Jumat, 13 Juli 2018

Sinetron Indonesia

Dari dulu selalu berpikir, "Oh, c'mon, apa yang dilakukan para scriptwriter dari sinetron ini/itu? Apa mereka tidak punya ide lagi? Kenapa bisa seorang SW dengan kualitas seperti mereka masih saja melanglang buana di jagat pertelevisian Indonesia?" Sering terlintas di pikiran juga, para penulis pemula, penulis2 blog, penulis2 wattpad, atau bahkan saya sendiri (asal mau belajar) sepertinya bisa bikin karya yang lebih baik. Sempat berpikir mau nyoba jadi SW, tapi setelah baca ini, jadi sedih T.T Mereka sebenarnya orang-orang hebat, tapi kreatifitas dan yang utama idealisme mereka dikekang oleh sesuatu yang bernama rating, which is itu adalah dewa (benar2 segala-gala-galanya) di dunia pertelevisian Indonesia. Di negeri ini opera sabun dibuat dengan gaya Variety Show, dibuat tanpa ending di awal. Jadi endingnya ada di sebuah dimensi di masa depan yang hanya Tuhan yang tau :’)

Sekarang saya mengerti, sekarang ini tujuannya bukanlah mencerdaskan penonton, tapi berpura-pura menjadi tidak cerdas agar dapat diterima oleh penonton. Sebelumnya juga pernah baca tulisan dari scripwriter sinetron senior yang mengatakan “Memegang idealisme itu bagus,tapi bisa mempertahankannya 50% saja itu sudah sangat ajaib. Belum lagi banyak yang naskahnya ditolak dengan alasan too intelligent. Ada juga produser yang sudah muak dengan ceritanya, tapi pihak TV nya pengen lanjut terus, atau scriptwriter yang malu menonton acaranya sendiri.

Miris yah, tapi itulah kenyataannya. Jadi selama selera masyarakat belum berubah, selamanya kualitas per-opera-sabun-an di negeri ini akan terus begitu. Padahal kalau dipikir, seandainya seluruh pihak TV mau berkomitmen dan ada regulasinya, mereka bisa menggiring selera masyarakat itu menjadi lebih berkualitas, bukan sebaliknya, pertelevisian yang digiring oleh selera masyarakat yang memprihatinkan.
Jadilah impian saya mecoba menjadi SW ditunda dulu xD I think it’s simpler to write a novel. (Wait, simple? you even not finish your 1st novel yet Nunu! xD)

Oh ya, satu lagi, banyak yang mengeluhkan kenapa di TV Indonesia serial luar negeri yang diambil juga kebanyakan yang episodenya panjang dan alurnya 11/12 sama sinetron Indonesia? Jawabannya simple saudara-saudara. Mau ambil drama Korea, drama Jepang, drama Thailand, atau serial Amerika, tapi penggemarnya kebanyakan anak muda, iya sih anak muda juga ada banyak, dan ini bukan masalah rebutan remot doang sama emak yang kepengan nonton serial India tentang menantu tersakiti atau serial Turki tentang anak tertukar, tapi karena kalian si penggemar drama Jepang, Korea, dan Amerika rata-rata anak muda yang melek teknologi dan tidak sabaran. Satu-dua episode tayang mungkin booming, tapi setelahnya, kalian nggak sabar buat nunggu episode selanjutnya, akhirnya berpindah ke Viu, Netflix, atau yang paling rame yah download ilegal (Oke, aku ngaku aku juga salah satunya :')). Jadilah pas waktu tayang di TV, kalian udah nggak terlalu antusias dan rating otomatis drop. TV mau nayangin bersamaan dengan waktu tayang di negara asalnya juga kayaknya musti bayar mahal banget, dan belum tentu dramanya laris. Jadi seperti bermain judi dengan taruhan yang besar sekali.

Hal ini beda sama waktu aku muda dulu (cie, sekarang udah tua xD) Dulu itu ada banyak banget drama Korea di Indosiar, drama Taiwan di RCTI, telenovela si SCTV, drama China dan Thailand di ANTV, dan serial Amerika di TransTV. Dulu serial Amerika kayak Heroes, Hanna Montana, sampai opera sabun dan sitkom Amerika juga banyak. Dulu, dulu sekali bahkan serial-serial luar negeri yang tayang di Indonesia soundtrack nya juga pakai bahasa Indonesia loh. Kayak serial Amerika yang tayang di Indosiar (I forget the title) dikasih soundtract baru yang dinyanyiin kontestan AFI, serial Filiphina yang dikasih soundtract 3 Cinta dari Melly Goeslaw, sampai Kabut Cinta yang dulu soundtractnya dinyanyiin Yuni Shara.

Oh ya, banyak yang judulnya juga diubah ke Bahasa Indonesia. Dubbing? Sudah pasti. Kalau sekarang, drama Korea yang didubbing aja, fans-nya pada protes xD
Dulu sih, kita-kita belum tau gimana itu download drama atau serial. belum lagi subtitle Indonesia nggak seramai sekarang. Jadi kalaupun ada film di Internet, belum tentu ada subtitle-nya. Jadilah kita mau nggak mau nungguin yang tayang di TV.

Oke, sekian dulu pembahasan kita tentang sinetron Indonesia kali ini. Akhir kata, semoga pertelevisian Indonesia bisa lebih baik kedepannya yaa J



Beberapa Nama Warna Selain Mejikuhibiniu

Pernah nggak kalian ditanya tentang warna dan kalian sendiri bingung menyebutnya apa? Atau ketika belanja online, ada puluhan avaible colour...