Rabu, 24 Oktober 2018

Dongeng Kepahlawanan

Heilooo..
Kenapa saya tiba-tiba menulis dongeng?
Jadi kemarin sempat ikut kegiatan sosial yang fokusnya ke anak-anak di daerah pinggiran atau pedalaman. Nama kegiatan tersebut adalah "Sharing and Fun Educating" yang diadakan oleh Komunitas Arsa Jakarta. Salah satu kegiatannya adalah mendongeng. Jreng jreng.. Seumur hidup belum pernah bikin dongeng. Akhirnya setelah berpikir beberapa hari, tercetuslah ide untuk mengarang sendiri dongeng tersebut. Dengan mengadaptasi sedikit cerita dari Harry Potter and The Goblet of Fire, akhirnya jadilah sebuah cerpen berjudul "Pahlawan Terhebat"
Check it out!

PAHLAWAN TERHEBAT
Di negeri nun jauh, ada sebuah sekolah untuk para superhero.
Di suatu pagi, diumumkanlah bahwa akan ada sebuah perlombaan untuk para siswa superhero.
Di perlombaan ini, akan dicari siapa kiranya siswa yang paling hebat dan pantas mendapatkan gelar pahlawan terhebat.
Dari ratusan siswa, terpilihlah Rudi, Sekar, dan Faro yang akan bertanding dalam pertandingan final. Tugas mereka adalah mengambil bunga emas yang ada di sarang naga. Yang masing-masing dijaga oleh naga yang berbeda namun sama kuatnya. Barang siapa yang berhasil membawa bunga emas ke kepala sekolah paling cepat, ia adalah juaranya.
Rudi akan melawan naga merah, Sekar melawan naga biru, dan Faro melawan naga hijau.
Faro membawa pedang yang sangat tajam. Meskipun dengan tubuh yang penuh luka akibat keganasan naga, ia akhirnya berhasil mengalahkan sang naga hijau dengan pedangnya tersebut dan berhasil memasuki sarang naga untuk mengambil bunga emas yang ada di dalamnya.
Sekar menggunakan senjata andalannya, yakni panah. Sekar sangat ahli memanah, namun meskipun begitu, sang naga tetap tak terkalahkan. Sekar mencoba dan mencoba lagi, hingga akhirnya sang nagapun terjatuh. Sekar mengambil bunga emas yang ada di dalam sarang naga biru.
Sementara Rudi, ia tidak memiliki senjata apapun. Ia dengan hati-hati mendekati sang naga merah.
“Hai, naga merah.” Teriak Rudi dari jauh sambil memasang kuda-kuda siap lari kalau-kalau sang naga merah marah dan hendak menyemburnya dengan api.
“Ada apa anak muda?” Tanya sang naga. Ternyata ia tidaklah segalak yang Rudi pikir.
“Bisakah aku meminta bantuanmu?” Rudi berjalan mendekati sang naga.
“Apa itu?” Tanya naga merah lagi.
“Aku diberikan tugas untuk membawa setangkai bunga emas. Apakah kau memilikinya?” Rudi bertanya dengan pelan.
“Oh, tentu saja aku memilikinya. Tapi bukankah kau seharusnya bertarung melawanku untuk bisa mendapatkan bunga itu seperti peserta lain?” kata sang naga.
“Kau memang benar. Tapi, dalam pengumuman, tidak disebutkan bahwa aku harus bertarung melawanmu. Kepala sekolah hanya mengatakan bahwa tugas kami adalah membawa pulang bunga emas. Lagi pula kalau kita bertarung, kita berdua akan terluka dan bisa jadi salah satu dari kita akan mati Bukankah lebih baik aku memintanya saja darimu? Jawab Rudi.
“Bagaimana jika aku tidak mau memberikannya?” Tanya sang naga.
“Lalu apa yang harus kulakukan agar kau memberikannya kepadaku? Tanya Rudi juga.
“Mari bermain teka-teki.” Jawab sang naga. “Terbak apa isi dari kotak itu.” Sang naga menunjuk sebuah kotak yang ada di dekatnya. “Ia tidak memiliki harga apapun sekarang. Namun ia bisa saja lebih berharga dari setangkai bunga emas sekalipun. Jika kau bisa menjawabnya, kau boleh membawa pulang bunga emas ini.” Tantang sang naga.
Rudi berpikir sejenak. Apa yang tidak berharga sekarang namun di kemudian hari bisa jadi lebih berharga dari setangkai bunga emas?
Setelah berpikir, Rudi akhirnya tersenyum lalu menjawab.” Biji bunga emas!” Jawab Rudi lantang.
Sang naga tertegun. Jawaban Rudi benar. “Bagaimana kau bisa mengetahuinya?” Tanya sang naga.
“Tentu saja. Biji bunga emas tidak ada artinya sekarang, namun jika aku menanam dan merawatnya, ia bisa tumbuh menjadi tanaman bunga emas yang tidak hanya memiliki 1 tangkai bunga, tapi bisa jadi memiliki sangat banyak bunga emas.
“Kau sangat cerdas, sekarang kau boleh mengambil bunga emas itu.” Kata sang naga.
“Terima kasih pak naga. Oh ya, aku memiliki biscuit, ini aku berikan kepadamu.” Rudi tersenyum dan bergegas mengambil bunga emas lalu berlari pulang.
Ketiga persertapun sekarang dalam perjalanan pulang. Faro sedikit memimpin, ia berada paling depan. Tiba-tiba, seorang kakek tua menghadang jalannya.
“Hai, anak muda, bolehkah aku meminta tolong?” Tanya sang kakek.
Namun Faro hanya mendorong sang kakek yang telah menggangu perjalanannya lalu melanjutkan perjalanan.
“Dasar mengganggu saja.” Kerutu Faro.
Lalu tidak lama kemudian, Sekarpun lewat. Dan si kakek tuapun menghentikannya.
“Hai nona, bolehkah aku meminta tolong?” Tanya kakek tua.
“Oh, boleh saja kek. Ada yang bisa saya bantu?” Tanya Sekar.
“Kau sepertinya membawa bunga emas.Bolehkah kakek memintanya untuk istri kakek yang sedang sakit? Bunga emas adalah satu-satunya obat untuk penyakitnya. Jika tidak, nyawanya mungkin tidak akan tertolong.” Ucap sang kakek sedih.
Sekar berpikir sejenak, lalu “ Maaf kek, tapi aku harus membawa bunga ini untuk perlombaan. Aku harus sampai lebih dulu agar bisa mendapatkan gelar pahlawan terbaik.” Sekar pun meninggalkan sang kakek dan melanjutkan perjalanannya.
Lalu yang terakhir, Rudipun lewat. Sang kakek juga menghentikan langkah Rudi.
“Duhai anak muda, bolehkah aku meminta tolong?” Tanya sang kakek lagi.
“Tentu saja kek.” Jawab Rudi.
“Aku sangat membutuhkan bunga emas untuk istriku yang sedang sakit. Bunga emas adalah satu-satunya obat untuk penyakitnya.” Sang kakek tertunduk sedih mengingat sang istri.
Rudi tersenyum ke arah sang kakek. “Tentu saja. Ini kakek ambil saja. Semoga istri kakek lekas sembuh ya.” Rudipun menyerahkan bunga tersebut kepada sang kakek. Rudi lalu melanjutkan perjalanannya menuju sekolah. Namu kali ini tidak dengan berlari lagi. Karena ia tahu bahwa ia sudah kalah.
Sesampainya di gerbang sekolah, Rudi terkejut karena ada banyak orang yang menyambutnya. Begitu ia memasuki aula sekolah, sang kepala sekolah ternyata sudah siap dengan pengumuman pemenangnya.
“Dan, pemenang perlombaan kali ini yang berhasil mendapatkan gelar pahlawan terbaik, adalah…” Jengjengjengjeng..
“RUDI!”
Rudi terkejut. Bagaimana bisa? Padahal ia tidak membawa pulang bunga emas itu.
“Ketahuilah Rudi, sesungguhnya kakek-kakek yang kau temui tadi di hutan adalah aku yang sedang menyamar. Jadi, bunga emasmu telah sampai ke tanganku paling dulu.
“Jadi, anak-anakku sekalian. Pahlawan terhebat bukanlah ia yang memiliki kekuatan paling besar tapi pahlawan terhebat adalah dia yang selalu bersedia menolong orang lain meski tidak ada satu orangpun yang melihat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Beberapa Nama Warna Selain Mejikuhibiniu

Pernah nggak kalian ditanya tentang warna dan kalian sendiri bingung menyebutnya apa? Atau ketika belanja online, ada puluhan avaible colour...