“Hei,” Aira duduk tepat disebelah
Abel yang masih terdiam kaku dengan air mata yang tidak berhenti mengalir dari
matanya.
“Kau tahu,” Aira memegang pundak
Abel yang tidak dipedulikannya sama sekali. “Aku tidak tahu ini akan membuatmu
merasa lebih baik atau sebaliknya.” Sambung Aira
“Aku iri padamu.” Kali ini
kata-kata Aira sedikit mengusik Abel, kini ia mendengarkan Aira meski dengan
tanpa berpaling.”Andai Tuhan memanggil ibuku sedikit lebih lama, saat aku sudah
sedikit dewasa, agar aku setidaknya bisa menangisinya dengan tepat.” Aira
menarik nafas sangat dalam berusaha menahan air matanya. “Setidaknya kau
memiliki ibumu untuk berbagi cerita saat datang bulan pertamamu dan menemanimu
berbelanja bra pertamamu. Aku..” Setetes cairan bening mengalir dari sudut mata
Aira. “Aku bahkan tidak memiliki kesempatan untuk mencicipi bekal buatannya.
Aku membawa bekal roti selai dan nasi kuning buatan warung belakang rumahku
masing-masing 3 kali seminggu selama TK. Terkadang aku iri dengan teman-temanku
yang setiap hari diantar ibunya, tapi saat aku berkenalan dengan teman-temanku
dari panti asuhan, aku sadar kalau setidaknya aku masih beruntung memiliki
ayahku. Ayah tahu masakannya tidak enak, jadi dia tidak pernah mencoba
membuatkanku bekal. Kompor dirumahku hanya dipakai untuk memanaskan makanan dan
terkadang membuat mi instan. Saat aku masuk SMP dan mulai belajar memasak,
akhirnya peralatan masak dirumah kami bisa digunakan semuanya. Huh!” Aira
tertawa kecil hingga ia tidak sadar bahwa sekarang Abel menatapnya.
Aira tersenyum menatap Abel dan
bangkit dari tempat duduknya.”Kau tidak perlu berhenti menangis hanya karena
orang menyuruhmu. Menangislah sebanyak mungkin dan mulai hari barumu besok,
jika masih belum bisa besok, maka lakukan besoknya lagi.” Aira mengambil sesuatu
dari dalam tasnya dan meletakkannya di tangan Abel. “Kau mungkin
membutuhkannya.” Abel menatap sapu tangan berwarna biru muda itu lalu tersenyum
sedetik kea rah Aira tanda terima kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar