joshua Oh Joshua. Dua-duanya menceritakan persahabatan 2 anak laki-laki dan perempuan, punya lagu-lagu hits, dan dua-duanya diperankan oleh artis cilik yang lagi tenar banget di masa itu.

Meskipun suka dua-duanya, tapi saat itu tetap lebih suka Petualangan Sherina sih, berhubung filmnya bang Joshua agak terlalu berat buat anak kecil dan ada unsur sinetronnya juga. Hehe, sedangkan Petualangan Sherina, semuanya tentang petualangan, persahabatan, dan bintang yang entah mengapa menurutku saat itu classy banget. Hahaha.



Okay, back to the topic, yang udah nonton film Petualangan Sherina pasti pada tau lagu Persahabatan dong? Liriknya kurang lebih:

Setiap manusia di dunia
Pasti punya kesalahan
Hanya yang pemberani
yang mau memaafkan
Setiap manusia di dunia
Pasti pernah sakit hati
Hanya yang berjiwa ksatria
Yang mau memaafkan

Nah, saking sukanya sama lagu itu, liriknya selalu tinggal di kepalaku. Aku selalu pengen jadi jagoan, jadi ksatria seperti power ranger pink, jadi aku selalu terbiasa untuk memaafkan orang lain. Bukan hanya memaafkan, tapi aku benar-benar melupakan perasaan sakit hati itu. Begitu aku tidur, aku bisa langsung lupa dengan perasaan marah/kecewaku (Thanks God, belum ada yang menyakitiku dan berbuat salah yang besar banget sampai sulit ku maafkan). Kadang dalam sejam juga udah lupa. Meskipun saat marah aku bisa marah banget dan bahkan merencanakan pembalasan dendam yang ciamik sekali, tapi tidak pernah berhasil tereksekusi. Perasaan marahku selalu berhasil menguap di udara bersama datangnya malam *alaahh xD

Tapi satu hal, seperti remaja kebanyakan saat itu, aku masih berat buat minta maaf, gengsi banget apalagi kalo ngerasa bukan aku yang salah. Yang aku ingat, sepertinya waktu SD pernah musuhan sama orang sekitar 3-4 kali (padahal aku udah nggak marah, cuma gengsi buat minta maaf. Haha), sekali waktu SMP, sekali waktu SMA, dan tidak pernah sekalipun waktu Kuliah sampai sekarang. Yang ku ingat pas SMP & SMA itu gara-gara temanku mau nyontek and that's time bukan lagi nggak pengen nyontekin, tapi lagi ribet dan jadi lah mereka ngambek. Sama-sama nggak mau minta maaf karena ngerasa nggak salah. Jadi deh nggak saling ngomong beberapa hari. That's it. Yah, sepertinya semua itu karena aku selalu pengen jadi ksatria xD

Kedua, Korean Korea. Drakor pertama yang ku tonton that's Endless Love, atau di luar lebih dikenal dengan Autumn in my heart, Umurku 9 tahun, kelas 4 SD. Selanjutnya ada Full House, Princess Hours, Sassy Girl Chunhyang, My Girl, dan banyak lagi. Masuk SMP, SMA, sampai kuliahpun nggak berhenti nonton Drakor. Baru setelah kenal Running Man (yang telat banget xD), aku sedikit kehilangan minat ke Drakor.

Dari semua itu, bagaimana drama Korea mempengaruhi hidupku? Yah, drama Korea emang nggak seharusnya ditonton sejak dini apalagi di masa-masa memasuki remaja. Karena kelamaan dan keseringan nonton drakor, merekalah yang memperkenalkan dan membangun definisi cinta, hubungan, dan pria dalam kepalaku xD Karena kelamaan dan keseringan nonton drakor, secara nggak sadar aku membangun sosok pria ideal di kepalaku haruslah sesempurna pria-pria dalam drama korea. Sampai setelah lulus kuliah, barulah aku berpikir itu hal bodoh, they're fiction, and forever will be. Aku baru saja menghabiskan masa remajaku dangan pikiran bodoh tentang pria ideal.

Ketiga, Crazy Little Thing Called Love. Romance movie paling hits dari negeri gajah putih. Apa yang paling mengena dari film ini? an ugly duckling become a swan? Cinta pertama? Dan bahwa sang pangeran tampan sudah suka dengan sang angsa sejak dia masihlah berwujud ugly duckling? Jadi bagaimana akhirnya film ini menyisahkan sesuatu dalam hidupku? Simpe aja sih, film ini berhasil membangun harapan dalam diriku that someday, my first love will be reciprocated. Yah, pikiran yang bodoh tentu saja, aku melewatkan masa remaja dan usia awal 20an ku dengan masih mengharapkan cinta pertamaku.



Sembilan Tahun ku habiskan hanya untuk membangun harapan-harapan yang akhirnya mau nggak mau harus aku robohkan dengan tanganku sendiri. Aku melewatkan banyak sekali kesempatan bertemu cinta baru di masa-masa itu karena sibuk membangun asa yang sebeneranya tidak pernah ada. Bodoh memang. Yah, saat aku sadar bahwa semua itu semakin sia-sia, akhirnya Agustus tahun lalu aku memutuskan untuk mengakhirinya. Dengan sebuah pemikiran bahwa "Bagaimana aku akan melupakannya kalau selalu saja ada tanda tanya dalam hatiku, kalau aku masih saja selalu penasaran tentangnya? Akhirnya aku memutuskan untuk memberitahunya tentang perasaanku, lewat Line. Yah itu aja aku menahan malu semalu-malunya. apalagi harus bertemu langsung, bisa mati berdiri aku. Apalagi ini pertama kalinya (dan berencana untuk terakhir kalinya). Lain kali aku berharap untuk dicintai, karena mencintai itu melelahkan. Hahaha.

 I told him about my feeling without any expectation. Karena aku tahu kalo selama ini dia nggak pernah bilang apa-apa, that's mean i'm nothing for him, right? Jadi, ini bukan nembak yah, ini cuma pernyataan perasaan xD Dan yah, i was rejected of course.

Sumpah aku lupa dia ngomong apa saat itu. Intinya i was rejected. Yang aku ingat aku maksa dia buat bilang "nggak suka aku" kalo perlu pake kata-kata yang bisa nyakitin hati harapannya biar bisa benci dia dan cepat move on, tapi dia nggak mau. Katanya dia nggak mau dibenci hanya karena masalah ini (Hanya?? Di sini aku kesel sih, itu emang "hanya" buat dia, tapi itu "big thing" buat aku). Katanya dia juga nggak mau rusak pertemanan kami. Aku mikir, padahal kami bahkan nggak pernah berteman dekat. Cuma kebetulan sekelas selama 3 tahun di SMA, sama2 pengurus kelas, dan sama2 pengurus inti OSIS. Nomornya aja baru ku punya pas mau lulus. Hahaha. Akhir kata, dia cuma bilang, "Pasti di luar sana ada cowok yang lebih baik dari saya." Yaaaah, jawaban klasik sebuah penolakan.

Keempat, Film Monster Laba-laba Raksasa. Duh, aku lupa judul filmnya apa. Tapi nonton film ini sekitar umur 7-8 tahun. Waktu itu nonton di rumah tetangga, dan impactnya, aku takut pake banget sama yang namanya laba-laba, even sama laba-laba sekecil kuku sekalipun. Ditambah nonton Lord of The Ring: Two Tower, di mana giant spidernya berhasil membungkus salah satu hobbit (Sam atau Frodo yah? aku lupa), itu makin takutlah setelah itu. Dan fobia ku itu masih bertahan sampai sekarang T.T


Buat sekarang itu dulu, someday kalo kepikiran something else, tulisannya bakal ditambah. Thank you for reading ;)

Kamis, 18 Januari 2018

Punya Teman-Teman Menyenangkan Tidak selamanya Bagus

Heiloo, Happy Thursday \^^/

Judulnya aneh yah? Itu judul yang kurasa paling cocok untuk segumpal persoalan yang lagi bergelut dalam otakku yang saat ini akan ku bagi.

Aku selalu bilang, aku mencintai bidang kerjaanku saat ini, Electrical Engineering adalah bidang yang sangat menyenangkan, aku bisa menghabiskan seluruh hidupku untuk itu. Menjadi engineer wanita hebat yang bisa memberi inspirasi bagi banyak orang di luar sana adalah impianku. Yaah, itu yang selalu ada di pikiranku. Tapi tahu tidak? Kurasa aku sudah membohongi diriku sendiri. Atau mungkin, aku sendiri tidak sadar sudah menciptakan pemikiran palsu itu dalam otakku.

Faktanya sekarang, aku BOSAN! I don't find this interesting anymore. Setiap hari aku ingin cepat-cepat jam 5, setiap hari aku ingin cepat-cepat weekend. Aku tidak punya getaran itu lagi. Padahal, saat kuliah dulu, aku bisa menghabiskan waktu dari pagi-pagi sekali sampai maghrib di bengkel dan merasa waktu berlalu cepat sekali. Setiap libur semester aku ingin cepat-cepat masuk, setiap awal semester pasti langsung cek papan pengumuman di jurusan buat liat jadwal bengkel. Waktu itu aku berpikir akan sangat menyenangkan kalau nanti kerja di perusahaan yang bergerak di bidang yang kerjaannya seperti di bengkel ini. And i got it! This is a panel builder company, kerjaannya sama persis dengan bengkelku di semester 4-6, hanya dengan arus dan tegangan yang lebih besar. Jaman kuliah cuma pakai MCB, kontaktor kecil, PLC cuma omron cpm1a dan LS k200, tapi di tempat kerja sekarang ketemu MCCB, MPCB, ACB, LBS, dan macam-macam komponen lain. Seharusnya semakin banyak hal baru semakin menyenangkan dong, tapi kenapa aku tidak merasa begitu?

Setelah cerita dan curhat dengan salah satu teman Sadis (Our gank/class name. Sadis stand for Satu A D4 Listrik, kelas kami waktu kelas 1). Dia bilang, "Itu karena waktu kuliah dulu ada teman-teman kita." Yah, saat itu aku jadi sadar, yang kucintai, yang membuatku sangat nyaman, dan yang ingin kulakukan tiap hari bahkan di masa depan bukanlah electrical engineering, tapi Sadis. Aku tidak tahu hal ini juga di rasakan oleh mahasiswa lain, tapi buatku masa kuliah adalah salah satu masa paling menyenangkan dalam hidupku. Yang membuatku begitu betah menjalani perkuliahan di prodi teknik listrik bukan karena materi kuliahnya, tapi karena teman-teman kelasku. For your information, aku kuliah di Politeknik Negeri, di mana sistemnya lebih mirip dengan sekolah. Kita memiliki teman kelas yang sama-sama terus dari pertama kali masuk sampai 4 tahun ke depan, ada roster dan juga wali kelas untuk setiap kelas. Awalnya tiap kelas berisi 25 orang, tapi karena ada yang pindah dan di DO, jadi yang bersama sampai akhir hanya 19 orang. Merekalah "Sadis" ku. Mungkin karena jumlah kami sekelas tidak begitu banyak, usia yang sebaya, dan kami sering ada waktu kosong antara jam pelajaran kuliah, obrolan-obrolan kecil itu yang membuat kami menjadi dekat. 

Sejak hari pertama mereka sudah membuatku tertawa. Teman-teman cowok di kelasku sangat berbakat menjadi pelawak kurasa. Dan sadis' girls ku yang eh, entahlah, terdiri dari gadis-gadis basic, nggak ada yang tomboy, nggak ada yang alim banget, centil, manja, nakal, nggak ada yang pinter banget, atau bego banget, nggak ada yang pemalu banget, narsis banget, atau malu-maluin nggak ada. Kami berenam cewek biasa, semuanya berjilbab biasa, yang kalo udah waktu sholat dhuhur selalu bareng ke masjid tapi sebelumnya mampir dulu beli somay. Biarpun ada yang lagi halangan juga tetap ikut ke masjid (lumayan, buat titip tas). Saking seringnya sama-sama, kami sampai dikenal senior dan teman angkatan KAMUPI (remas kampus kami) meskipun bukan anak KAMUPI. Tapi meskipun begitu, kami tidak pernah bergantung satu sama lain, kami berenam adalah cewek-cwek mandiri yang selalu bisa sendiri namun selalu berikir, bersama lebih baik.

Kami berenam juga sering memiliki pikiran-pikiran yang berbeda bahkan bertentangan. Kami juga kadang-kadang berdebat (tapi tidak pernah dengan nada suara tinggi), dan selalu berhasil diselesaikan dengan baik. Andalan kami dalam mengambil keputusan atau membagi kelompok adalah lot, yah, dilot seperti arisan. Meskipun ada beberapa yang satu sekolah bahkan satu kelas waktu SMA, tapi mereka selalu berusaha untuk tidak mengelompok-kelompokkan diri. Hampir tidak pernah ada pembagian kelompok yang dilakukan dengan memilih sendiri di kelasku. Semuanya selalu kami undi atau diserahkan ke dosen untuk membagi kelompok. Dengan begitu tidak akan ada yang merasa tidak dipilih. Setiap memiliki kelompok baru, pasti selalu saja ada cerita lucu yang terjadi. Aku pernah harus menyelesaikan satu proyek (waktu itu buat display sensor suhu) sendirian, karena 2 teman kelompokku kebetulan anak UKM Taekwondo yang harus berangkat latihan. And i'm okay with that, karena meskiipun tidak membantu, mereka tetap care dengan proyek kami. Dan lagi, selalu ada teman-teman kelas lain bersamaku. Biarpun mereka juga punya proyek masing-masing buat dikerjakan, at least keberdaan mereka saja bikin aku nggak merasa sendirian di lab.

Di kampus (selain anak-anak yang harus latihan atau lagi ada urusan di UKM/himpunan), kami selalu ngumpul kayak ikan teri xD seringnya di gazebo atau kantin. Padahal yang sering ngumpul gitu biasanya cuma MaBa. Tapi kami selalu bareng sampai wisuda, bahkan setelah luluspun, saat ada tes kerja yang kebetulan diadakan di kampus, setelah selesai tes kami secara nggak sadar saling nunggu dan berakhir nongkrong lagi di gazebo. 

Setiap tahun kami selalu menjadwalkan liburan kelas. Meskipun setiap liburan itu kami tidak pernah lengkap, selalu saja ada yang berhalangan hadir (bahkan foto toga terakhir kami, kurang 2 orang). Kelas 1 dan 2 kami menginap di Malino, tempat liburan dataran tinggi dekat perkebunan teh dan hutan pinus (kalau diibaratkan, Buat warga Jakarta ada Puncak, nah buat warga Makassar ada Malino. Jaraknya juga tidak begitu jauh dari Makassar, kelas 3 kami ke pantai yang juga tempat konservasi mangrove, dan tahun ke empat yang paling menyenangkan, kami ada PKL Profesi (tapi kami sekelas sering nyebutnya KKN, sebelumnya kami sudah melakukan PKL di industri, kalo di kampusku disebut KP). Selama 1 bulan kami tinggal di rumah yang sama. Bayangkan, dengan temanmu yang sudah sekelas selama 4 tahun tinggal bersama selama sebulan (jangan samakan dengan boarding, KKN kami tidak ada aturan, jadi lebih mirip liburan panjaaaaang), belum lagi program kerja kami yang tidak begitu sulit, hanya membantu perbaikan instalasi listrik, sosialisasi dan seminar kelistrikan ke warga desa, pelatihan instalasi, dan pelatihan komputer. Di weekend kami pergi ke pantai pasir putih, pantai pasir hitam, sampai ke pantai yang lebih mirip jurang tapi punya pemandangan yang asli indah. Kami ke kolam permandian mata air gunung, ke taman bunga yang cantik banget, dan ke perkebunan stroberi yang sayangnya waktu lagi nggak musim panen. 

Meskipun selama sebulan itu banyak masalah dan perselisihan juga, sampai ada dua temanku adu jotos, yang memaksa kami semua buat rapat dan saling mengeluarkan unek-unek yang Alhamdulillah setiap masalah saat itupun diselesaikan dengan baik. Mungkin karena kami juga sudah agak dewasa saat itu, jadi tidak ada yang membawa masalah sampai berlarut-larut. Tapi semua hal itu tidak mengurangi keseruan KKN kami. 

Karena aku bukan orang yang terlalu terbuka, dan teman kelasku kebanyakan cowok sedangkan aku seumur hidup tidak pernah akrab dengan teman cowok, eh kecuali teman non-famili pertamaku, Aan (Oh, i don't know where he's now. Dia teman pertamaku dan satu-satunya teman yang kupunya saat itu. kami berteman waktu kami jadi tetangga sekitar umurku 3-5 tahun. Kalau naik sepeda aku yang sering memboncengnya, meskipun dia itu laki-laki dan lebih tua 1 tahun dariku. Hahaha). Selain Aan, aku tidak pernah lagi punya teman cowok. Mungkin itu kenapa butuh waktu yang agak lama buatku untuk akrab dengan teman-teman kelasku. Butuh waktu sekitar 1.5 tahun lah buat akrab dengan mereka. Aku tidak sadar bahwa sebanyak itu juga waktu yang kubutuhkan untuk akhirnya menyatakan kalau aku menyukai program studiku, teknik listrik, bahwa aku bercita-cita menjadi engineer.

Aku tidak tahu dengan mereka, tapi aku sangat menikmati 4 tahun bersama mereka, aku sayang dengan mereka, dan aku sangat bangga akan mereka.

Keberadaan mereka membuatku mencintai apapun yang kulakukan saat itu. Mereka seperti anggota keluarga dan teknik listrik adalah rumah. Kupikir aku sangat mencintai rumahku, tapi sebenarnya yang kucintai adalah penghuninya. Jadi saat para penghuninya pergi ke rumah lain, rumahku ini bukan lagi rumah yang sama.

Dan aku baru sadar itu setelah aku benar-benar bekerja di bidang ini, dan kali ini tanpa mereka. Aku baru sadar kalau sepertinya aku satu dari lsekitar 80% mahasiswa Indonesia yang salah mengambil jurusan. Dan aku baru menyadari itu, setelah 2 tahun ini. Yaah, teman-teman yang menyenangkan itu yang membuatku tidak menyadarinya selama ini. Kenangan membahagiakan bersama mereka yang menutup mataku tentang apa sebenarnya yang ingin kulakukan untuk masa depanku.

And now, final question, what's next? 
Entahlah, aku memang sekarang mengakui kalau aku telah salah jurusan, tapi aku sendiri belum menemukan apa sebenarnya passionku, Oh God, seorang anak orang dewasa berumur hampir 25 tahun masih bingung tentang passionnya? Aaahhh, entahlah. Kau tahu kan aku suka menulis? Yah, mungkin aku akan mengambil kelas menulis nantinya (tidak sekarang, karena kelas menulis itu mahal. Hahaha). Tapi bukankah banyak diluar sana penulis yang berprofesi tidak hanya sebagai penulis kan? Ada penyanyi, politisi, dokter, ekonom, dan bahkn juga mantan presiden kebanggangan Indonesia yang juga salah satu teknokrat paling hebat di dunia, Bapak B.J Habibie juga menulis buku yang akhirnya dibuat film yang sangat romantis kan? Jadi apa salahnya menjadi engineer dan juga penulis sekaligus? Sounds great, isn't it? Aku toh sudah ada di sini, rasanya terlalu jauh untuk kembali, lagipula aku termasuk pintar kok di kampus dulu, dan bahkan dikantor juga. Hahahaha. Aku juga sekarang punya tanggung jawab untuk hidupku sendiri. Mau keluar, mau makan apa? Belum bisa membanggakan orang tua juga. Jadi buat sekarang, jalani saja dulu. Sambil mikirin passion yang lain ;)

Thank you for reading, Caww ;)

Kamis, 11 Januari 2018

Aku Belum Siap Menjadi Dewasa

Hello, Happy new year 2018!!
It's 2018 already, that's mean, i will turn 25 y.o this year. Oh mom, I’m not ready yet :’(

Kemarin habis nonton film petualangan Sherina and met my 1st crush, Sadam. Hahaha, Kamu bo’ong kalo bilang Sadam itu gak ganteng, Aseli, imut banget itu anak. Apalagi pas scene Sherina bilang, “Yayang yang mana yah?” Trus Sadam muncul dengan tertunduk, ih, gemes banget. Imut sekali adek kecil (sebenarnya lebih tua 3 tahun dariku) bernama Derby Romero itu. Pengen cubit pipinyaaaa. Haha. Aku gak pernah dengar kabar tentang Derby Romero lagi setelah Kepompong selesai. Dan baru tau, ternyata doi udah nikah, Waah, congrats Kak Derby. 

Okey, stop ngomongin laki orang, back to the topic, Jadi gara-gara nonton film ini aku jadi flashback bukan Cuma sama filmnya yang emang ciamik sekali, tapi juga sama kisah-kisahku sendiri di era Sherina itu. Jaman yg  jangankan smartphone, hp yang paling biasa aja belum punya. Umurku 7 tahun waktu itu tinggal sama adek yang umurnya 5 tahun, sama mama & bapak (I have one older sister, but she lived with grandma that time). Jadi waktu itu keluargaku juga baru pindah dari kota ke kabupaten yang jaraknya kurang lebih 4 jam perjalanan. Karena berdua sama adek, jadi rasanya adaptasi sama lingkungan tetangga dan tempat ngaji nggak begitu sulit. Meskpun kita harus terbiasa dengan aksen mereka yang entah mengapa saat itu aku  pikir keren banget.
Butuh waktu sedikit lebih lama untuk adaptasi di sekolah, tapi setelah beberapa waktu aku bisa bergaul dengan baik. Meskipun Cuma tinggal 2 tahun di sana, tapi asli memorable banget.Tiap hari sepulang sekolah rasanya kita cuma main terus, habis main sama tetangga, main lagi berdua di rumah xD Kata kakakku aku adek favoritnya, dan kata adekku aku kakak favoritnya krn main sama aku katanya pasti asik, soalnya aku suka nyiptain permainan sendiri xD Salah satu yang paling senang kita mainkan adalah drama dan pencarian harta karun xD hahaha. Aah, I love you both. Kalian juga adik dan kakak favoritku :*
Satu hal yang paling dan sangat kurindukan dari masa kecilku adalah tentu saja mamaku tersayang :’) I like to kiss my mom everyday when I was kid, couse I love her so much. Aku bersykur masa kecilku kulalui di akhir tahun 90an sampai awal 2000an :’)

Karena nonton Petualangan Sherina, ingat Derby Romero, otomatis Ingat Kepompong juga pasti, satu-satunya sinotron yang kuikuti sejak awal sampai selesai (kayanya sinetron yang pernah kuikuti juga nggak sampai 10 judul itu udah termasuk sinetron Anak Bawang di TVRI dan yang terakhir Para Pencari Tuhan jilid 3 apa 4 gitu).
Yaah, karena flashback sama sinetron Kepompong, jadinya juga flashback ke masa-masa remajaku Masa dimana kata persahabatan ada di mana-mana, masa aku pertama kali tau cinta *Ciyeelah xD* yang walaupun nggak berbalas sih. Hahaha. Jadilah semalaman tadi sibuk ngubek-ngubek youtube berharap bisa nonton lagi barang beberapa episode. Tapi ternyata nggak ada satupun episode full LCuma klip-klip 1-3 menitan.Akhirnya mutusin buat tidur aja.

Saat udah berbaring dan mau tidur itu, aku jadi mikir aku benar-benar merindukan masa kecil dan masa remajaku dan di saat yang sama juga tersadar kalo masa-masa itu ternyata udah berlalu lama banget.Tahun ini aku bakal berumur 25 tahun, udah kerja punya tanggung jawab setidaknya terhadap hidupku sendiri, dan aku sekarang sepenuhnya orang dewasa.

Tapi, kurasa aku belum siap, sampai kemarin aku masih kesel ketika ada yang nanya apa aku udah nikah, aku rasa itu pertanyaan yang nggak pantas diajukan ke seorang gadis, aku lupa kalau aku sekarang di pertenngahan 20an dan kalau di usiaku sekarang, memang sudah banyak orang yang menikah.

Saat pertama kali hidup sendiri setelah dapat kerjaan, aku pikir nggak akan ada yang berubah, kupikir sendirian itu mudah, dan kupikir aku tidak akan merindukan rumah sampai paling tidak untuk setahun. Toh sejak kecil aku sudah terbiasa mandiri, di tinggal di rumah sendirian udah biasa, bahkan sejak kuliah, aku lebih suka menghabiskan waktu di kamar sendirian dengan smartphone, laptop, dan modem, aku juga merasa tidak terlalu membutuhkan orang lain, tapi ternyata rasanya benar-benar berbeda, dulu saat kupikir aku sedang sendiri, ternyata aku tidak pernah benar-benar sendiri. Setiap hari selalu saja ada yang membuatku tertawa, kadang-kadang kesal, bete, dan tersenyum. Meskipun tidak begitu suka bercerita masalah pribadi, tapi setidaknya selalu ada orang yang bisa kudengar ceritanya, berbagi cerita-cerita receh yang kadangpun garing, selalu ada orang yang membutuhkanku meskipun sekedar buat beli sabun di warung atau sekedar buat nyalin PR.


Aku bekerja di bagian engineering di sebuah perusahaan electrical yang laki banget, sendirian cewe di department ini, dan wanita 20an single sendiri di perusahaan ini. Rekan kerjaku hanya ada 3 golongan, ibu-ibu, bapak-bapak, dan abang-abang yang udah kayak bapak-bapak. Seumur hidup aku tidak pernah punya teman yang usianya terpaut jauh dariku, paling tua hanya berjarak 1 tahun, I’m okay tohave a professional relationship, but to make a friends, it’s still difficult. Dan detik ini aku sadar, rasanya sekarang aku benar-benar kesepian.

Aku tidak tahu pastinya usia dewasa itu dimulai sejak umur berapa, apa 17, 20, atau 25 tahun? Tapi setelah kupikir sepertinya saat acara wisuda sarjana, usia 22 tahun, hari itu juga gerbang dewasa seperti terbuka untukku. Hanya saja aku baru benar-benar merasakannya di usia 24 tahun jelang 25 tahun ini, saat aku benar-benar sendiri dan sadar bahwa aku hidup di dimensi yang berdampingan dan terus berjalan bersama waktu, sedangkan masa kecil dan masa remaja yang selama ini ku pikir selalu di sampingku ternyata tidak ikut bersama, mereka tetap tinggal di sana, jauh di belakangku dan akan semakin kujauhi setiap harinya.


Hal yang paling tidak kusukai tentang menjadi dewasa adalah bahwa teman-temanku juga sekarang sudah dewasa. Susah sekali membuat teman baru, teman lamapun sibuk dengan mengejar mimpi masing-masing. Nggak ada lagi ngobrol sampai pagi, nggak ada lagi baring-baringan bikin video lucu-lucuan, mager berjam-jam, nongkrong di kantin kampus bareng teman-teman kelas selama berjam-jam, liburan bareng teman kelas apalagi, nggak bisa lagi lburan ke rumah nenek selama 2 minggu full, nggak bisa ikut acara yang  diadain di weekdays, nggak bisa lagi lari-larian ngumpulin semua sweets yang bisa dicoba bareng sepupu-sepupu seumuran di acara nikahan sodara, yang ada harus duduk kalem pake kebaya dengan heels minimal 5 cm, makan pelan-pelan karena takut lipstiknya meleber.


Aku ingin tetap di masa-masa itu, tapi tetap bersama mereka semua, tapi jika tanpa mereka kurasa lebih baik untuk belajar hidup di masa kini, masa yang akan terus berjalan sampai saat terakhir nafasku berhembus. Yaah, kuharap aku akan segera terbiasa. Remember, you’re a future great engineer nunu ;)










Selasa, 14 November 2017

I am a Drafter

Assalamualaikum.
Very long time not write here.

Akhirnyaaa.. setelah hampir 2 tahun menjomblo menganggur, akhrirnya 2 bulan lalu, tepatny tanggal 17 Juli kemarin akikah keterima kerja. Hahaha.. Not a very big company, but i think this is one way for me to gain my dream as an engineer. Ada yang pernah nanya ke saya (di ask.fm :v), lebih pilih jadi ikan kecil di kolam besar, atau ikan besar di kolam kecil?, well, aku milih jadi ikan kecil dalam kolam yang airnya sesuai. Kalo aku ikan air asin, nggak mungkin hidup di kolam air tawar kan?
Jadi di sinilah saya, karena saya seorang lulusan engineering, jadi saya memutuskan untuk mencari pekerjaan yang sesuai bakat, minat, dan latar belakang pendidikanku.Klasik sih, dan kata orang terlalu pemilih. Tapi whatever, masa depan kita adalah tanggung jawb kita sendrikan? Dan menrutku, pilihan jurusan yang kupilih daat UMPN dulu juga salah satu hal yang harus kupertnggung-jawabkan.

(lanjut yaa.. setelah kira-kira 2 bulan tersimpan dalam entry. Hehe)
I forget to continued this one. Kayaknya saat itu lagi ada kerjaan.
Jadi, judul dari posisi/ pekerjaan ku sekarang adalah "Electrical and instrument drafter" Mungjkin terdengar agak keren bagi orang non-teknik, tapi buat orang teknik, ini adalah jabatan atau posisi paling rendah dalam dunia engineering :') Tak apa, toh dengan almamater yang biasa, non-experienced, dan jenis kelamin perempuan, sudah lumayan lah seenggaknya bisa mendapatkan posisi ini. 

Jadi, secara umum drafter itu tugasnya cuma 1; Menggambar.Mungkin bagi kebanyakan orang non-teknik akan menyamakan dengan arsitek yah (profesi yang udah terkenal) Tapi they're totally different. Seorang arsitek menggambar sesuatu yang ada dipikirannya sendiri setelah melalui banyak proses pemikiran dan penelitian. Tapi drafter nggak, apa yang kami gambar adalah apa yang dikatakan dan hasil pemikiran orang lain. Dimana orang lain itulah yang disebut engineer. Jadi kami cuma perpanjangan tangan engineer di depan laptop dan software gambar. 

Karena mereka masih punya banyak hal untuk dipikirkan, maka sepertinya akan buang-buang waktu buat mereka untuk menggambar sendiri. Tanpa kuliah di bidang engineeringpun, seorang lulusan SMK bisa menjadi drafter, as long as dia bisa menggunakan software gambar dan mengerti simbol-simbol di bidang mana dia menjadi drafter, serta bisa membaca gambar. Drafter ada di tingkat yang sama dengan teknisi. (Tapi ada juga yang drafter yang sedikit lebih tinggi atau teknisi yang sedikit lebih tinggi, tergantung perusahaan). Sebenarnya tiap tim engineering di tiap organisasi/ perusahaan punya sistem yang beda-beda sih. Di perusahaan tempatku bekerja kebetulan nggak ada electrical engineer. Jadi di bawah manager electrical langsung ada kami, electrical drafter. Sang manager kamilah yang bertindak sebagai electrical engineernya. Dia yang menghitung dan menganalisis semua sistem dan komponen yang diperlukan, bekerja sama dengan engineer bagian proyek, sales engineer, dan tentu saja customer. Nggak 100% kerjaan kami itu ngegambar aja sih, ada hal-hal yang tetap butuh pemikiran dan perhitungan. Tapi something simple aja, kayak rating instrumen dan metode wiring. Sekali lagi, saya tetap bersyukur dengan apa yang kudapat sekarang, (mengingat nganggurnya juga lamaaa banget) meskipun masih jauh dari target yang benar-benar ingin kucapai, tapi aku yakin ini adalah salah satu batu loncatanku yang berharga^^

Untuk sekarang, saya akan menikmati pekerjaanku ini. Karena kerjaan seorang electrical drafter itu nggak banyak, bahkan boleh kubilang sedikit, (pernah sekali disuruh lembur karena ada proyek yang harus cepat dibuat approvalnya untuk rapat padahal baru 2 hari lalu dimasukinnya dan ada 38 panel. aaand i feel so amazed. Hahahaha. Selebihnya, saya bahkan pernah nggak melakukan apapun selama 3 hari bahkan seminggu. Ambil sisi positifnya aja, di saat-saat senggang itu, bisa kupakai untuk belajar teori2 electrical (di mana aing males banget sama yg namanya teori pas kuliah xD Anak bengel dan lab saya mah xD), TOEFL, bahasa Korea, menulis, atau bahkan belajar bidang yang kuimpikan, Automation (Ssstt, jangan bilang2 ya, aku lagi ngelirik posisi Automation Engineer nih. Hehe).
Belajar Sejarah dunia dan matematika juga nggak ketinggalan. Pokoknya aing jadi haus ilmu banget di tengan ketidak-adaan kerjaan. Hahaha.

Okay, have a nice day who ever you are that read this post. Thank you for reading.

Jumat, 27 Januari 2017

Semoga Tidak Terulang Lagi

Hal yang tidak akan aku ulang lagi di masa depan..

Jawabannya sederhana sih, hal yang berjanji untuk tidak kuulang di masa depan adalah segala perbuatanku yang menyakiti orang lain, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Aku adalah jenis orang yang kadang suka blak-blakan, bahkan terkadang bisa meledak-ledak kalau dibuat sangat kesal. Sekarang aku berusaha untuk jadi lebih dewasa, lebih menahan diri dan tidan mudah marah. Ya, itu salah satu resolusi juga di tahun 2017 ini.

Selanjutnya, kedepan aku akan berjanji tidak akan terlalu mudah memberi pinjaman orang lain lagi. Karena lebih dari setengahnya tidak membayar kembali. Dan lebih dari setengah dari lebih dari setengah itu adalah pinjaman bisnis. Maksudnya, aku punya bisnis, entah itu barang atau jasa, temanku yang membelinya banyak yang belum membayanya. Mulai dari yang 30ribuan, sampai ratusan ribu. Elah, aku bahkan masih pengangguran, kerja serabutan gitu ceritanya dengan bisnis alakadar, mereka tega banget ya, bisnis baru seumur jagung juga. Bukan apa-apa, karena mereka utang sana utang sini itu akhirnya bisnisku jadi gulung tikar juga. Bukan apa-apa lagi nih, beberapa orang itu agak aneh men, kadang kalau udah ditagih beberapa kali, bukannya dibayar, malah menghapus atau bahkan memblok semua jalur komunikasi. Dibayar nggak, kehilangan teman iya. Jadilah, aku memutuskan untuk tidak akan mudah memberi pinjaman kedepannya. Kalau kata nenekku sih, Kalau orang ada utang, ditagih dua atau tiga kali belum dibayar, berarti emang nggak niat dibayar. Karena kalau mau dibayar, pasti udah dibayar, kalau nggak dibayar berarti emang nggak niat dibayar. Yasudah, diikhlaskan saja. Entah itu akhirnya jadi ladang pahala buatmu, atau justru jadi penghalang bagi mereka untuk memasuki pintu surga nanti.

Dan yang terakhir, aku berjanji tidak akan mudah jatuh cinta. Bikin sakit hati aja jeng, karena selalu tidak berbalas, belum lagi buang-buang waktu untuk stalking, etc. Hahaha, macam Lee Kwang Soo gitu ya, dapat panggilan Simsappa, karena gampang jatuh cinta sama cewek. Haha. Tapi kalau seandainya ada namja seperti kwangsoo yang seiman, sebangsa, dan seumur xD, saya mau loh. Disamping sifat mudah jatuh cintanya itu, his manner and personality are so adorable.

Sudah ya, itu saja. Semoga benar-benar bisa istiqomah buat gak diulang. Terima kasih sudah berkunjung, syukur-syukur dibaca kesepuluh-sepuluhnya. Terima kasih Kampus Fiksi dan Diva Press untuk challenge-nya yang challenging. 10 Days KF berakhir di sini. Sampai jumpa di tulisan saya yang selanjutnya., semoga saya bisa tumbuh jadi penulis yang benar-benar menulis.

Sekian, terima kasih.

               
Last Day – Day 10
#10DaysKF

Makassar, 27 Januari 2017

-Nasibah

Kamis, 26 Januari 2017

Dear Bapak

Dear Bapak,

Assalamualaikum pak, ini putri keduamu, anakmu yang sangat biasa dan belum pernah melakukan sesuatu hebat yang bisa membuatmu bangga. Ya, aku tahu bapak selalu bangga sama anak-anaknya, tapi tetap saja, aku selalu merasa belum pantas untuk dibanggakan.

                Saat aku baru berusia beberapa bulan, aku diadopsi sama tante, kakaknya mama yang belum mempunyai anak. Aku tidak masalah tentang itu, karena tante dan om sangat menyayangiku. Aku merasa sangat beruntung karena ada banyak orang yang menyayangiku. Aku juga tidak diadopsi sepenuhnya, mereka hanya tante dan om ku, orang tuaku tetaplah kalian. Saat keluarga tante mendapat musibah besar dan masalah bertubi-tubi, aku kembali tinggal dengan kalian. Meskipun hanya beberapa tahun, tapi aku bisa mengingat ada begitu banyak moment bahagia saat itu. Lalu saat umurku 9 tahun, aku kembali tinggal bersama tante yang saat itu benar-benar sendirian karena om sudah dipanggil oleh Yang Kuasa. Aku tahu mama menyayangiku, tapi beliau juga tidak tega membiarkan kakaknya tinggal sendiri.

                Kata orang, anak perempuan biasanya sangat dekat dengan ayahnya, bahkan ada yang mengatakan bahwa seorang ayah adalah cinta pertama anak perempuan. Tapi apa yang bisa kuceritakan? Kita hanya tinggal bersama selama 2 tahun, kadang aku merasa kita sangat jauh, hingga rasanya bapak hanya seperti seorang paman yang tinggal jauh di sana.

                Hari ini aku mendapat panggilan interview kerja dari salah satu anak perusahaan grup yang cukup besar, pada salah satu sesi, sang direktur bertanya padaku,
“Bapak kerja apa?”,
Aku menjawab “Petani pak.”
“Punya sendiri apa orang lain?”
“Punya sendiri pak.”
“Sawahnya di daerah mana ya di Pinrang?”
Aku bingung sejenak, aku tidak tahu tepatnya nama daerah itu, jadi aku menjawab bahwa aku tidak tahu.
“Loh, masa kamu tidak tahu sawah bapakmu sendiri?”
“Iya pak, maaf. Saya dari bayi tinggal sama tante. Dan cuma pulang ke bapak waktu lebaran.”
“Loh, Cuma lebaran? Dosa banget kamu. Kamukan bisa sekali-kelai mengunjungi bapakmu”

Ya, kurang lebih begitulah beberapa pertanyaan yang kudapat hari ini. Setelah wawancara selesai, aku terus berpikir. Ya, memang benar. Aku ini anak durhaka yang mengunjungi bapaknya cuma sekali setahun. Aku bisa apa? Selama aku tinggal sama tante aku bahkan tidak ingat apa bapak pernah mengunjungiku. Bukannya aku marah karena hal itu, tidak sama sekali, aku hanya merasa karena sebelumnya kita jarang sekali bertemu dan bicara, aku merasa kalau kita bertemu atau bahkan telponan kita sangat canggung. Maafkan aku karena tidak sering mengunjungimu pak. Tapi bapak tahukan, aku selalu mendoakanmu di setiap sholatku? Bapak tahu kan bahwa meskipun tidak pernah mengatakannya aku sangat menyayangimu?

Terima kasih karena engkau adalah bapakku, terima kasih karena memilih mama sebagai cinta terakhirmu dan melahirkanku sehingga aku memiliki kehidupanku saat ini. Kuharap bapak akan selalu sehat. Kedepannya, saat aku sudah menghasilkan uang sendiri, aku akan sering mengunjungi bapak dan melakukan sesuatu untuk bapak. Sehat terus pak, bahagia terus, aku mencintaimu.

Putrimu yang menyayangimu,
Nasibah

Makassar, 26 Januari 2017
Day 9 #10DaysKF



Selasa, 24 Januari 2017

Kau Adalah Peri Kebahagiaan Bagi Dirimu Sendiri

Tulisan yang dapat membuatku merasa kuat..

Sejujurnya, satu-satunya ujian terberat dalam hidupku adalah ketika ibuku dipanggil oleh Yang Kuasa. Awan paling gelap dalam hidupku saat matahariku pergi untuk selama-lamanya. Saat itu usiaku baru 11 tahun, tapi aku tidak menangis histeris. Aku ingat air mata yang keluar dari mataku bahkan tidak disertai suara. Aku tidak ingin ada yang mengasihaniku, karena aku paling benci hal itu. Aku adalah anak yang kuat. Itu yang selalu kutanamkan dalam pikiranku sejak hari pertama ibuku berpulang. Aku hanya senang menangis sendiri dibanding di depan semua orang. Terlebih aku tidak ingin ada orang yang menangis karenaku, entah aku yang menyebabkan kesedihannya, atau ia yang ikut merasakan kesedihanku, aku hanya tidak ingin melihat orang menangis karenaku. Setelah itu, setiap hal buruk yang terjadi dalam hidupku, bukanlah apa-apa bagiku.

                Ini bukan fiksi tapi aku merasa aku memiliki kekuatan super, yaitu kekuatan untuk menghapus kenangan buruk, untuk menghilangkan kesedihanku sendiri tanpa bekas. Ya, kurasa itu kenapa seseorang pernah mengatakan bahwa aku adalah orang paling ceria yang pernah ia kenal. Ia bahkan berpikir hidupku hanya tersusun atas kebahagiaan. Tentu saja tidak, Ada beberapa kemalangan yang juga kadang menyapaku atau kesedihan yang kadang singgah dalam hidupku, tapi aku tidak senang membaginya, aku tidak ingin memperlihatkannya kepada siapapun, sekali lagi karena aku tidak suka dikasihani, karena aku anak yang kuat.

                Menjadi kuat sudah seperti mantra yang menghias hidupku sejak dulu.

                Untuk diriku sendiri di masa depan, jika kau melihat ini, aku percaya kau sekarang menjadi wanita yang hebat. Kau adalah peri kebahagiaan bagi dirimu sendiri, Untuk menjadi runtuh atau tetap berdiri tegar, itu adalah pilihanmu, dan jangan pernah memilih untuk runtuh.

Day 7 #10DaysKF
24 Januari 2017
-Nasibah

Senin, 23 Januari 2017

Kampus Kebangganku


Sesuatu yang kubanggakan tapi diremehkan orang lain?

Kampusku, tempatku menuntut ilmu untuk tumbuh menjadi seorang professional, Politeknik Negeri Ujung Pandang.

Banyak yang mengatakan kalau kampusku adalah PTN kelas dua. Mereka yang tidak diterima di PTN kelas satu beberapa akan mendaftar dikampusku. Dan itu benar, Politeknik memang sebuah PTN, tapi tidak sama posisinya dengan universitas atau beberapa institut negeri yang menerima mahasiswa baru melalui SNMPTN, ia memiliki jalur masuk sendiri yang disebut UMPN yang diadakan bersamaan dengan seluruh politeknik negeri di Indonesia.

                Tapi siapa yang peduli tentang siapa yang masuk ke kampus ini, bukankah yang terpenting adalah bagaimana yang keluar? Aku tidak mengatakan kalau kampus kami memiliki sistem pendidikan atau materi perkuliahan terbaik, tidak kok, PNUP rata-rata saja. Hanya saja, yang membuatnya beda adalah bahwa di sana kami diajarkan lebih banyak praktek dibanding teori. Teori itu penting tentu saja, karena itu adalah landasan dasar ilmu pengetahuan, tapi praktek juga tak kalah pentingnya sebagai implikasi dari apa yang didapat di kelas teori. Dan sejujurnya, kelas praktek seperti bengkel dan lab lebih menyenangkan dibanding kelas teori di gedung sekolah. Rasanya seperti seorang engineer yang benar-benar mengerjakan sebuah proyek.

                Satu hal yang membuatku bangga akan kampusku adalah pendidikan akhlahnya. Bukan kelas khusus budi pekerti atau pelajaran akhlak maksudku, lebih ke pembelajaran secara tidak langsung. Selain kelas pendidikan agama dan mentoring di semester pertama, tidak ada kelas khusus tentang akhlak lainnya. Padahal kampus kami bukanlah kampus berlandas agama, tapi entah mengapa, kau tidak akan menemukan anak nakal di kampusku ini. Kalau kamu datang ke kampusku dan menemukan seseorang dengan gaya yang aneh dan kesannya gimana gitu, bisa dipastikan itu bukan anak PNUP. Kau bisa meninggalkan laptopmu di jurusan dan tak akan ada yang mengambilnya. Lupa mengambil kunci motor atau bahkan handphone mu di jok, kau akan menemukannya kembali di pos satpam. Atau kau melupakan dompet di ruang kuliah, ia akan tetap aman di ruang OB. Aku tidak menjamin 100%, karena bisa jadi kamu lagi sial atau kebetulan ketemu klepto, benda-bendamu itu bisa saja melayang. Jadi tetap jaga barang-barang anda ya.

Di sana tidak pernah ada tawuran besar, kecuali perselisihan kecil. Dan sejujurnya, mahasiswa di kampusku bahkan tidak pernah berdemo. Ini serius, mungkin ada yang berpendapat kami mahasiswa cupu, tapi ah, siapa yang peduli. Mungkin kami terlalu sibuk dengan kuliah yang padat, tugas-tugas menumpuk, atau sekedar tidak ingin menyusahkan pengguna jalan dan pak polisi. Hal yang diajarkan kepada kami untuk selalu diingat saat pertama kali memasuki kampus hitam ini adalah, selalu menjunjung tinggi tri dharma perguruan tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Saat kami diminta untuk mengabdi kepada masyarakat, kenapa pula kami harus menyusahkan mereka? Ya, masyarakat tidak pernah ada yang mendukung mahasiswa pendemo sekarang ini. Karena sebagian dari mereka bukan lagi memiliki tujuan untuk membela masyarakat, tapi untuk gengsi mereka sendri.

Kebanggan lainku tentang kampusku adalah semua penghuni kampus ini sangat baik dan ramah. Pernah beberapa kali minta tukar uang kecil di pos satpam buat bayar angkot atau ojek, dan kalau bapak-bapak satpam lagi tidak punya uang kecil yang cukup untuk ditukar, biasanya mereka kasih uang buat bayar begitu aja. Pas mau dibayar kembali, pak satpamnya cuma bilang, “Nda usahmi dibayar. Kau belajar saja yang baik.” Atau kadang juga kalau ada pak satpam yang lagi dikunjungi istri dan anaknya dari kampung dan dibawakan oleh-oleh, kadang pak satpam itu suka bagi-bagi ke setiap mahasiswa yang keluar gerbang. Staf akademik yang ramah banget, panggil kamu nak sambil menjelaskan apa yang kamu tanya dengan ramah. Staf kebersihan yang selalu siap membantumu dan bahkan tidak pernah marah kalau kamu ga sengaja injak lantai yang baru saja dia pel. Dosen-dosen yang tidak pernah menyuruhmu membayar apapun. Semua dosen yang mengajar di kelasku membuat buku sendiri. Setelah itu hanya menyuruhmu mengcopy bukunya. Selebihnya, kamu bisa pakai buku apapun untuk jadi bahan referensi. Bahkan wali kelasku dulu sering mentraktir kami, membayarkan tiket nonton, bahkan ngasih tambahan uang buat liburan. Mahasiswanya juga, di setiap koridor, gazebo, atau kantin, kalian akan menemukan lebih banyak obrolan tentang kuliah. Ya, mahasiswa PNUP itu rajin-rajin. Hihihi.

Aku tidak tahu apa PNUP memang hanya menerima orang-orang berakhlak baik, atau PNUP yang mengubah mereka. Tanteku pernah Tanya, “Kamu lanjut kuliah di mana nak?” trus aku bilang, “Poltek tante.” Dan tanteku Cuma bilang, “Oh, PNUP? Bagus nak, di sana akhlahnya bagus.” Awalnya aku nggak mengerti maksud tanteku itu, tapi setelah menjadi bagian dari PNUP, aku jadi mengerti maksud beliau.

Meskipun kesannya menyenangkan dan ramah-ramah, tapi kamu nggak bolehbertingkah seenaknya. Surat DO di kampusku gampang sekali keluar loh, nilai rendah, tindakan indisipliner, atau bahkan kelamaan lulus, kamu bisa mendapatkan surat cinta dari direktur ini setelah sebelumnya mendapat 3 surat peringatan. Mungkin ini salah satu alasan kenapa kamu jarang menemui anak nakal di PNUP, karena anak-anak yang suka bertingkah itu akan gugur satu persatu dimulai dari semester awal. Ibu kantin aja nggak bisa lolos dari skorsing. Pernah karena bertengkar dengan lapak sebelah, ibu kantin langgananku harus libur selama sebulan dari kantin Huhu L

Pernah beberapa kali aku kenalan sama orang, pas ditanya kuliah dimana dan aku jawab PNUP, dijawab, “Ah, aku pernah kuliah di situ. Tapi sekarang di *****”. Pas aku Tanya kenapa pindah, dijawab “Ya, biasalah, DO”. Atau ada juga yang bilang, “Aku pernah kuliah di kampusmu itu. Tapi pindah pas semester 2, aku ga kuat sama tugasnya.” Hiks, itulah beberapa testimony kenalanku. Maafkan PNUP yaa.

Oh iya, satu lagi yang selalu kubanggakan. Saat pertama kali mendaftar di kampus ini, belum pakai sistem online, di setiap loket dan mading, ada tulisan besar berbunyi “Tidak ada sistem jatah dosen.” Dan kupikir itu benar, anak dosenku dan bahkan keluarga direktur sendiri pernah tidak lulus tes masuk di kampus PNUP ini. Dan aku sangat bangga menjadi alumni kampus yang tidak begitu terkenal ini :3

Ini teman-teman kelasku btw xD Foto kami waktu masih semester pertengahan, nggak lengkap sih. Jadi di Polteknik itu sistemnya kayak SMA, kamu akan punya teman yang sekelas selama 3 tahun (D3) atau 4 tahun (D4). Awalnya tiap kelas berisi 25 orang, tapi di kelasku yang bertahan sampai selesai cuma 19 orang. Lumayanlah.

Yaa, Itu tadi kebanggaanku yang masih banyak diremehkan orang :3 Jaya selalu PNUP ya, tetap jadi kampus pencetak tenaga professional yang berakhlah ;) Wassalam.

Day 6 #10DaysKF

Makassar, 23 Jaunari 2017
-Nasibah



Minggu, 22 Januari 2017

Tiga Film Paling Berkesan

Hello, bertemu lagi di hari ke 5. Setelah menulis selama 4 hari, aku sadar satu hal, aku merasa tulisanku tidak semenarik tulisan-tulisan orang lain yang kubaca di event 10DaysKF ini. Setelah berpikir, aku sadar sepertinya itu karena gaya bahasaku yang terlalu kaku. Apa mungkin itu karena selama ini aku lebih suka membaca buku terjemahan ya? Atau mungkin karena aku memang belum membaca begitu banyak buku? Atau keduanya? Hehe. Ya sudah, mari mulai menulis untuk hari ini, tapi dengan gaya Bahasa yang lebih santai :D

                Tiga film paling berkesan? Well, sebenarnya dibandingkan film, aku lebih suka buku sih, dan dibanding keduanya, aku lebih menyukai serial tv. Singkat kata, aku bukan seorang penggemar film. Tapi jika ditanya tentang film yang paling berkesan, aku memiliki beberapa dalam list-ku. Check it out!


Harry Potter and The Chamber of Secrets
                Meskipun bukan seorang penggmar film pada umumnya, tapi aku adalah seorang penggemar Harry Potter. Yes, karya J.K Rowling ini memang sukses membuatku jatuh cinta dengan segala problematika dan bahkan mantra-mantranya. Aku mulai mengenal Harry Potter sekitar 10 tahun lalu, waktu aku masih SMP kelas 7, tepatnya saat menonton dvd film ke2, dan mulai jatuh cinta setelah membaca bukunya. Agak telat sih, tapi tak apalah, Harry Potter sukses menemani masa remajaku. Segitu lamanya menjadi penggemar dari film yang dibintangi Daniel Radcliffe ini, tentu saja film ini meninggalkan kesan yang mendalam bagiku. Ceritanya yang tak biasa, sekuelnya yang ada banyak, dan banyaknya hal khas yang bisa ditemukan dalam film ini membuatnya sangat berkesan. Apa ada film yang memiliki Wikipedia-nya sendiri? Harry Potter punya, saking banyaknya hal baru yang memang Cuma ada dalam film/buku ini. Jadi, film ini berkesan karena lengkap, banyak, dan panjang.


                Film kedua yang sangat berkesan bagiku adalah Laskar Pelangi. Yeah! Siapa sih orang di Indonesia yang nggak tahu Laskar Pelangi? Best Movie of Indonesia lah buatku. Penuh dengan pelajaran hidup dan kisah mengharukan, itu yang membuat film ini sangat berkesan buatku. Dimulai dari membaca bukunya. Waktu itu iseng sih, nemu buku karya Andrea Hirata ini di rak buku kakakku. Niatnya Cuma baca bagian awal, tapi keterusan sampai puluhan halaman, dan akhirnya baca sampai akhir. Laskar pelangi ini juga yang membuatku berpikir kalau menjadi penulis itu sangat keren dan bermimpi menjadi penulis yang keren seperti Andrea Hirata suatu hari nanti. Satu lagi, aku sangat suka ost-nya. Laskar pelangi adalah lagu satu-satunya yang pernah kujadikan NSP. Hehehe.


                Dan, Film terakhir, that’s Pan’s Labyrinth. Berbeda  dengan dua film sebelumnya yang meninggalkan kesan menyenangkan dan sukses membuatku menjadi penggemarnya, film yang satu ini menjadi sangat berkesan buatku justru karena film ini sangat, sangat mengerikan. King of Nightmare lah. Padahal film ini bukan film horror, tapi tetap saja sangat mengerikan. Kalau kalian Tanya aku monster atau makhluk fiktif apa yang paling mengerikan? Aku akan menjawab, monster yang ada di meja makan dalam film ini. Aku bahkan lupa namanya, tapi saking ngerinya, aku tidak berani menontonya dua kali. Bukan hanya si monster meja makan, tapi ada banyak makhluk-makhluk aneh dan menyeramkan lain di film ini. Selain keberadaan makhluk-makhluk aneh tadi, ceritanya yang sangat gelap dan banyaknya kekerasan yang ditampilkan dengan jelas, sukses menambah kengerian film Spanyol-Meksiko ini. Ugh, kalau kalian penasaran, tonton sendiri ya.


Nah, Itu tadi 3 film paling berkesan buatku. Biarpun nggak masuk dalam daftar, tapi kalau kalian tanya aku film romance yang paling kusuka, aku akan menjawab film-fulm dari negeri gajah putih. Yah, film romance thailand itu sederhana tapi entah mengapa manis banget dan mostly ada comedynya yang bikin betah ditonton. Selain itu nggak yadong. kecuali yah film yang emang bertema yadong. Dan yang menjadi favoritku dari sekian banyak adalah Crazy Little Thing Called Love. Ah, kalo kataku sih, ini film wajib remaja perempuanlah, apalagi yang lagi jatuh cinta. Hehe. Kalau serial TV, yang paling berkesan itu Running Man ya xD Kalo buku, selain dua di atas itu, If Tomorrow Comes :3

Sekian, dan selamat bersiap-siap hari senin ya ;)  Semoga makhluk di meja makan itu tidak mengganggu kalian. Hehehe.

Day 5 #10DaysKF

Makassar, 22 Januari 2017

-Nasibah

Beberapa Nama Warna Selain Mejikuhibiniu

Pernah nggak kalian ditanya tentang warna dan kalian sendiri bingung menyebutnya apa? Atau ketika belanja online, ada puluhan avaible colour...