Kamis, 08 Maret 2018

KGSP (Part 2: KAIST aja)

Ada yang bilang, kalo kita punya goal of something, better nggak ngasih tau siapa2 dulu. Dan aku rasa itu ada benarnya. Aku tidak ingin membuat orang yang sudah mendukungku menjadi kecewa kalau seandainya aku gagal meraih goal itu. Selain itu, aku tipe orang yang sangat suka ngasih surprise, hahaha. Jadi lebih senang ngasih tau orang saat semuanya sudah tercapai dan akhirnya menjadi surprise. Rasa senangnya pasti berkali-kali lipat. Tapi tak apa, toh karena ditanyain mulu dan entah harus gimana lagi ngelesnya, ditambah karena ke-ember-an adek dan tanteku, sekarang jadi banyak yang tau rencanaku apply KGSP. Tak apalah, syukur-syukur dibantu doa.

Nah, tentang KAIST, adalah sebuah perguruan tinggi berbasis penelitian di negeri gingseng sana. Singkatan dari Korea Advanced Institute of Science and Technology ini merupakan Universitas terbaik kedua di Korea dan peringkat ke-43 di dunia.Terdengar keren kan? rasanya nggak ada pantes-pantesnya aku bermimpi buat masuk sana, orang masuk UNHAS aja aku gagal, Eh no, mari kita ubah kata gagal dengan 'gak jodoh'. Hehe.

KAIST seperti cinta pada pandangan (atau mungkin perndengaran) pertama. Aku jadi sering baca-baca tulisan orang Indonesia yang berkuliah di KAIST. Ada yang kuliah di sana dengan biaya sendiri, beasiswa pemerintah, dan ada juga yang dapat tunjangan dari penelitian dosen. Ada yang pas di sana ketemu jodoh, dan ada yang paling sweet, dilamar sama pria yang kebetulan juga sama-sama keterima di KAIST beberapa minggu sebelum berangkat. Oh, it's much sweeter than Dilan-Milea (yang lagi digandrungi gadis-gadis jaman now) Story for me :')

Tau nggak, Mahasiswa/alumni pascasarjana KAIST dari Indonesia yang blognya kubaca semuanya adalah alumni ITB. Iya, semuanya! termasuk cewek yang dilamar itu, dia juga alumni ITB. Ngomong-ngomong, bukan cuma alumni kampus teknik terbaik di negeri ini, mereka yang melanjutkan masternya di KAIST juga semuanya punya segudang prestasi dan spesifikasi yang sepertinya nggak muat satu halaman CV. Aku langsung ciut, merasa kecil banget. Aku yang hanya seorang lulusan politeknik negeri di sebuah kota yang berjarak ribuan mil jauhnya dari ibu kota. Bukan hanya itu, aku juga tidak punya prestasi apa-apa. Seketika menyesal kenapa pas kuliah dulu cuma jadi mahasiswa KuPu-KuPu (Kuliah-Pulang-Kuliah-Pulang). Harusnya dulu ikut tim robot jurusan aja, at least tim robot kampus kami terkenal di provinsi dan pernah bawa pulang piala nasional bidang robotika juga. Biarpun nggak bisa langsung jadi tim inti, tapi aku bisa belajar banyak dan menambah pengalaman. Yaah, penyesalan selalu datang terlambatkan? T.T.

Karena kebanyakan dosenku gelar S2nya adalah M.Eng, jadi pas dapat ilham (entah dari mana) buat S2 di luar, jadi kepikiran gelar itu juga. Setelah baca-baca tulisan luar negeri, jadi S2 untuk Engineering itu ada 2, gelar master teknik M.Eng (Atau ada juga yang menulis M.E)dan gelar master yang lebih umum, yakni M.Sc (Eropa) / M.S(Amerika). Ada kampus yang hanya menyediakan master salah satunya, dan ada yang menyediakan keduanya. Hal mengenai gelar ini sebenarnya tergantung kebijakan regulasi pendidikan tinggi di tiap negara dan tergantung kampus masing-masing. Tapi dari apa yang kutangkap setelah membaca beberapa tulisan, M.Eng itu coursework oriented sedangkan M.Sc/M.S itu research oriented.

Sebagai seorang anak poltek yang lebih banyak kerja ketimbang teori apalagi research, aku langsung mengeliminasi M.Sc dari pilihanku. Aku juga sadar nggak begitu suka dan kayaknya nggak bakat penelitian di Lab, lebih senang pas workshop. Lebih suka kerja & memprogram hal yang udah jelas ketimbang membuat 1 hal yang baru. Aku ingat ketika di lab harus mencatat perubahan suhu/tegangan tiap detik, memperhatikan pergerakan suatu hal yang saking kecilnya musti dilihat dari jarak yang sangat dekat, memotret gambar osiloskop tiap perubahan arus sekian yang kalo diliat-liat nggak ada bedanya. Nyari sesuatu yang nggak pasti itu benar-benar bikin pusing, melakukan hal2 atau mengamati perubahan kecil itu sangat membosankan. Lebih senang pas dikasih kasus atau proyek, trus disuruh buat alat/programnya. Gagal berkali-kalipun nggak masalah, nggak pernah bosan karena kendali atas apa yang ku kerjakan ada di tanganku sendiri.

Aku sempat nanya-nanya dengan mba Vina yang berkuliah S2 da S3 di KAIST (dapat kontaknya di blog) via email. Mba Vina ramah banget dan mau jawab pertanyaan-pertanyaanku. Aku tanya, di KAIST itu electrical engineeringnya bergelar M.Eng atau M.Sc, dan akhirnya dijawab kalo KAIST itu kiblat pendidikan tingginya ke Amerika, dan seluruh gelar masternya adalah M.S. Baru tau juga kalo KAIST itu yah emang universitas yang berbasis penelitian. Oh, aku jadi galau. KAIST impianku, tapi aku nggak percaya diri bisa menghabiskan waktu puluhan jam seminggu di dalam lab selama dua tahun. Pada tingkat ini aku galau memilih antara kampus atau major yang lebih utama :( Dan akhirnya setelah galau berhari-hari sambil nyusun-nyusun berkas, aku merasa harus tetap daftar KAIST apapun resikonya. Toh belum tentu lulus juga. Setelah berusaha keras semampuku sampai harus menghabiskan gaji selama sebulan buat kepengurusan beasiswa ini (termasuk tiket pesawat, ongkos ngegrab, becak, TOEIC, bayar ini itu, de el el) serta menghabiskan cuti 2 hari untuk mengurus segala kelengkapan dokumen, pada akhirnya cuma bisa menyerahkan semuanya kepada Sang Pencipta. Setidaknya aku harus tetap berusaha hingga sesuatu bernama penyesalan karena tidak pernah mencoba (yang aku pikir rasanya akan lebih abadi dibanding sakitnya kegagalan) tidak akan menghampiriku.

Oh ya, aku mendaftar KAIST via besiswa pemerintah Korea bernama KGSP, division: Engineering, department: Electrical Engineering, major: Signal and System. Jika, dan hanya jika seumpamanya aku berhasil masuk KAIST via KGSP tahun ini, maka sepertinya itu karena personal statement dan statement of purpose yang kubuat sedemikian rupa melalui susunan kata yang kubuat seemosional mungkin namun tetap jujur dan tentu saja do'a dari orang tuaku :) Mengingat tidak ada award atau paper yang bisa kutunjukkan.

Fighting everyone! Bismillah :)

South Tangerang, March 8th 2018

8 komentar:

  1. Hai, salam kenal, aku juga apply ke KAIST via univ track tahun ini, baru tau juga ternyata banyak yg daftar KAIST tp ga ada di group manapun, minat join group chat khusus applicant KAIST via univ track lainnya via fb messenger ga? Supaya bisa sharing2 di group

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh mba. Fb aku Sitti Nasibah Imran Umar

      Hapus
  2. kemarin udah dapat balasan dari KAIST?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, dan nggak lulus. Belum rejeki dan emang katanya persaingannya tinggi banget. Mba sendiri gimana?

      Hapus
    2. waduh aku telat banget baru bales setahun kemudian, sama kok tahun 2018 belum lulus juga, tahun ini apply lagi ga?

      Hapus
    3. Hai, gapapa. Hehe. Aku tahun kemarin agak sibuk sama kerjaan dan ikut kegiatan2 volunteer, jadi belum sempat mempersiapkan diri untuk KGSP tahun ini. Mau ningkatin poin pribadi dan acheivement dulu baru daftar lagi. Biar bisa lebih bersaing lagi. Hehe. Kalo kamu gimana? Ikut lagi?

      Hapus
  3. Kak qw mahasiswa universitas Hasanuddin Masi semester 3 tapi aku skrng nyari info tentang KGSP graduet, bisa minta email atau IG ngk. Kak??

    BalasHapus

Beberapa Nama Warna Selain Mejikuhibiniu

Pernah nggak kalian ditanya tentang warna dan kalian sendiri bingung menyebutnya apa? Atau ketika belanja online, ada puluhan avaible colour...