Senin, 29 Januari 2018

Mengapa Tegangan 3ɸ = 1ɸ √3

Mengapa tegangan 3 phase = 1 phase dikali √3 Pertanyaan ini pertama kali datang di pikiranku saat kuliah dulu. Jadi kita tahu kalau untuk mendapatkan tegangan 3 fasa itu, tegangan 1 fasa cukup dikalikan √3. Begitupun sebaliknya, untuk mendapatkan tegangan 1 fasa, tegangan 3 fasa dibagi √3. Nah, pertanyaannya, kenapa √3? Kenapa bukan dikali 3 yang mana sekilas itu lebih masuk akal?

Ok, back to the topic. Jadi tegangan 3 fasa itu biasa juga disebut tegangan phase to phase karena tegangannya diukur dari beda potensial antara kawat fasa, R-S, S-T, atau T-R. Sedangkan tegangan 1 fasa biasa juga disebut tegangan phase to neutral(N) karena mengukur tegangan dari beda potensial antara salah satu kawat fasa dengan netral. R-N, S-N, atau T-N.

Jadi, seperti yang diketahui, bahwa listrik AC (alernating current) umumnya membentuk gelombang sinusoidal yang mana 1 puncak + 1 lembah disebut 1 periode. 1 periode ini bernilai 360˚
gelombang sinusoidal AC (1 puncak + 1 lembah)
Pada kondisi normal, Tegangan AC 3 fasa terdiri dari 3 buah fasa dengan frekuensi dan tegangan yang sama namun berbeda sudut masing-masing 120˚


gelombang sinusoidal 3 fasa

Untuk mudahnya, perhatikan masing-masing puncak dari setiap fasa, R di 90, S di 210, dan T di 330, yang berarti bahwa jarak antar fasa adalah 120˚. Kalau dibuat dalam diagram fasor, akan seperti berikut:
Diagram fasor tegangan 3 fasa


Pada gambar di atas, besar dari tegangan 1 fasa R-N diwakili oleh garis merah, S-N diwakili oleh garis kuning, dan T-N diwakili oleh garis hitam. Normalnya, masing-masing memiliki tegangan yang sama. Sebagai contoh, kita akan menghitung besar tegangan phase to phase R-S yang diwakili oleh garis berwarna jingga dibawah.
diagram fasor R-N-S

Karena diagram fasor di atas menghasilkan segitiga sama kaki, dengan mengingat hukum segitiga dimana jumlah sudut segitiga haruslah selalu = 180˚ dan sudut N sebelumnya telah diketahui, maka diketahui R = 30˚ dan S = 30˚

Selanjutnya, untuk mengetahui besar tegangan R-S, maka digunakan hukum sinus atau Law of sines segitiga.


asin A = bsin B = csin C
It works for any triangle:
triangleab and c are sides.
AB and C are angles.
(Side a faces angle A,
side b faces angle B and
side c faces angle C).
And it says that:
When we divide side a by the sine of angle A
it is equal to side b divided by the sine of angle B,
and also equal to side c divided by the sine of angle C
[Source: www.mathsisfun.com/]


Nah, jika kita mengaplikasikan hukum sinus di atas dengan diagram fasor yang kita miliki tadi, kita akan mendapat:

A = S = 30
B = R = 30
C = N = 120
a = R-N
b = S-N
c = R-S

 bsin B   = csin C
 SNsin 30 = RSsin 120
 SN1/2     = RS1/2√3

SN. 1/2√31/2 RS   

SN √3   RS
RS  √3 SN 


Oke begitulah penjelasan mengapa tegangan 3 phase = tegangan 1 phase x √3. Jika ada kekeliruan dari tulisan saya di atas, atau ada yang ingin ditanyakan, silakan tinggalkan komentar. Insya Allah kita akan belajar sama-sama. Salam Elektro! :D

Rabu, 24 Januari 2018

Bagaimana Sebuah Film Mempengaruhi Hidupku

Sekitar Setahun lalu, aku menulis tentang film-film paling berkesan yang pernah ku tonton, Aku lupa ternyata ada banyak film lain yang juga tidak kalah berkesannya, hingga berhasil mempengaruhi hidupku. Mulai dari hal baik, sampai yang melelahkan. Hahaha.
[ps: ini tulisan yang sangat subyektif yah, namanya juga blog pribadi. Haha]

Pertama, Petualangan Sherina. Bukan film pertama yang ku tonton, tapi sepertinya film pertama yang kuingat. Film ini tayang tahun 2000, umurku waktu itu 7 tahun, kelas 2 SD. Aku saat itu tinggal di kabupaten yang belum ada bioskop (sampai saat ini juga belum ada sih). Waktu itu lagi hits banget, jadi tanteku yang tinggal di kota yang sangat sangat baik beliin VCD nya (jaman itu belum ada DVD kayaknya). Aku sukaaa banget sama film itu, bareng adek kami sering nyanyiin lagunya dan ngundang tetangga buat nonton bareng. Waktu itu ada 2 film yang hits banget dalam waktu yang berdekatan, Petualangan Sherina dan Joshua Oh Joshua. Dua-duanya menceritakan persahabatan 2 anak laki-laki dan perempuan, punya lagu-lagu hits, dan dua-duanya diperankan oleh artis cilik yang lagi tenar banget di masa itu.

Meskipun suka dua-duanya, tapi saat itu tetap lebih suka Petualangan Sherina sih, berhubung filmnya bang Joshua agak terlalu berat buat anak kecil dan ada unsur sinetronnya juga. Hehe, sedangkan Petualangan Sherina, semuanya tentang petualangan, persahabatan, dan bintang yang entah mengapa menurutku saat itu classy banget. Hahaha.



Okay, back to the topic, yang udah nonton film Petualangan Sherina pasti pada tau lagu Persahabatan dong? Liriknya kurang lebih:

Setiap manusia di dunia
Pasti punya kesalahan
Hanya yang pemberani
yang mau memaafkan
Setiap manusia di dunia
Pasti pernah sakit hati
Hanya yang berjiwa ksatria
Yang mau memaafkan

Nah, saking sukanya sama lagu itu, liriknya selalu tinggal di kepalaku. Aku selalu pengen jadi jagoan, jadi ksatria seperti power ranger pink, jadi aku selalu terbiasa untuk memaafkan orang lain. Bukan hanya memaafkan, tapi aku benar-benar melupakan perasaan sakit hati itu. Begitu aku tidur, aku bisa langsung lupa dengan perasaan marah/kecewaku (Thanks God, belum ada yang menyakitiku dan berbuat salah yang besar banget sampai sulit ku maafkan). Kadang dalam sejam juga udah lupa. Meskipun saat marah aku bisa marah banget dan bahkan merencanakan pembalasan dendam yang ciamik sekali, tapi tidak pernah berhasil tereksekusi. Perasaan marahku selalu berhasil menguap di udara bersama datangnya malam *alaahh xD

Tapi satu hal, seperti remaja kebanyakan saat itu, aku masih berat buat minta maaf, gengsi banget apalagi kalo ngerasa bukan aku yang salah. Yang aku ingat, sepertinya waktu SD pernah musuhan sama orang sekitar 3-4 kali (padahal aku udah nggak marah, cuma gengsi buat minta maaf. Haha), sekali waktu SMP, sekali waktu SMA, dan tidak pernah sekalipun waktu Kuliah sampai sekarang. Yang ku ingat pas SMP & SMA itu gara-gara temanku mau nyontek and that's time bukan lagi nggak pengen nyontekin, tapi lagi ribet dan jadi lah mereka ngambek. Sama-sama nggak mau minta maaf karena ngerasa nggak salah. Jadi deh nggak saling ngomong beberapa hari. That's it. Yah, sepertinya semua itu karena aku selalu pengen jadi ksatria xD

Kedua, Korean Korea. Drakor pertama yang ku tonton that's Endless Love, atau di luar lebih dikenal dengan Autumn in my heart, Umurku 9 tahun, kelas 4 SD. Selanjutnya ada Full House, Princess Hours, Sassy Girl Chunhyang, My Girl, dan banyak lagi. Masuk SMP, SMA, sampai kuliahpun nggak berhenti nonton Drakor. Baru setelah kenal Running Man (yang telat banget xD), aku sedikit kehilangan minat ke Drakor.

Dari semua itu, bagaimana drama Korea mempengaruhi hidupku? Yah, drama Korea emang nggak seharusnya ditonton sejak dini apalagi di masa-masa memasuki remaja. Karena kelamaan dan keseringan nonton drakor, merekalah yang memperkenalkan dan membangun definisi cinta, hubungan, dan pria dalam kepalaku xD Karena kelamaan dan keseringan nonton drakor, secara nggak sadar aku membangun sosok pria ideal di kepalaku haruslah sesempurna pria-pria dalam drama korea. Sampai setelah lulus kuliah, barulah aku berpikir itu hal bodoh, they're fiction, and forever will be. Aku baru saja menghabiskan masa remajaku dangan pikiran bodoh tentang pria ideal.

Ketiga, Crazy Little Thing Called Love. Romance movie paling hits dari negeri gajah putih. Apa yang paling mengena dari film ini? an ugly duckling become a swan? Cinta pertama? Dan bahwa sang pangeran tampan sudah suka dengan sang angsa sejak dia masihlah berwujud ugly duckling? Jadi bagaimana akhirnya film ini menyisahkan sesuatu dalam hidupku? Simpe aja sih, film ini berhasil membangun harapan dalam diriku that someday, my first love will be reciprocated. Yah, pikiran yang bodoh tentu saja, aku melewatkan masa remaja dan usia awal 20an ku dengan masih mengharapkan cinta pertamaku.



Sembilan Tahun ku habiskan hanya untuk membangun harapan-harapan yang akhirnya mau nggak mau harus aku robohkan dengan tanganku sendiri. Aku melewatkan banyak sekali kesempatan bertemu cinta baru di masa-masa itu karena sibuk membangun asa yang sebeneranya tidak pernah ada. Bodoh memang. Yah, saat aku sadar bahwa semua itu semakin sia-sia, akhirnya Agustus tahun lalu aku memutuskan untuk mengakhirinya. Dengan sebuah pemikiran bahwa "Bagaimana aku akan melupakannya kalau selalu saja ada tanda tanya dalam hatiku, kalau aku masih saja selalu penasaran tentangnya? Akhirnya aku memutuskan untuk memberitahunya tentang perasaanku, lewat Line. Yah itu aja aku menahan malu semalu-malunya. apalagi harus bertemu langsung, bisa mati berdiri aku. Apalagi ini pertama kalinya (dan berencana untuk terakhir kalinya). Lain kali aku berharap untuk dicintai, karena mencintai itu melelahkan. Hahaha.

 I told him about my feeling without any expectation. Karena aku tahu kalo selama ini dia nggak pernah bilang apa-apa, that's mean i'm nothing for him, right? Jadi, ini bukan nembak yah, ini cuma pernyataan perasaan xD Dan yah, i was rejected of course.

Sumpah aku lupa dia ngomong apa saat itu. Intinya i was rejected. Yang aku ingat aku maksa dia buat bilang "nggak suka aku" kalo perlu pake kata-kata yang bisa nyakitin hati harapannya biar bisa benci dia dan cepat move on, tapi dia nggak mau. Katanya dia nggak mau dibenci hanya karena masalah ini (Hanya?? Di sini aku kesel sih, itu emang "hanya" buat dia, tapi itu "big thing" buat aku). Katanya dia juga nggak mau rusak pertemanan kami. Aku mikir, padahal kami bahkan nggak pernah berteman dekat. Cuma kebetulan sekelas selama 3 tahun di SMA, sama2 pengurus kelas, dan sama2 pengurus inti OSIS. Nomornya aja baru ku punya pas mau lulus. Hahaha. Akhir kata, dia cuma bilang, "Pasti di luar sana ada cowok yang lebih baik dari saya." Yaaaah, jawaban klasik sebuah penolakan.

Keempat, Film Monster Laba-laba Raksasa. Duh, aku lupa judul filmnya apa. Tapi nonton film ini sekitar umur 7-8 tahun. Waktu itu nonton di rumah tetangga, dan impactnya, aku takut pake banget sama yang namanya laba-laba, even sama laba-laba sekecil kuku sekalipun. Ditambah nonton Lord of The Ring: Two Tower, di mana giant spidernya berhasil membungkus salah satu hobbit (Sam atau Frodo yah? aku lupa), itu makin takutlah setelah itu. Dan fobia ku itu masih bertahan sampai sekarang T.T


Buat sekarang itu dulu, someday kalo kepikiran something else, tulisannya bakal ditambah. Thank you for reading ;)

Jumat, 19 Januari 2018

Ketika Pelitamu Pergi Untuk Selamanya

“Hei,” Aira duduk tepat disebelah Abel yang masih terdiam kaku dengan air mata yang tidak berhenti mengalir dari matanya.

“Kau tahu,” Aira memegang pundak Abel yang tidak dipedulikannya sama sekali. “Aku tidak tahu ini akan membuatmu merasa lebih baik atau sebaliknya.” Sambung Aira

“Aku iri padamu.” Kali ini kata-kata Aira sedikit mengusik Abel, kini ia mendengarkan Aira meski dengan tanpa berpaling.”Andai Tuhan memanggil ibuku sedikit lebih lama, saat aku sudah sedikit dewasa, agar aku setidaknya bisa menangisinya dengan tepat.” Aira menarik nafas sangat dalam berusaha menahan air matanya. “Setidaknya kau memiliki ibumu untuk berbagi cerita saat datang bulan pertamamu dan menemanimu berbelanja bra pertamamu. Aku..” Setetes cairan bening mengalir dari sudut mata Aira. “Aku bahkan tidak memiliki kesempatan untuk mencicipi bekal buatannya. Aku membawa bekal roti selai dan nasi kuning buatan warung belakang rumahku masing-masing 3 kali seminggu selama TK. Terkadang aku iri dengan teman-temanku yang setiap hari diantar ibunya, tapi saat aku berkenalan dengan teman-temanku dari panti asuhan, aku sadar kalau setidaknya aku masih beruntung memiliki ayahku. Ayah tahu masakannya tidak enak, jadi dia tidak pernah mencoba membuatkanku bekal. Kompor dirumahku hanya dipakai untuk memanaskan makanan dan terkadang membuat mi instan. Saat aku masuk SMP dan mulai belajar memasak, akhirnya peralatan masak dirumah kami bisa digunakan semuanya. Huh!” Aira tertawa kecil hingga ia tidak sadar bahwa sekarang Abel menatapnya.


Aira tersenyum menatap Abel dan bangkit dari tempat duduknya.”Kau tidak perlu berhenti menangis hanya karena orang menyuruhmu. Menangislah sebanyak mungkin dan mulai hari barumu besok, jika masih belum bisa besok, maka lakukan besoknya lagi.” Aira mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan meletakkannya di tangan Abel. “Kau mungkin membutuhkannya.” Abel menatap sapu tangan berwarna biru muda itu lalu tersenyum sedetik kea rah Aira tanda terima kasih.

Reply 1988

Annyeong yeorobun.
Maybe it's about 6 years since the last time i wrote Korean drama review ya. This time, i want to write the review about one of my most recommended korean drama that i've watched. I'm really into this drama. Sebuah drama korea paket lengkap. Family, youth, friendship, and of course, love.

Sebelumnya, drama Korea favoritku sepanjang masa itu The Moon That Embraces The Sun, which is itu udah bertahan lebih dari 5 tahun. Dan, akhirnya salah satu teman kostku recommend drama ini. Udah denger beberapa kali sih, tapi nggak tertarik juga. Berhubung kemarin lagi pengen nonton drama sedangkan yang kupunya hanya 300 lebih episode lengkap Running Man xD dan nggak ada drama baru, jadi deh iseng nonton drama ini. Daaan, aku udah dibuat tertawa sampai sakit perut sejak episode pertama. Jadi sekarang ini nih yang jadi drama favoritku.

Drama ini airing di akhir tahun 2015 sampai awal tahun 2016 di TvN (Telat banget yah mak aku nontonnya xD)  dan berhasil mencatatkan diri sebagai salah satu drama Tv kabel dengan rating tertinggi. Ratingnya menembus 19% di akhir penayangan. Jangan samakan dengan The Moon That Embraces The Sun yang ratingnya 40 sekian, hampir 50%, viewer tv kabel tentunya beda dengan stasiun tv nasional, karena tidak semua orang punya tv kabel. Di tv kabel dapat rating 5-8% saja sudah sangat bagus.

Oh ya, taukan, kalo ini drama franchise? Jadi maksudnya ada drama Reply Reply yang lain selain ini. Haha, lucu yah istilahnya, udah kayak restoran ayam goreng atau minimarket. Mungkin ini istilah yang paling pas, mengingat tidak mungkin disebut Sekuel karena baik cast maupun jalan ceritanya tidak berkelanjutan, nggak mungkin disebut spinoff karena emang drama2nya nggak related. Cuma judul, tema, penulis, dan stasiun TV nya aja yang sama, persis kayak drama School. Btw aku belum nonton serial Reply yang lain (Reply 1994 & Reply 1997). Mungkin someday. Haha.

Ok, This is it, my favorit Korean Drama (sejauh ini):

-REPLY 1988-


Ø  Title: Reply 1988 
Ø  Revised romanization: Eungdabhara 1988
Ø  Hangul: 응답하라 1988
Ø  Director: Shin Won-Ho
Ø  Writer: Lee Woo-Jung
Ø  Network: tvN
Ø  Episodes: 20
Ø  Release Date: November 6, 2015 - January 16, 2016
Ø  Runtime: Fri & Sat 19:50
Ø  Language: Korean
Ø  Country: South Korea
(cr: asianwiki)


§  Main Cast

o   Dong Il's family
o   Sung Dong Il as Sung Dong Il
o   Lee Il Hwa as Lee Il Hwa
o   Hye Ri as Sung Duk Sun
o   Lee Mi Yeon as adult Duk Sun
o   Ryu Hye Young as Sung Bo Ra
o   Jun Mi Sun as adult Bo Ra
o   Choi Sung Won as Sung No Eul
o   Woo Hyun as adult No Eul

o   Sung Kyun's family
o   Kim Sung Kyoon as Kim Sung Kyun
o   Ra Mi Ran as Ra Mi Ran
o   Ryu Joon Yul as Kim Jung Hwan
o   Ahn Jae Hong as Kim Jung Bong

o   Sun Young's family
o   Kim Sun Young as Kim Sun Young
o   Go Kyung Pyo as Sun Woo
o   Kim Seul (김설) as Jin Joo
o   Shin Bi as older Jin Joo

o   Moo Sung's family
o   Choi Moo Sung as Choi Moo Sung
o   Park Bo Gum as Choi Taek

o   Jae Myung's family
o   Yoo Jae Myung as Ryu Jae Myung
o   Yoo Ji Soo (유지수) as Dong Ryong's mother
o   Lee Dong Hwi as Ryu Dong Ryong
o   Hoon Ki as Ryu Dae Ryong

§  Supporting cast
o   Kim Joo Hyuk as Duk Sun's husband in 2015
o   Lee Se Young (이세영) as Wang Ja Hyun
o   Lee Min Ji as Jang Mi Ok
o   Song Young Jae as Baduk Department Head Mr Lee
o   Bae Yoo Ram as Assistant Manager Mr Yoo
o   Son Eun Seo as Duk Sun's flight attendant coworker
o   Kwon Eun Soo as Song Hee (Duk Sun's class president)
o   Shin Young Jin (신영진) as Class President's mother (ep.14)
o   Song Young Kyu as Sun Young's older brother
o   Son San as Duk Sun's Homeroom Teacher
o   Kim Joong Ki (김중기) as Michael
o   Lee Jong Hyuk as Bora's husband in 2015 (voice)
(cr: dramawiki)


Hye Ri as Sung Duk Sun


Go Kyung Pyo as Sun Woo


Ryu Joon Yul as Kim Jung Hwan


Lee Dong Hwi as Ryu Dong Ryong


Park Bo Gum as Choi Taek


Choi Sung Won as Sung No Eul


Ryu Hye Young as Sung Bo Ra


Kim Seul (김설) as Jin Joo
[image source: Mydramalist]


Drama ini bercerita tentang 5 anak SMA yang udah berteman sejak kecil karena emang tinggal tetanggaan. Ada 4 anak cowok Junghwan, Sunwoo, Choi Taek, Doryong, dan 1 anak cewek Doksoon. Bukan cuma bertetangga, tapi mereka juga sekolah di sekolah yang sama, kecuali Doksoon karena sekolah untuk laki-laki dan perempuan berbeda. Keinget sesuatu nggak sih? Ya, drama ini ngingetin sama sinetron Indonesia Kepompong yang lumayan hits di kalangan remaja pas tahun 2008-2009 tapi versi invers xD Kalo Reply88 ada 1 anak cewek diantara 4 anak cowok, Kepompong ada 1 anak cowok diantara 4 anak cewek. Kalo di Kepompong Indra was secretly liked by Chacha & Beby, di Reply88 Dokoon was secretly liked by.... (rahasia yah, nanti nontonnya nggak surprise lagi. Hahaha). Mereka berlima selalu habisin waktu bareng sekedar buat nonton, main, atau bahkan makan ramen di kamar Taek atau Junghwan (berhubung yang kamarnya paling gede) sampai tidur bareng. Yang kusuka adalah, walaupun si Doksoon juga sahabat mereka dari kecil, tapi nggak pernah ikut nginep bareng. Jadi meskipun deketnya udah kayak saudara, tapi tetap tau batasan. Sama kayak Indra (Eh, kepompong lagi xD Hahaha)

BTS Reply 1988  (Lagi makan ramen)


Bukan cuma anak-anaknya aja yang sahabatan, emak-emak dan bapak-bapaknya juga sahabatan deket banget. Saking deketnya mereka selalu berbagi makanan, dan yang ribet si anak 5 itu yang bolak-balik musti bawa mangkok berisi makanan, pulangnya diisi lagi sama makanan biar nggak kembali kosong (kayak emak2 di mari juga sih xD). Anak-anak lain dari kelompok gang ini ada Bora kakak Doksoon yang super galak tapi sebenarnya perhatian banget, Noeul yang rada culun tapi ternyata punya bakat luar biasa, Jungbong kakak Junghwan yang pintar dalam segala hal kecuali pelajaran yang itu kenapa dia nggak pernah lulus universitas bahkan setelah 7 semester, dan yang terakhir ada Jinjoo, adek kecil dari Sunwoo yang super gemesin. Doryeong anak sang kepala sekolah dan Taek sang juara baduk andalan Korea sendiri adalah anak tunggal.

Persahabatan para keluarga ini benar-benar erat banget. Kalo ada salah satu dari mereka yang kesusahan, pasti yang lain juga merasa susah, kalo ada yang senang semuanya juga ikut senang. Pokoknya terharu sama persahabatan emak-emaknya, berasa kekeluargaan banget. Kalo kata anak jaman sekarang sih, friendship (atau lebih tepatnya neighborship) goals banget xD

Oh ya. Siapin hati yah buat endingnya. Kalian mungkin bakal blossomed banget atau justru heartbroken banget. Depend on kalian ada di tim mana. Hahaha. Dan saya? Di team heartbroken T.T

Ah, syudahlah. Drama ini toh tetap jadi drama yang pantas banget buat ditonton terlepas dari endingnya. Banyak banget nilai-nilai yang diajarkan di drama ini. Drama ini juga penuh dengan kesederhanaan dengan alur yang akrab dengan kehidupan sehari-hari. Buat yang lagi bosen nonton drama si chaebol jatuh cinta dengan gadis biasa yang ceria dan baik hati, atau yang lagi pusing buat nyerna drama-drama kriminal, boleh banget loh nonton ini.

Aku dan kakakku sering punya penilaian berlawanan terhadap sebuah drama. Drama yang kusuka biasanya nggak dia suka, dan drama yang dia suka biasanya nggak aku suka. Dan kapanpun ada drama yang disukai kami berdua, aku jamin itu drama yang bener-bener bagus. Contoh: Signal, Age of Youth, Secret Garden, Phantom, beberapa lagi yang aku lupa, dan drama Reply 1988 ini.

Jadi kesimpulannya, jangan ngaku penggemar drama Korea kalo belum nonton drama ini ;)

Thank you for reading. Prepare ur popcorn and hunt this drama! \(^^)/


Kamis, 18 Januari 2018

Punya Teman-Teman Menyenangkan Tidak selamanya Bagus

Heiloo, Happy Thursday \^^/

Judulnya aneh yah? Itu judul yang kurasa paling cocok untuk segumpal persoalan yang lagi bergelut dalam otakku yang saat ini akan ku bagi.

Aku selalu bilang, aku mencintai bidang kerjaanku saat ini, Electrical Engineering adalah bidang yang sangat menyenangkan, aku bisa menghabiskan seluruh hidupku untuk itu. Menjadi engineer wanita hebat yang bisa memberi inspirasi bagi banyak orang di luar sana adalah impianku. Yaah, itu yang selalu ada di pikiranku. Tapi tahu tidak? Kurasa aku sudah membohongi diriku sendiri. Atau mungkin, aku sendiri tidak sadar sudah menciptakan pemikiran palsu itu dalam otakku.

Faktanya sekarang, aku BOSAN! I don't find this interesting anymore. Setiap hari aku ingin cepat-cepat jam 5, setiap hari aku ingin cepat-cepat weekend. Aku tidak punya getaran itu lagi. Padahal, saat kuliah dulu, aku bisa menghabiskan waktu dari pagi-pagi sekali sampai maghrib di bengkel dan merasa waktu berlalu cepat sekali. Setiap libur semester aku ingin cepat-cepat masuk, setiap awal semester pasti langsung cek papan pengumuman di jurusan buat liat jadwal bengkel. Waktu itu aku berpikir akan sangat menyenangkan kalau nanti kerja di perusahaan yang bergerak di bidang yang kerjaannya seperti di bengkel ini. And i got it! This is a panel builder company, kerjaannya sama persis dengan bengkelku di semester 4-6, hanya dengan arus dan tegangan yang lebih besar. Jaman kuliah cuma pakai MCB, kontaktor kecil, PLC cuma omron cpm1a dan LS k200, tapi di tempat kerja sekarang ketemu MCCB, MPCB, ACB, LBS, dan macam-macam komponen lain. Seharusnya semakin banyak hal baru semakin menyenangkan dong, tapi kenapa aku tidak merasa begitu?

Setelah cerita dan curhat dengan salah satu teman Sadis (Our gank/class name. Sadis stand for Satu A D4 Listrik, kelas kami waktu kelas 1). Dia bilang, "Itu karena waktu kuliah dulu ada teman-teman kita." Yah, saat itu aku jadi sadar, yang kucintai, yang membuatku sangat nyaman, dan yang ingin kulakukan tiap hari bahkan di masa depan bukanlah electrical engineering, tapi Sadis. Aku tidak tahu hal ini juga di rasakan oleh mahasiswa lain, tapi buatku masa kuliah adalah salah satu masa paling menyenangkan dalam hidupku. Yang membuatku begitu betah menjalani perkuliahan di prodi teknik listrik bukan karena materi kuliahnya, tapi karena teman-teman kelasku. For your information, aku kuliah di Politeknik Negeri, di mana sistemnya lebih mirip dengan sekolah. Kita memiliki teman kelas yang sama-sama terus dari pertama kali masuk sampai 4 tahun ke depan, ada roster dan juga wali kelas untuk setiap kelas. Awalnya tiap kelas berisi 25 orang, tapi karena ada yang pindah dan di DO, jadi yang bersama sampai akhir hanya 19 orang. Merekalah "Sadis" ku. Mungkin karena jumlah kami sekelas tidak begitu banyak, usia yang sebaya, dan kami sering ada waktu kosong antara jam pelajaran kuliah, obrolan-obrolan kecil itu yang membuat kami menjadi dekat. 

Sejak hari pertama mereka sudah membuatku tertawa. Teman-teman cowok di kelasku sangat berbakat menjadi pelawak kurasa. Dan sadis' girls ku yang eh, entahlah, terdiri dari gadis-gadis basic, nggak ada yang tomboy, nggak ada yang alim banget, centil, manja, nakal, nggak ada yang pinter banget, atau bego banget, nggak ada yang pemalu banget, narsis banget, atau malu-maluin nggak ada. Kami berenam cewek biasa, semuanya berjilbab biasa, yang kalo udah waktu sholat dhuhur selalu bareng ke masjid tapi sebelumnya mampir dulu beli somay. Biarpun ada yang lagi halangan juga tetap ikut ke masjid (lumayan, buat titip tas). Saking seringnya sama-sama, kami sampai dikenal senior dan teman angkatan KAMUPI (remas kampus kami) meskipun bukan anak KAMUPI. Tapi meskipun begitu, kami tidak pernah bergantung satu sama lain, kami berenam adalah cewek-cwek mandiri yang selalu bisa sendiri namun selalu berikir, bersama lebih baik.

Kami berenam juga sering memiliki pikiran-pikiran yang berbeda bahkan bertentangan. Kami juga kadang-kadang berdebat (tapi tidak pernah dengan nada suara tinggi), dan selalu berhasil diselesaikan dengan baik. Andalan kami dalam mengambil keputusan atau membagi kelompok adalah lot, yah, dilot seperti arisan. Meskipun ada beberapa yang satu sekolah bahkan satu kelas waktu SMA, tapi mereka selalu berusaha untuk tidak mengelompok-kelompokkan diri. Hampir tidak pernah ada pembagian kelompok yang dilakukan dengan memilih sendiri di kelasku. Semuanya selalu kami undi atau diserahkan ke dosen untuk membagi kelompok. Dengan begitu tidak akan ada yang merasa tidak dipilih. Setiap memiliki kelompok baru, pasti selalu saja ada cerita lucu yang terjadi. Aku pernah harus menyelesaikan satu proyek (waktu itu buat display sensor suhu) sendirian, karena 2 teman kelompokku kebetulan anak UKM Taekwondo yang harus berangkat latihan. And i'm okay with that, karena meskiipun tidak membantu, mereka tetap care dengan proyek kami. Dan lagi, selalu ada teman-teman kelas lain bersamaku. Biarpun mereka juga punya proyek masing-masing buat dikerjakan, at least keberdaan mereka saja bikin aku nggak merasa sendirian di lab.

Di kampus (selain anak-anak yang harus latihan atau lagi ada urusan di UKM/himpunan), kami selalu ngumpul kayak ikan teri xD seringnya di gazebo atau kantin. Padahal yang sering ngumpul gitu biasanya cuma MaBa. Tapi kami selalu bareng sampai wisuda, bahkan setelah luluspun, saat ada tes kerja yang kebetulan diadakan di kampus, setelah selesai tes kami secara nggak sadar saling nunggu dan berakhir nongkrong lagi di gazebo. 

Setiap tahun kami selalu menjadwalkan liburan kelas. Meskipun setiap liburan itu kami tidak pernah lengkap, selalu saja ada yang berhalangan hadir (bahkan foto toga terakhir kami, kurang 2 orang). Kelas 1 dan 2 kami menginap di Malino, tempat liburan dataran tinggi dekat perkebunan teh dan hutan pinus (kalau diibaratkan, Buat warga Jakarta ada Puncak, nah buat warga Makassar ada Malino. Jaraknya juga tidak begitu jauh dari Makassar, kelas 3 kami ke pantai yang juga tempat konservasi mangrove, dan tahun ke empat yang paling menyenangkan, kami ada PKL Profesi (tapi kami sekelas sering nyebutnya KKN, sebelumnya kami sudah melakukan PKL di industri, kalo di kampusku disebut KP). Selama 1 bulan kami tinggal di rumah yang sama. Bayangkan, dengan temanmu yang sudah sekelas selama 4 tahun tinggal bersama selama sebulan (jangan samakan dengan boarding, KKN kami tidak ada aturan, jadi lebih mirip liburan panjaaaaang), belum lagi program kerja kami yang tidak begitu sulit, hanya membantu perbaikan instalasi listrik, sosialisasi dan seminar kelistrikan ke warga desa, pelatihan instalasi, dan pelatihan komputer. Di weekend kami pergi ke pantai pasir putih, pantai pasir hitam, sampai ke pantai yang lebih mirip jurang tapi punya pemandangan yang asli indah. Kami ke kolam permandian mata air gunung, ke taman bunga yang cantik banget, dan ke perkebunan stroberi yang sayangnya waktu lagi nggak musim panen. 

Meskipun selama sebulan itu banyak masalah dan perselisihan juga, sampai ada dua temanku adu jotos, yang memaksa kami semua buat rapat dan saling mengeluarkan unek-unek yang Alhamdulillah setiap masalah saat itupun diselesaikan dengan baik. Mungkin karena kami juga sudah agak dewasa saat itu, jadi tidak ada yang membawa masalah sampai berlarut-larut. Tapi semua hal itu tidak mengurangi keseruan KKN kami. 

Karena aku bukan orang yang terlalu terbuka, dan teman kelasku kebanyakan cowok sedangkan aku seumur hidup tidak pernah akrab dengan teman cowok, eh kecuali teman non-famili pertamaku, Aan (Oh, i don't know where he's now. Dia teman pertamaku dan satu-satunya teman yang kupunya saat itu. kami berteman waktu kami jadi tetangga sekitar umurku 3-5 tahun. Kalau naik sepeda aku yang sering memboncengnya, meskipun dia itu laki-laki dan lebih tua 1 tahun dariku. Hahaha). Selain Aan, aku tidak pernah lagi punya teman cowok. Mungkin itu kenapa butuh waktu yang agak lama buatku untuk akrab dengan teman-teman kelasku. Butuh waktu sekitar 1.5 tahun lah buat akrab dengan mereka. Aku tidak sadar bahwa sebanyak itu juga waktu yang kubutuhkan untuk akhirnya menyatakan kalau aku menyukai program studiku, teknik listrik, bahwa aku bercita-cita menjadi engineer.

Aku tidak tahu dengan mereka, tapi aku sangat menikmati 4 tahun bersama mereka, aku sayang dengan mereka, dan aku sangat bangga akan mereka.

Keberadaan mereka membuatku mencintai apapun yang kulakukan saat itu. Mereka seperti anggota keluarga dan teknik listrik adalah rumah. Kupikir aku sangat mencintai rumahku, tapi sebenarnya yang kucintai adalah penghuninya. Jadi saat para penghuninya pergi ke rumah lain, rumahku ini bukan lagi rumah yang sama.

Dan aku baru sadar itu setelah aku benar-benar bekerja di bidang ini, dan kali ini tanpa mereka. Aku baru sadar kalau sepertinya aku satu dari lsekitar 80% mahasiswa Indonesia yang salah mengambil jurusan. Dan aku baru menyadari itu, setelah 2 tahun ini. Yaah, teman-teman yang menyenangkan itu yang membuatku tidak menyadarinya selama ini. Kenangan membahagiakan bersama mereka yang menutup mataku tentang apa sebenarnya yang ingin kulakukan untuk masa depanku.

And now, final question, what's next? 
Entahlah, aku memang sekarang mengakui kalau aku telah salah jurusan, tapi aku sendiri belum menemukan apa sebenarnya passionku, Oh God, seorang anak orang dewasa berumur hampir 25 tahun masih bingung tentang passionnya? Aaahhh, entahlah. Kau tahu kan aku suka menulis? Yah, mungkin aku akan mengambil kelas menulis nantinya (tidak sekarang, karena kelas menulis itu mahal. Hahaha). Tapi bukankah banyak diluar sana penulis yang berprofesi tidak hanya sebagai penulis kan? Ada penyanyi, politisi, dokter, ekonom, dan bahkn juga mantan presiden kebanggangan Indonesia yang juga salah satu teknokrat paling hebat di dunia, Bapak B.J Habibie juga menulis buku yang akhirnya dibuat film yang sangat romantis kan? Jadi apa salahnya menjadi engineer dan juga penulis sekaligus? Sounds great, isn't it? Aku toh sudah ada di sini, rasanya terlalu jauh untuk kembali, lagipula aku termasuk pintar kok di kampus dulu, dan bahkan dikantor juga. Hahahaha. Aku juga sekarang punya tanggung jawab untuk hidupku sendiri. Mau keluar, mau makan apa? Belum bisa membanggakan orang tua juga. Jadi buat sekarang, jalani saja dulu. Sambil mikirin passion yang lain ;)

Thank you for reading, Caww ;)

Kamis, 11 Januari 2018

Aku Belum Siap Menjadi Dewasa

Hello, Happy new year 2018!!
It's 2018 already, that's mean, i will turn 25 y.o this year. Oh mom, I’m not ready yet :’(

Kemarin habis nonton film petualangan Sherina and met my 1st crush, Sadam. Hahaha, Kamu bo’ong kalo bilang Sadam itu gak ganteng, Aseli, imut banget itu anak. Apalagi pas scene Sherina bilang, “Yayang yang mana yah?” Trus Sadam muncul dengan tertunduk, ih, gemes banget. Imut sekali adek kecil (sebenarnya lebih tua 3 tahun dariku) bernama Derby Romero itu. Pengen cubit pipinyaaaa. Haha. Aku gak pernah dengar kabar tentang Derby Romero lagi setelah Kepompong selesai. Dan baru tau, ternyata doi udah nikah, Waah, congrats Kak Derby. 

Okey, stop ngomongin laki orang, back to the topic, Jadi gara-gara nonton film ini aku jadi flashback bukan Cuma sama filmnya yang emang ciamik sekali, tapi juga sama kisah-kisahku sendiri di era Sherina itu. Jaman yg  jangankan smartphone, hp yang paling biasa aja belum punya. Umurku 7 tahun waktu itu tinggal sama adek yang umurnya 5 tahun, sama mama & bapak (I have one older sister, but she lived with grandma that time). Jadi waktu itu keluargaku juga baru pindah dari kota ke kabupaten yang jaraknya kurang lebih 4 jam perjalanan. Karena berdua sama adek, jadi rasanya adaptasi sama lingkungan tetangga dan tempat ngaji nggak begitu sulit. Meskpun kita harus terbiasa dengan aksen mereka yang entah mengapa saat itu aku  pikir keren banget.
Butuh waktu sedikit lebih lama untuk adaptasi di sekolah, tapi setelah beberapa waktu aku bisa bergaul dengan baik. Meskipun Cuma tinggal 2 tahun di sana, tapi asli memorable banget.Tiap hari sepulang sekolah rasanya kita cuma main terus, habis main sama tetangga, main lagi berdua di rumah xD Kata kakakku aku adek favoritnya, dan kata adekku aku kakak favoritnya krn main sama aku katanya pasti asik, soalnya aku suka nyiptain permainan sendiri xD Salah satu yang paling senang kita mainkan adalah drama dan pencarian harta karun xD hahaha. Aah, I love you both. Kalian juga adik dan kakak favoritku :*
Satu hal yang paling dan sangat kurindukan dari masa kecilku adalah tentu saja mamaku tersayang :’) I like to kiss my mom everyday when I was kid, couse I love her so much. Aku bersykur masa kecilku kulalui di akhir tahun 90an sampai awal 2000an :’)

Karena nonton Petualangan Sherina, ingat Derby Romero, otomatis Ingat Kepompong juga pasti, satu-satunya sinotron yang kuikuti sejak awal sampai selesai (kayanya sinetron yang pernah kuikuti juga nggak sampai 10 judul itu udah termasuk sinetron Anak Bawang di TVRI dan yang terakhir Para Pencari Tuhan jilid 3 apa 4 gitu).
Yaah, karena flashback sama sinetron Kepompong, jadinya juga flashback ke masa-masa remajaku Masa dimana kata persahabatan ada di mana-mana, masa aku pertama kali tau cinta *Ciyeelah xD* yang walaupun nggak berbalas sih. Hahaha. Jadilah semalaman tadi sibuk ngubek-ngubek youtube berharap bisa nonton lagi barang beberapa episode. Tapi ternyata nggak ada satupun episode full LCuma klip-klip 1-3 menitan.Akhirnya mutusin buat tidur aja.

Saat udah berbaring dan mau tidur itu, aku jadi mikir aku benar-benar merindukan masa kecil dan masa remajaku dan di saat yang sama juga tersadar kalo masa-masa itu ternyata udah berlalu lama banget.Tahun ini aku bakal berumur 25 tahun, udah kerja punya tanggung jawab setidaknya terhadap hidupku sendiri, dan aku sekarang sepenuhnya orang dewasa.

Tapi, kurasa aku belum siap, sampai kemarin aku masih kesel ketika ada yang nanya apa aku udah nikah, aku rasa itu pertanyaan yang nggak pantas diajukan ke seorang gadis, aku lupa kalau aku sekarang di pertenngahan 20an dan kalau di usiaku sekarang, memang sudah banyak orang yang menikah.

Saat pertama kali hidup sendiri setelah dapat kerjaan, aku pikir nggak akan ada yang berubah, kupikir sendirian itu mudah, dan kupikir aku tidak akan merindukan rumah sampai paling tidak untuk setahun. Toh sejak kecil aku sudah terbiasa mandiri, di tinggal di rumah sendirian udah biasa, bahkan sejak kuliah, aku lebih suka menghabiskan waktu di kamar sendirian dengan smartphone, laptop, dan modem, aku juga merasa tidak terlalu membutuhkan orang lain, tapi ternyata rasanya benar-benar berbeda, dulu saat kupikir aku sedang sendiri, ternyata aku tidak pernah benar-benar sendiri. Setiap hari selalu saja ada yang membuatku tertawa, kadang-kadang kesal, bete, dan tersenyum. Meskipun tidak begitu suka bercerita masalah pribadi, tapi setidaknya selalu ada orang yang bisa kudengar ceritanya, berbagi cerita-cerita receh yang kadangpun garing, selalu ada orang yang membutuhkanku meskipun sekedar buat beli sabun di warung atau sekedar buat nyalin PR.


Aku bekerja di bagian engineering di sebuah perusahaan electrical yang laki banget, sendirian cewe di department ini, dan wanita 20an single sendiri di perusahaan ini. Rekan kerjaku hanya ada 3 golongan, ibu-ibu, bapak-bapak, dan abang-abang yang udah kayak bapak-bapak. Seumur hidup aku tidak pernah punya teman yang usianya terpaut jauh dariku, paling tua hanya berjarak 1 tahun, I’m okay tohave a professional relationship, but to make a friends, it’s still difficult. Dan detik ini aku sadar, rasanya sekarang aku benar-benar kesepian.

Aku tidak tahu pastinya usia dewasa itu dimulai sejak umur berapa, apa 17, 20, atau 25 tahun? Tapi setelah kupikir sepertinya saat acara wisuda sarjana, usia 22 tahun, hari itu juga gerbang dewasa seperti terbuka untukku. Hanya saja aku baru benar-benar merasakannya di usia 24 tahun jelang 25 tahun ini, saat aku benar-benar sendiri dan sadar bahwa aku hidup di dimensi yang berdampingan dan terus berjalan bersama waktu, sedangkan masa kecil dan masa remaja yang selama ini ku pikir selalu di sampingku ternyata tidak ikut bersama, mereka tetap tinggal di sana, jauh di belakangku dan akan semakin kujauhi setiap harinya.


Hal yang paling tidak kusukai tentang menjadi dewasa adalah bahwa teman-temanku juga sekarang sudah dewasa. Susah sekali membuat teman baru, teman lamapun sibuk dengan mengejar mimpi masing-masing. Nggak ada lagi ngobrol sampai pagi, nggak ada lagi baring-baringan bikin video lucu-lucuan, mager berjam-jam, nongkrong di kantin kampus bareng teman-teman kelas selama berjam-jam, liburan bareng teman kelas apalagi, nggak bisa lagi lburan ke rumah nenek selama 2 minggu full, nggak bisa ikut acara yang  diadain di weekdays, nggak bisa lagi lari-larian ngumpulin semua sweets yang bisa dicoba bareng sepupu-sepupu seumuran di acara nikahan sodara, yang ada harus duduk kalem pake kebaya dengan heels minimal 5 cm, makan pelan-pelan karena takut lipstiknya meleber.


Aku ingin tetap di masa-masa itu, tapi tetap bersama mereka semua, tapi jika tanpa mereka kurasa lebih baik untuk belajar hidup di masa kini, masa yang akan terus berjalan sampai saat terakhir nafasku berhembus. Yaah, kuharap aku akan segera terbiasa. Remember, you’re a future great engineer nunu ;)










Beberapa Nama Warna Selain Mejikuhibiniu

Pernah nggak kalian ditanya tentang warna dan kalian sendiri bingung menyebutnya apa? Atau ketika belanja online, ada puluhan avaible colour...